NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sore itu, kediaman megah keluarga Lexa yang biasanya hening dan dingin diselimuti oleh aura kehangatan yang tak biasa. Sinar matahari senja menerobos masuk melalui kaca-kaca jendela yang menjulang tinggi, membiaskan pendar keemasan di atas lantai marmer yang mengilap.Maya yang kini mendiami raga sang ratu sekolah melangkah masuk ke dalam rumah. Bukannya langsung melemparkan tas mewahnya ke sembarang tempat atau berteriak memanggil para pelayan seperti yang biasa dilakukan Lexa, Maya justru meletakkan tasnya secara rapi di atas kursi ruang tamu. Setelah mengganti seragamnya dengan pakaian santai yang sopan, ia melangkah menuju area dapur. Bagi Maya, kemandirian dan rasa tanggung jawab adalah hal yang sudah mendarah daging sejak kecil. Dulu, setiap kali pulang sekolah, ia akan langsung menyingsingkan lengan baju untuk membantu ibunya mencuci piring, menyapu lantai, hingga menyiapkan dagangan sayur untuk esok subuh. Kebiasaan mulia itu tidak lantas menguap begitu saja hanya karena jiwanya kini terperangkap di dalam tubuh seorang anak jutawan.Maya mengambil kain lap bersih dan spons pencuci piring. Dengan gerakan yang cekatan dan terbiasa, ia mulai membersihkan piring-piring serta cangkir kopi bekas yang menumpuk di wastafel. Setelah itu, ia menyapu lantai dapur hingga bersih berkilau, membuang sampah, dan menata tumpukan buah-buahan di atas meja makan dengan sangat rapi.Di saat yang bersamaan, Mama Lexa yang baru saja turun dari lantai dua menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu dapur. Mata wanita itu membelalak lebar, memandang tak percaya pada sosok putri tunggalnya yang sedang tekun mengelap meja dapur sambil mengumandangkan senandung kecil yang lembut. Tidak ada pelayan yang mendampinginya Maya mengerjakan seluruh pekerjaan rumah itu dengan tangannya sendiri, tanpa rasa canggung atau mengeluh sedikit pun.

Airmata haru perlahan merebak di pelupuk mata sang mama. Beliau menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan napas agar tidak mengganggu ketenangan putrinya. Di dalam hatinya, sang mama membatin penuh rasa syukur. Beliau meyakini bahwa insiden tertimpa lemari tua saat gempa bumi kemarin serta teguran keras tentang kecurangan olimpiade benar-benar telah menyadarkan Lexa. Bagi sang mama, ini adalah wujud penyesalan dan niat tulus dari putrinya untuk menebus semua kesalahan masa lalu dan menjadi pribadi yang lebih baik.Tak lama kemudian, langkah kaki tegap terdengar mendekat. Papa Lexa baru saja pulang dari kantor dengan setelan jas rapi. Melihat istrinya berdiri terpaku di depan pintu dapur dengan mata berkaca-kaca, sang papa berkerut dahi dan ikut menoleh ke dalam.

Pria paruh baya itu seketika terpungkur kaku. Kejutan yang sama menghantam dadanya saat menyaksikan putri kesayangannya yang dulu jangankan menyapu, mengambil minum sendiri saja selalu menyuruh pembantu kini sedang sibuk mengeringkan piring-piring bersih dengan serbet . Hati sang papa yang pada dasarnya sangat menyayangi anak tunggalnya itu seketika luluh total. Seluruh sisa amarah dan rasa kecewa akibat skandal kunci jawaban olimpiade menguap tanpa sisa, berganti menjadi rasa bangga dan kasih sayang yang membumbung tinggi.Dengan langkah perlahan, Papa dan Mama Lexa melangkah masuk ke dalam dapur."Lexa... Sayang," panggil Papanya dengan nada suara yang begitu lembut dan bergetar haru. Maya tersentak pelan, menghentikan aktivitasnya lalu memutar tubuhnya. Ia menyunggingkan senyum tulus yang begitu hangat dan bersahaja kepada kedua orang tua di hadapannya. "Eh, Papa... Mama... Sudah pulang? Mau Lexa buatkan teh hangat?"

Mendengar tawaran yang begitu perhatian dan sopan itu, Mama Lexa tak sanggup lagi menahan rasa harunya. Beliau langsung menghambur maju dan merengkuh raga putrinya ke dalam pelukan yang sangat hangat.

"Tidak usah, Nak... Tidak usah," tangis mamanya pecah seraya mengusap lembut rambut panjang Maya. "Mama bangga sekali sama kamu, Lexa... Mama bahagia melihat kamu sudah berubah jadi anak yang begitu rajin dan berhati lembut seperti ini." Papanya ikut melangkah mendekat, merangkul bahu istri dan anaknya. Pria berwibawa itu menatap lurus ke dalam mata Maya dengan pendar kasih sayang yang mendalam, sekaligus selapis rasa penyesalan yang tersisa. "Papa minta maaf ya kalau kemarin sempat sangat marah dan membentak kamu, Lexa," tutur Papanya dengan tulus. "Jujur, Papa memang sempat sangat kecewa saat tahu kamu nekat mencuri dan menyabotase berkas olimpiade kemarin... Tapi melihat kamu mau berubah, mau belajar mandiri, dan merendahkan hati seperti sekarang... Papa yakin anak Papa sudah benar-benar dewasa." Mendengar pengakuan jujur dari sang papa tentang aksi nekat sabotase olimpiade tersebut, jiwa Maya di dalam raga Lexa sempat tertegun sejenak. Di dalam batinnya, Maya bergumam dengan rasa tak percaya sekaligus prihatin: "Jadi ternyata Lexa yang asli memang senekat dan sekeji itu hanya demi memenangkan piala dan merendahkanku? Dia bahkan tega mencuri berkas milik papanya sendiri..."

Namun, Maya dengan cepat menguasai dirinya. Ia tahu bahwa ia harus tetap menjaga alur kehidupan ini demi melindungi kebaikan keluarga ini dan menjalankan takdir yang sedang bergulir.Maya menundukkan kepalanya sedikit, lalu menatap kedua orang tua itu dengan raut wajah penuh kesungguhan dan permohonan maaf yang tulus mewakili raga yang kini dihuninya.

"Papa... Mama... Lexa minta maaf ya untuk semua kesalahan Lexa yang kemarin," kata Maya dengan suara yang amat lembut dan menenangkan. "Lexa janji nggak akan pernah mengulangi kecurangan atau bikin Papa dan Mama kecewa lagi. Lexa mau belajar jadi anak yang jujur dan berguna."

Kalimat itu bagaikan obat penawar paling mujarab bagi hati kedua orang tua Lexa. Papa Lexa tertawa renyah dengan mata yang berbinar-binar gembira, menepuk-nepuk bahu Maya penuh kebanggaan. "Anak Papa luar biasa!" seru Papanya mantap. "Karena kamu sudah membuktikan bahwa kamu benar-benar penyesal dan berubah jadi anak yang berbudi pekerti mulia... Papa dan Mama punya kejutan istimewa buat kamu!" Papa Lexa merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop surat bergambar logo maskapai penerbangan internasional dan meletakkannya di tangan Maya. "Sebagai hadiah atas perubahan indah kamu, bulan depan setelah ujian sekolah selesai, Papa dan Mama bakal ajak kamu liburan mewah ke Australia!" ucap Papanya penuh semangat. "Kita bakal jalan-jalan ke Sydney, keliling pantai, dan menikmati liburan terbaik yang pernah ada!"

Mama Lexa mengangguk setuju dengan senyum merekah. "Iya, Sayang. Ini hadiah dari Mama dan Papa untuk kamu."

Maya memandangi tiket penerbangan kelas bisnis di tangannya. Sebuah perasaan takjub dan syukur yang tak terhingga mengalir hangat di dalam dadanya. Siapa yang pernah menyangka, seorang gadis miskin yang dulu jangankan bermimpi ke luar negeri, untuk membeli buku pelajaran saja harus berjuang mengikat sayur dari subuh, kini akan menikmati kemewahan liburan ke Australia?

Dengan senyum manis yang memancarkan kedamaian, Maya menggenggam jemari kedua orang tua itu. "Terima kasih banyak, Papa... Mama... Lexa sangat bersyukur punya orang tua sebaik kalian."

Di balik jendela kaca megah rumah itu, angin malam bertiup lembut. Roda takdir telah berputar sempurna, kejujuran, kerendahan hati, dan kebaikan jiwa Maya kini membuahkan hasil berupa kebahagiaan dan kemewahan yang tak pernah dibayangkannya. Sementara di sudut lain kota, jiwa Lexa yang asli harus terus meratapi nasibnya di atas lantai papan yang kusam menanggung pahitnya karma atas segala keangkuhan dan kecurangannya sendiri.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!