NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang Tak Berwajah

Tiga hari telah berlalu sejak hari kelam itu. Kabar yang disebarkan menyebutkan bahwa Gala pergi sendirian, tergelincir karena kelalaiannya sendiri, dan Mawar masih menghilang, tak ada jejak, tak ada kabar. Bagi warga desa, kisah itu perlahan menjadi bisik-bisik yang memudar, digantikan urusan harian. Namun bagi Jingga, ketenangan itu hanyalah topeng tipis yang setiap malam roboh, menyisakan reruntuhan yang menyesakkan napasnya.

Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Jingga terbangun dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya yang terasa kaku. Ia duduk tegak, menatap kegelapan kamar yang seakan hidup, bergerak perlahan, menyusup ke setiap sudut pandangannya. Di sampingnya, Bima tidur pulas, napasnya teratur, tenang seolah tak ada beban yang pernah mengganjal di hatinya.

Jingga memeluk lututnya, tubuhnya gemetar pelan. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah mimpi, hanyalah bayangan kelelahan. Namun setiap kali ia memejamkan mata, wajah itu kembali muncul, wajah Gala yang memandangnya bukan dengan amarah, melainkan dengan kesedihan yang begitu dalam, seakan meminta pertanggungjawaban atas pengkhianatan yang ia lakukan. Dan di belakangnya, berdiri sosok Mawar, putih pucat, mata coklatnya yang dulu cerah kini kosong, menatap Jingga tanpa suara, namun tatapan itu menembus hingga ke lubuk hati terdalam.

"Jingga..." bisik suara itu, lembut namun menggetarkan, terdengar di telinga Jingga meski tak ada siapa-siapa di sana.

Jingga menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya, berusaha menghalangi pandangan itu. Ia menggigil, meski udara di dalam kamar terasa hangat.

Pagi harinya, saat sinar matahari mulai menyelinap masuk, Jingga sudah terjaga, duduk di tepi ranjang, menatap Bima yang baru saja membuka mata. Ada keinginan kuat di hatinya untuk berbicara, untuk melepaskan beban yang semakin berat setiap harinya.

"Mas Bima..." suara Jingga terdengar serak dan rapuh.

Bima mengerjapkan mata, duduk perlahan, lalu meraih jam tangan di meja samping tempat tidur. Ia melirik sekilas, lalu menoleh ke arah Jingga dengan tatapan yang belum sepenuhnya terjaga.

"Kamu sudah bangun pagi sekali?" nada bicara Bima datar, seakan hanya sekadar menyapa.

Jingga menelan ludah, tangannya meremas ujung selimut dengan erat. "Aku tidak bisa tidur, Mas. Sudah berhari-hari begini. Setiap malam aku melihat mereka. Gala... dan Mawar."

Bima berhenti bergerak sejenak, lalu menarik napas panjang, berdiri dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. "Kamu terlalu lelah, Jingga. Istirahat yang cukup, pikiranmu jadi berantakan begini."

"Bukan itu!" Jingga bangkit berdiri, suaranya meninggi, bergetar karena emosi yang tertahan. "Aku tahu apa yang kulihat. Mereka tidak membiarkanku tenang, Mas. Tatapan mereka... seakan tahu kalau aku yang ikut mendorong mereka ke sana."

Bima berbalik perlahan, menatap Jingga dengan alis yang berkerut tajam. "Kamu bicara apa? Tidak ada yang mendorong siapa-siapa. Gala tergelincir sendiri, itu sudah jelas. Dan Mawar... dia pergi karena keputusannya sendiri. Kamu tidak ada hubungannya dengan semua itu."

"Bagaimana bisa kamu bilang begitu?!" air mata mulai mengalir di pipi Jingga. "Aku ada di sana, Mas! Aku mendengar permintaan tolong Gala sebelum dia jatuh. Aku yang memegang tangannya, lalu melepaskannya karena kau menyuruhku! Dan Mawar... kalau bukan karena semua ini, dia pasti tidak akan kabur dan hilang begitu saja!"

Bima melangkah mendekat, suaranya ikut meninggi. "Sudah kubilang, hentikan bicara seperti itu! Kalau ada orang yang mendengar, apa yang akan terjadi? Kamu mau kita berdua hancur karena khayalanmu sendiri?"

"Ini bukan khayalan!" Jingga mundur selangkah, dadanya naik turun. "Setiap malam mereka datang, Mas. Gala menatapku seakan menuntut balas. Dan Mawar... dia berdiri di ujung tempat tidur, diam saja, tapi matanya penuh luka. Aku takut, Mas. Aku benar-benar takut."

Bima menghela napas kasar, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya yang tegang. Ia menatap Jingga dengan tatapan yang bercampur antara kesal dan tak sabar. "Kamu cuma merasa bersalah, itu saja. Rasa bersalah itu membuatmu membayangkan hal-hal yang tidak ada. Kamu lelah, pikiranmu tidak tenang. Pergilah ke dokter, minta obat tidur. Jangan menuduh diri sendiri dengan hal yang tidak perlu."

"Bagaimana mungkin aku tidak merasa bersalah?!" Jingga menangis terisak, memeluk tubuhnya sendiri yang terasa dingin. "Aku bisa menolak permintaanmu Mas. Aku bisa saja menolong Gala. Tapi aku mendengarkanmu. Dan sekarang... setiap kali menutup mata, aku melihat wajah mereka berdua."

Bima terdiam sejenak, lalu mendekat, suaranya melemah namun tetap tegas. "Dengarkan aku, Jingga. Tidak ada yang tahu. Tidak ada bukti. Tidak ada saksi. Semua sudah selesai. Tidak ada yang akan datang mencarimu. Tidak ada hantu, tidak ada bayangan. Semua itu hanya ada di kepalamu sendiri."

"Bagaimana kamu bisa begitu tenang?" Jingga menatap pria itu, matanya merah dan bengkak. "Apakah hatimu tidak merasa bersalah sedikit pun?"

Wajah Bima mengeras. "Kalau aku lemah sepertimu, siapa yang akan melindungimu nanti? Kamu sendiri yang akan menjatuhkan dirimu. Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."

"Melindungiku?" Jingga tertawa getir, air matanya semakin deras. "Kamu menyebut ini melindungiku? Menutup mata atas kematian orang lain, lalu membiarkanku hidup dalam ketakutan setiap detiknya? Ini bukan perlindungan, Mas. Ini neraka."

Pertengkaran itu berlangsung lama, hingga tak ada lagi yang tersisa selain keheningan yang penuh luka. Bima akhirnya pergi, menutup pintu dengan kasar, meninggalkan Jingga sendirian di kamar yang terasa semakin sempit dan mencekam.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Jingga mulai tak berani berjalan sendirian, tak berani menatap cermin, karena ia sering merasa melihat bayangan di belakang punggungnya, sesosok yang diam, mengikuti setiap langkahnya, tak pernah menjauh, tak pernah benar-benar mendekat. Setiap kali ia bercerita pada Bima, jawabannya selalu sama, halusinasi, kelelahan, rasa bersalah yang berlebihan.

"Kamu sudah minum obatnya?" tanya Bima, nadanya dingin, seakan berbicara pada seseorang yang rapuh dan tak bisa dipercaya.

"Aku tidak butuh obat," jawab Jingga pelan, matanya menatap lurus ke arah jendela yang tertutup rapat. "Aku butuh kita berhenti berbohong. Aku butuh mengakui apa yang terjadi."

Bima meletakkan sendoknya dengan keras di meja makan. "Mengakui apa? Mengakui bahwa kita terlibat? Lalu apa? Kamu mau dipenjara? Kita berdua hancur, Jingga! Apakah itu yang kamu mau?"

"Lebih baik begitu daripada hidup seperti ini!" Jingga berdiri, suaranya meledak. "Setiap detik rasanya seperti mati pelan-pelan. Setiap kali tersenyum, aku merasa berdusta. Setiap kali melihat orang lain berbicara, aku merasa mereka sudah tahu. Aku lelah, mas. Aku lelah menyembunyikan semuanya."

"Kalau kamu bicara begitu, kamu tidak hanya menghancurkan dirimu sendiri," Bima menatapnya tajam, matanya menyala dengan amarah yang tak bisa disembunyikan lagi. "Kamu juga menghancurkan aku. Semua yang sudah kubangun, semua yang kita miliki akan hilang begitu saja."

"Apakah semua ini lebih berharga daripada nyawa mereka?" tanya Jingga, suaranya pecah.

Bima terdiam, menatap sang istri lama, lalu bangkit berdiri. "Aku tidak akan berdiskusi hal ini lagi. Kamu istirahat. Besok kita bicara kalau pikiranmu sudah jernih."

Bima pergi, meninggalkan Jingga yang terjatuh kembali ke kursi, menangis dalam kesunyian yang begitu pekat.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!