Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingan?
Di dalam ruangan VVIP yang megah, Lucian berdiri tegak di balik pembatas kaca kedap suara. Tatapannya menerobos turun ke arah lautan manusia yang berdesakan di lantai dansa. Pria itu menenggak segelas minuman dengan kadar alkohol tinggi, namun cairan keras itu sama sekali tidak memengaruhi kesadarannya.
Pikirannya justru berantakan sejak pagi tadi akibat ulah sang istri. Pria itu mengira Celeste mengurung diri di ruang lukis karena marah, namun siapa sangka, kini ia justru menemukan istrinya tengah asyik menari di tengah kerumunan bar miliknya sendiri.
Rahang Lucian langsung mengeras seperti batu saat melihat seorang pria asing mencoba melecehkan Celeste. Meskipun sang istri melakukan perlawanan hebat dibantu oleh sahabatnya, amarah Lucian membakar dada ketika tiga orang preman lainnya maju untuk mengeroyok.
Lucian melempar gelas kaca di tangannya hingga hancur berkeping-keping di lantai, membuat para sahabatnya yang duduk di sofa sontak tersentak kaget.
"Ada apa, Lucian?" tanya salah satu dari mereka heran.
Lucian sama sekali tidak menjawab. Dengan pancaran mata tajam bagai pisau bedah dan aura mengerikan yang mencengkeram, ia melangkah keluar begitu saja, meninggalkan teman-temannya dalam kebingungan luar biasa.
Di lantai bawah, situasi tengah memanas. Baru saja Celeste memasang kuda-kuda setelah menjatuhkan seorang preman, tubuhnya tiba-tiba menubruk dada bidang seseorang. Sebuah lengan kokoh melingkar posesif memeluk pinggangnya.
Sebelum Celeste sempat menoleh, ketiga preman yang tersisa langsung menyerang membabi buta karena tidak tahu siapa pria yang baru datang itu.
Namun, pemandangan selanjutnya sukses membuat siapapun terperangah. Hanya dengan satu tangan, Lucian menangkis dan memukul jatuh para preman itu dalam hitungan detik. Sementara tangan kanannya yang lain tetap memeluk erat pinggang ramping Celeste, menarik tubuh istrinya merapat ke tubuhnya.
"Istriku yang nakal..." bisik Lucian tepat di telinga Celeste dengan nada serak yang sarat godaan sensual, kontras dengan gerakan tangannya yang sedang menghajar wajah musuh secara brutal.
"Kalian terlalu berani menyentuh istriku" ucap Lucian.
Celeste tertegun di tempat. Bagaimana bisa suaminya fokus menghabisi para pengganggu ini sambil berbisik mesra dan menggoda di tengah kekacauan? Sensasi merinding hebat langsung menjalar ke seluruh tulang belakangnya.
Begitu preman terakhir tersungkur pingsan, Lucian tanpa basa-basi menarik tangan Celeste untuk membawanya naik ke area VVIP.
"Roxy, cepat!" bisik Celeste panik, dengan sigap menarik tangan Roxy agar ikut terseret mengikuti langkah lebar sang penguasa St. Claire yang tengah diliputi amarah.
"Pelan-pelan, Ian!" kata Celeste saat melihat sahabatnya terseok-seok akibat tarikan tangannya. Lucian memelankan langkahnya, hingga langkah kaki mereka juga teratur.
Begitu mereka tiba di depan pintu VVIP, Lucian membukanya dan menyuruh Celeste serta Roxy masuk lebih dulu.
Begitu melangkah masuk, Celeste dan Roxy langsung dibuat takjub oleh kemewahan ruangan tersebut. Di sana, sudah ada empat orang yang menunggu, tiga pria konglomerat dan seorang wanita cantik berpenampilan elegan. Sekilas, Celeste sempat berpikir apakah wanita itu adalah kekasih rahasia suaminya, namun ia langsung menepis pikiran konyol itu dari kepalanya.
"Duduk, Este. Mau sampai kapan kamu berdiri hm?" Tiba-tiba, tangan besar Lucian kembali melingkar di pinggangnya, menuntunnya duduk di sofa. Di sisi lain, Celeste bisa merasakan tangan Roxy menggenggam erat tangannya dengan gemetar hebat.
Celeste menoleh, mendapati sahabatnya menatap nanar ke arah salah satu pria berambut blonde di ruangan itu, yang tampak sama terkejutnya saat melihat Roxy.
Tanpa aba-aba, Roxy langsung berbalik, berniat melarikan diri keluar ruangan. "Aku mau pulang sekarang, Este!" bisiknya buru-buru.
Namun terlambat. Pria berambut blonde itu sudah lebih dulu melangkah cepat dan mencekal pergelangan tangan Roxy.
"Roxy!"
"Lepaskan, bajingan!" desis Roxy marah sambil meronta kuat.
Mendengar umpatan kasar dari Roxy, Celeste reflek menutup mulutnya karena terkejut. Ia baru menyadari siapa pria di hadapannya ini, pria brengsek masa lalu yang telah menghancurkan hati sahabatnya.
"Samuel...?" gumam Celeste menebak pelan.
Pria berambut blonde itu dengan kaku mengangguk tanpa melepaskan pegangannya dari tangan Roxy.
Celeste yang tidak tega melihat sahabatnya tersiksa langsung beraksi, berdiri di antara mereka. "Jika perempuan itu tidak mau, jangan dipaksa!" ucap Celeste tegas.
Samuel menghela napas berat, beralih menatap Roxy dengan sorot mata penuh sesal. "Roxy... aku hanya ingin meluruskan semuanya," bujuknya lirih.
"Tidak ada! Tidak ada lagi yang harus dibicarakan di antara kita!" ketus Roxy tajam.
"Roxy... kumohon," suara Samuel terdengar serak, kontras dengan gayanya yang biasanya angkuh dan brengsek. "Aku tahu aku salah. Aku tahu bajingan di hadapanmu ini pantas mati karena telah membuatmu pergi. Tapi setidaknya... beri aku waktu lima menit saja untuk bicara. Jangan langsung menghindariku seperti aku ini wabah."
Roxy mendengus sinis, membuang muka ke arah lain dengan rahang mengeras. "Lima menit untuk apa, Samuel? Menambah alasan konyol baru untuk membenarkan kebohonganmu? Hubungan kita sudah selesai sejak malam di apartemen itu. Jadi, singkirkan tanganmu dariku!"
Samuel menghela napas berat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miris. "Bukan alasan. Aku tidak mencari pembenaran, Baby. Aku hanya ingin kamu mendengar yang sebenarnya dari mulutku sendiri, bukan dari gosip murahan majalah gosip yang tidak tahu apa-apa."
Samuel menggeser posisinya, bergerak sedikit lebih dekat tanpa memberi jarak bagi Roxy untuk kabur. Jemarinya perlahan terulur, menyentuh lembut ujung jemari Roxy yang terasa dingin. "Kamu tahu persis aku tidak pernah pandai merangkai kata manis, Baby. Selama ini, hidupku berantakan sejak kamu pergi dari sisiku. Tempat duduk di sebelahku di meja kerja, aroma parfummu yang tertinggal di jaket kulitku... semuanya terasa kosong."
Mendengar rayuan yang terdengar begitu putus asa itu, pertahanan keras kepala Roxy sedikit bergetar. Ia menoleh, menatap Samuel tajam. "Gombalanmu basi, Samuel."
"Tapi itu tulus," potong Samuel cepat, suaranya melembut, menghanyutkan siapa pun yang mendengarnya. "Duduklah bersamaku di sofa ujung sana. Kita minum sekadar untuk mengenang masa lalu, atau memaki-makiku sepuasmu. Setelah lima menit itu, jika kamu tetap ingin menendangku keluar dari sini, aku tidak akan melawan. Janji."
Celeste, yang berdiri di samping Lucian, memperhatikan interaksi itu dengan napas tertahan. Ia bisa melihat bagaimana Samuel, pria playboy yang terkenal keras kepala dan gengsinya setinggi langit kini rela merendahkan diri demi meluluhkan hati sahabatnya.
Roxy terdiam sejenak. Ia menatap wajah Samuel lekat-lekat, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanya bayangan kelelahan dan kerinduan yang nyata. Dengan helaan napas kasar tanda menyerah, Roxy akhirnya mendengus pasrah.
"Baiklah. Hanya lima menit. Kalau lewat dari itu, kepala blondemu ini akan ku jadikan asbak," ancam Roxy ketus, meski akhirnya ia melangkah juga mengikuti Samuel menuju sofa.
Melihat sahabatnya akhirnya luluh, Celeste menghembuskan napas lega.
Di sebelahnya, Lucian merapatkan rangkulan di pinggang Celeste. Pria itu menunduk, mengecup pelan puncak kepala istrinya sambil berbisik rendah, "Kamu terlalu mencemaskan urusan orang lain, Este-ku. Fokuslah padaku malam ini."
Lucian menarik Celeste untuk duduk kembali, memeluk pinggang istrinya dengan posesif. Merasa gaun mini Celeste terlalu terbuka di bagian paha, Lucian spontan melepaskan jas formalnya dan menutupkannya di atas paha putih sang istri.
Pria itu kemudian menyandarkan lengannya di sandaran sofa, jemarinya dengan telaten memainkan helaian rambut Celeste yang terurai dari sanggul, bahkan sempat-sempatnya mengecup sekilas bahu terbuka istrinya.
Melihat pemandangan itu, ketiga sahabat pria Lucian langsung melongo tak percaya. Bagaimana mungkin seorang Lucian St. Claire, pria yang dikenal paling jijik dan alergi terhadap perempuan kini memperlakukan istrinya sedemikian posesif layaknya barang berharga paling suci?
"Wah, wah... lihat siapa yang sekarang sudah bisa menempel seperti perangko," celetuk Damian Vance, pewaris konglomerat media massa, berandai-andai dengan senyum miring yang usil.
"Sudahlah, Damian, jangan mengganggunya. Kau lihat sendiri aura membunuhnya tadi?" timpal Samuel Sterling, pengusaha pelayaran internasional yang baru saja patah hati dari Roxy.
Sementara pria ketiga, Keegan Montgomery, pemilik jaringan hotel mewah yang terkenal playboy dan paling receh, tertawa terbahak-bahak. "Luar biasa! Teman kita yang dulunya seperti es batu kutub utara kini resmi bertekuk lutut!"
Keempat orang itu sudah bersahabat karib sejak kecil, berasal dari kalangan elit konglomerat papan atas. Dan bukan hanya sekedar sahabat tapi sudah menjadi keluarga.
Tak lama kemudian, perhatian Celeste teralih pada satu-satunya wanita di ruangan itu. Wanita bergaun sutra putih dengan senyum lembut dan elegan. Ia adalah Cassia Montgomery, adik kandung Keegan. Sekilas, Celeste bisa menangkap binar kekaguman tersembunyi di mata wanita itu saat menatap suaminya, membuat dada Celeste berdesir aneh.
"Salam kenal, Nyonya St. Claire. Aku Cassia," sapa wanita itu ramah namun menyembunyikan selaksa makna terselubung.