Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Bersama 3 Bidadari
Pagi di ndalem Darunnajah jam 6 pagi, tapi dapur sudah kayak pasar.
Umi sibuk di kompor, Ibu Sopiah ngiris bawang, A Hafidz mondar-mandir bawa piring. Harumnya sampai ke masjid.
Jam 07.00, semua kumpul di meja makan panjang kayu jati. Menu lengkap. Inilah sarapan pertama setelah malam pertama. Dan inilah pertama kalinya Guz Azam resmi sarapan sebagai suami dari 3 orang.
Guz Azam duduk di tengah, masih dengan koko putih malam tadi dan sarung Darunnajah. Wajahnya... salting parah. Merah. Tidak berani lihat siapa-siapa. Di depan mukenanya masih ada bekas lipatan sujud syukur semalam.
Di kiri: Ning Ummah. Di kanan: Ning Latifah. Di depannya: Ning Sopia. Lengkap. Tiga bidadari Darunnajah mengelilingi satu raja.
Ning Sopia paling malu. Wajahnya masih dengan gamis putih bersih, kerudung putih polos. Dari tadi cuma nunduk. Nasi di piringnya diaduk-aduk terus tapi gak dimakan. Kalau Guz Azam lihat, dia langsung nunduk lebih dalam.
Ning Ummah yang paling senior, dengan kalemnya, menuangkan teh anget jahe buatan Umi ke gelas Guz Azam.
"Guz, ini teh angetnya Umi. Minum dulu biar anget badannya. Semalam kan pasti begadang, kedinginan ya?" ucap Ning Ummah lembut, tapi matanya ada jailnya.
Guz Azam batuk. "Eh... iya Mbak Ummah... makasih..."
Belum selesai, Ning Latifah sudah menyodorkan piring dengan gaya pelayan restoran bintang 5.
"Dan ini, untuk Baginda Raja Darunnajah yang semalam baru saja sah... Gudeg Jogja dan Ayam Kecap kesukaan Baginda! Spesial dimasak oleh koki pribadi Baginda yang paling cantik dan paling S2-able, yaitu saya, Ning Latifah!" kata Ning Latifah dengan nada presenter.
Seisi meja langsung ngakak. Umi sampai nutup mulut.
Ning Sopia yang lagi nunduk, langsung ketawa kecil.
Guz Azam makin merah. "Tifah... kamu ini..."
Ning Latifah belum berhenti. Dia duduk lagi, menatap Ning Sopia dengan wajah nakal.
"Ning Sopia, ayo dong, giliran kamu. Masa Baginda Raja makannya cuma ditemenin teh sama gudeg. Harus ada yang nyendokin nasinya. Kan semalam sudah halal nyendokin hatinya, sekarang nyendokin nasinya juga."
"MBAAAK LATIFAAAH!" Ning Sopia hampir teriak, wajahnya sudah kayak tomat Darunnajah.
Ning Ummah ikutan jahil. "Iya Pi, ayo. Tadi malam katanya Guz udah berani genggam tangan dan cium kening... masa nyendokin nasi aja gak berani?"
Umi yang dari tadi diam, ikut nimbrung sambil ngakak. "Ummah, Latifah, jangan digodain terus, kasihan Sopia. Nanti nasinya gak jadi dimakan, dimakan grogi."
Di ujung meja, Ibu Sopiah cuma bisa geleng-geleng sambil senyum haru. "Ya Allah... rukunnya... Ibu dulu waktu malam pertama sama Abahnya Sopia, mana ada digodain kayak gini."
Ning Sopia akhirnya memberanikan diri. Dengan tangan gemetar, dia mengambil sendok, menyendok nasi putih anget, dan dengan malu-malu meletakkannya di piring Guz Azam yang sudah ada gudeg dan ayam kecap.
"Guz... monggo... sarapannya..." suaranya hampir tidak terdengar.
Guz Azam menatap piringnya. Piring paling mewah se-Darunnajah. Teh anget dari Ning Ummah, gudeg & ayam kecap dari Ning Latifah, nasi dari Ning Sopia. Lengkap.
"Duh... berasa raja ya Gus Azam ini hihi..." celetuk Ning Latifah pelan tapi semua dengar.
Dan mereka pun tertawa. Seisi meja makan Darunnajah tertawa hangat. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tawa keluarga.
Umi, Ibu Sopiah dan A Hafidz juga terkekeh.
A Hafidz yang dari tadi jadi tukang angkat piring, tampak sadar, lalu berkata dengan wajah polos tapi dalem banget.
"Duh beruntung ya Gus Azam bisa dilayani 3 Bidadari Darunnajah kayak gini... aku jadi iri... aku kapan ya..."
Hening 2 detik.
Lalu...
"HAFIDZ!!!" teriak Ibu Sopiah sambil lempar lap.
Seisi meja meledak ngakak lebih kencang lagi. Bahkan Ning Sopia yang paling pemalu sampai nangis karena ketawa.
Guz Azam yang tadi salting, akhirnya ikut tertawa juga. Tawanya lepas. Untuk pertama kalinya pagi itu.
Dia menatap ketiga istrinya satu-satu.
Ning Ummah yang keibuan, yang ngasih teh anget.
Ning Latifah yang jail, yang ngasih gudeg dan ayam kecap.
Ning Sopia yang pemalu, yang nyendokin nasi dengan tangan gemetar.
"Terima kasih ya... terima kasih sudah mau sarapan bareng. Azam janji... Azam akan adil. Azam akan jaga kalian bertiga seperti Abah Yai jaga Darunnajah," kata Guz Azam dengan suara pelan tapi semua dengar.
Ning Ummah menggenggam tangan Ning Sopia di bawah meja. Ning Latifah menggenggam tangan Ning Ummah. Rantai tangan tiga madu.
"Yang penting Guz jangan dingin lagi kayak kulkas 2 pintu ya malam ini," bisik Ning Latifah lagi, tapi kali ini pelan banget cuma buat Guz Azam.
Guz Azam melot. "Latifah!"
Ning Latifah kabur ke belakang Umi. "Ampun Baginda Raja!"
Pagi itu, sarapan di Darunnajah selesai dengan piring-piring kosong dan hati yang penuh. Di luar, santri sudah siap ngaji pagi. Di dalam, 3 Bidadari dan 1 Raja, plus Umi, Ibu, dan A Hafidz yang masih iri, tertawa bersama.
Dan dari jendela ndalem, 500 tangkai mawar putih bekas akad kemarin masih berdiri, menjadi saksi bahwa cinta yang rukun itu memang paling diridhoi.
---Besambung---