NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Lemitless

Reincarnation Of The Lemitless

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 — Air Terjun Sembilan Tingkat

Seraphina mengusulkan sesuatu yang tidak terduga suatu pagi, ketika Kael sudah mencapai tingkat Mahir awal dalam Teknik Langkah Bayangan Angin.

"Ada tempat yang bisa membantumu menyempurnakan kontrol Qi-mu lebih jauh," katanya sambil menyeruput teh paginya.

"Air Terjun Sembilan Tingkat, sekitar tiga hari perjalanan dari Grandis. Tempat itu terkenal karena arus airnya yang sangat sulit diprediksi, sempurna untuk melatih presisi pergerakan."

"Kedengarannya menarik," Kael berkata, penasaran dengan pengalaman baru itu. "Bagaimana kau tahu tentang tempat ini?"

"Aku pernah berlatih di sana sendiri, berabad-abad lalu," Seraphina menjawab dengan senyum nostalgia.

"Tempat itu belum berubah signifikan berdasarkan apa yang bisa kurasakan dari energi alam di sekitarnya."

Setelah mendapat izin dari Tetua Marcus untuk cuti latihan singkat—mengingat kemajuan luar biasa yang telah ditunjukkan Kael, permintaan itu disetujui tanpa banyak pertanyaan—mereka berangkat berdua menuju lokasi tersebut, meninggalkan hiruk-pikuk Grandis untuk sementara waktu.

Perjalanan tiga hari itu terasa seperti liburan singkat di tengah ketegangan yang telah menyelimuti hidup mereka sejak pertemuan dengan Dravos.

Mereka berbicara tentang berbagai hal ringan, tertawa bersama mengingat momen-momen konyol sejak pertama kali bertemu, dan menikmati kebersamaan tanpa bayang-bayang ancaman yang selalu mengintai di Grandis.

Ketika mereka akhirnya tiba di lokasi, pemandangan yang menyambut mereka benar-benar menakjubkan—air terjun raksasa yang jatuh dalam sembilan tingkatan berbeda, masing-masing menciptakan kolam kecil sebelum mengalir turun ke tingkat berikutnya, dikelilingi tebing hijau yang dipenuhi tanaman langka yang berkilau lembut di bawah sinar matahari.

"Ini luar biasa," Kael berkata, terpesona oleh keindahan alami yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

"Tunggu sampai kau mencoba berlatih di sana," Seraphina berkata dengan senyum menantang.

"Arus di setiap tingkat berbeda kekuatan dan arahnya, menciptakan tantangan yang sempurna untuk menguji kontrol Qi-mu dalam kondisi yang terus berubah."

Mereka mendirikan perkemahan sederhana di dekat kolam ketiga, dan Kael segera memulai latihannya, mencoba menggunakan Teknik Langkah Bayangan Angin untuk melintasi permukaan air yang bergolak tanpa tenggelam—tantangan yang jauh lebih sulit daripada sekadar bergerak cepat di daratan datar.

Percobaan pertamanya berakhir dengan dia jatuh basah kuyup ke dalam kolam, arus yang tidak terduga membuatnya kehilangan keseimbangan hanya beberapa detik setelah mulai melangkah.

"Air tidak peduli seberapa kuat niatmu," Seraphina berkata sambil tertawa kecil melihatnya muncul kembali ke permukaan dengan rambut basah kuyup menutupi wajahnya. "

Kau harus belajar membaca dan menyesuaikan diri dengan setiap perubahan arus secara real-time."

[Adaptation terhadap Arus Air Tidak Teratur: 3%.]

Kael mencoba lagi, dan lagi, setiap kali basah kuyup namun setiap kali juga belajar sedikit lebih banyak tentang bagaimana menyesuaikan aliran Qi-nya terhadap kondisi permukaan yang terus berubah di bawah kakinya.

[Teknik Langkah Bayangan Angin — Mahir 12%.]

Hari demi hari, kemajuannya semakin nyata. Dia mulai bisa melintasi kolam ketiga tanpa jatuh, meski masih dengan gerakan yang agak kaku dan tidak seanggun yang dia inginkan.

Seraphina mengamati dengan sabar, sesekali memberikan saran atau mendemonstrasikan gerakan yang lebih halus menggunakan Blood Step miliknya sendiri.

Pada hari ketiga latihan mereka di sana, ketika senja mulai turun dan cahaya keemasan menyinari air terjun dengan cara yang magis, Kael akhirnya berhasil melintasi seluruh sembilan tingkat air terjun dalam satu rangkaian gerakan yang mulus, kakinya hampir tidak menyentuh permukaan air yang bergejolak di bawahnya.

[Teknik Langkah Bayangan Angin — Mahir 45%.]

Dia berhenti di puncak tingkat kesembilan, berdiri di atas batu licin yang menjadi sumber air terjun, menatap ke bawah dengan napas terengah namun perasaan pencapaian yang luar biasa.

"Kau berhasil!" Seraphina berseru dari bawah, suaranya penuh kebanggaan yang tulus.

Kael tersenyum lebar, dan dengan gerakan yang jauh lebih percaya diri, dia melompat turun, menggunakan tekniknya untuk memperlambat jatuhnya secara bertahap melalui setiap tingkat air terjun, mendarat dengan mulus di dekat Seraphina tanpa basah sedikit pun.

"Itu sempurna," Seraphina berkata, matanya berbinar dengan kekaguman yang jelas terlihat.

"Aku tidak akan bisa mencapainya tanpamu," Kael menjawab tulus, menatapnya dengan penghargaan yang mendalam.

Mereka berdiri berdekatan, cahaya senja keemasan menerangi wajah mereka berdua, dan untuk sesaat, waktu seolah berhenti di tempat itu.

Seraphina menatap mata Kael, dan sesuatu yang telah lama tumbuh di antara mereka terasa semakin nyata, semakin sulit untuk diabaikan.

"Kael," dia berbisik pelan, suaranya bergetar dengan emosi yang telah lama dia coba sembunyikan.

"Ya?" Kael menjawab, merasakan detak jantungnya sendiri berpacu lebih cepat dari yang seharusnya hanya karena kelelahan latihan.

Sebelum Seraphina sempat melanjutkan apa yang ingin dia katakan, suara gemerisik di semak-semak terdekat membuat mereka berdua langsung waspada, insting bertahun-tahun mengambil alih momen intim yang hampir terjadi.

Dari balik semak itu, muncul sesosok burung pembawa pesan sihir milik Heavenly Sword Sect, membawa gulungan kecil yang diikatkan di kakinya, jelas mencari mereka dengan pesan yang tampaknya mendesak.

Seraphina menghela napas, sedikit kecewa dengan gangguan itu namun tetap mengambil gulungan tersebut dengan profesional.

Dia membacanya dengan cepat, dan wajahnya berubah serius seketika.

"Ada apa?" Kael bertanya, melihat perubahan ekspresinya.

"Pesan dari Tetua Marcus," Seraphina menjawab, suaranya kembali tegang.

"Sesuatu telah terjadi di Grandis. Kita harus segera kembali."

---

Berkat Teknik Langkah Bayangan Angin yang baru saja dia sempurnakan, perjalanan kembali ke Grandis yang seharusnya memakan waktu tiga hari berhasil dipersingkat menjadi hanya satu setengah hari, dengan Kael dan Seraphina bergerak dengan kecepatan gabungan yang mengesankan bahkan bagi Seraphina sendiri.

"Kau benar-benar sudah menguasainya," Seraphina berkomentar di sela-sela perjalanan cepat mereka, sedikit terengah mengejar kecepatan Kael yang kini hampir menyamai kemampuan Blood Step miliknya sendiri.

"Aku hanya punya guru yang baik," Kael menjawab tanpa mengurangi kecepatannya, pikirannya terlalu terfokus pada kekhawatiran tentang apa yang telah terjadi di Grandis untuk benar-benar menikmati pujian itu.

Ketika mereka akhirnya tiba di gerbang kota, suasana yang menyambut mereka jauh berbeda dari kehidupan normal yang biasa mereka lihat.

Penjaga tampak lebih waspada dari biasanya, dan beberapa area di dekat distrik sekte tampak dipagari dengan barisan kultivator berjaga.

Mereka segera bergegas menuju Heavenly Sword Sect, di mana Tetua Marcus sudah menunggu dengan wajah tegang di gerbang utama.

"Apa yang terjadi?" Kael bertanya tanpa basa-basi, merasakan urgensi dalam setiap gerakan orang-orang di sekitarnya.

"Serangan," Tetua Marcus menjawab singkat, memimpin mereka masuk sambil menjelaskan situasi dengan cepat.

"Tiga hari lalu, sekelompok kultivator tak dikenal menyerang gudang penyimpanan sumber daya sekte, mencoba mencuri beberapa artefak dan bahan kultivasi langka."

"Apakah mereka berhasil?" Seraphina bertanya, meski dia sudah punya firasat buruk tentang jawabannya.

"Sebagian," Tetua Marcus mengakui dengan nada frustrasi.

"Mereka berhasil kabur dengan beberapa item penting sebelum tim pertahanan kami bisa menghentikan mereka sepenuhnya. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah identitas para penyerang."

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Berdasarkan pola serangan dan beberapa saksi yang selamat, kami yakin mereka adalah pengikut Dravos."

Berita itu membuat Kael dan Seraphina saling pandang dengan kekhawatiran yang sama.

"Apa yang mereka curi secara spesifik?" Kael bertanya.

"Beberapa Spirit Crystal tingkat tinggi, dan yang paling mengkhawatirkan, sebuah artefak kuno yang baru-baru ini ditemukan oleh tim eksplorasi sekte di reruntuhan dekat perbatasan utara—sebuah cermin yang konon memiliki kemampuan untuk melacak energi darah kuno."

"Cermin pelacak darah," Seraphina bergumam, wajahnya memucat mendengar deskripsi itu.

"Jika itu benar-benar seperti yang kudengar dalam legenda kuno, itu bisa digunakan untuk melacak keberadaan seseorang berdasarkan komposisi darah unik mereka."

"Kau pikir mereka akan menggunakannya untuk melacakku," Kael menyimpulkan dengan nada berat.

"Kemungkinan besar," Tetua Marcus mengangguk serius.

"Sect Master Aldric telah meningkatkan keamanan di seluruh area sekte, terutama di sekitar pavilionmu, tapi kita perlu mempertimbangkan langkah pencegahan tambahan."

Mereka melanjutkan pertemuan di ruang tetua, di mana Sect Master Aldric sendiri bergabung untuk membahas strategi lebih lanjut.

"Aku sudah mengirimkan pesan kepada Raja Valtherion tentang situasi ini," Aldric menjelaskan dengan nada serius yang jarang dia tunjukkan.

"Mengingat skala ancaman yang mungkin dihadapi, kita mungkin perlu pertimbangkan aliansi yang lebih luas dengan kerajaan dan sekte lain."

"Apakah ada kemungkinan Dravos akan menyerang secara langsung?" Kael bertanya, mengingat kata-kata Dravos sendiri tentang menunggu sampai dia 'siap'.

"Aku tidak yakin," Aldric mengakui.

"Tapi pencurian artefak pelacak ini menunjukkan bahwa dia mungkin tidak berencana menunggu selama yang dia klaim sebelumnya. Mungkin dia mencoba mempercepat rencananya dengan cara lain."

Seraphina, yang sejak awal pertemuan tampak semakin tegang, akhirnya angkat bicara dengan suara yang bergetar oleh kekhawatiran yang mendalam. "Jika cermin itu benar-benar berfungsi seperti yang dijelaskan, mereka mungkin sudah bisa melacak lokasi Kael kapan saja mereka mau, terlepas dari seberapa jauh kita berlari atau bersembunyi."

Keheningan berat menyelimuti ruangan itu, semua orang menyadari implikasi serius dari kemungkinan tersebut.

"Kalau begitu," Kael akhirnya berkata, suaranya tegas meski berat dengan kesadaran akan bahaya yang semakin nyata, "kita tidak punya pilihan selain mempercepat persiapan kita sendiri. Aku perlu menjadi cukup kuat untuk menghadapi apa pun yang mereka rencanakan, secepat mungkin."

"Ada satu opsi yang mungkin bisa membantu," Tetua Marcus menawarkan setelah momen pertimbangan.

"Ada sebuah tempat kultivasi kuno di wilayah pegunungan Sylvaria, dekat World Tree, yang dikenal memiliki konsentrasi energi alam yang sangat tinggi. Jika kita bisa mendapatkan izin dari Sylvariel Kingdom untuk mengaksesnya, itu bisa mempercepat kultivasimu secara signifikan."

Kael teringat tawaran Lyra sebelumnya untuk mengunjungi Sylvaria kapan saja dia membutuhkan bantuan.

"Aku rasa aku punya kontak yang bisa membantu mendapatkan izin itu," katanya dengan senyum tipis muncul di tengah situasi tegang itu.

"Putri Lyra?" Aria, yang juga hadir dalam pertemuan itu, menebak dengan senyum jenaka meski situasinya serius.

"Tepat sekali," Kael mengangguk.

Aldric mempertimbangkan usulan itu sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju.

"Baiklah. Kirim pesan kepada Putri Lyra, jelaskan situasi kita, dan minta izin untuk kunjungan kultivasi mendesak. Sementara itu, kita akan terus memperkuat pertahanan di sini dan mengumpulkan lebih banyak informasi tentang pergerakan Dravos."

Rapat itu berakhir dengan rencana baru mulai terbentuk, dan ketika Kael akhirnya kembali ke pavilionnya malam itu bersama Seraphina, dia merasakan berat dari eskalasi cepat situasi yang mereka hadapi.

"Semuanya bergerak lebih cepat dari yang kuperkirakan," katanya sambil duduk lelah di tepi ranjangnya.

"Kita akan menghadapinya, seperti biasa," Seraphina menjawab, duduk di sebelahnya dengan tangan yang menggenggam tangannya erat.

"Bersama."

Kael menatapnya, teringat momen yang terinterupsi di Air Terjun Sembilan Tingkat, bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin dikatakan Seraphina sebelum pesan mendesak itu tiba.

Namun dengan situasi genting yang kini mereka hadapi, dia memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu untuk waktu yang lebih tenang—jika waktu seperti itu akan datang lagi sebelum konfrontasi besar dengan Dravos benar-benar terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!