NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Darren mengusap wajahnya kasar, memutuskan untuk menyusul perawat yang mendorong brancard Sasi menuju ruang perawatan darurat.

Di sana, petugas medis dengan cepat memasangkan selang infus pada punggung tangan Sasi yang dingin.

"Pasien mengalami syok berat dan kelelahan fisik yang ekstrem," terang dokter jaga seraya memeriksa respons pupil mata Sasi.

"Tubuhnya tidak sanggup menahan tekanan emosional berlebih. Kami sudah menyuntikkan vitamin dan penenang agar beliau bisa beristirahat sejenak."

Darren bernapas lega, meski raut cemas belum sepenuhnya sirna dari wajahnya.

Ia menarik kursi kayu di samping ranjang Sasi, menatap iba wanita yang kini terbaring lemah dengan wajah pucat pasi tersebut.

Setelah memastikan kondisi Sasi stabil di bawah pengawasan perawat, Darren melangkah kembali menuju lorong ICU dengan langkah terburu-buru.

Dadanya bergemuruh, menantikan kepastian tentang kondisi sahabatnya.

Lampu merah di atas pintu ICU akhirnya padam. Dokter utama keluar seraya melepas sarung tangan medisnya yang berbecak noda darah.

Wajah sang dokter tampak sangat lelah, namun sorot matanya tak lagi selimbung sebelumnya.

"Bagaimana Adrian, Dok?!" cerca Darren penuh desakan.

Dokter menghela napas panjang, lalu menyunggingkan senyum tipis.

"Masa kritisnya sudah lewat. Kami berhasil mengembalikan irama jantungnya ke tingkat yang lebih stabil. Meski belum sadarkan diri dari komanya, kondisi vitalnya jauh lebih membaik dari beberapa jam lalu."

Darren mengepalkan tangannya ke udara, meremas jemarinya seraya mengembuskan napas lega yang teramat dalam.

Badai mengerikan di tengah malam itu perlahan mulai menyingkir, menyisakan secercah harapan bagi kehidupan Adrian dan Sasi.

Darren melangkah cepat kembali ke ruang perawatan Sasi.

Pria itu menyandarkan punggungnya di ambang pintu, menatap Sasi yang masih terbaring lelap dengan selang infus menempel di tangannya.

Rona di wajah Sasi perlahan mulai kembali, tak lagi sepucat beberapa jam lalu.

Perlahan, kelopak mata Sasi bergerak tipis. Ia menyesuaikan matanya dengan silau lampu ruangan sebelum akhirnya memegang kepalanya yang masih terasa berat dan berdenyut.

"Darren," panggil Sasi dengan suara parau.

Darren langsung mendekat, mengambilkan segelas air hangat dan menyerahkannya dengan hati-hati.

"Jangan mendadak bangun, Sasi. Tubuhmu masih lemas."

Sasi menepis rasa pusing di kepalanya. Ingatannya tentang detik-detik mengerikan di depan ruang ICU mendadak berputar kembali dengan sangat jelas.

Matanya membelalak penuh ketakutan, mencengkeram lengan baju Darren erat-erat.

"Mas Adrian, Darren, bagaimana Mas Adrian?! Tadi, jantungnya." suara Sasi bergetar hebat, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata.

Darren mengulas senyum hangat dan menepuk pelan tangan Sasi untuk menenangkannya.

"Adrian selamat, Sasi. Masa kritisnya sudah lewat."

Sasi terpaku, dadanya kempas-kempis menahan napas. "B-benarkah?"

"Benar. Dokter berhasil mengembalikan irama jantungnya," lanjut Darren penuh keyakinan.

"Kondisinya sudah jauh lebih stabil sekarang. Dia benar-benar pria yang kuat, Sasi. Dia berjuang untuk kembali padamu."

Isak tangis Sasi pecah seketika, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan rasa syukur yang teramat mendalam.

Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengucapkan doa tanpa henti di dalam hati atas keajaiban yang menyelamatkan nyawa suaminya.

Pintu ruang perawatan Sasi terbuka perlahan. Maya, sekretaris pribadi Adrian, melangkah masuk dengan raut wajah cemas sekaligus ragu.

Di tangannya, ia memegang sebuah map dokumen tebal berwarna biru tua.

"Selamat pagi, Bu Sasi," sapa Maya santai dan pelan, menunduk sopan.

"Maaf mengganggu waktu istirahat Ibu."

Sasi mencoba duduk bersandar di tempat tidur, dibantu oleh Darren.

"Tidak apa-apa, Maya. Ada apa?"

Maya menghela napas panjang, menatap map di tangannya dengan gundah.

"Ini terkait proyek kerja sama utama perusahaan dengan investor asing, Bu. Tenggat waktunya hari ini. Jika tidak segera ditandatangani, proyek bernilai miliaran ini bisa batal dan dampaknya sangat besar bagi perusahaan Pak Adrian."

Darren mengerutkan dahi. "Adrian masih belum sadarkan diri di ICU, Maya.

Korupsi dan kekacauan dari kasus Hendrik saja belum sepenuhnya selesai, kita tidak bisa memaksakannya."

Mendengar hal itu, Sasi menatap map di tangan Maya dengan pandangan mantap.

Binar keraguan di matanya telah sirna, berganti dengan tekad kuat untuk berdiri melindungi apa yang telah diperjuangkan suaminya.

"Biar aku yang menandatanganinya," ucap Sasi tegas dan tanpa ragu.

Maya dan Darren seketika terperanjat, menatap Sasi tak percaya.

"Sasi, kamu yakin?" tanya Darren memastikan.

"Secara hukum, kamu memang berhak sebagai istri sah dalam kondisi darurat medis seperti ini, tapi tanggung jawabnya sangat besar."

Sasi mengangguk mantap, menatap Darren dan Maya bergantian.

"Mas Adrian sudah memperjuangkan hidupnya di ruang ICU. Aku tidak boleh biarkan perusahaan yang dia bangun dengan susah payah ikut hancur. Aku istrinya, dan aku yang akan mengambil alih tanggung jawab ini sampai Mas Adrian bangun."

Maya tersenyum haru, segera menyerahkan dokumen dan pena kepada Sasi.

Dengan jemari yang mantap, Sasi membubuhkan tanda tangannya di atas lembar dokumen tersebut—sebuah bukti nyata bahwa ia bukan lagi wanita lemah, melainkan pelindung utama bagi Adrian dan masa depan keluarga mereka.

Usai membubuhkan tanda tangan pada dokumen penting tersebut, Sasi langsung meminta Maya mempersiapkan ruang rapat virtual.

Tidak ada waktu untuk ragu. Para investor dan dewan direksi harus diyakinkan bahwa kendali perusahaan tetap kokoh di bawah kepemimpinannya selama Adrian belum sadarkan diri.

Sasi merapikan pakaian dan rambutnya seadanya di ruang perawatan.

Didampingi Darren yang siap memberikan masukan dari segi hukum, Sasi membuka laptop dan bergabung ke dalam ruang rapat daring yang sudah dihadiri belasan petinggi perusahaan serta perwakilan investor asing.

Suasana rapat mendadak hening begitu wajah Sasi muncul di layar monitor. Raut tegang dan keraguan terpancar jelas dari wajah para peserta rapat.

"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," sapa Sasi tenang, suaranya terdengar jernih dan berwibawa tanpa sedikit pun menyisakan nada gemetar.

Seorang direksi senior langsung angkat bicara dengan nada skeptis.

"Ibu Sasi, kami mendengar kabar mengenai musibah yang menimpa Pak Adrian. Kami sangat prihatin, namun proyek ini melibatkan dana yang sangat besar. Apakah Ibu yakin bisa mengambil keputusan strategis tanpa kehadiran Pak Adrian?"

Sasi menatap lurus ke arah kamera, mengulas senyum tipis yang memancarkan ketegasan.

"Saya paham kekhawatiran Anda," tegas Sasi lurus.

"Namun perlu saya tegaskan, seluruh visi dan strategi proyek ini telah dirancang matang oleh suami saya. Dokumen persetujuan resmi sudah saya tandatangani selaku perwakilan sah keluarga dalam situasi darurat ini, dan didampingi langsung oleh tim hukum perusahaan."

Sasi lalu memaparkan poin-poin krusial proyek secara runtut dan presisi, menjawab setiap pertanyaan teknis dengan tenang.

Penjelasannya yang lugas dan penuh percaya diri perlahan mematahkan keraguan para dewan direksi.

"Perusahaan ini didirikan di atas fondasi yang kuat," lanjut Sasi penuh penekanan.

"Saya berada di sini untuk memastikan bahwa kepemimpinan Pak Adrian tetap berjalan tanpa hambatan sampai beliau kembali."

Rapat daring yang berlangsung selama satu jam itu diakhiri dengan kesepakatan bulat.

Para investor memberikan tepuk tangan apresiasi dan menyatakan komitmen penuh untuk melanjutkan kerja sama.

Maya bernapas lega seraya menatap Sasi dengan penuh rasa kagum, sementara Darren menyunggingkan senyum bangga.

Sasi baru saja membuktikan bahwa ia bukan sekadar pendamping, melainkan benteng terkuat yang siap melindungi impian Adrian di saat-saat paling krusial.

1
sunaryati jarum
Selamat Sasi Adrian kaliin akan jadi orang tua
sunaryati jarum
Setelah badai berlalu semoga hanya kebahagiaan yang kalian dapatkan, sedangkan Fitria menghabisinya sisa hidup di penjara
sunaryati jarum
Hebat kau Sasi dari wanita yang diperkosa dan dijadikan pion rencana jahat dari Hendrik bisa menyelesaikan masalah perusahaan dengan memuaskan, semoga berhasil dan perusahaan semakin berkembang dan menuntaskan masalah,selama Adrian dirawat
sunaryati jarum
Mudah sekali menangkap dua ular berbisa tanpa perlawanan dan drama
sunaryati jarum
wow mantap semoga berhasil
sunaryati jarum
Hendrik dan Fitria sedang menggali kuburan untuk mereka sendiri 😂😂😂
sunaryati jarum
Menyesal kan Adrian.Pests dan nikmati kebebasan sementara kamu, Fitria.Pembalasan Adrian nanti ,kamu ingat seumur hidupmu
sunaryati jarum
Semoga perangkap untuk Hendrik dan Fitria berhasil Adrian
sunaryati jarum
Drama yang sempurna , semoga Sasi selamat
sunaryati jarum
Analisis dokter masuk akal
sunaryati jarum
Timbul iba jadi cinta , Adrian
sunaryati jarum
Istri nggak mau punya anak sendiri, tidak usah menikah Fitria.Beriksn tubuhmu pada banyak pria tidak terikat apa- apa.
sunaryati jarum
Emak suka karakter Sasi yang tidak mau ditindas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!