NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangan yang Tak Sengaja Bersentuhan

Hari-hari setelah aku pulang dari rumah Ibu terasa berbeda, seakan ada benang halus yang mengikat kami lebih erat — bukan ikatan kewajiban, bukan ikatan janji, melainkan sesuatu yang lahir perlahan, diam-diam, dari kepercayaan yang tumbuh di antara dua hati yang dulu sama-sama kesepian. Arga tidak lagi menjaga jarak seketat dulu; ia tidak lagi menarik tanganku kembali secepat kilat jika takut terlihat orang lain. Namun di antara kami, kelembutan itu masih berjalan dengan langkah yang hati-hati — seakan kami berdua takut mengganggu keindahan momen yang masih rapuh ini, takut satu gerakan salah akan menghancurkan kehangatan yang baru saja mulai menyelimuti kami.

Pagi itu langit mendung, awan kelabu melayang rendah, menutupi cahaya matahari sehingga ruangan terasa remang dan sejuk. Kami sedang duduk di perpustakaan — ruangan yang luas, berbau buku tua dan kayu yang harum, tempat kami semakin sering menghabiskan waktu bersama, bukan untuk membaca hal-hal yang berat, melainkan untuk duduk berdampingan, berbagi keheningan yang nyaman. Arga sedang mencari buku di rak bagian bawah, ia menunduk, satu lutut menyentuh lantai, tangannya menyusuri punggung buku satu per satu, wajahnya terlihat tenang dan fokus. Aku berdiri tak jauh darinya, memegang tumpukan buku yang sudah kubaca, bersiap meletakkannya kembali ke tempatnya.

Saat ia berdiri perlahan, dan aku bergerak maju untuk meletakkan buku di rak yang sama, sesuatu terjadi — begitu cepat, begitu sederhana, namun mengubah suasana di antara kami seketika. Tangan kami terulur ke arah buku yang sama, dan punggung tanganku menyentuh punggung tangannya — bukan sentuhan yang direncanakan, bukan pelukan yang disiapkan, melainkan sentuhan yang tak sengaja, ringan, sekejap, namun terasa menjalar ke seluruh tubuh, hangat dan mengejutkan seakan ada getaran halus yang menyentuh tempat paling dalam di hatiku.

Kami berdua berhenti seketika. Ia tidak menarik tangannya. Aku juga tidak menggeser tanganku. Hanya berdiri begitu, tangan kami bersentuhan, mata kami bertemu, dan di keheningan yang tiba-tiba itu, aku melihat sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat sejelas ini — kerinduan yang ditahan, keinginan yang dijaga, ketakutan untuk melangkah terlalu jauh sekaligus harapan agar aku tidak mundur.

Jantungku berdegup kencang, napasku terasa tertahan. Aku bisa merasakan kehangatan kulitnya, halus namun teguh, bahkan di sentuhan yang sekilas itu. Ia menatap bibirku sebentar lalu kembali ke mataku, menelan ludah seakan mencari kata yang tepat namun tak menemukannya.

“Maaf…” suaranya terdengar rendah, sedikit serak, bukan karena kesalahan, melainkan karena gugup. “Aku tidak bermaksud…”

“Aku juga tidak,” jawabku pelan, suaraku nyaris tak terdengar.

Namun tidak ada yang menarik diri. Tangan kami masih di sana, punggungnya menyentuh punggungku, seakan ada kekuatan halus yang menahan kami untuk tidak berpisah. Perlahan, sangat perlahan, ia membalikkan telapak tangannya sehingga menyentuh telapak tanganku. Kulit kami saling melekat, hangat, pas, seakan memang diciptakan untuk saling menggenggam. Napasnya tersentuh sedikit, ia menatapku seakan meminta izin — tanpa kata, hanya dengan tatapan yang lembut dan penuh keraguan.

Aku mengangguk pelan, nyaris tak terlihat. Dan jari-jarinya menyusup perlahan ke sela jariku, menggenggam tanganku — tidak terlalu erat, tidak terlalu lemah, cukup agar aku merasa aman, cukup agar aku tahu bahwa ia takut kehilanganku namun berusaha tidak menakutiku.

“Tanganmu…” suaranya bergetar pelan, “kecil dan hangat. Tangan yang bisa melunakkan hati yang keras sekalipun.”

Aku tersenyum tipis, merasakan kehangatan genggamannya merambat ke seluruh tubuh. “Tanganmu kuat. Tangan yang bisa melindungi.”

Ia menghela napas panjang, seakan melepaskan beban yang selama ini ditahan di dadanya. “Aku takut memegang terlalu erat… takut melukaimu. Tapi aku juga takut melepaskan… takut kau pergi.”

“Tidak akan,” jawabku tegas namun lembut. “Kita bisa bersama tanpa salah satu dari kita hilang.”

Kami berdiri begitu cukup lama, di antara deretan rak buku yang sunyi, membiarkan genggaman itu menyampaikan apa yang kata belum sanggup ucapkan. Tidak ada yang bergerak pergi, tidak ada yang meminta lebih. Hanya berdiri, memegang satu sama lain, menikmati momen di mana dua orang yang dulu kesepian akhirnya berani menyentuh tanpa topeng, tanpa syarat, tanpa takut ditolak.

Setelah itu, kelembutan itu tumbuh perlahan, di setiap kesempatan yang tak terduga. Saat berjalan berdampingan, bahu kami sesekali bersentuhan, dan ia tidak lagi menjauh. Saat duduk di meja makan, lutut kami sesekali bersentuhan di bawah meja, dan ia menatapku dengan senyum kecil yang hanya untukku. Saat ia membantuku mengenakan jubah luar, jemarinya menyentuh tengkukku sekejap, dan ia berhenti sebentar, menatapku dengan tatapan yang penuh perhatian sebelum menarik napas dan mundur perlahan.

Suatu sore, kami duduk di beranda belakang, angin berhembus sejuk, membawa aroma hujan yang akan turun. Tangannya tergeletak di sandaran kursi, begitu dekat dengan tanganku sehingga aku bisa merasakan kehangatannya tanpa menyentuh. Aku menggerakkan tanganku perlahan, menyentuh ujung jarinya, dan ia menoleh perlahan, menatapku lembut, tidak berkata apa-apa, hanya menggerakkan tangannya sedikit agar kami bisa saling menggenggam.

“Dulu aku berpikir,” ucapnya pelan, membelai punggung tanganku dengan ibu jarinya, “bahwa sentuhan hanyalah hal fisik. Sesuatu yang dilakukan orang lain, bukan aku. Tapi saat tangan kita bersentuhan hari itu… aku menyadari sesuatu. Itu bukan sekadar kulit yang menyentuh kulit. Itu seperti satu bagian dari diriku yang terputus akhirnya kembali menemukan tempatnya.”

Aku merapatkan tanganku lebih erat ke genggamannya. “Karena kita sama, Arga. Kita berdua terbiasa hidup sendiri, berpikir tidak ada yang bisa mengisi kekosongan itu. Lalu tanpa direncanakan… kita saling mengisi.”

Ia menunduk menatap tangan kami yang bersatu, lalu mendongak menatapku dengan mata yang berbinar. “Aku takut jika aku mulai terbiasa dengan ini, aku tidak akan sanggup kehilangannya.”

“Maka jangan lepaskan,” jawabku lembut namun tegas. “Kita pegang bersama.”

Malam itu sebelum tidur, ia berdiri di ambang pintu kamarku, ragu-ragu sejenak lalu melangkah mendekat. Dengan lembut, ia menyentuh pipiku dengan punggung tangannya — sentuhan yang pelan, penuh kekaguman, seakan menyentuh sesuatu yang paling berharga di dunia. Aku menutup mata sejenak menikmati kehangatan itu, dan saat membukanya kembali, ia masih menatapku, wajahnya terang benderang di bawah cahaya remang lampu.

“Selamat malam, Lia,” bisiknya lembut. “Terima kasih karena membiarkanku menyentuhmu tanpa rasa takut.”

“Selamat malam, Arga,” jawabku pelan. “Terima kasih karena tidak menarik diri.”

Ia pergi perlahan, menutup pintu pelan seakan takut membuyarkan momen itu. Dan aku berdiri sendirian di ruangan itu, memegangi pipiku yang masih terasa hangat oleh sentuhannya, menyadari bahwa sesuatu yang indah dan rapuh sedang tumbuh di antara kami — sesuatu yang dimulai dari satu sentuhan tangan yang tak sengaja, namun berakar jauh lebih dalam, di tempat di mana hati akhirnya berani berkata: aku di sini, dan aku tidak ingin pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!