NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dekapan yang Dirindukan

Desir angin dingin Laut Utara berembus kencang, membawa aroma garam dan basahnya malam menyapu landasan pacu V.I.P. Bandara Internasional Rotterdam The Hague. Pukul delapan malam, roda pesawat jet pribadi bermesin ganda milik keluarga Thorne menyentuh aspal landasan dengan sangat mulus. Cahaya lampu sorot landasan memantul terang pada bodi badan pesawat hitam legam berlogo elang emas khas keluarga Thorne.

Di dalam kabin privat yang hangat, Freya Zivanka merapikan mantel wol panjangnya dan menyentuh liontin zamrud hijau yang tersembunyi di balik kain bajunya. Jantungnya berdegup kencang bukan kepalang. Perjalanan panjang dari Amsterdam menembus langit malam Netherlands telah usai. Hari ini, ia tidak lagi berada dalam bayang-bayang ketakutan atau keterasingan di sangkar hutan; ia terbang atas kehendaknya sendiri, menyongsong pria yang telah mengubah jalan hidupnya.

Pintu kabin terbuka perlahan. Tangga lipat hidrolik diturunkan oleh pramugari pribadi. Begitu Freya melangkah turun dari pintu pesawat, udara dingin langsung menyergap wajahnya, namun sensasi itu seketika sirna saat matanya menangkap sosok seorang pria berdiri tegak di samping mobil sedan hitam antipeluru.

Victor Thorne.

Mengenakan mantel panjang berwarna arang di atas setelan jas bisnisnya, rambut hitamnya tertiup angin malam, sorot mata birunya yang tajam menatap lurus ke arah tangga pesawat dengan binar kerinduan yang jarang sekali ia tunjukkan kepada dunia luar.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Freya menuruni sisa anak tangga dengan langkah cepat, lalu berlari kecil menghambur ke arah Victor. Pria itu membuka kedua lengannya lebar-lebar, menyambut tubuh Freya yang langsung menerjang masuk ke dalam dekapan hangatnya.

Bruk.

Pelukan itu begitu erat, begitu sarat akan rindu yang tertahan selama beberapa hari terpisah jarak ratusan kilometer. Freya membenamkan wajahnya di dada bidang Victor, menghirup aroma parfum maskulin bercampur wangi khas pria itu yang begitu ia kenal. Air mata kebahagiaan sempat menggenang di pelupuk mata Freya, namun ia menahannya, memilih untuk menikmati detak jantung Victor yang bergemuruh tenang di balik mantel tebal.

"Kau datang..." bisik Victor serak tepat di samping telinga Freya, tangannya mengelus punggung gadis itu dengan kelembutan yang hanya diberikan kepada satu orang di dunia ini. "Aku sangat merindukanmu, honey."

"Aku juga, Victor... sangat merindukanmu," jawab Freya lirih, semakin mengeratkan pelukannya seolah tak ingin membiarkan jarak memisahkan mereka lagi.

Di balik kaca jendela gelap mobil pengawal yang terparkir beberapa meter dari sana, Markuz mengalihkan pandangannya dengan sopan, membiarkan sang bos menikmati momen langka tersebut. Namun, tidak jauh dari tempat mereka berdua, di balik bayang-bayang pilar beton struktur area parkir tersembunyi, sepasang mata hijau tajam mengawasi setiap detik kemesraan itu dengan api kebencian yang membakar.

Annelise Van Der Bilt berdiri mematung di balik pilar beton dingin, mengenakan mantel wol hitam panjang dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan gelombang amarah yang luar biasa hebat.

Ia telah mengikuti pergerakan jet pribadi itu sejak mendarat. Melihat bagaimana Victor Thorne—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh yang selama bertahun-tahun diidam-idamkannya—memeluk seorang gadis murahan dengan begitu penuh kasih sayang, membuat kewarasan Annelise di ambang kehancuran total.

"Pelacur sialan..." desis Annelise pelan, buku-buku jarinya memutih karena ia mengepalkan tangan sangat erat hingga kukunya menancap ke telapak tangan. "Kau pikir kau bisa merebut Victor dariku, Freya? Kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi."

Annelise menyaksikan saat Victor membukakan pintu mobil untuk Freya, merangkul pinggang gadis itu dengan penuh protektif, lalu masuk ke kursi belakang sebelum mobil sedan hitam melaju meninggalkan area bandara menuju pusat kota Rotterdam.

Annelise berbalik, berjalan menuju mobil sewaannya sendiri di mana seorang sopir bayaran telah menantinya. Di dalam kabin yang gelap, ia mengeluarkan ponselnya dengan jemari yang bergetar karena emosi. Ia tidak boleh lagi mengandalkan cara-cara elegan atau menunggu belas kasihan dari Nyonya Valen. Jika Victor tidak bisa didapatkan dengan cara terhormat, maka ia akan menggunakan cara paling kotor dan mematikan untuk mengikat pria itu padanya selamanya.

Sementara itu, di dalam apartemen penthouse pribadi milik Victor yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit kawasan pusat Rotterdam, suasana terasa jauh lebih tenang dan menghanyutkan. Jendela kaca raksasa di ruang tengah menampilkan pemandangan gemerlap lampu kota pelabuhan yang membentang luas di bawah sana, dipadukan dengan pantulan cahaya bulan dari permukaan sungai besar.

Freya berdiri di dekat jendela, menikmati secangkir cokelat panas yang baru saja disiapkan oleh pelayan apartemen, sementara Victor melangkah mendekat dari arah dapur membawa mantel tambahan untuk gadis itu.

"Udara di Rotterdam jauh lebih dingin daripada di Amsterdam, Maan," ujar Victor lembut, menyampirkan mantel kasmir tebal ke atas pundak Freya.

Freya berbalik, tersenyum manis menatap pria di hadapannya. "Aku tidak merasa dingin saat berada di dekatmu, Victor."

Victor tersenyum tipis, sebuah tarikan bibir yang membuat wajah tampannya terlihat begitu memukau. Ia meraih cangkir dari tangan Freya, menaruhnya di atas meja, lalu menarik pinggang ramping gadis itu agar semakin menempel erat pada tubuhnya. Sorot mata biru Victor menatap lekat bibir Freya, sebelum akhirnya ia membungkuk dan mendaratkan ciuman yang lembut, penuh kerinduan, dan menghanyutkan di bibir gadis itu.

Ciuman itu bermula dengan pelan, namun perlahan berubah menjadi ciuman yang dalam dan penuh gairah, meredakan seluruh letih dan rindu yang berkecamuk selama berhari-hari.

Namun, di tengah keintiman malam itu, Victor menyadari betapa lelahnya wajah Freya. Perjalanan udara dan emosi yang naik-turun hari ini menguras banyak energi gadis tersebut.

Victor melepaskan ciumannya perlahan, menatap wajah Freya dengan penuh perhatian. "Kau lelah, Maan. Malam ini, istirahatlah di kamar utamaku. Kau butuh tidur yang nyenyak."

Freya mengangguk pelan, rasa kantuk memang mulai menderanya. Ia membiarkan Victor membimbingnya menuju kamar tidur utama yang didominasi warna monokrom elegan. Setelah memastikan Freya berbaring nyaman di atas ranjang king-size berseprai sutra, Victor mengecup kening gadis itu penuh kasih, lalu berjalan keluar kamar untuk membiarkan Freya beristirahat dengan tenang.

Di belahan kota Rotterdam yang lain, di dalam sebuah unit apartemen mewah milik pribadi keluarga Van Der Bilt yang bergaya modern minimalis, amarah Annelise belum juga mereda. Ruangan itu tampak berantakan; gelas-gelas kristal pecah berserakan di atas karpet wol tebal, dan tas tangan Mahalnya terlempar begitu saja ke atas sofa.

Annelise mondar-mandir di depan jendela kaca besar, merokok sebatang demi sebatang rokok tipis dengan jemari yang gelisah. Di dalam kepalanya, roda intrik dan manipulasi berputar kencang, merumuskan sebuah rencana jahat yang dirancang untuk menjebak Victor Thorne tanpa celah.

"Jika aku tidak bisa mendapatkan cintanya secara sukarela..." bisik Annelise dengan senyuman miring yang mengerikan di bibirnya, "maka aku akan memaksa takdir untuk menyatukan kami dengan cara yang tidak akan pernah bisa ia elakkan."

Annelise berhenti melangkah. Ia meraih ponsel pintarnya, mendial sebuah nomor rahasia—nomor kontak dari seorang pria kepercayaan masa lalunya, seseorang yang biasa ia gunakan untuk menangani urusan-urusan kotor di dunia malam Eropa.

Sambungan terhubung setelah nada dering ketiga.

"Halo, Nona Annelise," suara berat seorang pria terdengar di ujung seberang. "Suatu kehormatan Anda menghubungi saya di Rotterdam. Ada pekerjaan kotor yang harus diselesaikan?"

"Dengar baik-baik perintah dariku," ucap Annelise dengan suara dingin, tegas, dan penuh penekanan mutlak. "Aku ingin kau mencarikan dan mengantarkan sebuah barang khusus kepadaku malam ini juga."

"Barang khusus? Seperti apa, Nona?" tanya pria itu keheranan.

"Obat perangsang sintetis kelas berat," desis Annelise tanpa ragu sedikit pun. "Jenis zat kimia cair kelas medis hitam yang bekerja sangat cepat, tidak berbau, tidak berasa, dan mampu meruntuhkan kesadaran serta kendali diri seseorang dalam hitungan menit, membuat siapapun yang meminumnya dikuasai oleh gairah liar yang tidak bisa dikontrol."

Di ujung sana, pria itu sempat terdiam sejenak, memahami betul tingkat bahaya dari barang yang diminta. "Itu barang ilegal tingkat tinggi, Nona. Harganya tidak murah, dan risikonya sangat besar jika sampai terendus aparat."

"Aku tidak peduli berapapun harganya!" potong Annelise tajam. "Kirimkan sepuluh botol dosis penuh ke alamat apartemenku di distrik utara Rotterdam dalam waktu satu jam. Bayaranmu akan dilipatgandakan tiga kali lipat jika kau tiba tepat waktu."

"Baik, Nona Annelise. Pesanan akan segera saya siapkan," jawab pria itu sebelum sambungan dimatikan.

Annelise memutus sambungan telepon, melempar ponselnya ke atas sofa, lalu memandangi pantulan dirinya di cermin besar dinding ruangan. Matanya menyipit penuh ambisi gila.

Rencananya sudah tersusun rapi di dalam kepalanya. Besok malam, ia akan menggunakan tangan orang dalam untuk menyebarkan undangan palsu atau memancing Victor agar datang ke sebuah klub malam eksklusif kelas atas di pusat kota Rotterdam—klub malam privat tempat para pebisnis elit berkumpul, yang kebetulan merupakan salah satu tempat hiburan yang sering dikunjungi mitra bisnis internasional.

Di sanalah, dalam suasana keramaian pesta dan gelas minuman yang tampak biasa, ia akan menyusupkan zat kimia mematikan itu ke dalam gelas whisky Victor. Dan ketika obat itu mulai bereaksi meruntuhkan kesadaran sang konglomerat, Annelise akan memastikan dirinya berada di sana—menjemput Victor, membawanya ke kamar hotel privat, dan menciptakan sebuah skandal malam yang akan memaksa keluarga besar Thorne menikahkan Victor dengannya demi menjaga kehormatan nama besar perusahaan.

"Kau adalah milikku, Victor Thorne," bisik Annelise seorang diri di tengah keheningan malam apartemennya, sementara di luar sana, angin malam Rotterdam berembus semakin kencang membawa badai takdir yang siap menghantam hubungan suci antara Victor dan Freya esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!