Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan Tanpa Suara di Tengah Kantin
Suasana kantin Ravenswood Academy mendadak senyap seketika. Desis bisik-bisik yang tadinya riuh rendah kini lenyap digantikan suara deru pendingin ruangan dan detak jantung setiap orang yang tertahan. Seluruh pasang mata terpaku pada sosok Damien Lysander Vance yang berdiri tegak di samping meja Clyrine, memancarkan aura dingin yang membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum membuka suara.
Givano Alexander, sang ketua osis yang biasanya selalu tenang dan memegang kendali, tampak sedikit salah tingkah. Ia merapikan jas almamaternya, berusaha menampilkan senyum sok akrab di hadapan pria yang usianya hanya terpaut beberapa tahun darinya itu.
"Ah, halo... Anda pasti Damien Vance, sahabat Kak Alaric, ya?" sapa Givano dengan nada sok ramah, mencoba mencairkan suasana. "Aku Givano, ketua osis di sini. Kami cuma—"
"Gue nggak peduli siapa lo," potong Damien cepat. Suaranya datar, namun mengandung penekanan tajam yang langsung membungkam Givano seketika.
Pandangan Damien beralih sepenuhnya ke arah Claire. Gadis itu berdiri mematung di samping Givano, jemarinya meremas ujung kardigan pastelnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Sisa-sisa senyum manis dan dramatis di wajah Claire lenyap tak bersisa, digantikan kecemasan yang luar biasa.
"Lo bilang tadi gue cowok dewasa yang bukan anggota keluarga Rexander dan datang buat tujuan yang nggak jelas?" tanya Damien pelan, melangkah maju satu tindak mendekati Claire. Tekanan dari postur tubuh tegapnya membuat Claire secara tidak sadar melangkah mundur. "Mulut lo sibuk banget nyebar asumsi murahan di tempat umum. Mau gue perjelas di depan semua murid di sini, siapa sebenarnya yang nggak jelas?"
Claire menelan ludah dengan susah payah. Suaranya tertahan di tenggorokan, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri. Sepandai-pandainya ia merangkai drama sebagai korban di depan guru dan murid sekolah, di hadapan tatapan tajam Damien yang seolah bisa menembus kebohongan itu, ia merasa telanjang dan tak berdaya.
Alaric, yang baru saja tiba di dekat meja kantin bersama beberapa temannya, hanya bisa berdiri menonton dengan sebelah alis terangkat. Ia tahu sahabatnya itu paling benci dengan drama tidak penting, dan Claire baru saja menyulut sumbu yang salah.
"Mulai hari ini," lanjut Damien dengan nada suara yang berbobot, cukup keras untuk didengar oleh seluruh sudut kantin yang sunyi, "urusan akademis dan bimbingan Clyrine ada di bawah pengawasan gue secara langsung atas persetujuan keluarga Rexander. Kalau ada dari kalian yang berani nyebar gosip murahan atau ganggu dia lagi..." Damien menatap tajam ke arah Claire, Genevieve, dan Victoria bergantian. "...urusan kalian bukan lagi sama pihak sekolah, tapi sama gue."
Ancaman itu diucapkan tanpa nada tinggi, tetapi efeknya jauh lebih mematikan daripada amarah meledak-ledak. Para siswa di sekitar kantin langsung menunduk, tidak berani mencari masalah dengan pria di hadapan mereka.
Damien kemudian mengalihkan pandangannya ke bawah, menatap Clyrine yang masih duduk terpaku di kursinya. Raut wajah dingin di wajah Damien seketika melunak, digantikan tatapan teduh.
Ia mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Clyrine. "Berdiri. Jam istirahat habis. Lo ikut gue sekarang."
Clyrine tertegun menatap uluran tangan itu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena gelombang kehangatan luar biasa yang menyeruak di dadanya. Tanpa ragu, ia menyambut tangan besar Damien, membiarkan pria itu menariknya berdiri dari kursi.
"Tapi... jam pelajaran gue belum kelar, Kak," bisik Clyrine pelan saat mereka mulai berjalan meninggalkan kantin.
"Gue yang izin ke guru piket," jawab Damien singkat tanpa menoleh ke belakang, menggenggam tangan Clyrine dengan mantap melewati kerumunan murid yang langsung membuka jalan lebar-lebar bagi mereka.
Di belakang mereka, Claire berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca penuh kebencian dan rasa malu yang teramat sangat. Seluruh rencana yang ia susun sedemikian rupa hari ini hancur total di kaki Damien Vance.
Sebelum melangkah keluar dari area kantin yang masih diliputi keheningan mencekam, Damien berhenti sejenak saat melihat Alaric berdiri di dekat jalur keluar. Pria itu menatap sahabatnya dengan tatapan datar yang menyiratkan izin tak langsung.
"Gue pinjam adik lo sebentar, Ric," pamit Damien tegas.
Alaric menghela napas panjang, mengusap tengkuknya sembari melirik sekilas ke arah Claire yang masih berdiri membeku di tempatnya. Ia sudah paham betul watak adiknya yang suka cari panggung, dan kali ini Claire memang sudah keterlaluan memancing singa yang salah.
"Jangan aneh-aneh, Dam," pesan Alaric setengah memperingatkan.
Damien membalas dengan tatapan mantap. "Aman."
Tanpa membuang waktu lagi, Damien membawa Clyrine keluar dari gedung sekolah menuju area parkir. Gadis itu mengekor di belakang langkah lebar Damien, merasakan genggaman tangan pria itu yang masih hangat melingkar di pergelangan tangannya sebelum akhirnya mereka tiba di samping mobil sedan hitam.
Begitu pintu mobil terbuka dan mereka berdua sudah duduk di dalam dengan mesin yang menyala, Clyrine menghembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya. Ketegangan yang merajai kantin tadi seketika melebur digantikan rasa lega yang luar biasa.
Clyrine menoleh ke arah Damien yang sedang memasang sabuk pengamannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan kelegaan sekaligus rasa gemas.
"Kesel juga kan, Kak, lihat kelakuan Claire?" celetuk Clyrine spontan, menyandarkan punggungnya ke jok mobil dengan santai. "Gue mah udah sering banget ngeliat dia pasang muka sok suci begitu di rumah."
Damien menoleh sekilas, menatap wajah Clyrine yang kini tampak jauh lebih santai. Ia merapatkan giginya sesaat sebelum menggelengkan kepala pelan.
"Bukan cuma kesel," balas Damien dengan suara beratnya yang khas, melajukan mobil perlahan meninggalkan gerbang sekolah. "Kalau bukan karena gue masih pengen jaga nama baik Alaric di sekolah itu, udah gue skakmat habis-habisan dia di depan semua murid."
Clyrine tertawa kecil mendengarnya. Tawa renyah yang membuat dadanya terasa ringan. "Ya ampun, Kak... tapi aksi Kakak tadi di kantin bener-bener keren parah! Sumpah, muka si Claire langsung pucat pasi kayak mayat hidup. Puas banget gue liatnya!"
Damien melirik gadis di sampingnya sekilas, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia tunjukkan pada orang lain. "Makanya, lain kali kalau ada yang ganggu lo lagi, nggak usah repot-repot emosi sendiri. Cukup biarkan mereka ngerasa di atas angin, sampai akhirnya mereka jatuh sendiri."
"Iya, Bos!" jawab Clyrine setengah bercanda, mengangkat tangan kanannya membentuk gestur hormat.
Mobil sedan hitam itu melaju membelah jalanan kota, membawa mereka jauh dari bisingnya Ravenswood Academy dan segala drama yang diciptakan oleh Claire.
Clyrine mengerjap kaget saat melihat laju mobil Damien justru membelok ke arah jalur yang bukan jalan pulang ke rumahnya maupun ke arah sasana privat. Ia menoleh dengan kening berkerut.
"Mau ke mana, Kak?" tanya Clyrine penasaran. "Ini kan bukan jalur ke rumah, dan hari ini bukan jadwal latihan tinju kita, kan?"
Damien meliriknya sekilas sambil tetap fokus menyetir di atas aspal kota yang basah oleh sisa gerimis. "Cari angin sebentar. Otak lo butuh jeda setelah drama panjang di kantin tadi, daripada lo balik ke rumah sekarang terus ketemu muka Claire lagi yang bikin darah tinggi."
Mendengar nama Claire disebut, Clyrine mendengus pelan, lalu tersenyum tipis. "Bener juga sih... Kalau gue langsung pulang, yang ada gue malah pengen nimpuk dia pakai buku paket."
Damien terkekeh rendah. Mobil sedan hitam itu akhirnya menepi di sebuah area kafe rooftop minimalis yang tenang dengan pemandangan lampu-lampu kota dari ketinggian—tempat yang sempurna untuk melepas penat tanpa keramaian sekolah.