DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Kebencian
Darah masih menetes perlahan dari ujung pedang hitam itu, jatuh ke lantai batu yang dingin, menyatu dengan genangan merah yang telah ada. Garo Takemaki menekan punggungnya erat ke dinding, napasnya tersengal-sengal, keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat. Di hadapannya, Kakashi berdiri tegak, mata yang memerah menatapnya tajam, seakan bisa menembus setiap kebohongan yang tersembunyi di balik tatapan takut lelaki itu.
"Baiklah..." suara Garo bergetar, ia menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali, bukan lagi dengan kesombongan yang tadi, melainkan dengan tatapan yang tampak lelah dan getir. "Kau ingin tahu semuanya? Apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Kenzaburo?"
Kakashi diam, tidak mengalihkan pandangannya. Ia membiarkan lelaki itu bicara, menimbang setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Dulu..." Garo memulai, suaranya rendah, seakan kembali ke masa puluhan tahun silam. "Kami tidak bermusuhan. Kenzaburo dan aku — kami adalah rekan kerja yang paling dipercaya. Bersama-sama kami membangun jalur perdagangan yang melintasi tiga wilayah, mengangkat nama daerah ini dari keterpurukan. Kami berbagi keuntungan, berbagi rencana, bahkan berbagi impian yang sama: menjadikan tempat ini tempat yang makmur dan damai."
Ia terdiam sejenak, menelan ludah yang terasa pahit, lalu melanjutkan.
"Namun dunia dagang tidak hanya soal untung-rugi. Ada kekuasaan yang terlibat. Ada perserikatan para saudagar yang menentukan siapa yang memegang kendali. Ketika pemimpinannya berakhir, semua mata tertuju pada kami berdua. Aku yakin saat itu — aku berpikir pengalaman aku, kerja kerasku, pengorbananku selama bertahun-tahun sudah cukup membuatku pantas duduk di kursi tertinggi itu."
Garo mengepal tangannya erat, urat-urat di lehernya menonjol, kebencian lama kembali menyala di matanya.
"Tapi mereka memilih Kenzaburo. Bukan karena dia lebih cerdas, bukan karena dia lebih berpengalaman — melainkan karena dia lebih disukai. Dia lebih lembut, lebih murah hati, lebih mudah dipercaya. Semua orang memujanya, seakan aku tidak pernah ada di sampingnya. Semua pencapaian kami dianggap pencapaiannya saja. Perlahan... rasa hormat itu berubah menjadi iri. Iri berubah menjadi benci. Aku merasa dikhianati, padahal tidak pernah ada janji di antara kami bahwa aku yang akan memegang pimpinan."
Ruangan itu hening, hanya terdengar suara napas berat lelaki itu.
"Aku tidak ingin membunuhnya, Kakashi," lanjut Garo, suaranya melemah, seakan berusaha meyakinkan dirinya sendiri juga. "Aku hanya ingin menyingkirkannya dari posisinya. Menculik Aoi, menahannya sebentar, meminta tebusan yang cukup besar agar keuangannya terguncang, memaksanya mundur... itu saja rencanaku. Para ronin itu kusuruh untuk menjaga gadis itu, bukan untuk membunuh tuannya. Kematian Kenzaburo... itu di luar rencanaku. Mereka bertindak terlalu jauh, terlalu ganas, sebelum aku sempat menghentikannya."
Kakashi menatapnya lekat-lekat, matanya yang memerah tak berkedip sedikit pun. Ia mendengar setiap kata itu — nada memohon, penyesalan yang dibuat-buat, alasan yang terdengar masuk akal namun entah mengapa terasa kosong.
"Kau pikir aku percaya?" ucap Kakashi pelan namun tajam.
Tanpa memberi kesempatan Garo menjelaskan lebih lanjut, ia mengayunkan pedangnya.
Sret!
Darah memancar seketika. Garo menjerit keras, melengkungkan tubuhnya, tangan kirinya mencengkeram lengan yang kini ternganga lebar. Ia jatuh berlutut di lantai, wajahnya memutih karena sakit yang menyayat tulang.
"Kau..." lelaki itu mengerang, air mata menahan perih mengalir di pipinya. "Itu... itu benar-benar yang terjadi..."
"Kau menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri," potong Kakashi dingin, melangkah mendekat, ujung pedangnya kini menunjuk tepat ke arah leher Garo. "Kau menyewa pembunuh, lalu terkejut ketika mereka membunuh. Kau membiarkan kebencian tumbuh di hatimu bertahun-tahun, lalu berpura-pura tidak tahu bagaimana cara kejahatan bekerja."
Garo gemetar hebat, darah terus menetes dari luka di lengannya. Ia menatap Kakashi dengan tatapan yang bercampur ketakutan dan keputusasaan.
"Jangan... kumohon..." suaranya pecah. "Anak istriku... mereka menungguku di rumah. Mereka tidak tahu apa-apa. Siapa yang akan merawat mereka jika aku mati?"
Kakashi tertawa pelan, tawa yang getir dan dingin.
"Siapa yang peduli?" ucapnya datar. "Saat kau menyusun rencanamu, saat kau membiarkan para ronin itu masuk ke kediaman kami... pernahkah kau berpikir tentang keluarga Tuan Kenzaburo? Pernahkah kau berpikir tentang Aoi yang kini sendirian? Atau tentang Shizuka yang pulang hanya untuk menemui kematiannya di sini?"
Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, cahayanya memantul di mata yang memerah. Napasnya teratur, tangannya tidak gemetar sedikit pun. Di hadapannya bukan lagi manusia yang memohon, melainkan sumber segala penderitaan yang telah menimpa mereka semua.
"Beristirahatlah," bisiknya. "Bersama mereka yang telah kau kirim ke sana lebih dulu."
Tepat saat ia hendak menebas —
Tangan lain melesat masuk dari sisi ruangan, mencengkeram pergelangan tangan Kakashi dengan kekuatan yang tak terduga.
Kakashi terhenti, matanya melebar. Ia tidak merasakan kedatangan siapa pun. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa mendekatinya tanpa terdengar langkahnya?
Ia berbalik cepat, siap menyerang, namun cengkeraman di pergelangan tangannya justru menguat, menahannya agar tidak bergerak. Di hadapannya berdiri sosok bertudung gelap, wajahnya tertutup kain, hanya sepasang mata yang tajam tampak menatapnya tenang.
"Lepaskan!" bentak Kakashi, berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman itu seperti jepitan baja — tak tergoyahkan. "Siapa kau?"
"Saya hanyalah orang yang menghentikan kesalahanmu," jawab sosok itu, suaranya tenang namun berwibawa. Ia melepaskan pergelangan tangan Kakashi perlahan, lalu menarik tudungnya turun, menampakkan wajah yang tegas namun tidak asing. "Saya mata-mata yang diutus oleh Tuan Daiki — keponakan Tuan Kenzaburo, yang sekarang menggantikan posisi tuannya."
Kakashi terdiam sejenak. Daiki... nama itu memang disebut-sebut sebagai ahli waris yang sah. Ia ingat pemuda itu — tenang, cerdas, selalu berdiri di samping Tuan Kenzaburo dalam urusan-urusan penting.
"Tuan Daiki tahu semua yang terjadi di sini," lanjut lelaki itu, menatap lurus ke mata Kakashi. "Dia tahu rencana Garo. Dia tahu kematian Tuan Kenzaburo. Dan dia memintaku datang sebelum kau melakukan sesuatu yang tidak dapat kau perbaiki."
"Kau menyuruhku melepaskan pembunuh ini?" Kakashi menunjuk Garo dengan ujung pedangnya, amarahnya kembali meluap. "Dia harus membayar!"
"Membayar dengan nyawanya memang mudah," jawab utusan itu tegas. "Tapi apakah itu yang diinginkan Tuan Kenzaburo? Apakah itu yang diinginkan Shizuka? Tuan Daiki memintaku membawa Garo Takemaki untuk diadili secara terbuka. Agar semua orang tahu kejahatannya. Agar nama baik Tuan Kenzaburo dipulihkan sepenuhnya. Dan agar tidak ada lagi yang berani melakukan hal serupa."
Kakashi terdiam. Kata-kata itu menembus kabut amarah yang menyelimuti pikirannya. Ia menatap Garo yang masih berlutut di lantai, gemetar menahan sakit dan ketakutan. Lalu perlahan, ia merasakan sesuatu — cengkeraman kegelapan di hatinya mulai melemah. Mata yang tadi menyala merah perlahan meredup, kembali jernih, kembali menjadi mata Kakashi yang ia kenal.
Pedang di tangannya terasa berat kembali, bukan karena kekuatan gelap, melainkan karena beban pilihan yang kini dihadapkan kepadanya.
"Diadili..." gumamnya pelan. "Semua orang akan tahu?"
"Semua orang," jawab utusan itu mantap. "Termasuk bagaimana kebencian yang membabi-buta menghancurkan persahabatan, kepercayaan, dan nyawa tak berdosa. Kebenaran harus berdiri di atas tempat yang tinggi, bukan terkubur bersama pembunuhnya."
Kakashi menghela napas panjang, lalu perlahan menurunkan pedangnya. Ia menatap Garo sekali lagi — lelaki itu tidak lagi tampak mengancam, hanya tampak hancur, dikalahkan bukan oleh kekuatan, melainkan oleh kenyataan bahwa perbuatannya akan diketahui oleh semua orang.
"Bawalah dia," ucap Kakashi pelan, berbalik memunggungi mereka. "Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi."
Utusan Daiki mengangguk, lalu mengisyaratkan kepada dua orang yang baru saja muncul di pintu — mereka membawa perban dan kain, segera mengikat lengan Garo dan menahannya agar berdiri.
"Sekarang kemana kau?" tanya utusan itu sebelum melangkah pergi.
Kakashi menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka, tempat di mana Aoi menunggunya.
"Menjemput Aoi," jawabnya lembut. "Dan pulang."
Ia melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan darah, kebencian, dan bayang-bayang masa lalu yang kelam di belakangnya. Langkahnya masih terasa berat, namun untuk pertama kalinya sejak Tuan Kenzaburo pergi,