NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Di Bawah Bayangan Tangga

Bab 12 — Di Bawah Bayangan Tangga

​Pagi itu turun ke bumi dengan hawa dingin yang luar biasa menusuk tulang. Jam di dinding berjamur rumah petak itu baru menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, namun Maya sudah terbangun.

​Di usianya yang baru menginjak tujuh tahun, tubuh Maya terlalu kecil, terlalu kurus, dan terlalu rentan untuk melawan hawa dingin yang merembes dari celah-celah dinding papan yang lapuk. Tidak ada kasur empuk yang menopang tubuhnya, hanya selembar tikar pandan tipis yang serat-seratnya sudah banyak yang putus. Ia tidur melingkar seperti seekor anak kucing liar, berusaha mencari kehangatan dari tubuhnya sendiri.

​Maya mengucek matanya perlahan, berusaha mengusir rasa kantuk yang masih menggeliat di pelupuk matanya. Hal pertama yang ia lakukan bukanlah menangis meminta susu atau merengek kedinginan seperti anak-anak seusianya. Hal pertama yang ia lakukan adalah menoleh ke samping, menatap sosok wanita dewasa yang sedang tertidur membelakanginya dengan napas yang terdengar berat dan lelah.

​"Ibu..." bisik Maya, suaranya nyaris seperti embusan angin.

​Maya melihat selimut tipis berbahan kain perca yang mereka gunakan berdua telah merosot dari bahu Clara. Dengan gerakan yang sangat pelan dan berhati-hati, seolah sedang menangani benda paling rapuh di dunia, gadis kecil itu merangkak mendekat. Tangan mungilnya menarik ujung selimut itu, menutupi punggung Clara agar ibunya tidak kedinginan. Maya sendiri membiarkan kakinya yang telanjang bersentuhan dengan lantai semen yang sedingin balok es. Baginya, asalkan ibunya hangat, ia tidak apa-apa kedinginan sedikit.

​Setelah memastikan ibunya tertidur dengan nyaman, Maya berjalan berjinjit menuju sudut ruangan yang berfungsi sebagai dapur kotor. Perutnya berbunyi, sebuah suara nyaring yang langsung ia tutupi dengan kedua tangannya karena panik takut ibunya terbangun. Maya lapar. Terakhir kali ia makan adalah siang kemarin, itupun hanya separuh ubi rebus yang teksturnya sudah mengeras.

​Di dalam panci kecil yang menghitam karena jelaga kompor minyak, masih ada sisa bubur nasi cair dari kemarin sore. Maya mengambil mangkuk plastik yang warnanya sudah memudar, lalu menuangkan bubur itu. Ia membagi bubur tersebut ke dalam dua mangkuk. Mangkuk pertama diisi penuh dengan bagian nasi yang paling kental. Mangkuk kedua, miliknya sendiri, hanya berisi sedikit nasi dan lebih banyak air tajin yang hambar.

​Maya duduk bersila di lantai, menyendok air bubur itu ke mulutnya dalam diam. Rasanya tawar, dingin, dan sama sekali tidak mengenyangkan, tetapi Maya mengunyahnya dengan senyum kecil.

​Kalau Ibu makan yang banyak, Ibu pasti kuat bekerja hari ini, batin Maya polos. Ia sama sekali tidak merasa diperlakukan tidak adil oleh dunia. Dalam kepala kecilnya yang murni, kemiskinan adalah sebuah aturan mutlak kehidupan, dan tugasnya hanyalah menjadi anak yang baik agar beban ibunya berkurang.

​Ketika matahari mulai merangkak naik, menyapukan warna jingga pucat di langit kota, Maya dan Clara sudah berjalan kaki menyusuri trotoar menuju Sekolah Dasar Bima Sakti.

​Clara berjalan di depan dengan langkah cepat dan wajah yang mengeras, seolah sedang memikul dendam pada setiap kerikil yang ia injak. Maya harus berlari-lari kecil untuk mengimbangi langkah ibunya. Tangan kanan Maya memegang erat ember plastik kecil, sementara tangan kirinya memegang ujung baju kausnya yang kedodoran. Sandal jepit karet yang ia kenakan sudah menipis di bagian tumitnya, membuat kakinya bisa merasakan kasarnya kerikil aspal, namun Maya tidak pernah mengeluh.

​Sesampainya di sekolah dasar yang megah itu, dunia terasa berubah. Gedung berlantai tiga itu dicat dengan warna-warna cerah. Taman-tamannya dipenuhi bunga. Dan sebentar lagi, gerbang itu akan dilalui oleh anak-anak berwajah ceria yang diantar menggunakan mobil-mobil mewah.

​Clara langsung mengambil alat pel berukuran besar dari gudang kebersihan.

​"Maya," suara Clara terdengar datar, tanpa intonasi kasih sayang, namun cukup untuk membuat Maya berdiri tegak dengan penuh perhatian. "Ambil air dari keran belakang. Pel koridor kelas satu di lantai bawah sampai bersih. Jangan sampai Ibu melihat ada jejak sepatu. Dan ingat..."

​"Jangan mengganggu anak-anak yang sedang belajar, jangan masuk ke kelas, dan jangan melihat barang orang lain," sambung Maya dengan suara lantang dan patuh, mengulang aturan yang setiap hari didengarnya.

​Clara tidak tersenyum apalagi membelai kepala Maya. Wanita itu hanya mendengus pelan, lalu berbalik pergi menuju tangga untuk membersihkan lantai atas.

​Maya segera melakukan tugasnya. Ia menyeret ember kecilnya ke keran air, mengisinya, lalu mulai mengepel lantai koridor yang panjang. Gagang pel itu terlalu besar dan berat untuk ukuran tubuh anak berusia tujuh tahun. Setiap kali Maya harus memeras kain pel yang basah, ia harus mengerahkan seluruh tenaga di lengan kurusnya. Buku-buku jarinya memerah, kulit telapak tangannya melepuh dan kasar karena terus-menerus bersentuhan dengan air sabun pel yang keras. Terkadang, sisa air kotor memercik ke wajahnya, tapi gadis kecil itu hanya mengusapnya dengan punggung lengan bajunya lalu terus bekerja.

​Pukul tujuh pagi, bel sekolah berbunyi nyaring.

​Murid-murid berhamburan dari segala arah, berjalan riang memasuki kelas masing-masing. Maya segera menyingkir, menarik ember dan pelnya ke sudut tembok, merapatkan tubuhnya ke dinding agar tidak menghalangi jalan.

​Matanya yang bulat dan besar menatap sepatu-sepatu hitam yang bersih mengkilap, kaus kaki putih yang wangi, dan tas-tas punggung yang terlihat empuk dan penuh dengan buku cerita. Ada rasa sesak yang aneh menekan rongga dadanya. Bukan rasa dengki, melainkan rasa rindu pada sesuatu yang tidak pernah ia miliki.

​Ketika lorong mulai sepi dan pintu-pintu kelas ditutup, Maya melanjutkan pekerjaannya. Namun, saat ia melewati ruang kelas 1-A, langkahnya terhenti. Jendela kelas itu terbuka setengah.

​Dari balik kaca, Maya bisa melihat seorang guru wanita yang tersenyum ramah sedang menulis huruf-huruf besar di papan tulis hitam. Anak-anak di dalam kelas mengeluarkan buku tulis baru, membuka kotak pensil yang berisi peraut bergambar kartun dan pensil warna-warni. Suara kapur yang beradu dengan papan tulis terdengar seperti alunan musik magis di telinga Maya.

​I - B - U.

​Guru itu mengeja kata yang ditulisnya. Anak-anak di dalam kelas menirukannya dengan suara serempak yang merdu.

​Maya berdiri terpaku di luar jendela. Tangannya yang kotor dan basah perlahan terangkat, jari telunjuknya yang mungil menyentuh kaca jendela. Dengan napas yang tertahan, Maya mengikuti gerakan tangan sang guru, melukis huruf-huruf tak kasatmata di atas permukaan kaca.

​I... B... U... gumam Maya tanpa suara, bibirnya bergetar.

​Ia ingin sekali duduk di dalam sana. Ia ingin memiliki satu lembar saja kertas kosong dan sisa pensil yang sudah pendek, agar ia bisa menulis nama ibunya. Maya bermimpi, jika suatu hari nanti ia pintar membaca dan menulis, ia bisa mencari pekerjaan yang bagus. Ia bisa membelikan ibunya rumah yang tidak bocor. Ia bisa membelikan ibunya kasur yang empuk, sehingga ibunya tidak perlu lagi bangun dengan wajah yang lelah dan marah setiap hari.

​Mata Maya berkaca-kaca karena kerinduan yang terlampau besar pada aksara, namun ia segera menghapus air matanya sebelum jatuh. Ia tidak boleh menangis. Menangis hanya akan membuat ibunya marah.

​"Kamu sedang apa?"

​Sebuah suara nyaring dan riang mengejutkan Maya dari belakang.

​Gadis kecil itu tersentak, hampir menjatuhkan gagang pelnya. Ia berbalik dengan panik, matanya membelalak ketakutan, mengira seorang guru atau penjaga sekolah akan mengusirnya karena ketahuan mengintip.

​Namun, yang berdiri di hadapannya bukanlah orang dewasa. Itu adalah seorang anak perempuan seusianya. Anak itu mengenakan seragam yang sangat rapi, wangi khas bedak bayi menguar dari tubuhnya. Rambutnya dikuncir dua dengan jepitan pita berwarna merah terang. Wajah anak itu berseri-seri, kulitnya putih bersih tanpa cacat, dan matanya memancarkan kehangatan yang tidak pernah Maya lihat sebelumnya.

​Namanya Elena.

​Maya buru-buru menunduk, menyembunyikan tangannya yang kotor dan melepuh di belakang punggungnya. Ia merasa sangat malu. Pakaiannya kusam, baunya adalah bau debu dan air pel, sangat tidak pantas berdiri berdekatan dengan putri kecil yang wangi ini.

​"Aku... aku hanya mengepel lantai. Maafkan aku, aku tidak mengganggu," cicit Maya, tubuhnya bergetar kecil karena takut dilaporkan.

​Elena memiringkan kepalanya, matanya yang bulat menatap Maya dengan rasa ingin tahu yang polos. Sama sekali tidak ada tatapan merendahkan atau jijik dari anak konglomerat itu. Elena justru melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka.

​"Kamu belum makan ya? Mukamu pucat sekali," kata Elena, nada suaranya terdengar sangat cemas.

​Sebelum Maya sempat menjawab, perut Maya mengkhianatinya. Sebuah suara keroncongan yang cukup keras terdengar dari perut kempesnya. Maya langsung menutup perutnya dengan kedua tangan, wajahnya memerah padam menahan rasa malu yang tak tertahankan. Ia berharap lantai di bawahnya membelah dan menelannya saat itu juga.

​Elena justru tersenyum manis. Tanpa ragu, anak perempuan kaya raya itu membuka tas bekal kecilnya yang bergambar beruang. Di dalamnya, terdapat dua potong roti tawar tebal yang diolesi selai stroberi merah merona, dipotong dengan pinggiran yang sangat rapi. Aroma manis selai stroberi dan mentega segera menguar, menyerang indra penciuman Maya dan membuat mulutnya berair tanpa bisa dikendalikan. Maya belum pernah mencium makanan sewangi itu seumur hidupnya.

​"Ini buat kamu." Elena menyodorkan sepotong roti itu tepat ke depan wajah Maya.

​Maya tertegun. Matanya bergerak bolak-balik antara roti stroberi itu dan wajah Elena yang tersenyum tulus. "T-tidak usah... aku tidak lapar," bohong Maya, menelan ludah dengan susah payah. "Ibuku melarangku meminta-minta."

​"Aku tidak bilang kamu meminta, aku yang mau memberi!" paksa Elena sambil tertawa renyah. Gadis kecil itu meraih tangan Maya yang kotor, sama sekali tidak peduli akan kuman atau debu, dan meletakkan roti empuk itu di atas telapak tangan Maya yang kasar. "Makanlah. Nanti kalau kamu sakit, siapa yang membantu ibumu mengepel?"

​Sentuhan tangan Elena terasa begitu hangat di kulit Maya. Sebuah kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan dari siapa pun. Roti di tangannya terasa sangat empuk, seperti awan.

​Elena melambai riang. "Nanti jam istirahat, kita ngobrol lagi ya! Dah!" Elena pun berlari kecil menuju kelasnya, meninggalkan Maya yang masih membeku dengan sepotong roti di tangannya.

​Maya menatap roti stroberi itu lekat-lekat. Perutnya menjerit meminta makanan, meronta-ronta untuk segera menggigit kelembutan roti itu. Bau stroberi itu begitu memabukkan. Ia perlahan mengangkat roti itu mendekati mulutnya.

​Namun, di detik terakhir, gerakan Maya terhenti.

​Bayangan wajah Clara melintas di benaknya. Wajah ibunya yang pucat, kelelahan, dan selalu mengeluh sakit punggung setiap malam. Tadi pagi, ibunya hanya makan sedikit bubur encer yang dingin. Kalau ibunya terus kelaparan, ibunya bisa jatuh sakit. Kalau ibunya sakit, siapa yang akan menemaninya? Bagi Maya, Clara adalah seluruh dunianya. Jika ibunya tiada, Maya merasa dirinya benar-benar akan menjadi sebatang kara.

​Perlahan, Maya menurunkan tangannya. Air mata kecil menetes dari sudut matanya, jatuh menimpa punggung tangannya yang kotor.

​"Aku tidak lapar," bisik Maya pada dirinya sendiri, sebuah kebohongan heroik dari seorang anak berusia tujuh tahun yang rela menahan perihnya lambung demi ibunya.

​Dengan sangat hati-hati, Maya membungkus roti stroberi itu dengan selembar kertas koran bersih yang ia temukan di tong sampah kelas, melipatnya rapi, dan memasukkannya ke dalam saku celananya dalam-dalam agar tidak terjatuh. Ia akan memberikan roti wangi ini untuk ibunya. Ibunya pasti akan senang. Ibunya pasti akan tersenyum dan membelai kepalanya.

​Siang harinya, ketika jam istirahat berbunyi, Maya berlari mencari Clara di area belakang sekolah. Napasnya tersengal-sengal, tetapi wajahnya memancarkan harapan yang luar biasa besar. Ia membayangkan ibunya akan tersenyum. Sebuah senyuman dari ibunya adalah harta karun terbesar yang akan menghapus semua rasa lapar dan lelah di tubuh Maya.

​Ia menemukan Clara sedang duduk bersandar di dinding gudang yang gelap, mengusap pinggangnya yang kesakitan sambil menyeka keringat di pelipisnya.

​"Ibu!" panggil Maya riang, berlari mendekat.

​Clara membuka matanya, menatap Maya dengan tatapan kosong dan dingin. "Ada apa? Kenapa kau berlarian seperti anak liar? Sudah selesai mengepel lantai bawah?"

​Maya mengangguk cepat. Tangan kecilnya merogoh ke dalam saku, mengeluarkan bungkusan kertas koran itu dengan tangan bergetar karena antusiasme. Ia membuka lipatan kertasnya, memperlihatkan sepotong roti stroberi yang sedikit penyok namun masih beraroma sangat manis.

​"Ini untuk Ibu!" seru Maya dengan mata berbinar-binar. "Tadi ada anak baik yang memberikannya padaku. Maya tidak memakannya, Bu. Maya simpan untuk Ibu. Roti ini empuk sekali, dan wangi... Ibu pasti suka. Kalau Ibu makan ini, punggung Ibu tidak akan sakit lagi."

​Gadis kecil itu menyodorkan roti tersebut dengan kedua tangan, seolah sedang mempersembahkan mahkota berlian. Senyum tulus dan penuh harap menghiasi wajah mungilnya yang kotor.

​Clara menatap roti stroberi itu. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak beraturan. Ia mengenali bentuk roti itu. Ia mengenali aroma stroberi impor itu. Tentu saja ia mengenalinya, karena ia sering melihat Vera membekali Elena dengan makanan-makanan mewah yang diimpor dari luar negeri.

​Saat Clara mendongak menatap wajah Maya, yang ia lihat bukanlah wajah anak yang kelaparan dan sedang berbakti padanya. Yang ia lihat adalah wajah Vera. Yang ia rasakan adalah ejekan, hinaan, dan rasa bersalah yang mengoyak-ngoyak sanubarinya karena Maya menerima belas kasihan dari anak yang selama ini menjadi simbol kehidupan yang seharusnya menjadi miliknya. Ego Clara, dendamnya yang busuk, dan trauma masa lalunya meledak bercampur menjadi racun.

​Bukannya tersenyum, rahang Clara mengeras. Matanya berkilat marah.

​PLAK!

​Satu tepisan kasar dari tangan Clara membuat roti stroberi itu terlempar dari tangan Maya. Roti yang empuk itu jatuh terjerembab ke atas lantai tanah yang becek, berbaur dengan lumpur dan air kotor selokan.

​Dunia Maya berhenti berputar.

​Senyum di bibir kecil gadis itu memudar seketika, tergantikan oleh keterkejutan dan horor yang membekukan darahnya. Matanya yang membelalak menatap roti stroberi yang kini hancur di atas lumpur. Roti yang ia tahan mati-matian untuk tidak ia makan meskipun lambungnya menjerit perih. Roti yang ia pikir akan membawa senyuman ibunya.

​"I-ibu..." suara Maya tercekat, air mata langsung menggenang tebal di pelupuk matanya.

​"Dari mana kau dapatkan sifat pengemis ini?!" bentak Clara dengan suara mendesis yang sangat kejam, telunjuknya menuding tepat ke wajah Maya. "Apa Ibu pernah mengajarimu menjadi gembel yang menerima sisa makanan dari anak orang kaya?! Kau pikir kau pantas memakan makanan mereka? Kau pikir kau siapa, Maya?!"

​Setiap kata yang keluar dari mulut Clara bagaikan belati berkarat yang ditusukkan berulang-ulang ke dada kecil Maya.

​"M-Maya tidak meminta, Bu... Elena yang memberikannya..." isak Maya tersedu-sedu, tubuhnya bergetar hebat. "Maya hanya... Maya hanya ingin Ibu makan makanan enak... Maya tidak mau Ibu sakit..."

​"DIAM!" potong Clara, mengalihkan pandangannya dari roti yang hancur itu karena tidak sanggup menanggung rasa bersalah yang merayap, namun ia mengubah rasa bersalah itu menjadi kemarahan buta. "Jangan pernah sebut nama anak itu di depanku! Jangan pernah menerima apa pun darinya! Kau membuatku terlihat seperti gelandangan yang tidak bisa memberi makan anaknya sendiri! Sekarang ambil embermu dan kembali bekerja! Jangan menangis, atau kau tidak usah pulang bersamaku!"

​Clara berbalik dengan cepat. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin memeluk Maya, ingin meminta maaf, tetapi dendam yang telah mengeras selama bertahun-tahun membuat tangannya tetap terkepal. Ia meninggalkan Maya sendirian di belakang gudang, lari dari dosanya sendiri, lari dari cinta murni yang baru saja ia hancurkan hingga tak berbentuk.

​Maya berdiri mematung sendirian di bawah bayangan atap gudang yang dingin. Air mata berderai membasahi pipinya yang kotor, jatuh menetes ke tanah. Ia menatap roti stroberi yang kini kotor oleh lumpur. Perutnya berbunyi lagi, kali ini terasa jauh lebih perih dari sebelumnya. Rasa laparnya kini bercampur dengan luka penolakan yang mencabik-cabik hati kecilnya.

​Dengan tangan bergetar, Maya berjongkok. Ia mengambil sisa roti yang kotor itu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah terdekat. Ia tidak marah pada ibunya. Tidak sedetik pun ada rasa benci di dalam hatinya untuk wanita yang baru saja membentaknya.

​Dalam kepolosannya yang begitu murni sekaligus tragis, Maya hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.

​Maya berjalan menuju toilet yang sepi. Ia menyalakan keran, mencuci wajahnya yang sembap karena menangis. Ia menatap pantulan dirinya di cermin retak toilet sekolah. Wajahnya merah, matanya bengkak.

​Gadis kecil itu menarik sudut-sudut bibirnya ke atas dengan kedua jari telunjuknya, memaksa wajahnya untuk tersenyum di depan cermin. Air mata masih mengalir, namun bibirnya tersenyum lebar.

​"Tidak apa-apa, Maya," bisik gadis kecil itu pada pantulannya sendiri, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang menyayat hati. "Ibu hanya capek. Ibu bekerja terlalu keras untukmu. Kau yang salah karena sudah membuat Ibu malu. Kau anak nakal. Besok... besok kau harus mengepel lebih bersih lagi. Kalau lantai ini bersih, Ibu pasti tidak akan capek, dan Ibu pasti akan tersenyum. Kau hanya harus menjadi anak yang lebih baik."

​Di bawah bayangan tangga sekolah yang megah, sementara anak-anak lain sedang tertawa memakan bekal lezat mereka, seorang gadis kecil menelan luka yang tidak seharusnya ia tanggung, memaafkan monster yang menghancurkannya, hanya demi secercah ilusi bahwa suatu hari nanti, ia akan pantas untuk dicintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!