NovelToon NovelToon
PENGEMBARA DARI DESA

PENGEMBARA DARI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Djafar S

Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 JALAN MENUJU KOTA KEMBANG

Malam kemenangan kecil di halaman rumah panggung itu tidak membuat Raka Ardian merasa jemawa atau terlena sedetik pun. Meskipun konvoi preman bayaran suruhan Hendra berhasil diusir mundur secara memalukan ke dalam gelapnya malam, Raka di dalam lubuk hatinya yang paling dalam sangat menyadari bahwa kejadian menegangkan tersebut hanyalah riak permukaan dari sebuah badai besar yang sedang dirancang secara sistematis oleh korporasi di balik layar.

Orang-orang berjas rapi yang duduk di kursi empuk gedung bertingkat tidak akan pernah menyerah begitu saja hanya karena satu kegagalan memalukan di sebuah desa terpencil yang tersembunyi di balik lembah.

Keesokan paginya, ketika kabut tipis sisa semalam masih malas beranjak dan memeluk dahan-dahan pohon kopi di pekarangan rumah, Raka duduk berdua dengan ibunya di ruang tengah yang diterangi cahaya matahari pagi.

Di atas meja kayu jati yang sederhana, terletak rapi buku harian bersampul kulit rusa milik kakeknya, gulungan *Welingan Sejati*, serta lempengan giok hijau tua yang memancarkan pendar cahaya tenang dan menyejukkan.

"Ibu tahu betul, darah seorang pengembara mengalir deras di dalam tubuhmu, Raka. Kau tidak akan pernah bisa tinggal diam dan hidup tenang di desa ini selamanya setelah badai ini mulai menerjang," ucap Siti lirih, bahkan sebelum putranya sempat membuka suara untuk menyampaikan niatnya. Wanita paruh baya itu menatap putranya lekat-lekat dengan sorot mata yang menyiratkan campuran rasa bangga yang luar biasa sekaligus kepedihan mendalam yang sengaja ia sembunyikan di balik senyuman tabahnya.

"Ayahmu dulu, dan kakekmu sebelum itu... mereka semua pada akhirnya harus melangkah keluar rumah ketika masalah besar yang mendera desa kita akarnya tertanam jauh di pusat kekuasaan kota yang bising."

Raka meraih tangan ibunya yang mulai kasar dan berkerut dimakan usia, menggenggamnya dengan penuh kehangatan. "Aku tidak berniat pergi meninggalkan desa ini selamanya, Bu. Desa Ciherang adalah akar hidupku. Tapi catatan mendiang kakek dan petunjuk dari pusaka leluhur ini menyiratkan satu kesimpulan mutlak: kepala naga dari semua masalah ini ada di kota besar. Kalau kita hanya bertahan di kandang sendiri dan menunggu mereka datang menyerang kembali, pertahanan kita cepat atau lambat pasti akan runtuh."

"Lalu, ke mana arah tujuanmu melangkah, Raka?" tanya ibunya lembut, suaranya bergetar menahan rindu yang belum lagi tercipta.

Raka perlahan mengarahkan pandangannya keluar jendela kayu, menembus cakrawala barat tempat deretan Pegunungan Kendeng berdiri megah bagai benteng alam.

"Bandung.

Kota besar di balik pegunungan itu. Di sanalah pusat kendali perusahaan pengembang yang merancang penggusuran tanah leluhur kita berada. Aku harus mencari mereka langsung ke sarangnya, menyelidiki siapa dalang busuk di balik semua teror ini, dan memutus rantai ancaman itu sampai ke akar-akarnya agar warga desa bisa hidup tenteram."

Keputusan besar itu akhirnya diambil dengan bulat dan mantap. Di dalam tradisi keluarga Ardian, sebuah pengembaraan bukanlah sekadar bentuk pelarian kekalahan, melainkan sebuah perjalanan batin, mental, dan fisik yang sakral untuk menempa diri menjadi seorang pelindung yang sejati bagi sesama.

Hari-hari berikutnya diisi dengan persiapan lahir dan batin yang matang. Raka tidak membawa banyak barang bawaan yang merepotkan; ia hanya mengenakan pakaian lapangan berwarna gelap yang kokoh, sebuah ransel usang berisi bekal makanan kering secukupnya, gulungan lontar pusaka *Welingan Sejati* yang diselipkan dengan sangat aman di dalam lapisan terdalam tas, serta lempengan giok hijau yang selalu ia simpan di dalam kantong kecil dekat dada kirinya.

Sebelum matahari benar-benar terbit di hari keberangkatannya, Raka menyempatkan diri mendatangi rumah Pak Lurah dan para sesepuh desa untuk berpamitan secara resmi. Para tetua desa melepas kepergiannya dengan doa tulus dan restu penuh, bahkan secara resmi mengangkat Raka sebagai utusan kehormatan warga Ciherang untuk membawa permasalahan ini ke ranah hukum kota.

Pagi di hari keberangkatan tiba dengan cuaca yang sangat bersahabat. Matahari bersinar cerah, menghapus sisa-sisa embun pagi yang berkilauan di sepanjang jalan setapak desa. Siti memeluk erat tubuh putranya untuk terakhir kalinya di halaman rumah, membisikkan doa-doa keselamatan tiada putus di telinga Raka.

Dengan langkah kaki yang mantap, tegap, dan penuh keyakinan, Raka meninggalkan halaman rumah panggung tempat ia dibesarkan. Ia menyusuri jalan setapak tanah yang keluar dari Dusun Ciherang, menembus batas lembah yang hijau, dan mulai mendaki jalur pendakian terjal yang merayap menaik melewati punggung Pegunungan Kendeng—jalur pendakian yang selama bertahun-tahun lamanya hanya ia pandangi dari kejauhan dalam lamunan masa mudanya.

Ketika ia berhasil mencapai puncak punggung bukit tertinggi dan memutar tubuhnya untuk menoleh ke belakang demi melihat pemandangan terakhir kalinya, hamparan petak sawah bertingkat yang menguning dan atap-atap rumah panggung Desa Ciherang tampak begitu kecil bagai mainan di bawah sana, seolah melambai pelan melepas kepergian sang anak muda. Raka menarik napas panjang, meresapi udara sejuk pegunungan untuk terakhir kalinya sebelum ia memutar haluan tubuhnya menghadap ke barat laut, menyongsong bentangan alam luas dan dunia asing yang membentang di hadapannya.

Bandung, kota kembang yang terkenal dengan keramaian, kemegahan gedung-gedungnya, serta sejuta rahasia gelap di balik modernitasnya, kini telah resmi menanti kedatangan sang pengembara dari desa terpencil. Udara dingin pegunungan menyambut langkah pertamanya menuruni lereng seberang, membawa serta ribuan harapan dari orang-orang tercinta yang ia tinggalkan di lembah.

1
indah Mayaddah f
Jadi penasaran, apa isi catatan rahasia di buku harian kakek Wirya itu 🤔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Nanti deh aku bisikin... 🤭
total 1 replies
Myz Pena
kebiasaan orang2 di kampung kalau ada orang yang udah naik mobil mewah lalu di bawa ke kampunh pasti jadi tontonan warga kampung 🤭
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Betul😄
total 1 replies
Myz Pena
keuarganya raka sangat sederhana apalagi penggambaran sosok ibundanya 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: iya, memang tokoh pendamping kadang kurang kita perhatikan
total 1 replies
CNNTAYY
utusan juga itu ngeremehin+songong banget untung ada raka/Proud//Proud/
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih CNNTAY ku😍
total 1 replies
iorlif
sepertinya mirip kejadian di suatu tempat
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Mungkin juga sih, tapi murni kok dari imaginasi ku👍
total 1 replies
Siti Aisyah
Kalau ngomongin tentang gabah dan dijemur dihalaman jadi teringat ibu waktu dikampung 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!