Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Kaisar Lucian menyipitkan matanya. Ia berjongkok, menyamakan tingginya dengan Elara yang masih duduk di lantai. Aroma dingin seperti salju dan besi menguar dari tubuhnya, mengalahkan bau kemenyan.
“Kau tidak takut?” tanya Kaisar, menatap lurus ke manik mata Elara. “Kau tahu siapa yang meracunimu? Kau tahu jika kau tidak melapor, kau bisa mati sungguhan kali ini?”
“Tahu,” jawab Elara singkat. “Selir Kedua. Racun *Nightshade* merah. Biasanya dicampur dalam madu atau teh. Rasanya agak pahit, tapi kalau dicampur banyak gula, ya... lumayan.”
Kaisar Lucian terdiam sejenak. “Kau tahu racunnya?”
“Saya membaca novel... eh, maksud saya, saya pernah mendengar desas-desus di perpustakaan,” Elara mengoreksi diri dengan cepat. Hampir saja bocor.
“Dengar, Yang Mulia. Saya ini selir tingkat enam. Gaji saya.. Eh, uang saku saya sangat kecil. Pakaian saya dari kain bekas musim lalu. Saya tidak punya musuh karena saya tidak punya teman. Jika saya mati, itu hanya masalah administrasi kecil untuk Kepala Pelayan. Mengapa saya harus repot-repot menuntut keadilan?”
Kaisar Lucian menatapnya lama. Di istana ini, wanita akan melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatiannya. Mereka akan menangis, memfitnah, menari, bahkan melukai diri sendiri.
Namun wanita di hadapannya ini baru saja mengatakan bahwa kematiannya hanyalah "masalah administrasi".
“Kau benar-benar tidak memiliki ambisi,” gumam Kaisar, lebih kepada dirinya sendiri.
“Ambisi itu melelahkan,” eluh Elara. “Lihat Yang Mulia. Lingkaran hitam di bawah mata Anda sangat jelas. Anda kurang tidur, kan? Kurang tidur itu buruk untuk kesehatan. Saran saya, minumlah susu hangat sebelum tidur. Atau hitung domba. Tapi jangan hitung jumlah selir yang Anda punya, nanti malah makin insomnia.”
Nira di sudut ruangan tampak ingin pingsan. Tidak ada orang yang boleh menasihati Kaisar tentang pola tidurnya!
Namun, alih-alih marah, sudut bibir Kaisar Lucian berkedut. Sangat tipis, hampir tidak terlihat, tapi itu adalah senyuman.
“Kau lucu ketika kau tidak mencoba membunuhku,” kata Kaisar sambil berdiri kembali. “Tabib!”
Pintu terbuka lagi. Seorang pria tua dengan jubah putih bergegas masuk, membawa tas obatnya dengan napas terengah-engah. Tabib Istana, Dokter Morvan.
“Yang Mulia! Maafkan keterlambatan hamba, tapi kabar burung mengatakan Selir Elara telah...” Dokter Morvan terdiam melihat Elara yang sedang membersihkan remah kue lapis dari gaun kafannya. “...sedang camilan?”
“Periksa dia,” perintah Kaisar. “Pastikan dia benar-benar hidup. Dan cari tahu racun apa yang ada di dalam tubuhnya.”
Dokter Morvan dengan sigap memeriksa nadi Elara, lalu memeriksa pupil matanya, dan akhirnya mencium bau dari mulut Elara (yang membuat Elara merasa sangat tidak higienis).
“Ini... ini tidak masuk akal,” gumam Dokter Morvan setelah beberapa saat. “Detak jantung Yang Mulia Elara lambat, seperti beruang yang sedang hibernasi. Tapi racun *Nightshade* itu... tubuh Yang Mulia tampaknya telah memetabolismenya. Atau mungkin... racunnya sudah kadaluarsa?”
“Kadaluarsa?” ulang Kaisar Lucian, nadanya berbahaya.
“Mungkin, Yang Mulia. Atau tubuh Selir Elara memang... sangat menolak untuk mati.”
Kaisar Lucian menatap Elara lagi. “Kau mendengar itu? Tubuhmu menolak untuk mati. Langit sepertinya tidak mengizinkannya.”
Elara menelan ludah. Sial. Ini bukan plot yang aku inginkan. Aku seharusnya mati dengan tenang, dikubur, dan menjadi hantu yang santai.
“Jadi... bolehkah saya pulang sekarang?” tanya Elara penuh harap. “Ke Paviliun Angin Barat?”
“Tidak,” jawab Kaisar tegas.
Wajah Elara jatuh. “Tapi Yang Mulia, di sana sepi...”
“Tepat,” potong Kaisar. “Karena kau akan pindah ke Paviliun Matahari Terbit.”
Elara tersedak ludahnya sendiri. “Paviliun Matahari Terbit? Itu... itu paviliun di sebelah sayap pribadi Anda! Itu tempat Selir Utama!”
“Selir Utama sedang pulang ke keluarganya untuk sementara waktu karena 'sakit kepala' (yang sebenarnya adalah strategi politik),” kata Kaisar dingin. “Dan Paviliun itu kosong. Mulai hari ini, kau tinggal di sana.”
“Tapi... tapi itu dekat dengan Anda! Itu berarti saya harus bangun pagi! Itu berarti saya harus ikut upacara teh! Itu berarti saya harus memakai pakaian yang tidak kusut!” Elara memprotes, suaranya naik satu oktav.
“Kau akan ikut upacara teh,” putus Kaisar, berbalik menuju pintu. “Aku ingin melihat seberapa jauh kau bisa berpura-pura menjadi wanita lemah yang tidak berbahaya. Dan Elara?”
Kaisar berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit.
“Jika ada yang mencoba meracunimu lagi... kali ini, jangan makan racunnya. Lapor padaku. Aku ingin melihat siapa yang berani bermain di hadapanku tanpa izin.”
Pintu tertutup. Kaisar Lucian pergi, meninggalkan jejak aura yang menekan dan kebingungan yang luar biasa.
Elara menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan kosong.
“Nira,” panggil Elara lemas.
“Y-Ya, Yang Mulia?”
“Bantu aku berdiri. Kakiku mati rasa. Dan tolong ambilkan kue lapis yang lain. Stres ini membakar kalori.”
Nira membantu Elara berdiri, wajahnya masih pucat. “Yang Mulia... Paviliun Matahari Terbit... itu adalah tempat yang paling diincar semua orang. Anda... Anda seharusnya bahagia.”
Elara menghela napas panjang, menatap langit-langit ruang kematian itu.
“Nira, kau tidak mengerti. Di dunia kerja... eh, di istana ini, semakin dekat kau dengan bos, semakin banyak lembur yang kau dapat. Aku baru saja dipromosikan menjadi manajer wilayah, padahal aku hanya ingin menjadi staf gudang.”
Elara berjalan tertatih-tatih menuju pintu, membiarkan Nira menopangnya.
“Ayo,” gumam Elara. “Kita harus berkemas. Dan tolong pastikan tidak ada racun di makanan malam ini. Aku tidak ingin mati lagi, Nira. Proses kebangkitannya membuatku lapar.”