Ketika cinta berubah menjadi sebuah penjara.
Menikah adalah impian setiap wanita, pernikahan yang bahagia penuh keharmonisan adalah harapan. Namun, bagaimana jika cinta hanya membawanya dalam sebuah Sangkar Pernikahan?
Seruni menikahi Tuan Muda pertama dari keluarga Danuel. Tentu pernikahan dalam sebuah keuntungan bagi orang tuanya. Namun, sial ketika Seruni jatuh cinta pada sosok ramah dan hangat itu. Yang dalam sekejap mata berubah, nyatanya Tuan Muda pertama keluarga Danuel ini adalah sosok pria arogan yang dingin.
Seruni menjalani pernikahan yang bagaikan sebuah penjara. Dia harus melepas karir sebagai model yang saat itu sedang begitu naik. Lalu, semua hal yang dia lakukan harus atas persetujuan suaminya. Hingga, Seruni mulai jengah dan memberanikan diri mengajukan Perceraian. Tapi, apakah suaminya akan menyetujui Perceraian itu?
"Ceraikan aku, Mas. Pernikahan ini tidak akan bisa di lanjutkan lagi. Wanita dari masa lalumu sudah kembali sekarang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Tempatmu Pulang
Suasana Kafe masih sepi, terlalu pagi untuk orang-orang sudah datang ke Kafe untuk minum kopi atau mengerjakan tugas. Hanya ada beberapa orang saja disana, yang awalnya biasa saja namun mulai terusik dengan kehadiran Raifan disana.
Seruni menatap suaminya dengan datar, lalu menatap di belakang Raifan seseorang yang berdiri tegap. Pandi, ah benar, dia tidak mungkin tidak berkata jujur pada Tuannya. Seruni telah salah percaya pada Pandi, dia pikir dengan caranya sampai menangis maka Pandi akan bisa menutup mulutnya tentang kepergiannya dengan Selvia. Tapi, Seruni lupa jika Pandi begitu patuh pada Raifan.
"Aku hanya pergi sebentar dengan Selvia, aku juga tidak akan bisa lari darimu. Bukannya kamu sudah memasangkan ini padaku?" ucap Seruni sinis dengan mengangkat tangan kirinya, menunjukan gelang yang di pasang GPS oleh Raifan.
"Tuan, tolong ya jangan marahi Seruni, dia hanya ingin bercerita saja denganku. Bukan berniat untuk lari" ucap Selvia, melihat sahabatnya tersudutkan, dia juga jadi panik.
Raifan menatap dingin pada keduanya, dia menarik tangan Seruni dan membawanya keluar dari Kafe. "Meski kau tahu jika aku akan selalu menemui keberadaanmu. Tapi, bukan berarti kau bisa seenaknya pergi tanpa izin dariku!"
Raifan membuka pintu mobil dan memaksa Seruni masuk. Selvia berlari mengikutinya, dia lebih panik melihat sahabatnya akan terkena marah suaminya. Dan selama ini baru pertama kali Selvia melihat bagaimana marahnya Raifan. Tatapannya saja sudah membuatnya merinding.
"Tuan, tolong jangan sakiti Seruni. Dia tidak mungkin berniat lari, Runi hanya ingin bercerita saja padaku"
"Kau diam dan pulanglah" ucap Raifan dengan suara rendah. Dia masuk ke dalam mobil dan meminta Pandi segera melajukan mobilnya. "Pulang ke rumah sekarang!"
"Baik Tuan"
Seruni hanya diam, menatap keluar jendela mobil. Tidak mau melihat atau sekadar melirik saja suaminya. Kejadian semalam tentang pertengkaran tidak tuntas, Seruni masih tidak ingin bicara apapun lagi dengan Raifan.
Ketika sampai di rumah, Seruni langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Raifan menghela napas pelan, dia mengikuti istrinya ke dalam rumah. Pandi hanya menahan napas, bergumam pelan jika pasti akan ada pertengkaran lagi.
"Seruni tunggu aku!"
Suara derap langkah yang menaiki anak tangga terdengar menggema di seisi ruangan. Para pelayan yang sedang berada di sana, hanya menunduk, berpura-pura tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi.
Brak.. Pintu di buka kasar oleh Seruni, lalu Raifan ikut masuk dan menutup pintu dengan kakinya. Menarik tangan istrinya, membuat Seruni langsung berbalik padanya.
"Kau tidak bisa seperti ini saat ada masalah, pergi tanpa izin dariku!"
"Kenapa? Bukankah kemana pun aku pergi, kamu akan tetap menemukan aku. Jadi, tidak penting harus bilang atau tidak padamu aku mau pergi kemana, karena nanti kamu akan tahu sendiri"
Raifan menatap istrinya dengan lekat, tidak suka dengan ucapannya barusan. "Kau tidak paham bagaimana aku mencemaskanmu"
Seruni menatapnya sinis, bahkan tertawa kecil. "Kamu mencemaskan aku? Haha... Mas, kamu seharusnya sadar jika sebenarnya yang paling menyakitiku adalah kamu, Mas. Dan sekarang kamu bilang mencemaskan aku. Dari bagian mana kamu mencemaskan aku? Apa karena takut jika pernikahn ini berakhir, maka Mama dan Papa kamu akan marah padamu, iya?"
Raifan mencengkram dagu Seruni, menatapnya tajam penuh amarah. "Berhenti bahas perpisahan, karena kau tidak akan pernah bisa lepas dariku. Bukannya kau merasa di untungkan dengan pernikahan ini. Kau ingin keluar dari rumah Ayahmu yang hanya menjadi tempat tinggal, tanpa kenyamanan. Iyakan?"
Seruni tersenyum, dia mengangguk pelan dengan air mata yang menetes di pipinya. "Mas, aku memang ingin keluar dari rumah itu. Berharap menemukan rumah baru yang bisa memberikan kenyamanan untukku. Tapi, nyatanya aku malah pindah ke rumah yang lebih hancur"
"Lalu, jika kau pergi dari rumah ini kau akan pulang kemana? Seruni, sekarang kau hanya punya aku, dan hanya bisa kembali padaku. Kau tidak punya tempat kembali selain aku, jadi berhenti bertingkah dan tetap menurut padaku!"
Seruni diam, sebenarnya ucapan Raifan tidak sepenuhnya salah juga, karena memang dia tidak punya tempat kembali sekarang. Memang hanya ke rumah ini Seruni kembali, bahkan tidak tahu harus melakukan apa ketika dia berpikir untuk pergi, karena memang tidak ada tempat kembali.
"Mas, bisakah menjadi tempat untuk aku pulang? Aku hanya butuh seseorang yang memelukku saat lelah, mendengarkan aku ketika ingin berkeluh. Kamu benar, aku memang tidak punya tempat kembali. Dan aku ingin kamu menjadi tempatku kembali yang memberikan kenyamanan. Bisakah?"
Air mata Seruni menetes tanpa bisa di tahan. Ternyata titik terendah dalam hidupnya tetap hanya mengharapkan Raifan menjadi sosok terakhir yang memberikan kenyamanan itu. Memberikan sesuatu yang selama ini tidak dia dapatkan, sebuah kenyamanan untuknya pulang.
Raifan menghela napas pelan, menarik Seruni ke dalam pelukannya. Memejamkan mata dengan menghembuskan napas pelan. "Sejak aku menikahimu, maka seharusnya kau hanya kembali padaku"
Seruni menangis dalam pelukannya, mungkin Raifan bukan sepenuhnya suami yang tidak memberikan kepedulian padanya. Hanya saja sikap yang arogan, memberikan pengekangan padanya, mengambil semua kebebasan yang selama ini Seruni miliki. Namun, Raifan bukan suami yang melakukan kekerasan, dia hanya arogan dalam bersikap ketika Seruni membantah aturannya, bukan seseorang yang mudah melakukan kekerasan fisik.
Lalu, harus bagaimana Seruni menyikapi? Ketika dia sendiri merasa jika hanya punya Raifan untuk dijadikan tempatnya pulang.
*
Berakhir berpelukan di atas tempat tidur, Seruni hanya diam saja ketika merasakan pelukan hangat dari suaminya. Mungkin belum sepenuhnya masalah diantara mereka selesai, belum sepenuhnya juga saling terbuka. Tapi setidaknya ada hal baru yang Seruni yakini, Raifan bisa menjadi tempatnya kembali.
"Tentang Mawar, aku tidak ada hubungan apapun lagi dengannya"
Seruni hanya diam, ingin membahas lebih lanjut tentang masalah ini, tapi mereka berdua baru saja reda dari amarah, takutnya hanya akan semakin memancing kemarahan lagi.
"Aku juga hanya pergi menemui Selvia, hanya karena ingin bercerita saja dengannya. Bukan pergi untuk lari darimu, karena aku tahu semua itu tidak mungkin. Dan seperti ucapanmu tadi, bahwa aku tidak punya tempat kembali, apalagi untuk sebuah pelarian"
Raifan mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Ya, kau memang tidak akan bisa lari dariku"
Setelah pertengkaran hebat itu, keduanya kembali menjalani kehidupan yang biasanya, meski belum sepenuhnya masalah selesai.
Tentang Mawar, Seruni hanya mencoba percaya jika suaminya memang tidak ada lagi hubungan dengan mantan kekasihnya itu. Meski hatinya masih cukup ragu tentang itu.
"Seruni, apa kamu yakin tetap ingin meminta bantuan Mas Riko? Bukannya kalian sudah berbaikan?"
"Entahlah, tapi aku rasa tetap harus mengakhiri semuanya. Karena kita hanya terus saling menyakiti"
Bersambung
bicarakan kembali tentang itu jika seruni ingin kamu berhenti maka kamu cari orang yg mau membantu mawar, tapi jika seruni mengijinkan maka terbukalah, atau biar seruni yg mengurus itu tanpa kamu , atau apalah yg terbaik, jadi pikirkan matang-matang dulu baru memutuskan tanpa emosi
kalo aku kalau mantan kamu sekarat aja didepan kamu nggak usah sok2 an bantu cari orang lain aja apalagi sembunyi2 membantu hadeh nggak sudi siap2 dia kehilangan anak istri nya jangan pernah ada urusan sama mantan apapun bentuknya
karena ingin tau apa yg akan terjadi dan keputusan seruni untuk mawar 🌹