Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Gilang melangkah pelan memasuki kediaman Nyonya Yukiko Maera, istri dari Komisaris Ichikawa. Wanita Jepang itu menyambut kedatangan Gilang dengan senyum hangat dan binar bahagia. Maera memang sudah lama menjadi pelanggan setia di Griya Harta Emas, kerap kali membeli barang-barang antik berharga tinggi langsung dari tangan Gilang. Namun, kedatangan Gilang kali ini bukan sekadar urusan transaksi barang antik, ia datang untuk meminta tolong, menggali informasi tentang Rumah Sakit Jayakarta yang mendadak ditutup ketat oleh militer.
Keduanya kini bersimpuh saling berhadapan di ruang teh yang tenang. Maera anggun mengenakan kimono merah muda bermotif kupu-kupu, matanya menatap lembut ke arah Gilang yang sedang menyesap teh hangatnya.
“Tehnya sangat harum,” puji Gilang tulus seraya menggenggam cangkir keramik di tangannya.
Mendengar pujian itu, senyum Maera makin merekah lebar. Ia mengangkat cangkir teh miliknya sendiri. “Semua berkat Mas Gilang. Berkat cangkir teh pemberian darimu, upacara minum tehku jadi jauh lebih menyenangkan.”
Gilang tersenyum sopan, mengangguk kecil. “Bahasa Nusantara-mu ternyata jauh lebih alami sekarang.”
“Karena kau mengenalkanku pada guru yang hebat. Terima kasih banyak,” balas Maera renyah.
Cahaya mentari pagi menerobos lembut celah pintu geser, menimpa paras Maera saat wanita itu meminum tehnya pelan. Gilang meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja dengan gerakan sangat sopan. Ia sempat mengedarkan pandangan sejenak memindai sudut ruangan yang sunyi, lalu kembali memusatkan tatapannya pada Maera.
“Oh, iya, aku mendengar bahwa Rumah Sakit Jayakarta ditutup. Apa kau mendengar kabarnya?” tanya Gilang membuka maksud kedatangannya.
Maera menurunkan cangkir tehnya perlahan, raut wajahnya sedikit berubah. “Entahlah, aku dengar sekilas ada penyakit menular yang sedang menyebar di sana.”
“Sebenarnya, temanku dirawat di sana tapi kami hilang kontak. Jika kau kenal dengan orang dalam, kuharap kau bisa menanyakan bagaimana situasi di dalam dan kapan rumah sakit akan dibuka kembali,” pinta Gilang penuh harap.
Maera menatap Gilang dalam-dalam, lalu mendesah kecil. “Apa karena gadis itu… Emma?”
Gilang bungkam. Sorot matanya terkunci pada Maera, terkejut menyadari bahwa wanita di depannya ini ternyata sudah tahu bahwasanya ia sedang mencari keberadaan Emma.
“Jika itu memang benar, lebih baik jangan kau cari,” ucap Maera pelan namun penuh penekanan, mencoba menghentikan niat nekat pria di depannya.
Gilang mengalihkan pandangannya menatap ke bawah. Ia tahu betul Ichikawa sangat serius ingin menyita dan merebut Griya Harta Emas. Maera berharap Gilang bisa mengabaikan saja gertakan suaminya itu, tetapi Gilang paham betul bahwa ancaman Ichikawa bukan sekadar gertak sambal. Jika Ichikawa bertindak serius, Gilang pun harus menghadapi ancaman itu dengan mempertaruhkan segalanya.
Maera kembali menyesap tehnya, membiarkan uap hangat membasahi bibirnya di tengah keheningan.
Gilang menghela napas panjang. Wajahnya mengeras seraya menatap Maera tajam dan serius. “Ada sebuah pepatah, 'Orang yang tenggelam akan menggenggam jerami.' Artinya, orang yang putus asa akan berpegang pada apa pun juga demi bertahan. Dan orang yang tenggelam itu adalah aku, Nyonya Maera.”
Maera menatapnya prihatin. “Pasti kau bisa mengabaikan ancaman suamiku. Bukan begitu?”
“Jika memang itu sekadar gertakan saja, iya. Tapi kelihatannya dia sangat serius,” jawab Gilang mantap.
“Jadi?”
“Jadi, aku mau serius juga. Jika aku mau bertahan hidup,” pangkas Gilang tanpa ragu.
Maera mencoba melarangnya sekali lagi. Ia ingin Gilang mencari jalan lain yang tidak berbahaya, murni karena ia menganggap Gilang sebagai teman dekatnya.
“Kau tidak akan bisa masuk ke Rumah Sakit Jayakarta. Jikapun bisa, kau tidak akan menemukan apa yang kau cari di sana. Mas Gilang, lebih baik kau cari cara lain saja. Itu nasihatku sebagai seorang teman,” tutur Maera pelan, mencoba mengetuk kesadaran Gilang.
Gilang tak lagi membalas. Ia hanya menatap lurus ke arah Maera, wajahnya datar tanpa ekspresi, dengan tatapan mata yang terasa hampa dan kosong.
Beberapa menit kemudian, Gilang kembali ke rumah gadainya. Tiga bawahannya sudah menunggu dalam diam dan melamun di sana. Mereka bertiga serentak melirik ketika menyadari kedatangan sang bos.
Gilang melangkah mendekat, matanya lurus menatap Aska. “Aku butuh cetak biru bangunannya. Kau bisa hubungi Kantor Gubernur Jenderal, kan? Dapatkan cetak biru rumah sakit yang paling detail,” gumam Gilang tegas seraya terus berjalan mendekati mereka.
“Apa gunanya dapat cetak biru jika tidak ada jalan masuk? Semua orang luar, bahkan pemasok kebutuhan rumah sakit pun dilarang masuk! Bagaimana kau bisa menyelinap masuk?” sergah Ujang seraya memegang kedua pinggangnya, tak habis pikir.
“Tolong kau berikan padaku sebelum malam hari,” pinta Gilang dingin pada Aska, mengabaikan protes Ujang seraya melangkah pergi.
“Penyakit menular!” sahut Ujang setengah berteriak, rasa khawatir yang membuncah membuatnya tak bisa tinggal diam. “Entah penyakit apa itu. Salah langkah, kita bisa langsung masuk alam baka!”
Gilang menghentikan langkahnya mendadak, lalu berbalik menatap Ujang. “Aku akan masuk sendiri. Mengerti?”
“Bagaimana jika itu bohong? Bagaimana jika gadis itu berbohong demi menyelamatkan dirinya sendiri? Itu mungkin saja, kan?” oceh Ujang makin gencar. “Rumah sakit ditutup, tidak ada jalan keluar, ada penyakit menular! Mungkin dia bohong soal keberadaan Emma demi menyelamatkan diri!”
Gilang melangkah pelan mendekati Ujang, mengikis jarak di antara mereka. “Jadi kau berpikir begitu?” tanya Gilang santai.
“Coba kau pikir! Apa mungkin Emma ada di rumah sakit khusus pejabat Jepang? Tidak mungkin dia ada di sana!” ucap Ujang menyuarakan pikirannya dengan berapi-api. Ia mengangkat tangan dan menepuk dadanya sendiri. “Dengar, aku berani bertaruh enam ratus ribu!”
Gilang mendesah pelan, menggelengkan kepalanya. “Khh… Kau ini selalu tidak beruntung.”
“Apa?” seru Ujang, matanya membelalak tak terima.
“Tiap kartu yang kau ambil selalu jelek, tiap pasang taruhan kau selalu kalah, dan tiap kali kau berjudi uangmu pasti terkuras habis,” cibir Gilang datar.
“Hei! Kapan itu terjadi padaku?” tangkis Ujang, berusaha keras menyangkal.
“Emma pasti ada di sana,” potong Gilang pelan namun penuh keyakinan. “Aku pergi ke tempat Nyonya Maera untuk memastikan hal itu.”
“Istrinya Ichikawa? Apa dia bilang begitu? Emma ada di sana?” sahut Bibi Sinta memotong, matanya membulat terkejut.
Gilang mengangguk mantap.
“Benarkah? Maera bilang begitu? Benarkah?” tanya Ujang berturut-turut, dagunya terangkat tinggi seolah tak percaya taruhan besarnya berisiko melayang.
“Jam sepuluh malam nanti, aku pergi ke Rumah Sakit Jayakarta. Tolong persiapkan dengan baik,” pinta Gilang. Ia berbalik melangkah, lalu menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Bibi Sinta menatap kepergian Gilang dengan raut khawatir.
Di lantai dua, Gilang berjalan mendekati jendela, berdiri di samping gorden putih yang berkibar-kibar ditiup angin. Dari saku jasnya, Gilang mengeluarkan selembar kain putih kecil yang diberikan oleh suster tadi. Matanya terpaku menatap tulisan di atasnya: KAMI TEMUKAN EMMA.
Gilang termenung, bisikan lirih dari suster itu kembali bergema memenuhi benaknya.
“Malam ini jam sepuluh…”
“Kirimkan sinyal ke Rumah Sakit Jayakarta. Asap atau kembang api, agar mereka semua tahu bahwa itu sinyalnya.”
“Tolong keluarkan mereka… dari tempat itu.”