Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: CEMBURU DI BALIK KORIDOR
Suasana di dalam restoran mewah berbintang lima di pusat kota malam itu terasa sangat elegan, hangat, dan tenang. Cahaya temaram dari lampu gantung kristal berukuran raksasa memantulkan kilau indah di atas meja-meja berlapis kain putih bersih. Di salah satu area meja VIP yang agak terpisah dari keramaian, tiga orang duduk berkumpul menyelimuti meja besar.
Elisa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit dengan raut wajah penuh keterkejutan yang tak mampu ia sembunyikan lagi. Matanya menatap tajam ke arah pria tegap berpakaian kemeja serba rapi yang duduk santai di hadapannya.
"Wah, aneh sekali malam ini..." cetus Elisa sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Sejak kapan seorang Tuan Rizky Syah yang sangat sibuk dan sulit ditemui mau repot-repot datang dan makan bersama kita di tempat biasa seperti ini?"
Rizky Syah merapikan kerah kemeja mewahnya dengan gerakan jemari yang sangat santai, lalu membalas tatapan curiga Elisa dengan nada suara yang teramat datar. "Aku bukan Tuhan, Elisa. Aku ini juga manusia biasa yang perlu makan saat lapar, kan?"
Elisa tertawa renyah mendengar jawaban tajam khas dari pria itu. "Tapi di mata para pengusaha besar dan pejabat tinggi di Kota Jakarta, posisi dan pengaruhmu itu hampir tidak ada bedanya dengan Tuhan! Sulit sekali menyenggol atau sekadar mencuri sedikit jadwal luangmu."
Rizky tidak membalas candaan itu. Manik matanya yang tajam menyapu sekeliling meja porselen yang terasa agak lengang, lalu dengan sengaja berpura-pura bertanya dengan raut wajah penuh rasa ingin tahu yang tipis. "Hei... kenapa aku tidak melihat keberadaan Kamilah di antara kalian?"
Elisa mengibaskan tangannya dengan santai, tidak mencurigai niat tersembunyi di balik pertanyaan itu. "Oh, Kamilah? Dia tidak bisa ikut makan malam bersama kita. Dia sedang ada kencan penting dengan calon tunangan masa kecilnya." Elisa kemudian meraih lembaran buku menu berdaun emas di atas meja. "Ayo, lebih baik kita pesan makanan sekarang, aku sudah sangat lapar."
Mendengar frasa "kencan penting" dan "calon tunangan masa kecil" diucapkan begitu santai dari mulut Elisa, jemari tangan Rizky yang sedang memegang ujung buku menu tebal mendadak menegang kaku. Urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas. Raut wajahnya yang tadinya sangat tenang langsung berubah menjadi dingin, kaku, dan menusuk, meski ia berusaha keras untuk menahannya di depan sahabat-sahabatnya.
Rizky membuka buku menu tebal di tangannya, matanya menatap deretan nama masakan mahal tanpa benar-benar membacanya sama sekali.
"Sayang sekali..." gumam Rizky dengan nada suara rendah yang sangat tertahan, "...dia tidak bisa menikmati makanan yang seenak ini di sini."
Elisa mendongak dari menunya, lalu menjentikkan jarinya dengan antusias. "Benar juga! Makanan dan hidangan penutup di restoran ini kan terkenal sangat enak di seluruh kota. Kalau begitu, aku akan mengirim pesan pada Kamilah sekarang juga untuk menyuruhnya datang menyusul kita ke sini!"
Syahril, yang duduk tepat di samping Rizky, tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Elisa. "Hah? Untuk apa disuruh datang menyusul ke sini, Elisa? Mereka itu kan sedang kencan romantis berdua. Pasti mereka mau makan berdua saja tanpa ada gangguan dari orang lain."
PRAM!
Suara benturan nyaring seketika bergema di seluruh area meja VIP tersebut. Rizky Syah menutup buku menu tebal di tangannya dengan sangat keras hingga memicu perhatian dan tatapan kaget dari beberapa pelayan restoran di sekitar sana.
Syahril dan Elisa tersentak kaget di tempat duduk mereka, menengok secara bersamaan ke arah Rizky dengan dahi berkerut bingung dan panik.
Rizky membetulkan posisi duduknya yang tegap, menatap lurus ke arah Elisa dengan sorot mata yang sulit diartikan namun dipenuhi aura intimidasi yang sangat pekat dan berbahaya. "Panggil dia ke sini. Panggil saja dia datang... bukan berarti dia harus makan bersama kita di meja ini, kan?"
Elisa yang polos dan tidak tahu apa-apa langsung menyunggingkan senyum lebar, menganggap saran dingin dari Rizky adalah ide kumpul-kumpul yang sangat cemerlang. "Benar juga! Barang bagus dan makanan enak tentu harus dibagi dan dinikmati bersama sahabat sendiri, kan?" ujar Elisa riang sambil jemarinya dengan lincah mengetikkan pesan balasan mengajak Kamilah bergabung ke restoran tersebut.
Rizky kemudian bangkit berdiri secara perlahan dari kursinya. Ia merogoh saku jas mewahnya dan mengeluarkan sebungkus rokok mahal beserta pemantik apinya. "Aku keluar sebentar," pamit Rizky singkat sebelum melangkah tegap meninggalkan area makan utama restoran.
Syahril menatap punggung Rizky yang berjalan menjauh menyusuri koridor dengan tawa geli. "Sejak kapan pria arogan dan dingin itu jadi begitu sopan dan tahu tata krama? Bahkan cuma untuk merokok saja dia sampai harus minta izin keluar ruangan?" tawa Syahril pelan pada Elisa.
Sementara itu, di pelataran parkir VIP restoran mewah yang sama, sebuah mobil sedan hitam baru saja berhenti dengan mulus. Kamilah dan Ikram Pratama melangkah keluar dari dalam kendaraan tersebut.
Ikram menyunggingkan senyum lembut ke arah Kamilah sambil memutar kunci mobil di jemarinya. "Kamu masuk duluan saja ke dalam gedung restoran, Kamilah. Aku akan memarkirkan mobil ini di area parkir khusus bawah tanah terlebih dahulu."
Kamilah hanya mengangguk pelan tanpa membantah. "Baik, Mas Ikram."
Gadis anggun itu membalikkan badan dan melangkah sendirian memasuki area dalam restoran yang begitu megah dan hangat. Lorong koridor utama menuju area makan VIP terasa agak lengang, remang-remang, dan sangat temaram. Kamilah berjalan santai sambil mengagumi interior bangunan kuno yang mewah tersebut.
Namun, tepat saat ia melewati sebuah belokan koridor yang sepi dan jauh dari jangkauan penonton...
SET!
Sebuah lengan tegap dan kekar tiba-tiba terulur cepat dari balik pilar besar, mencengkeram pergelangan tangan halus Kamilah dengan lembut namun sangat kuat, lalu menarik tubuh gadis itu ke dalam sudut remang-remang di dekat lorong persembunyian!
Kamilah tersentak panik, hampir saja menjerit kencang karena kaget setengah mati. "Aaa—!"
"Ini aku," suara berat, dalam, dan teramat familiar berbisik tepat di depan wajahnya.
Kamilah mendongak cepat, matanya membelalak lebar saat mendapati wajah tampan dan tegas milik Rizky Syah berdiri rapat hanya berjarak beberapa sentimeter dari mukanya. Hawa napas hangat pria itu terasa menyapu lembut kulit dahi dan pipinya.
Kamilah mengelus dadanya yang berdebar kencang tak karuan, menatap pria itu dengan pandangan kesal dan emosi luar biasa. "Kamu ini... kenapa selalu saja suka muncul tiba-tiba dan mengagetkanku seperti ini, sih?!"
Rizky menyandarkan sebelah tangan kekarnya ke dinding marmer tepat di belakang kepala Kamilah, mengunci seluruh pergerakan gadis itu agar tidak bisa melarikan diri ke mana-mana. Sorot matanya yang tajam menatap menghujam tepat ke dalam manik mata Kamilah.
"Aku bahkan belum menunjukkan amarahku padamu..." tegur Rizky dengan suara rendah yang amat menakutkan, "...tapi kamu sudah berani pasang wajah cemberut duluan di hadapanku?"
Kamilah mendengus geli bercampur jengkel, memutar bola matanya menghadapi sikap otoriter pria ini. "Memangnya kamu punya alasan sah apa untuk marah padaku?! Kamu kan memang hebat sekali... cuma tahu caranya menindas, memaksa, dan mengintimidasi orang lain yang lebih lemah!" cetus Kamilah dengan wajah yang makin melipat kesal.
Rizky mendekatkan wajah tampannya sedikit lagi ke arah Kamilah, menekan setiap patah kata yang keluar dari bibirnya dengan intonasi yang begitu dalam, bergetar, dan penuh gejolak cemburu yang membara.
"Kamu sengaja tidak menjawab dan menolak telepon dariku..." bisik Rizky dengan napas yang memburu pelan di depan bibir Kamilah, "...malah pergi kencan romantis dengan pria lain malam-malam begini. Calon istriku hampir saja direbut oleh orang lain... dan kamu pikir aku tidak punya hak untuk marah?"
C-calon istri?!
Kamilah seketika membeku kaku di tempatnya berdiri. Jantungnya terasa berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Kata-kata tegas yang baru saja keluar dari mulut pria dominan itu bergema berulang-ulang di dalam kepalanya bagaikan hantaman petir yang menyambar di siang bolong.
Calon istri?! Apa pria ini benar-benar sadar dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya sendiri?! jerit Kamilah histeris di dalam benaknya, menatap Rizky Syah dengan mata terbelalak lebar dan napas yang tertahan sepenuhnya.