Arabella, putri keluarga kaya yang tidak diakui oleh keluarganya lagi. Tunangannya direbut oleh seorang wanita miskin…
Ketika, wanita miskin itu menikah dengan tunangannya. Dirinya hampir dilecehkan oleh beberapa preman yang dikirim tunangannya.
Terpaku dalam dendam merasa dunia ini tidak adil. Sebuah ingatan tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya.
“Ini adalah dunia novel yang sudah mencapai ending? Dan aku adalah antagonisnya…” gumamnya tertawa dalam tangisan.
Seorang antagonis yang tiba-tiba memiliki kesadaran. Dirinya sudah tidak terikat plot lagi, karena cerita telah mencapai ending…
“Aku akan membalas mereka, ini awal dari permainan membalas dendam…”
"Aku akan menjadi senjatamu untuk membalas dendam." Diluar dugaan pria gila yang seharusnya mencintai protagonis mengulurkan tangan untuk membantunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Bantal
Arabella sedikit berbisik kepada Xavier, kemudian memberikan kunci kamarnya.
“Xavier, kamu benar-benar mau mengambil tasku untuk Angel? Sudah aku bilang, semua tasku sudah aku jual. Percuma kamu periksa ke kamarku.” Ucap arabella menitikan air matanya.
“Arabella, kamu hidup sebagai wanita kaya, memiliki kasih sayang orang tua. Berbeda dengan Angel yang menjalani kehidupan yang keras. Seharusnya kamu lebih mengerti dan paham, lebih mengasihani dan membantunya. Aku benar-benar tidak menyukai sifatmu yang seperti ini.” Xavier menekankan kata-katanya. Seakan-akan tidak terpengaruh dengan adegan tangisan di lantai 1. Pria itu dengan teguh melangkah ke lantai 2.
Sementara arabella yang berpura-pura menangis, perlahan menghapus air matanya sendiri.
“Aku tidak menyangka kabur ke rumah Xavier. Tapi Xavier malah marah padaku dan mengatakan aku kekanak-kanakan. Dan aku juga harus memberikan hadiah permintaan maaf pada Angel. Sungguh benar-benar tidak adil. Angel kamu brengsek!” Suara teriakan dari arabella menuding-nuding ke arah Angel.
“Kakak kamu tenang dulu. Kamu tidak lihat ibu sedang menangis? Ibu baru saja kehilangan kalungnya. Kalung berlian yang paling berharga baginya. Kakak malah tidak memiliki simpati sama sekali. Apa Kakak benar-benar anaknya ibu!?” Angel masih memeluk Melda begitu erat.
“Benar! Kamu itu anak durhaka! Melihat ibumu menangis, bukannya menghibur kamu malah marah-marah sendiri.” Vino bangkit dari sofa tempatnya duduk, wajahnya terlihat masam, menatap penuh rasa benci dan kesal ke arah putrinya.
“Aku tidak tahu…Aku benar-benar tidak tahu.” Angel mengepalkan tangannya, sembari menunduk.
Berbagai komentar terlihat melayang, komentar berupa tulisan.
‘Kenapa aku baru sadar tokoh Angel ini terlihat munafik ya?’
‘Padahal di awal dia itu terlihat idealis dan baik. Tapi sekarang malah mau menjebak arabella.’
‘Kalungnya diletakkan di bawah bantal. Gawat kalau sampai ketemu dan ketahuan. Bisa-bisa arabella diusir dari rumahnya sendiri.’
Itulah komentar-komentar yang terlihat melayang di udara. Komentar-komentar yang bagaikan bocoran bagi arabella. Dirinya kemudian duduk di sofa single, meraih handphonenya. Mengetikkan sesuatu kemudian mengirimkan pesan kepada Xavier.
Hingga, sebuah usulan dari Angel terdengar.”Ayah, ibu…Bagaimana kalau kita menggeledah semua kamar saja. Mungkin Ibu menjatuhkannya di suatu tempat. Bisa saja salah satu pelayan di tempat ini mencurinya.” Usulan yang pada akhirnya diucapkan oleh wanita itu juga.
Arabella berusaha keras menahan senyumannya. Wanita ini benar-benar merasa bisa mengalahkannya.
“Ayah setuju, kalau seluruh rumah digeledah, mungkin kalung itu bisa ditemukan. Kalung itu harganya cukup mahal. Bisa gawat kalau hilang.” Vino menghela nafas kasar.
Sedangkan Angel mengangkat sebelah alisnya. Perhiasan-perhiasan yang direbut olehnya dari arabella, bahkan nilainya pasti lebih tinggi daripada kalung yang hanya bertahtakan berlian kecil itu.
Tapi kenapa Vino mengatakan bahwa harganya lumayan mahal?
Tentu saja arabella cukup mengetahuinya. Alasan dari segalanya, ibu dan ayahnya tidak begitu disukai oleh sang kakek. Uang jatah mereka juga tidak banyak, mungkin hanya dari gaji Vino sebagai direktur. Kebutuhan sehari-hari semuanya ditanggung oleh kakeknya.
Jadi, pendapatan per bulan dari Vino dan Melda. Hanya bergantung dari gaji Vino sebagai direktur, tidak ada investasi lain atau apapun. Karena mereka tidak disayang oleh kakek…
Pada akhirnya, semua orang bangkit. Melangkah menuju kamar pelayan. Satu persatu kamar-kamar itu digeledah, didampingi oleh seorang security.
Benar-benar tidak menyisakan satu kamar pun. Tapi nihil, kalung itu sama sekali tidak bisa ditemukan.
Mereka menggeledah menuju lantai 2, saat itulah Angel diam-diam tersenyum. Kamar pertama yang digeledah adalah kamar tamu paling pojok. Tidak ada apapun, kamar milik sang kakek dikunci, tidak ada yang boleh membukanya sama sekali. Itulah peraturannya…jadi tidak diperiksa.
Hingga pada akhirnya sampai di kamar arabella. Saat itu baru saja Xavier hendak melangkah keluar.
Ketika pintu mereka buka, Xavier juga terlihat menghela nafas, keluar dari kamar arabella.”Benar-benar tidak ada tas.” Gumamnya memberikan kesan dingin.
“Sudah aku bilang semua tasnya aku jual. Percuma saja kamu cari, kalau kamu ingin menyenangkan Angel! Jangan pernah kamu menggunakan barang-barangku. Beli sendiri!” Arabella menekankan kata-katanya, bagaikan masih bermusuhan dengan Xavier.
“Beli sendiri? Kamu itu senang menyiksa Angel. Seharusnya kamu memberikan hadiah padanya. Aku hanya mengembalikanmu pada jalan yang benar.” Xavier menekankan kata-katanya. Sungguh akting yang sempurna.
“Xavier sebenarnya jangan terlalu membelaku seperti ini. Aku memang dari keluarga tidak mampu, kedua orang tuaku sudah meninggal. Ada Xavier yang selalu membelaku saja aku sudah begitu senang.” Angel tersenyum memegang jemari tangan Xavier, bahkan berusaha bergelayut manja padanya. Untunglah Xavier mendorong kepalanya mencegah Angel..
Sementara Xavier menelan ludah, dirinya benar-benar sial. Kenapa makhluk ini malah menempel padanya.
Beberapa komentar kembali terlihat melayang, komentar-komentar dengan tulisan.
‘Woi! Kamu sudah menikah! Kalau sebelum menikah meminta pertolongan kepada Xavier seperti ini masih wajar! Tapi sudah menikah dengan Cakra malah memegang-megang tangan suamiku.’
‘Aku adalah fans berat dari Xavier. Aku terharu saat adegan dia mengorbankan segalanya demi Angel. Selalu melindunginya dalam segala situasi. Bahkan mengiris urat nadinya saat mengetahui pernikahan Angel. Tapi Angel sudah menikah dengan Cakra. Wanita ini malah masih menempel pada Xavier ku.’
‘Awalnya aku kira malaikat…ternyata iblis pemikat.’
Komentar-komentar yang kembali membuat arabella berusaha keras untuk tidak tertawa. Ini adalah suasana menegangkan, dirinya sama sekali tidak boleh tertawa.
“Sekarang adalah saatnya untuk memeriksa kamar Kak arabella. Aku tahu Kak arabella tidak mungkin mencuri.” Angel membuka pintu dengan penuh percaya diri.
Dirinya hanya tinggal berpura-pura untuk mencari. Membuka laci, bahkan menggeledah ke segala arah. Hingga tempat ketiga yang dicarinya adalah bagian bawah bantal.
Wanita yang diam-diam tersenyum ketika mengangkat bantal dan melihat…
alurnya selalu menarik dan selalu ditunggu kelanjutannya 😁😁👍👍👍
tidak mau rugi itulah pebisnis, harus selalu untung...
ntah si arabella anaknya siapa
sebelum berucap sudah disembur naga api😂😂😂
kau salah berpijak. mereka mah tinggal dicire6t dr kk aja langsung the end alias TAMAT.🤣🤣🤣🤣🤣
anal ounggut disayang bagaikan anak kandung. dan anak kandung dianggap bagaikan anak pengemis jalanan yg tidak kenal.
nuh gelo siahhh😂😂😂😂
. buuang ja orang tua laknat macam mereka. tendang dr silsilah keluarga mahendra. emng benar benar keliatan ga bergunanya. mungkin nafas juga ga berguna lagi buat mereka.
aku akan selalu membelamu, akan sellu menjagamu, dan kan selalu ikut merundung dan membully musuh musuhmu😅😅
jangan pake timbang timbangan apa lagi pake acara nolak2 segala. bekerja sama lebih baik dr pada kerja sendiri. jd balas dendam pun bisa lancar. hancurkan si bunga bangke dan ortu durhakamu
kembali ke mode kesadaran sendiri.