"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Tiga Sahabat
Jam istirahat makan siang tiba. Suara dentang jarum jam pukul dua belas disambut riuh para karyawan yang berhamburan keluar.
Namun, di sudut Divisi Keuangan, Zahira masih duduk tenang di mejanya. Sebagian besar rekan kerja menjauhinya, enggan berurusan dengan staf baru yang secara tidak langsung baru saja mempermalukan Imelda di depan pemilik perusahaan.
Zahira mengembuskan napas pelan, mengambil tas kecilnya, dan melangkah sendirian menuju kafetaria lantai dasar gedung Mersi Corporation.
Kafetaria siang itu tampak bising. Zahira membawa nampan makanannya dan mencari tempat duduk yang kosong.
Saat hendak melangkah ke meja di dekat jendela, sebuah bahu sengaja menyenggolnya cukup keras hingga mangkuk sup di nampannya hampir tumpah.
"Ups, sori. Nggak kelihatan ada 'bintang muda' mau lewat," sindir sebuah suara yang sangat familier.
Zahira menoleh. Imelda berdiri di sana bersama dua staf senior lain yang menatapnya penuh permusuhan.
"Tidak apa-apa, Bu Imelda," jawab Zahira tenang, menyeka sedikit kuah yang menetes di tepi nampannya.
"Kamu pikir kamu hebat, ya?" Imelda melangkah maju, memangkas jarak. Matanya menatap tajam dengan raut wajah berang.
"Mencari panggung di depan Pak Damian jam sebelas tadi? Biar dikira jenius? Jangan lupa, kamu itu cuma staf biasa yang masuk dari jalur umum! Di divisi ini, kamu itu bukan siapa-siapa."
Beberapa karyawan di sekitar mereka mulai menoleh dan berbisik-bisik. Zahira tetap berdiri tegak, membalas tatapan Imelda tanpa gentar sedikit pun.
"Saya hanya menyerahkan tugas yang Ibu berikan tepat waktu, seperti yang Ibu minta sebelum jam makan siang," sahut Zahira tegas, suaranya tetap terkontrol dan profesional.
"Tidak ada niat mencari panggung. Saya profesional dengan pekerjaan saya."
"Pintar bersilat lidah juga ternyata," bisik Imelda sinis sambil tersenyum miring.
"Dengar ya, Zahira. Di kantor ini, kecerdasan nggak ada artinya kalau kamu nggak punya koneksi atau perlindungan dari atasan. Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan di bawah tekanan saya."
"Permisi, Bu. Apakah keberadaan saya di sini mengganggu makan siang Ibu?"
Suara lantang seorang wanita lain mendadak memotong intimidasi Imelda. Dari arah belakang, muncul seorang staf perempuan berkacamata dengan rambut dikuncir kuda. Namanya Maya, staf analisis data dari meja sebelah Zahira yang dikenal pendiam.
Imelda menatap Maya dengan ketus. "Kamu mau ikut campur, Maya?"
"Saya cuma mau makan siang dengan tenang, Bu," jawab Maya datar tanpa rasa takut, lalu menatap Zahira. "Zahira, mejaku masih kosong di sebelah sana. Mau gabung?"
Zahira tersenyum tipis dan mengangguk. "Boleh, terima kasih."
Tanpa memedulikan Imelda yang berdiri menahan geram, Zahira melangkah mengikut Maya menuju meja di sudut ruangan yang lebih tenang.
"Jangan dimasukin ke hati," ujar Maya santai begitu mereka duduk. "Bu Imelda memang selalu begitu sama orang baru yang kelihatan lebih pintar dari dia. Tapi tindakanmu tadi pagi... jujur, keren banget. Belum pernah ada yang bikin dia mati kutu di depan Pak Damian."
Zahira terkekeh pelan. "Aku cuma ngerjain apa yang ada di berkas. Tapi makasih ya, Maya. Aku pikir aku bakal makan sendirian hari ini."
"Sama-sama. Di tempat penuh tekanan kayak gini, kita butuh teman bertukar pikiran," balas Maya ramah, mengulurkan tangannya. "Selamat datang di huru hara Divisi Keuangan, Zahira."
Zahira menyambut uluran tangan itu dengan hangat. Di tengah intrik dan intimidasi lingkungan barunya, ia tahu perjalanan membuktikan dirinya tanpa nama besar Papi baru saja dimulai dan setidaknya, kini ia tidak lagi benar-benar sendirian.
.
.
Jam dinding di area Divisi Keuangan menunjukkan pukul lima sore. Jarum jam seolah bergerak lambat bagi sebagian besar karyawan yang sudah siap menyambar tas dan melangkah pulang.
Zahira merapikan berkas-berkas laporan keuangan yang telah selesaikan di mejanya, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu berdiri dari kursinya.
Beberapa rekan kerja masih melemparkan pandangan dingin atau berbisik sinis saat ia melintas menuju lift.
Zahira hanya mengembuskan napas pelan dan terus melangkah. Ketika pintu lift kebuka di lantai dasar dan ia berjalan keluar gedung Mersi Corporation, ponselnya di dalam tas bergetar nyaring.
Nama "Gisel" tertera di layar ponselnya. Zahira langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke telinganya.
"Wa'alaikum salam. Iya, Sel?"
"Zahira! Akhirnya diangkat juga!" suara Gisel terdengar heboh di ujung telepon, diiringi sayup-sayup dentang sendok dan obrolan khas suasana kafe. "Gimana hari pertama kamu kerja di kantor bokap? Masih hidup, kan?"
Zahira terkekeh pelan sambil menuruni anak tangga gedung kantornya. "Masih, Sel. Walaupun rasanya kayak baru keluar dari medan perang."
"Bagus deh kalau masih utuh! kamu harus ke Kafe 55 sekarang juga, nggak ada alasan," seru Gisel cepat, tanpa memberi ruang buat Zahira memotong.
"Aku, Hanum, sama Ciki udah nungguin kamu nih di sini. Mereka berdua udah penasaran banget mau denger cerita langsung dari kamu, Ra."
Zahira menahan senyumnya. Perhatian dan kehebohan sahabat-sahabatnya selalu berhasil mencairkan rasa lelah setelah seharian menghadapi tekanan di kantor.
"Kalian bertiga emang paling jago bikin alasan buat kumpul ya," ujar Zahira santai. "Yaudah, aku jalan ke sana sekarang. Paling lima belas menit lagi nyampe."
"Okey! Kita pesenin ice latte kesukaan untuk Bu manager, See you, Ra!"
Panggilan terputus. Zahira menyegarkan napasnya, merasa sedikit lega karena setidaknya malam ini ia punya ruang aman untuk melepas penat dan bersantai bersama sahabat-sahabat dekatnya.
.
.
Lima belas menit kemudian, Zahira melangkah masuk ke Kafe 55. Aroma biji kopi panggang dan musik akustik pelan langsung menyambutnya.
Di sudut kafe dekat jendela besar, tiga orang sahabatnya sudah melambaikan tangan dengan antusias.
"Bintang utama kita datang!" seru Hanum begitu Zahira mendekati meja mereka.
Zahira tertawa kecil lalu duduk di kursi kosong di samping Gisel. Segelas ice latte dingin sudah siap menantinya di atas meja.
"Gimana, gimana?" Ciki langsung memajukan tubuhnya, menatap Zahira penasaran. "Seru nggak kerja tanpa bawa-bawa nama bokap? Ada yang tahu kalau kamu itu anaknya Pak Damian Sumargo?"
"Sama sekali nggak ada yang tahu," jawab Zahira sambil menyeruput minumannya. "Aku masuk murni lewat jalur seleksi umum, dan dari awal Papi juga udah setuju buat merahasiakan status aku."
"Terus, gimana rasanya jadi staf biasa?" tanya Gisel, menyandarkan dagu di tangannya.
Zahira tersenyum miring, mengingat insiden jam sebelas siang dan keributan kecil di kafetaria lantai dasar tadi.
"Seru. Baru hari pertama aja aku udah berhasil bikin atasan aku, Bu Imelda, murka setengah mati gara-gara aku nyelesaiin berkas analisis keuangan tepat waktu langsung di depan papi"
Hanum dan Ciki langsung tertawa lepas, sementara Gisel bertepuk tangan pelan.
"Bagus! Kasih paham mereka kalau anak Damian nggak bisa diremehkan, meskipun mereka nggak tahu siapa kamu sebenarnya," tutur Hanum bangga.
"Tapi nggak semudah itu juga," lanjut Zahira jujur.
"Aku sempat diintimidasi pas jam makan siang. Tapi untungnya ada satu staf analisis data namanya Maya yang mau nemenin aku makan."
Ciki mengangguk-angguk paham. "Dunia kerja memang penuh intrik, Ra. Apalagi kalau kamu kelihatan lebih menonjol dari senior. Tapi aku yakin kamu bisa lewati semuanya."
"Pasti bisa," jawab Zahira tegas dengan tatapan mantap. "Aku mau buktikan kalau aku bisa berdiri di kaki sendiri tanpa perlindungan nama besar Papi."
Ketiga sahabatnya tersenyum dan mengangkat gelas minuman mereka ke udara. Malam itu, di Kafe 55, Zahira merasa energi dan semangatnya kembali penuh untuk menghadapi tantangan hari esok.