Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : RUMAH BARU BEIFENG YAO
Para siluman anjing yang tadi menghadang Feng Yao akhirnya bangkit dengan susah payah. Beberapa di antaranya masih meringis menahan sakit, memegangi bagian tubuh mereka yang cidera sebelum buru-buru melesat meninggalkan tempat itu.
Mereka berlari kencang menuju sebuah gua besar yang menjadi markas Klan Beruang Hitam. Begitu tiba di dalam, salah satu dari mereka yang tampak paling waras segera melangkah maju menghadap sang pemimpin klan.
"Pemimpin Xiong Yan," panggilnya dengan napas terengah-engah.
Xiong Yan yang sedang duduk santai langsung menoleh. "Ada apa?"
"Ada makhluk baru yang baru saja melintasi perbatasan wilayah kita."
Alis Xiong Yan sedikit terangkat, menyiratkan rasa tertarik. "Makhluk baru?"
Siluman anjing itu mengangguk cepat. "Kami mencoba menghentikannya, tetapi..." Ia terdiam sejenak.
Sorot matanya menyiratkan ketakutan saat teringat bagaimana mereka dibuat tak berdaya hanya dalam beberapa gerakan singkat. "Dia... sangat kuat."
Xiong Yan bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mendekat. Pria bertubuh kekar itu mengusap kepala salah satu siluman anjing yang berada paling depan. Hidungnya bergerak samar, mengendus udara di sekitar bulu siluman tersebut.
Aroma asing yang masih menempel kuat langsung tertangkap oleh indra penciumannya. Seketika itu juga, mata Xiong Yan menyipit. Ia sangat mengenali aroma seperti ini.
"Jadi dia sudah masuk ke wilayah kita..." Senyum tipis yang penuh arti muncul di wajahnya. "Bagus."
Xiong Yan berbalik, jubahnya berkibar saat ia melangkah lebar keluar dari gua.
"Kalau begitu, kita cari siluman itu," desis Xiong Yan dengan nada rendah. Suaranya bergema di antara para siluman lain yang kini mulai bersiap dan bergerak mengikuti perintahnya.
Sementara itu, Feng Yao terus berjalan santai. Langkah kakinya membawa dirinya menjauh dari wilayah para siluman anjing yang ia kalahkan tadi.
Entah sudah seberapa jauh ia berjalan, sampai akhirnya langkah kaki Feng Yao berhenti di sebuah area yang tersembunyi di balik kabut tipis.
Di sekeliling tempat itu tumbuh pepohonan tua yang rindang, dihiasi oleh bunga-bunga liar dengan warna yang beragam. Udara di sana terasa begitu sejuk dan menenangkan.
Tidak ada suara ringkikan siluman. Tidak ada keributan.
Feng Yao memandang sekeliling dengan mata berbinar kagum. "Wah... ini cocok sekali buat tempat tinggalku," bisiknya pada diri sendiri.
Ia melangkah maju beberapa depa lagi. Tiba-tiba, samar-samar terdengar suara gemerisik air yang jatuh. Mencari tahu asal suara tersebut, Feng Yao berjalan menembus semak hingga menemukan sebuah danau kecil yang terbentuk dari aliran air terjun di antara celah bebatuan.
Matanya langsung berbinar riang. "Wah... danau kecil, air terjun. Cocok sekali!"
Ia mendekat lalu berjongkok di tepi danau. Jemari tangannya perlahan menyentuh permukaan air yang jernih.
"Hm?" Feng Yao mengangkat alisnya, sedikit terkejut. "Wah, airnya hangat."
Ia mencelupkan tangannya lebih dalam, merasakan sensasi hangat yang terus bergerak naik dari dasar danau.
Ternyata, air tersebut mengandung belerang alami. Beruntung, aliran air terjun yang terus mengalir membuat kandungannya tetap seimbang, segar, dan tidak terlalu pekat di kulit.
Feng Yao tersenyum puas. "Tempat sebagus ini ternyata ada di sini. Cocok untuk berlatih kultivasi," gumamnya setelah menatap danau itu beberapa saat.
Tanpa berpikir panjang, Feng Yao langsung memantapkan hati. Tempat tersembunyi ini akan menjadi rumah barunya.
Di bagian hutan yang lain, Xiong Yan bersama beberapa anak buahnya terus menyusuri vegetasi yang lebat.
Para siluman anjing berjalan dengan hidung yang hampir menempel ke tanah. Mereka mengendus dengan saksama, mengikuti sisa-sisa aroma yang tertinggal di sepanjang jalan yang dilewati target mereka.
"Terus cari," perintah Xiong Yan tegas. "Cari sampai ketemu. Jangan sampai siluman dari klan lain mengetahui keberadaannya lebih dulu."
"Wughhh!" Para siluman anjing menyalak serempak sebelum akhirnya kembali menyebar ke berbagai arah.
Jejak aroma Feng Yao memang semakin samar karena tertiup angin hutan, tetapi insting tajam mereka masih mampu melacaknya.
Xiong Yan berjalan di belakang mereka dengan langkah yang tenang dan teratur. Ia tahu betul bahwa siluman asing itu belum pergi terlalu jauh dari jangkauannya.
Di saat yang sama, suasana di tempat persembunyian baru Feng Yao masih diliputi ketenangan.
Kabut tipis menggantung rendah di atas permukaan danau, berpadu dengan suara air terjun yang mengalir lembut serta gesekan dedaunan yang ditiup angin malam.
Feng Yao sudah bersiap untuk membersihkan diri.
Ia meletakkan pakaiannya dengan rapi di atas sebuah batu besar di tepi danau, kemudian perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam air yang hangat.
"Ahh... nyaman sekali," desah Feng Yao lega. Ia menyandarkan punggungnya pada bebatuan halus di pinggir danau lalu memejamkan mata.
Namun, kali ini ia tidak hanya ingin sekadar berendam melepas lelah. Feng Yao mulai mengatur ritme napasnya dan perlahan memasuki kondisi meditasi yang dalam.
Energi spiritual yang terkandung melimpah di sekitar danau mulai terasa mengalir, bergerak mengikuti sirkulasi qi di dalam meridian tubuhnya.
Kombinasi kandungan belerang alami dan kemurnian energi spiritual di kawasan ini membuat efek latihannya berkali-kali lipat lebih efektif dibandingkan di hutan biasa.
Feng Yao menarik napas panjang, membiarkan pikirannya benar-benar hening.
Di belakangnya, air terjun terus berdenting rendah, sementara kabut tipis perlahan menyelimuti seluruh permukaan danau, menyembunyikan sosoknya.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di luar dinding batu tempat persembunyiannya, beberapa siluman tengah melangkah kian dekat.
Dan aroma yang mereka buru... kini tercium semakin pekat.