Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket
Kehangatan yang tercipta di lorong rumah sakit membawa perubahan besar di dalam mansion pribadi Adrian Mahendra. Hubungan yang awalnya dimulai dari selembar kertas kontrak, kini telah sepenuhnya berubah menjadi kisah romansa yang membara di kehidupan nyata. Kamar mereka tidak lagi memiliki sekat. Pintu penghubung itu kini selalu dibiarkan terbuka lebar, menandakan bahwa tidak ada lagi rahasia di antara sang CEO dan istri tercintanya.
Pagi ini, sebuah kejutan besar kembali mendatangi mereka di ruang makan. Dimas, asisten pribadi Adrian yang setia, datang bukan untuk membawa laporan keuangan bulanan atau jadwal rapat direksi yang memusingkan. Di tangannya, terdapat sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang dengan logo keluarga Mahendra yang berlapis emas.
"Selamat pagi, Tuan Adrian, Nyonya Naura," sapa Dimas dengan anggukan hormatnya yang biasa, namun kali ini ada seulas senyuman tipis di wajah datarnya.
Adrian yang sedang menyesap kopi hitamnya mendongak, sementara Naura yang baru saja meletakkan cangkir tehnya menatap kotak itu dengan dahi berkerut bingung.
"Apa itu, Dimas?" tanya Adrian datar, kembali ke modenya yang berwibawa.
Dimas meletakkan kotak beludru itu di atas meja makan, tepat di hadapan mereka berdua. "Ini adalah kiriman langsung dari Kakek Tirta, Tuan. Beliau menyampaikan bahwa setelah kekacauan skandal media kemarin berhasil diredam dengan sempurna, kalian berdua berhak mendapatkan hadiah pernikahan."
Naura membuka kotak beludru tersebut dengan perlahan. Di dalamnya, terdapat dua buah tiket penerbangan kelas utama menuju Pulau Raja Ampat, lengkap dengan sebuah kartu akses emas bertuliskan 'Mahendra's Private Emerald Island'. Di bawah kartu tersebut, ada selembar surat kecil dengan tulisan tangan Kakek Tirta yang tegas namun sarat akan kasih sayang.
'Adrian, Naura. Lupakan pekerjaanmu sejenak, Adrian. Kakek tahu kalian berdua melewati masa-masa yang sulit minggu ini. Pergilah ke pulau privat keluarga di Raja Ampat selama satu minggu. Nikmati waktu kalian berdua tanpa gangguan dari dunia luar, jangan kembali sebelum kalian membawakanku kabar tentang cicit baru untuk keluarga Mahendra.'
Membaca kalimat terakhir dari surat sang kakek, wajah Naura seketika merona merah hingga ke lehernya. Dia buru-buru melipat kembali surat itu dengan gugup, meremas ujung gaun rumahannya yang longgar.
Adrian yang ikut membaca surat itu lewat sudut matanya justru terkekeh pelan. Suara tawa baritonnya yang renyah dan merdu terdengar memenuhi ruang makan, membuat debaran di dada Naura semakin menjadi-jadi. Pria posesif itu mengulurkan tangan kekarnya, meraih jemari tangan Naura yang gemetar di atas meja, lalu menggenggamnya dengan erat, ibu jarinya mengusap kulit halusnya dengan lembut.
"Kakek selalu tahu bagaimana cara mendesakku," ujar Adrian dengan nada suara yang rendah dan penuh godaan tipis. Dia menoleh ke arah Dimas yang masih berdiri tegak. "Dimas, kosongkan seluruh jadwalku dari besok sampai satu minggu ke depan. Serahkan kendali perusahaan kepada Wakil CEO. Aku tidak mau ada satu pun panggilan bisnis yang mengganggu perjalananku."
"Baik, Tuan. Semuanya sudah saya kondisikan sejak subuh tadi. Jet pribadi keluarga juga sudah siap di bandara untuk keberangkatan besok pagi pukul tujuh," jawab Dimas dengan sigap sebelum pamit undur diri, meninggalkan pasangan suami istri itu di dalam ruang makan yang mendadak kembali terasa intim.
Naura menatap Adrian dengan binar mata bulatnya yang jernih, masih ada sedikit keraguan yang menggelayuti pikirannya. "Adrian... apakah benar-benar tidak apa-apa jika kita pergi selama satu minggu? Bagaimana dengan kondisi Ibu di rumah sakit? Aku takut jika aku pergi terlalu jauh..."
Adrian memajukan posisi duduknya, mengikis jarak di antara mereka hingga Naura bisa mencium aroma mint dari tubuh suaminya. Dia mengangkat tangan Naura, lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan sangat lembut dan penuh perasaan.
"Kau tidak perlu mencemaskan Ibu, Naura sayang," ucap Adrian, menyematkan panggilan manis yang membuat jantung Naura seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. "Aku sudah menugaskan tim medis terbaik dan empat pengawal pribadi untuk menjaga kamar Ibu selama dua puluh empat jam penuh. Dimas juga akan memantau kondisinya setiap hari dan langsung melaporkannya padaku. Perjalanan ini murni untuk kita berdua. Aku ingin membayar atas semua air mata dan ketakutan yang kau lalui minggu ini. Kau berhak bahagia, Naura."
Mendengar ketulusan dan kepastian dari kalimat Adrian, perlahan sisa-sisa kecemasan di hati Naura runtuh tanpa sisa. Dia mengangguk pelan dengan seulas senyuman paling manis yang bisa dia berikan. "Baiklah... kalau begitu, aku akan bersiap-siap mengemas pakaian kita."
-----------
penerbangan dengan jet pribadi mewah Mahendra Group membawa mereka membelah langit menuju wilayah timur Indonesia. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu beberapa jam, Adrian tidak pernah membiarkan Naura berada jauh dari jangkauannya. Di dalam jet pribadi yang luas yang dilengkapi dengan fasilitas tempat tidur premium, Adrian membiarkan Naura bersandar nyaman di dada bidangnya yang kokoh sembari menonton film bersama.
Tepat pukul dua siang, helikopter pribadi yang menjemput mereka dari bandara utama akhirnya mendarat di sebuah landasan helipad yang terletak di sebuah pulau privat terpencil di tengah perairan Raja Ampat.
Begitu pintu helikopter dibuka, pemandangan luar biasa langsung menyapa indra penglihatan Naura. Air laut yang luar biasa jernih dengan gradasi warna biru muda yang berkilau di bawah terik matahari, hamparan pasir putih bersih yang selembut sutra, serta jajaran pohon kelapa yang melambai ditiup angin laut yang segar. Di tepi pantai, berdiri sebuah vila mewah bergaya modern tropis dengan kolam renang yang langsung menghadap ke arah laut lepas.
"Indah sekali..." gumam Naura takjub, matanya berbinar-binar cerah bagai anak kecil yang baru pertama kali melihat pantai.
Adrian yang berjalan di sampingnya mengunci pinggang ramping Naura dalam rangkulannya yang posesif. Dia menunduk, menatap wajah cantik istrinya yang tampak begitu bahagia, dan merasakan kepuasan yang luar biasa di dalam dadanya. "Pulau ini milik keluarga Mahendra, Naura. Dan selama satu minggu ke depan, tidak akan ada satu orang pun yang berada di sini selain para pelayan vila yang sudah terlatih untuk menjaga privasi kita. Tempat ini sepenuhnya milikmu."
Mereka melangkah memasuki vila mewah tersebut. Interior dalamnya didominasi oleh kaca-kaca besar yang memperlihatkan pemandangan laut lepas tanpa batas. Kamar tidur utama mereka terletak di lantai atas, dilengkapi dengan ranjang besar berkelambu putih yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam.
Malam harinya, setelah menikmati perjamuan makan malam romantis dengan hidangan laut segar di tepi pantai yang diterangi obor-obor kecil, mereka kembali ke dalam kamar utama. Suasana malam di pulau privat itu terasa begitu indah, hanya diiringi oleh suara deburan ombak dan desiran angin malam yang tenang.
Naura berdiri di balkon kamar, mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna putih gading, pakaian yang sama yang dulu sempat membuat Adrian kehilangan kendali di lobi mansion. Namun kali ini, Naura tidak lagi berniat lari atau bersembunyi.
Dari arah belakang, sebuah pelukan hangat yang kokoh melingkari pinggangnya. Adrian menyandarkan dagunya di bahu ramping Naura, menghirup dalam-dalam aroma harum bunga melati dari rambut hitam Naura yang dibiarkan terurai indah.
"Kau tahu, Naura..." bisik Adrian, suaranya terdengar sangat berat, serak, dan sarat akan gairah cinta yang mendalam yang berkecamuk di dalam dadanya sejak sore tadi. "Malam ini, tidak ada lagi aturan kontrak di antara kita. Tidak ada lagi larangan untuk saling menyentuh, dan tidak ada lagi batasan untuk saling memiliki."
Adrian memutar tubuh Naura perlahan di dalam kungkungan lengannya, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik mata hitam elangnya yang kini telah sepenuhnya menggelap, memancarkan kilat obsesi dan keposesifan yang membara tanpa batas.
Naura menatap mata itu, merasakan dadanya bergemuruh hebat oleh rasa cinta yang meluap-luap untuk pria di hadapannya. Dia mengulurkan kedua tangan lembutnya, mengalungkannya di leher kokoh Adrian dengan penuh keberanian. "Aku tahu, Adrian... dan malam ini, aku sepenuhnya milikmu."
Mendengar persetujuan manis dari bibir ranum istrinya, senyuman posesif yang penuh kemenangan terukir di wajah tampan Adrian. Tanpa membuang waktu lagi, sang CEO berdarah dingin itu merundukkan wajahnya, mengklaim bibir Naura dalam sebuah ciuman yang mendalam, penuh tuntutan cinta, dan mengunci gadis itu dalam kehangatan malam pertama mereka yang sesungguhnya di pulau privat yang terisolasi dari dunia luar.