NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu di Warung Kopi Tebet

Hari ke-19. Jakarta.

Pesawat private Virel mendarat di Halim jam 10 pagi. Dari Bali yang tenang, mereka kembali ke Jakarta yang macet dan panas.

Tapi ada yang beda dari Rafael dan Alya yang turun dari Alphard hitam di depan gang Tebet.

Kalau dulu Rafael turun dengan jas hitam dan muka dingin seperti mau nagih utang, sekarang ia turun dengan kaos putih, celana jeans, membawa dua koper dan tentengan oleh-oleh khas Bali, sambil menggandeng tangan Alya erat-erat. Tidak dilepas sama sekali.

Di dalam rumah petak Tebet yang sudah direnovasi kecil-kecilan pakai uang sisa kontrak dulu, Ayah, Ibu, Dinda, dan Bima sudah menunggu. Ayah Alya sudah sembuh total. Sudah bisa duduk di kursi roda di teras, wajahnya segar, tidak pucat lagi seperti dulu.

"Ayah!" Alya langsung melepas gandengan Rafael dan memeluk Ayahnya, menangis.

Rafael berdiri di depan pagar, agak canggung. Ini pertama kalinya ia datang ke Tebet bukan sebagai penyelamat, bukan sebagai bos, tapi sebagai menantu.

Ayah Alya menatap Rafael dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum.

"Kamu Rafael ya?" tanya Ayah dengan suara masih pelan tapi jelas.

Rafael langsung maju dan berjongkok agar sejajar dengan kursi roda Ayah. Ia menyalami tangan Ayah dengan kedua tangannya, menunduk dalam.

"Iya Yah, saya Rafael," jawabnya. Panggilan "Ayah" itu keluar begitu natural.

"Terima kasih sudah jaga Alya di Bali," kata Ayah.

"Sudah tugas saya, Yah."

Ibu Alya keluar dari dapur dengan teh dan gorengan, masih terharu melihat menantu gantengnya mau berjongkok di teras rumah petak.

"Rafael, ayo masuk dulu, di luar panas," ajak Ibu.

"Tidak usah Bu, di sini aja enak. Adem," jawab Rafael santai, duduk di dingklik kecil di teras, yang kakinya bahkan hampir patah karena menopang badan tingginya. Alya yang lihat sampai mau tertawa.

Dinda dan Bima langsung menyerbu koper oleh-oleh.

"Kak Rafael bawa apa? Ada babi guling gak?" teriak Bima polos.

"Bima! Tidak boleh!" Ibu memarahi.

Rafael tertawa. "Tidak ada babi guling, ada pie susu dan kaos Bali buat kalian."

Suasana teras jadi ramai.

Tapi Ayah Alya tiba-tiba menatap Rafael dengan serius.

"Rafael, bisa temenin Ayah ngopi sebentar? Di warung kopi depan? Empat mata?"

Alya langsung tegang. "Ayah, Rafael baru sampai—"

"Gapapa," potong Rafael sambil berdiri. Ia mengerti. Ini ritual restu mertua. "Ayo Yah, saya dorong."

Rafael mendorong kursi roda Ayah pelan-pelan ke warung kopi Pakde Slamet di ujung gang Tebet. Warung kopi yang hanya ada bangku kayu panjang, kopi hitam sachet, dan gorengan tempe.

Bayangkan, Rafael Virel, CEO Virel Corp, duduk di warung kopi kayu yang mejanya lengket, dengan kemeja putihnya yang harganya 5 juta.

Semua bapak-bapak yang lagi ngopi di warung itu langsung menatap. Bisik-bisik.

"Itu menantu Pak Asep ya? Yang kaya itu?"

"Gila, mau ngopi di sini?"

Pakde Slamet yang punya warung sampai gemetar. "Mau kopi apa Pak Rafael? Ada kopi hitam, kopi susu..."

"Kopi hitam aja, Pakde. Dua," jawab Rafael santai, tidak jaim.

Setelah kopi datang, Ayah Alya menyeruput kopinya dulu, lalu menatap Rafael dalam-dalam.

"Rafael," kata Ayah pelan. "Ayah tahu awal pernikahan kalian gimana."

Rafael membeku. Gelas kopinya berhenti di tengah jalan.

"Alya cerita?" tanya Rafael pelan.

"Tidak. Ayah dengar dari Ibu kamu, Olivia, waktu jenguk Ayah di rumah sakit. Dia minta maaf dan cerita semuanya. Soal kontrak 2 Miliar, soal pura-pura, soal semua."

Rafael menunduk. Malu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa malu di depan mertuanya.

"Maaf Yah, saya—"

Ayah mengangkat tangannya, menyuruh Rafael diam.

"Ayah tidak marah," lanjut Ayah sambil tersenyum. "Ayah justru terima kasih."

Rafael mengangkat kepala, bingung.

"Kalau bukan karena kontrak itu, Ayah mungkin sudah tidak ada. Alya mungkin masih kerja banting tulang di kafe, Dinda dan Bima mungkin putus sekolah. Kamu datang bukan sebagai pembeli, Rafael. Kamu datang sebagai penyelamat keluarga kami, dengan cara kamu sendiri yang kaku itu."

Mata Rafael berkaca-kaca. Tidak ada yang pernah bilang begitu padanya.

"Ayah lihat perubahan Alya di video call kemarin. Alya lebih ceria, lebih gemuk sedikit, lebih bahagia. Dinda bilang Kak Rafael baik banget. Bima bilang Kak Rafael jago main PS. Itu bukan kontrak, Rafael. Itu tulus."

Rafael mengangguk, menahan emosinya.

"Rafael, Ayah cuma punya satu permintaan sebagai Ayah," kata Ayah sambil memegang tangan Rafael yang besar dengan tangannya yang keriput dan masih lemah. "Jaga Alya ya, Nak. Alya itu anak kuat, tapi hatinya lembut banget. Dari kecil dia yang gantiin Ayah cari uang. Jangan bikin dia nangis lagi. Kalau kamu mau marah, marah sama Ayah aja."

Saat itu juga, pertahanan Rafael Virel yang terkenal sekeras baja itu runtuh total.

Matanya memerah.

"Iya Yah," jawab Rafael dengan suara serak, menahan tangis. "Saya janji. Saya jaga Alya. Saya jaga Dinda, Bima, Ibu, dan Ayah juga. Saya janji, Yah."

Ayah Alya tersenyum puas, lalu memeluk Rafael. Pelukan seorang ayah ke menantu.

"Kalau begitu Ayah restui kalian jadi suami istri beneran. Bukan kontrak-kontrakan lagi. Ayah restui dunia akhirat."

Di warung kopi Tebet yang panas dan sederhana itu, Rafael Virel, pria yang tidak pernah menangis bahkan saat perusahaannya hampir bangkrut, menangis di pelukan mertuanya.

Bapak-bapak di warung kopi yang melihat sampai ikut terharu dan pura-pura batuk.

Beberapa menit kemudian mereka kembali ke rumah. Alya yang menunggu di teras dengan cemas, langsung lari saat melihat mata Rafael merah.

"Rafael! Kamu nangis? Ayah ngomong apa?" panik Alya.

Rafael tidak menjawab, hanya menarik Alya ke dalam pelukannya di depan keluarganya.

"Enggak apa-apa. Ayah cuma kasih restu," bisiknya di telinga Alya.

Ayah Alya yang di kursi roda tertawa. "Alya, Rafael nangis di warung kopi. Ceng ternyata menantu Ayah."

"Ayah!" Alya memukul lengan Ayahnya pelan sambil tertawa dan menangis bersamaan.

Ibu Alya yang melihat itu langsung menyeka air mata dengan ujung dasternya.

Sore itu, untuk pertama kalinya, mereka makan bersama sebagai keluarga utuh di rumah petak Tebet. Bukan di penthouse mewah, bukan di villa Bali, tapi di lantai dengan tikar, makan sayur asem, ayam goreng, dan sambel terasi buatan Ibu.

Rafael makan dengan lahap, nambah dua kali, sampai Ibu terharu.

"Enak Bu, sudah lama tidak makan masakan rumah begini," kata Rafael tulus.

Malamnya, saat mereka pamit kembali ke penthouse karena besok harus kerja, Ayah Alya menahan tangan Rafael.

"Rafael, kapan Ayah bisa gendong cucu?" celetuk Ayah dengan senyum jahil.

Alya yang dengar langsung merah padam. "AYAH!"

Rafael yang ditanya begitu, langsung melirik Alya dan tersenyum miring jahilnya keluar lagi.

"Secepatnya, Yah. Doain aja," jawabnya sambil merangkul Alya yang mau kabur karena malu.

Dinda dan Bima yang di belakang langsung teriak, "HOREEE MAU PUNYA PONAKAN!"

Mobil Alphard hitam itu pun pergi dari gang Tebet, meninggalkan keluarga yang tertawa bahagia di teras.

Di dalam mobil, Alya masih malu, menutup wajahnya.

"Kamu apaan sih jawab secepatnya!" omelnya.

Rafael yang menyetir sambil menggenggam tangan Alya, tertawa puas.

"Kan sudah direstui Ayah. Berarti lampu hijau, sayang."

Alya memukul pahanya pelan, tapi tidak melepas gandengan tangannya sama sekali sampai penthouse.

Bersambung....

1
Renjana
🥰
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!