AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 RUMAH BOCOR DI KEBUN KARET
Hujan turun lagi jam 3 sore. Sama persis kayak hari pertama aku diusir Mbah Sarti.
Bedanya, sekarang aku tidak lagi duduk di depan gerbang terkunci dengan koper hitam itu. Sekarang aku duduk di dalam rumah bocor peninggalan Mbah Wiryo di tengah kebun karet, rumah yang bahkan Pak Karim sendiri tidak berani tempati karena katanya angker.
Atap sengnya bocor di tiga titik. Kalau hujan, aku harus geser tikar pandan ke tengah supaya tidak kebasahan. Salsa, anak Mira yang baru 2 tahun itu, aku peluk rapat-rapat di dalam selimut tipis pemberian Bu Minah.
"Kirana, atap bocor lagi ya, Nduk?" Bu Minah datang bawa rantang berisi nasi sayur bayam dan tempe goreng, payungnya masih meneteskan air.
Aku mengangguk sambil menggendong Salsa yang demam kecil karena kedinginan semalam.
"Iya, Bu. Tadi malam yang di pojok dapur jebol. Kayu lapuknya jatuh."
Bu Minah menghela napas melihat perutku yang sekarang sudah 3 bulan, mulai kelihatan membuncit di balik daster bunga-bunga yang sudah pudar. Daster itu juga pemberian Bu Minah.
"Kirana, kamu yakin gak mau balik ke rumah Mbah Sarti? Minta maaf? Kamu hamil, Nduk. 3 bulan. Butuh tempat yang layak, bukan rumah bocor begini."
Aku menggeleng keras. "Tidak, Bu. Mbah Sarti sudah bilang di depan RT, kalau aku pulang sebelum nikah, dia akan siram aku pakai air comberan. Aku tidak mau, Bu. Biarin aku di sini saja."
Sejak aku diusir karena hamil duluan, aku memang jadi bahan gosip satu Desa Wonorejo. Setiap aku ke warung beli garam, ibu-ibu langsung diam, lalu berbisik.
"Itu loh, Kirana, cucu Mbah Sarti, hamil duluan. Katanya sama Rendo anak Pak Karim."
"Kasian ya, Rendo-nya kabur ke Kalimantan, gak mau tanggung jawab."
Rendo. Laki-laki yang bikin aku begini. Sudah 3 bulan tidak ada kabar. Nomor HP-nya tidak aktif. Akun Facebook-nya gak pernah online.
Dan Arga? Mas Arga, kakaknya Rendo, yang di cover bayangan hitam di belakangku itu, memang ada. Tapi dia tidak seperti di cerita ngebut kemarin yang langsung nikah KUA dan jadi pahlawan bawa golok.
Arga yang asli di versi pelan ini, masih diam.
Setiap sore, setelah pulang dari kebun karet, dia cuma lewat depan rumah bocorku. Tidak bicara. Cuma taruh karung berisi kayu bakar di depan pintu, atau taruh pisang rebus di atas batu. Lalu pergi lagi tanpa kata.
Seperti bayangan. Seperti di cover hujan itu — ada di belakang, tapi tidak pernah jelas.
"Masih ditunggu kayu sama Arga, Nduk?" tanya Bu Minah pelan, seolah tahu.
Aku mengangguk malu. "Iya, Bu. Tiap sore dia taruh kayu. Gak pernah ngomong."
"Arga itu anak baik, Nduk. Cuma bingung. Dia suka kamu dari SMP, tapi kamu malah pacaran sama adiknya, Rendo. Sekarang kamu hamil anak adiknya, dia bingung mau gimana. Makanya cuma berani jadi bayangan."
Aku menunduk, mengelus perutku yang 3 bulan. Anak ini anak Rendo, bukan anak Arga. Mana mungkin Arga mau?
Sore itu hujan reda jam 5. Salsa sudah tidur di tikar setelah kuberi teh hangat. Aku keluar rumah bocor untuk jemur baju bayi pemberian orang — baju bekas anak Bu Minah dulu.
Dari jauh, aku lihat Mas Arga sedang memikul karung karet di pematang sawah. Topi capingnya miring, bajunya basah kuyup.
Dia melihatku. Aku melihatnya.
Tidak ada sapaan. Hanya tatapan sebentar.
Lalu dia buang muka dan jalan terus ke rumah induk Pak Karim yang jaraknya 200 meter dari rumah bocorku.
Itu saja. Itu interaksi kami selama 3 bulan ini. Tidak ada pelukan, tidak ada janji nikah, tidak ada buku nikah. Hanya tatapan dan kayu bakar.
Jam 6 maghrib, saat aku mau wudhu, Mbah Sarti datang. Tidak sendirian. Bawa dua ibu-ibu PKK.
"Kirana!" teriaknya dari luar pagar bambu rumah bocor yang sudah miring.
Aku kaget. Sudah 3 bulan Mbah Sarti tidak pernah ke sini.
"Mbah..." kataku pelan, masih menggendong Salsa.
"Kamu kapan mau gugurin kandunganmu itu, hah? Malu-maluin keluarga! Sudah 3 bulan perutmu makin besar! Warga sudah lapor ke Pak RT, katanya rumah angker Mbah Wiryo ini jadi sarang maksiat karena kamu tinggal sama Salsa tanpa nikah!"
Aku menangis. "Mbah, ini bukan maksiat. Salsa ini anak yatim, Mbah. Aku rawat karena kasian."
"Alasan! Kamu hamil duluan sama Rendo, sekarang sok suci rawat anak orang! Dasar perempuan gak bener!"
Ibu-ibu PKK yang ikut mengangguk-angguk, merekam pakai HP.
Bu Minah yang dengar ribut-ribut langsung lari keluar.
"Mbah Sarti, jangan begitu! Kirana ini korban! Rendo yang kabur! Jangan salahin Kirana!"
Tapi Mbah Sarti sudah terlanjur emosi. Dia lempar bungkusan plastik hitam ke dalam rumah bocorku. Isinya koper hitamku dulu yang dia sita waktu mengusirku.
"Nih koper kamu! Ambil! Jangan pernah injak rumahku lagi sebelum kamu nikah sama siapa pun yang mau tanggung jawab sama anak haram itu! Kalau tidak, aku bakar rumah bocor ini sekalian!"
Setelah itu Mbah Sarti pergi, meninggalkan koper hitam itu tergeletak di tanah becek.
Aku buka koper itu. Isinya baju-bajuku dulu, ada mukena, ada foto ijazah SMP, dan ada testpack positif yang dulu jadi awal petaka.
Aku peluk koper itu sambil menangis di tengah rumah bocor yang atapnya masih meneteskan air hujan sisa.
Salsa yang terbangun karena tangisanku, memeluk perutku yang 3 bulan.
"Ibu... jangan nangis..." kata Salsa dengan bahasa cadelnya.
Aku cium kening Salsa. Di sinilah aku sekarang. Belum nikah. Masih diasingkan. Masih hujan-hujanan. Masih bawa koper.
Dan Arga? Arga masih jadi bayangan di balik pohon karet, belum berani mendekat.
Tapi malam itu, jam 11 malam, saat hujan turun lagi sangat deras, ada ketukan pelan di pintu bambu rumah bocorku.
Tok... tok... tok...
Aku yang ketakutan mengira Mbah Sarti mau bakar rumah, tidak berani buka.
"Kirana... ini aku... Arga..." suara pelan dari luar.
Arga? Jam 11 malam? Hujan deras?
Aku buka pintu sedikit. Arga berdiri di luar, basah kuyup, tanpa payung, hanya pakai jas hujan plastik, membawa sesuatu dibungkus daun pisang.
"Maaf ganggu malam-malam... Tadi siang Mbah Sarti marah-marah ya? Aku dengar dari Bu Minah... Ini... ini aku bawakan seng bekas buat nutup bocor atap yang di dapur... Biar Salsa gak kedinginan lagi..."
Dia sodorkan seng bekas itu, tangannya gemetar kedinginan.
Aku menerima seng itu, tangan kami bersentuhan sebentar. Dingin.
"Terima kasih, Mas..." bisikku.
Arga mengangguk, tidak berani menatap perutku.
"Aku... aku permisi pulang dulu, Kir... Hujan..."
Dia balik badan dan berjalan pergi lagi dalam hujan deras, jadi bayangan hitam lagi di kebun karet, persis kayak di cover novel kamu.
Tidak ada lamaran. Tidak ada janji nikah. Belum.
Karena alurnya pelan. Karena kita masih di fase diasingkan, bukan fase menikah.
Malam itu aku pasang seng bekas pemberian Arga di atap dapur yang bocor, dengan bantuan Bu Minah. Salsa sudah tidur lagi.
Aku mengelus perut 3 bulanku sambil menatap koper hitam di pojok.
Belum nikah. Masih diasingkan. Tapi setidaknya malam ini, bocornya sudah tidak separah kemarin.
Dan bayangan Arga di kebun karet, masih ada.