Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Suara Langkah yang Ditunggu
Alisha menatap pria yang berdiri beberapa langkah di depannya.
Arga.
Seketika pesan Ares terlintas di kepalanya.
"Jauhi dia. Dia bukan orang baik."
Alisha tanpa sadar mundur setengah langkah.
Arga memerhatikan gerakan itu, lalu tersenyum tipis. “Kayaknya kamu inget aku.”
Alisha mengangguk kecil. “Pak Arga.”
“Wah, masih ingat.” Arga terkekeh. “Aku kira setelah kejadian di lobby tempo hari, kamu bakal lupa.”
“Saya gak gampang lupa orang yang udah nabrak saya.”
Arga tertawa pelan. “Berarti aku punya kesan yang cukup kuat.”
Alisha hanya tersenyum tipis. Pandangannya beralih ke arah kamar Raka.
Arga mengikuti arah matanya. Ia bisa melihat perempuan itu jelas ingin segera mengakhiri percakapan.
“Kayaknya kamu buru-buru.”
“Saya mau kembali ke kamar adik saya," ujar Alisha.
“Raka?”
Alisha yang baru hendak melangkah berhenti. "Dari mana Anda tahu?"
“Dimas cerita sedikit,” lanjut Arga santai. “Adikmu sedang dirawat di sini.”
Alisha langsung teringat pria yang bersama Arga di lobby. “Dimas cerita banyak sekali.”
“Nggak banyak.” Arga memasukkan satu tangan ke saku celana. “Aku cuma cukup pandai mengingat hal yang menurutku menarik.”
Alisha tidak menanggapi. Tatapan Arga membuatnya semakin tidak nyaman. Bukan karena kasar, tetapi karena pria itu seolah sedang memerhatikannya lebih lama daripada yang diperlukan.
“Kalo begitu, saya permisi.”
Arga tidak menghalanginya, ia malah bergeser memberinya jalan. “Silakan.”
Alisha baru berjalan beberapa langkah ketika suara Arga kembali terdengar.
“Besok kamu masuk kantor?”
Alisha menoleh. “Iya.”
Arga mengangguk. “Bagus.”
Alisha mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Urusan kerja.” Senyum Arga kembali muncul. “Perusahaan kita sedang membicarakan kerja sama. Mau gak mau kita bakal sering ketemu.”
Ia berhenti sebentar. “Jadi kamu gak perlu menghindariku.”
“Saya gak menghindar," tampik Alisha.
“Bagus.” Arga menatapnya sejenak. “Soalnya kalo kamu terus menghindar, aku malah jadi penasaran.”
Alisha tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil lalu kembali melangkah.
Baru beberapa langkah, Arga memanggil lagi. “Oh, satu lagi.”
Alisha menoleh.
Arga tersenyum santai. “Kalo ketemu aku jangan terlalu tegang. Aku gak bakal gigit kamu kok.”
Alisha menatapnya sebentar, lalu memilih berbalik tanpa menjawab. Langkahnya sedikit lebih cepat ketika kembali menuju kamar Raka.
Sementara di lorong, Arga masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti punggung Alisha hingga menghilang di balik pintu kamar yang kini telah tertutup. Senyumnya perlahan melebar.
Perempuan itu jelas sedang menjaga jarak. Dan justru itu yang membuat rasa penasarannya semakin besar.
“Alisha...” gumamnya pelan.
Ia akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan lorong. Namun kali ini, nama itu sudah tersimpan cukup kuat di kepalanya.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Alisha mengembuskan napas panjang.
"Kenapa cara dia bicara bikin aku gak nyaman?"
Peringatan Ares kembali terngiang. Alisha mengusap dadanya yang terasa sedikit berdebar.
“Kayaknya Tuan Ares benar.”
Ia masih berdiri di dekat pintu ketika ponselnya bergetar. Alisha langsung menoleh. Satu pesan masuk.
Tuan Ares:
> Sudah tidur?
Alisha menatap layar beberapa detik. Entah kenapa, setelah bertemu Arga, pesan singkat itu justru membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
Alisha mengetik singkat.
> Belum.
Tak sampai semenit, balasan masuk.
Tuan Ares:
> Aku suruh Pak Darto jemput kamu.
Jari Alisha langsung bergerak.
> Iya.
Pesan terkirim. Mata Alisha masih tertuju pada layar. Beberapa detik kemudian, dahinya berkerut.
“Lho...”
Ia bahkan tidak sempat berpikir apakah perlu menolak atau pulang sendiri. Jawabannya keluar begitu saja.
Alisha mengembuskan napas panjang, lalu duduk di sofa. Ia meletakkan ponselnya di pangkuan.
“Kenapa aku langsung jawab iya?”
Ia mencoba mencari alasan, mungkin karena sudah malam dan ia tak bisa tidur. Atau karena setelah bertemu Arga tadi ia memang merasa lebih aman jika segera meninggalkan rumah sakit.
Alisha menggeleng kecil. "Sudahlah."
Ia menoleh ke arah Raka yang masih tertidur.
Sekitar setengah jam kemudian, terdengar ketukan dari pintu.
Tok. Tok.
Alisha bangkit dari kursi. “Siapa?”
“Saya Pak Darto, Nyonya.”
Alisha membuka pintu.
Pak Darto berdiri di luar dengan sikap sopan. “Tuan Ares minta saya jemput Nyonya.”
Alisha mengangguk. “Iya, Pak. Tunggu sebentar.”
Ia kembali ke sisi ranjang Raka. Adiknya masih tertidur pulas.
Alisha menarik selimut yang sedikit bergeser, lalu merapikannya sampai menutupi bahu Raka. Tangannya sempat mengusap rambut adiknya.
“Tidur yang nyenyak.”
Ia mengambil secarik kertas dari meja, menulis pesan singkat, lalu meletakkannya di tempat yang mudah dilihat Raka ketika bangun.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang tertinggal, Alisha mengambil tasnya. Ia menoleh sekali lagi sebelum keluar. Pak Darto sudah menunggu di koridor.
“Sudah, Pak.”
Pak Darto mengangguk dan mempersilakannya berjalan lebih dulu.
Alisha melangkah di sampingnya. Namun sepanjang perjalanan menuju pintu keluar, pikirannya justru kembali pada satu hal.
Tadi ia menjawab iya tanpa berpikir panjang. Dan anehnya, ia sama sekali tidak menyesal.
Begitu tiba di rumah Ares, Alisha langsung menuju kamar mereka. Ia membuka pintu.
Kosong. Tidak ada Ares di dalam.
Alisha sempat berhenti di ambang pintu. Biasanya pria itu datang setelah ia menutup mata. Entah dari mana, Alisha mulai terbiasa mendengar langkah kaki Ares mendekat sebelum akhirnya merasakan kasur di sampingnya bergerak.
Malam ini berbeda. Alisha menggeleng kecil, lalu masuk dan meletakkan tasnya.
Ia mengganti pakaian, merapikan rambut, kemudian mengambil penutup mata dari atas nakas. Setelah duduk di tepi ranjang, ia memasangnya.
Namun beberapa detik berlalu, Ares belum juga datang. Alisha tanpa sadar mengangkat wajah ke arah pintu.
"Ke mana dia?"
Ia sendiri heran kenapa mulai menunggu. Padahal beberapa hari lalu, ia justru selalu merasa canggung setiap kali pria itu masuk ke kamar.
Kini suara langkah kaki Ares saja sudah seperti bagian dari rutinitas sebelum tidur.
Alisha baru hendak berbaring ketika terdengar langkah kaki dari luar. Langkah itu semakin dekat. Berhenti tepat di depan kamar.
Tok. Tok.
Alisha langsung duduk tegak. Keningnya berkerut.
“Siapa?”
...✨“Hati sering kali mengenali tempat yang membuatnya aman lebih cepat daripada pikiran mampu memahami alasannya.”...
...“Tidak semua perhatian harus diterima hanya karena diberikan dengan senyum. Menjaga jarak dari seseorang yang membuat kita tidak nyaman adalah bentuk menghargai diri sendiri.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔