“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut Kehilangan Budak?...
"Lo berani maluin gue di depan Tania?!" bentak Reja. Matanya kemudian tertuju pada benda di tangan Celin dan perban yang sedikit terbuka.
"Lo mau ngapain lagi? Mau drama bunuh diri supaya bokap gue makin kasihan sama lo?!"
Celin tidak gentar. Ia justru mendekatkan wajahnya ke Reja, membiarkan suaminya itu melihat luka di matanya yang paling dalam.
"Kenapa? Lo takut kehilangan budak lo sebelum cicilannya lunas, Reja?"
Reja mencengkeram pergelangan tangan Celin begitu kuat, hingga benda tajam di jemari gadis itu terlepas dan berdenting jatuh ke lantai marmer. Napas Reja memburu, bau alkohol tipis entah dari mana tercium dari tubuhnya.
"Lo benar-benar gila, ya?" Reja menekan tubuh Celin ke pintu yang baru saja ia banting. "Di depan, lo sok jagoan menghina Tania. Tapi di sini, lo malah mau nyiksa diri sendiri? Lo mau bikin Papa mikir kalau gue yang lakuin ini ke lo?!"
Celin tidak merintih. Ia justru menatap Reja dengan sorot mata yang kosong, namun menantang. "Kenapa? Lo takut reputasi lo hancur sebagai 'anak baik' di depan bokap lo? Atau lo takut mainan lo rusak sebelum puas lo siks a?"
"Jangan pancing gue, Celin!" Reja berteriak tepat di depan wajahnya.
"Lakuin, Reja! Pukul gue! Tampar gue lagi kayak di sekolah tadi!" suara Celin naik, bergetar bukan karena takut, tapi karena ledakan emosi yang selama ini ia pendam.
"Hancurin raga gue sesuka lo, karena itu emang harga yang udah dibayar bokap gue. Tapi satu hal yang perlu lo tau..."
Celin mencengkeram kerah seragam Reja, menarik pria itu hingga jarak mereka hanya seujung kuku. "Sakit yang lo kasih nggak ada apa-apanya dibanding sakit yang gue kasih ke diri gue sendiri. Lo nggak punya kuasa atas rasa sakit gue."
Reja tertegun. Untuk sesaat, amarahnya luluh tergantikan oleh rasa ngeri yang aneh. Ia melihat jejak luka di balik perban yang sedikit tersingkap—merah, perih, dan nyata.
Di sekolah, Celin adalah robot beasiswa yang tak tersentuh. Di rumah ini, dia adalah istri yang dihina ibunya. Namun di kamar ini, Celin adalah manusia yang sudah hancur jauh sebelum Reja sempat menyentuhnya.
Tiba-tiba, suara ketukan di pintu memecah ketegangan mereka.
Tok... Tok... Tok...
"Reja? Celin? Kalian di dalam?" Itu suara Adrian Bagaskara. "Tania sudah pulang. Papa mau bicara sebentar soal ujian kalian."
Reja langsung melepaskan cengkeramannya. Ia mundur selangkah, merapikan rambutnya yang berantakan dengan gusar. "Hapus air mata lo. Kalau sampai Papa lihat muka lo kayak gitu, gue pastiin bokap lo tidur di jalanan malam ini."
Celin tertawa sumbang sambil mengusap sudut matanya yang kering. "Gue nggak punya air mata buat orang kayak lo, Reja."
Celin berjalan menuju cermin, memoles wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia merapihkan rambutnya dengan cepat, menutupi bekas kemerahan di lehernya.
Saat ia berbalik, ia melihat Reja masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan lagi kebencian murni, tapi ada sesuatu yang lebih gelap dan membingungkan di sana.
Mereka keluar kamar menemui Adrian di ruang keluarga. Di sana, Livia Anggriani juga duduk dengan wajah masam, masih memegang majalah fashion miliknya.
"Papa dengar dari Tania, kamu tadi bicara sedikit kasar, Celin?" Adrian bertanya, nadanya bukan menghakimi, melainkan ingin tahu.
Sebelum Celin menjawab, Livia menyambar, "Tentu saja, Pa. Anak dari kelas bawah memang nggak punya tata krama. Dia pikir karena sudah masuk rumah ini, dia bisa setara sama tamu-tamu kita."
Celin menarik napas panjang. Ia melirik Reja yang hanya diam bersandar di sofa.
"Maaf, Om... maksud saya, Papa," ucap Celin dengan nada rendah namun mantap. "Saya hanya mencoba menjaga kehormatan rumah ini. Sebagai istri Reja, saya rasa tidak pantas jika tamu luar merasa lebih berhak mengatur isi rumah ini daripada orang yang tinggal di dalamnya."
Adrian tersenyum puas. "Kamu dengar itu, Livia? Itulah kenapa Papa memilih Celin. Dia punya sesuatu yang nggak dimiliki Reja."
Wajah Reja mengeras. Pujian ayahnya untuk Celin adalah tamparan keras bagi harga dirinya.
"Udah, Pa. Nggak usah bahas dia terus," potong Reja kasar. "Reja mau keluar. Mau balapan sama anak-anak."
"Gak ada keluar!" Adrian menggebrak meja. "Malam ini kamu belajar sama Celin. Besok ada ujian simulasi beasiswa, dan Papa mau nilai kamu naik, atau semua fasilitas kamu Papa sita. Celin, Papa titip Reja. Tolong buat dia mengerti kalau hidup itu bukan cuma soal hura-hura."
Adrian pergi, diikuti Livia yang sempat memberikan lirikan tajam pada Celin. Kini tinggal mereka berdua di ruang tengah yang luas dan dingin.
Reja menatap Celin dengan dendam yang kembali membara. "Lo denger itu? Sekarang lo jadi mata-mata Papa buat ngatur hidup gue."
Celin hanya mengambil buku-buku tebal dari tasnya dan meletakkannya di meja. "Gue nggak peduli hidup lo mau hancur atau nggak, Reja. Tapi gue peduli sama beasiswa gue. Kalau nilai lo hancur dan bokap lo marah, gue yang kena imbasnya. Jadi duduk, dan buka buku Kimia lo."
Reja mendekat, sengaja menumpahkan kopi di atas buku catatan Celin hingga kertas-kertas putih itu berubah warna menjadi cokelat gelap.
"Belajar? Sama lo?" Reja menyeringai puas melihat catatan yang susah payah dibuat Celin hancur. "Jangan mimpi, budak."
Celin menatap catatannya yang rusak. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena ini adalah hasil kerja kerasnya berjam-jam di sela waktu kerjanya di kafe.
Pelan-pelan, Celin mengangkat wajahnya. Matanya yang tajam kini terlihat berkaca-kaca—bukan sedih, tapi murka yang amat sangat.
"Lo tahu, Reja?" suara Celin begitu rendah hingga terdengar seperti desisan ular. "Buku ini adalah satu-satunya hal berharga yang gue punya buat keluar dari neraka ini. Dan lo baru aja hancurin itu."
Celin berdiri, perlahan mendekati Reja. Kali ini, Reja yang justru merasa terintimidasi oleh aura gelap yang keluar dari tubuh gadis itu.
"Lakuin apa pun yang lo mau ke gue," bisik Celin tepat di depan dada Reja. "Tapi kalau lo berani nyentuh masa depan gue lagi... gue nggak akan ragu buat bikin lo ngerasain gimana rasanya kehilangan segalanya, bahkan sebelum lo sempat jadi pewaris harta bokap lo."
Celin membalikkan badan, meninggalkan Reja yang terpaku sendirian di ruang tengah. Untuk pertama kalinya, Reja merasa bahwa gadis yang ia anggap "murah" karena dibeli ayahnya, ternyata memiliki harga diri yang jauh lebih tinggi daripada seluruh kekayaan yang ia miliki.
Malam merangkak semakin larut, namun ketegangan di dalam kamar itu justru semakin tajam. Reja membanting tubuhnya ke atas tempat tidur berukuran king size dengan sprei sutra yang sangat nyaman.
Ia melirik Celin yang masih berdiri diam di depan meja belajar, menatap sisa-sisa buku catatannya yang basah terkena kopi.
"Ngapain lo masih berdiri di situ? Lo pikir gue bakal kasihan dan minta maaf?" Reja menyeringai, lalu menarik selimut tebalnya.
"Satu hal yang harus lo tahu. Kamar ini memang kamar kita di depan Papa, tapi kasur ini milik gue."
Reja menunjuk ke arah sofa kecil berbahan kulit yang terletak tepat di bawah jendela besar—tempat yang langsung terpapar hembusan dingin dari celah ventilasi.
"Sofa itu tempat lo. Jangan pernah berani kotorin kasur gue dengan tubuh lo yang bau kafe itu. Paham?"
Celin tidak membantah. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat soal tempat tidur. Baginya, sofa yang keras jauh lebih baik daripada harus berada dalam satu selimut dengan monster seperti Reja.
Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram, lalu melangkah menuju sofa tersebut.
Bersambung....