Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sraaakkk!
Tali senar baja vulkanik milik Amir bergesekan dengan bebatuan kawah yang tajam.
Batu-batu sebesar kepalan tangan hancur berkeping-keping terkena tekanan senar yang ditarik lurus tersebut.
Amir menancapkan kedua tumit sepatu ketsnya kuat-kuat ke tanah agar tidak terseret masuk ke dalam kawah mendidih.
"Kekuatan tarikan makhluk ini setara dengan truk tronton bermuatan penuh yang melaju kencang."
"Kalau aku manusia biasa, lenganku pasti sudah putus dari engselnya sejak tadi."
Amir mengertakkan giginya menahan rasa sakit di otot lengannya yang mulai menegang melewati batas maksimal.
Namun berkat efek pasif dari Teratai Penyembuh Abadi di dalam inventarisnya, ototnya yang robek mikroskopis langsung pulih dalam hitungan detik.
Ia memiliki stamina yang tidak akan pernah habis selama pertarungan ini berlangsung.
Zzzzzrrrrt!
Monster di dasar kawah kembali menarik senarnya, mencoba membawa Amir masuk ke dalam sarang magma panasnya.
"Kau pikir kau bisa menang melawanku di darat, dasar kadal rebus!"
Amir menarik nafas panjang dan menarik joran Poseidon Pro miliknya ke atas dengan satu hentakan brutal.
Srek!
Reel pancing raksasa itu digulung paksa oleh Amir tanpa memberikan celah sedikit pun bagi monster itu untuk melawan.
Pertarungan tarik ulur yang sangat mengerikan itu berlangsung selama empat puluh lima menit penuh tanpa jeda.
Permukaan air danau kawah yang mendidih mulai bergolak membentuk pusaran air raksasa di tengahnya.
Asap belerang tersibak oleh gelombang panas yang memancar dari bawah permukaan air.
Byaaar!
Sebuah ledakan air panas setinggi belasan meter menyembur ke udara menyapu bebatuan di sekitarnya.
Sesosok makhluk raksasa akhirnya melompat keluar dari dalam air mendidih tersebut dan mendarat keras di pinggir kawah.
Gedebum!
Getaran hantaman tubuhnya membuat tanah di sekitar kaki Amir bergetar hebat layaknya gempa bumi skala kecil.
Amir membelalakkan matanya melihat wujud asli dari monster yang baru saja ia taklukkan.
Itu adalah seekor ikan pari berukuran sangat raksasa, lebarnya nyaris menyamai ukuran mobil minibus.
Kulitnya tidak seperti ikan biasa, melainkan terbuat dari susunan sisik batu lahar yang menyala merah membara dari dalam.
Ekornya sangat panjang dan berduri tajam, mencambuk-cambuk tanah bebatuan hingga hancur berantakan.
"Ini bukan ikan, ini adalah monster purba sesungguhnya!"
Amir bergumam takjub sambil menahan jorannya agar kailnya tidak lepas dari mulut monster tersebut.
Ikan raksasa itu menggelepar beberapa kali sebelum akhirnya kehabisan tenaga dan diam terkapar di atas bebatuan panas.
Ding!
Suara pemberitahuan dari sistem berbunyi sangat nyaring dan merdu di telinga Amir.
[Selamat, Tuan berhasil memancing Spesies Mitologi Purba: Ikan Pari Magma Kuno]
[Tingkat Kelangkaan: Legendaris Mutlak]
[Makhluk ini mengandung energi inti bumi yang sangat murni dan bernilai fantastis di pasar antar dimensi]
[Apakah Tuan ingin menukarkannya langsung ke Sistem seharga 500.000 Poin atau menyimpannya di Kolam Ruang?]
Nafas Amir sempat terhenti sesaat membaca nominal angka poin yang ditawarkan oleh sistem.
"Lima ratus ribu poin, itu sama artinya dengan lima triliun rupiah jika dikonversi menjadi uang tunai dunia nyata!"
"Tangkapan hari ini benar-benar membuatku melompat dari miliarder menjadi triliuner dalam sekejap."
Amir tertawa lepas mengalahkan suara desisan gas belerang di sekitarnya.
Ia tidak langsung menukarkan monster itu menjadi poin karena ia belajar dari pengalamannya dengan ikan Arwana Super Red.
"Sistem, simpan Ikan Pari Magma Kuno ini di dalam Kolam Ruang sekarang juga."
"Aku akan membiarkannya berevolusi agar nilainya menjadi puluhan kali lipat lebih mahal di masa depan."
[Terkonfirmasi]
[Memindahkan 1x Ikan Pari Magma Kuno ke dalam Kolam Ruang Sistem]
Dalam sekejap mata, monster raksasa bercahaya merah itu menghilang tanpa bekas dari atas bebatuan kawah.
Amir menghembuskan nafas panjang dan meletakkan jorannya di tanah untuk merilekskan otot lengannya.
Ia telah berhasil menaklukkan puncak gunung berapi dan mendapatkan harta karun bernilai triliunan rupiah.
Setelah beristirahat sejenak, Amir segera mengemasi peralatannya dan berjalan menuruni tebing gunung menuju tempat mobilnya diparkir.
Brmmm.
Mobil Mercedes G-Class hitam doff itu kembali melaju menuruni jalanan pegunungan menuju pusat kota.
Di tengah perjalanan, ponsel Amir yang berada di dasbor tiba-tiba bergetar menampilkan nomor panggilan masuk.
Nama Surya Adiningrat tertera di layar ponsel tersebut.
Amir segera memakai AirPods ke telinganya dan menerima panggilan itu.
"Selamat siang Pak Surya, ada yang bisa kubantu hari ini?"
Amir menyapa dengan nada tenang seperti sedang berbicara dengan teman lama.
"Selamat siang Amir, kuharap aku tidak mengganggu kesibukanmu."
"Aku ingin mengundangmu ke sebuah acara sangat rahasia yang hanya dihadiri oleh elit lingkaran dalam kota ini malam ini."
Suara Pak Surya terdengar sangat serius dan berhati-hati dari seberang telepon.
"Acara rahasia seperti apa itu Pak Surya, apakah semacam lelang amal lagi seperti semalam?"
Amir bertanya sambil memutar setir mobilnya melewati tikungan tajam.
"Bukan, ini jauh lebih besar dan lebih gelap dari lelang amal publik semalam."
"Ini adalah lelang bawah tanah di mana tanah sengketa bernilai triliunan, perusahaan bangkrut, dan artefak gaib diperjualbelikan secara tertutup."
"Aku ingin kau ikut denganku karena aku melihat kau memiliki ketertarikan pada barang-barang antik yang memiliki energi khusus."
Penjelasan Pak Surya langsung memicu rasa ketertarikan yang sangat besar di dalam pikiran Amir.
Lelang bawah tanah adalah tempat yang paling sempurna untuk menghamburkan uang poinnya demi membangun kerajaan bisnis instan.
"Terdengar sangat menarik, aku akan hadir bersamamu malam ini Pak Surya."
"Bagus sekali, temui aku di lobi Club Lotus Hitam pada pukul delapan malam nanti, aku akan menunggumu."
Klik.
Panggilan diputus dan Amir tersenyum menatap jalanan di depannya.
Setibanya di rumah mewah Bukit Permata, Amir langsung disambut oleh Sebastian di depan pintu.
"Selamat datang kembali, Tuan Besar Amir."
"Tolong siapkan setelan jas paling bagus yang aku miliki Sebastian, aku punya acara penting malam ini."
Amir memberikan perintah sambil berjalan menuju kamar mandinya untuk membersihkan diri dari bau belerang.
"Tentu Tuan Besar, setelan jas Armani pesanan khusus Anda sudah siap di ruang ganti."
Tepat pukul setengah delapan malam, Amir keluar dari rumahnya dengan penampilan yang seratus delapan puluh derajat berbeda.
Ia mengenakan setelan jas hitam pekat bermaterial sutra tebal yang membalut tubuh berototnya dengan sangat sempurna.
Sebuah jam tangan Patek Philippe seharga miliaran rupiah yang ia beli dari menu toko sistem melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Aura Amir kini benar-benar terlihat seperti seorang bos mafia muda yang memegang kendali ekonomi sebuah negara.
Brmmm.
Ia melajukan mobilnya menuju kawasan pusat hiburan malam elit di jantung kota.
Club Lotus Hitam bukanlah club malam biasa yang terbuka untuk umum.
Tempat itu adalah markas tertutup yang dijaga oleh puluhan tentara bayaran dan hanya bisa diakses oleh member berstatus VVIP.
Amir memarkirkan mobilnya di area valet dan berjalan menuju pintu masuk utama yang terbuat dari baja hitam solid.
Pak Surya sudah berdiri di sana didampingi oleh dua orang pengawal bertubuh raksasa.
"Kau terlihat sangat mengesankan malam ini Amir, aura pemimpin sejati sangat melekat padamu."
Pak Surya menyapa Amir dengan senyum bangga layaknya melihat putranya sendiri.
"Terima kasih atas pujiannya Pak Surya, mari kita lihat apa yang ditawarkan tempat ini."
Mereka berdua berjalan masuk melewati pemeriksaan ketat berlapis detektor logam.
Di dalam, suasananya sangat remang-remang namun memancarkan kemewahan yang sangat pekat.