NovelToon NovelToon
[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Sistem
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Pury A.

Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.

Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 Perpisahan Sementara di Secret Land

Udara pagi di atas Secret Land terasa sejuk, beraroma rumput segar dan bunga-bunga eksotis yang tumbuh subur di setiap sudut pulau buatan itu. Cahaya matahari menyelinap lembut menembus langit biru bersih, memantul di permukaan laut yang berkilauan seperti hamparan permata. Pesta pernikahan Edward telah usai pesta yang megah, hangat, dan penuh tawa, dihadiri oleh keluarga terdekat serta beberapa rekan bisnis yang dipercaya. Semua berjalan sempurna, tak ada satu pun hal yang mengganggu kebahagiaan pasangan pengantin baru itu.

Di halaman utama kediaman utama Secret Land, koper-koper dan tas bawaan mulai dimuat ke dalam beberapa kendaraan khusus yang akan mengantar rombongan keluarga ke pelabuhan udara pribadi pulau itu. Suara langkah kaki terdengar teratur, diselingi percakapan ringan dan tawa yang sesekali terdengar.

Edward, mengenakan pakaian santai yang rapi, berdiri di samping istrinya tangan mereka saling bertaut erat. Wajahnya masih berseri-seri, namun ada sedikit kerinduan bercampur haru di matanya saat menatap anggota keluarganya yang bersiap pulang.

"Kamu yakin tidak mau ikut pulang, Grace?" tanya Mommy dengan lembut, mendekap tangan putri keduanya. Matanya menatap Grace penuh perhatian. "Urusan pekerjaan bisa didelegasikan, kan? Kamu sudah lelah mengurus persiapan pernikahan kami sekaligus mengelola seluruh pulau ini sendirian."

Grace tersenyum hangat, meski lelah sedikit terlihat di wajahnya yang cantik. Ia mengusap punggung tangan ibunya pelan.

"Terima kasih, Mommy... Tapi sungguh, aku harus tetap di sini," jawabnya lembut namun tegas. "Ada beberapa perjanjian kerja sama dengan negara-negara tetangga yang belum sepenuhnya rampung. Kontrak pasokan hasil perkebunan dan peternakan beras, buah-buahan, daging, susu, dan produk olahan kami masih dalam tahap penyempurnaan. Robot-robot pengelola ladang dan peternakan juga sedang menjalani pembaruan sistem, dan aku ingin memastikan semuanya berjalan lancar sebelum aku pergi."

Daddy mengangguk pelan, tatapannya bangga sekaligus penuh kasih sayang. Ia meletakkan tangan besarnya di bahu Grace.

"Kami paham, Grace. Kamu sudah membangun tempat ini dari nol, merancang setiap sistemnya, memastikan setiap sudutnya berfungsi dengan baik... Tentu saja kamu ingin melihat semuanya kokoh berdiri sebelum meninggalkannya," ucap Daddy dengan nada tenang. "Tapi jangan memaksakan diri, ya? Istirahatlah secukupnya. Kami menunggumu di rumah."

"Aku akan, Daddy," jawab Grace sambil tersenyum tulus.

Satu per satu saudara-saudaranya mendekat untuk berpamitan.

Edward merangkulnya erat. "Terima kasih sudah membuat pernikahanku begitu indah, Grace. Rumah akan terasa sepi tanpamu. Jaga dirimu baik-baik di sini."

"Aku yang berterima kasih sudah datang sejauh ini," balas Grace sambil menepuk punggung kakaknya. "Nikmati hari-harimu berdua. Kabari aku kalau sudah sampai di kediaman dengan selamat."

Will, Henry, George, Charlotte, dan Sophie juga bergantian memeluknya, berpesan agar Grace tidak terlalu lelah dan segera pulang setelah urusan selesai. Grace mengangguk berulang kali, menyimpan setiap ucapan perpisahan itu di hatinya.

Tak lama kemudian, pesawat pribadi keluarga Margaretha mulai bersiap lepas landas. Grace berdiri di tepi landasan, melambaikan tangan hingga pesawat itu menjelma menjadi titik kecil di langit biru, lalu lenyap sama sekali. Hening lalu menyelimuti tempat itu, namun bukan kesepian yang terasa melainkan kedamaian yang luas, miliknya sendiri.

Grace berbalik perlahan dan melangkah menuju pusat kendali utama Secret Land. Bangunan itu megah, sebagian tersembunyi di dalam perbukitan hijau, dindingnya berkilauan memantulkan cahaya matahari. Begitu ia melangkah masuk, suasana sibuk namun tertib menyambutnya. Layar-layar besar menampilkan peta pulau, grafik produksi, serta status ribuan robot yang bergerak di ladang, kebun, peternakan, dan pabrik pengolahan.

"Selamat pagi, Nona Grace," sapa salah satu kepala divisi yang berjalan mendekat sambil menunduk hormat. "Semua unit beroperasi normal. Pengiriman hasil panen pagi ini telah berangkat sesuai jadwal. Tim hukum sudah menunggu di ruang rapat untuk membahas perubahan pasokan ke negara tetangga selatan."

Grace mengangguk, langkahnya mantap menuju ruang kerjanya ruangan luas dengan jendela kaca raksasa yang menghadap ke laut lepas.

"Baik, panggil mereka masuk sekarang," ucapnya sambil meletakkan tas kerjanya di meja besar. "Kita selesaikan satu per satu. Tidak ada yang boleh terlewat."

Jam terus berputar. Siang berganti sore, matahari perlahan turun melukis langit dengan warna jingga dan ungu yang memukau. Grace duduk di balik meja, menandatangani berkas, meninjau laporan produksi, dan mengatur strategi agar hasil bumi dan ternak Secret Land dapat sampai ke tangan ribu keluarga di negeri tetangga dengan kualitas terbaik dan harga yang terjangkau. Ia berbicara dengan para pemimpin daerah, mendengarkan kebutuhan mereka, menyesuaikan jumlah pasokan, dan memastikan bahwa kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak bukan hanya untuk Secret Land, tetapi juga bagi mereka yang menerima hasil kerjanya.

Saat malam tiba, lampu-lampu di seluruh pulau mulai menyala satu per satu, terlihat seperti rasi bintang yang jatuh ke permukaan laut. Grace berjalan ke arah jendela, menatap pemandangan itu sambil menarik napas panjang. Tubuhnya terasa lelah, namun hatinya penuh. Ia tahu, apa yang ia bangun di sini bukan sekadar bisnis atau kekayaan melainkan sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang hidup.

Ia meraih ponselnya, mengirim pesan singkat kepada keluarga: "Sudah makan malam? Aku rindu kalian. Segera setelah urusan selesai, aku pulang. Jaga diri kalian baik-baik."

Tak lama, balasan datang satu per satu ucapan rindu, perhatian agar ia makan tepat waktu, dan harapan agar ia segera pulang. Grace tersenyum, menempelkan ponsel ke dadanya sejenak, lalu kembali menatap laut yang gelap namun tenang.

"Aku akan menyelesaikannya... dan pulang ke kalian," bisiknya pelan kepada angin malam yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang terbuka.

Malam itu, Grace tidur di kediaman yang sepi namun damai, dikelilingi oleh pulau yang ia cintai, siap menyambut hari baru dengan semangat yang tak pernah pudar.

...~ Bersambung ~...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!