Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Bima menunjuk ke arah kartu identitas yang menggantung di lehernya.
"Nama saya Bima Aditama, dan mulai detik ini sampai lima hari ke depan, saya adalah dosen pengganti di kelas ini."
Pernyataan Bima itu kembali memancing tawa yang jauh lebih keras dari sudut-sudut kelas.
Reza tertawa sinis sambil menggelengkan kepalanya merasa tak percaya.
"Kampus ini pasti sudah gila menerima gembel jalanan menjadi dosen bisnis kami."
"Apa yang mau kamu ajarkan pada kami, Bima?" panggil Reza langsung menyebut nama tanpa gelar kehormatan apa pun.
"Cara menawar harga sayur di pasar tradisional agar tidak ditipu pedagang asongan?"
Ejekan itu disambut sorakan riuh dari teman-teman Reza yang duduk di barisan belakang.
Bima menatap Reza dengan pandangan yang sangat tenang, sedalam jurang yang tak berdasar.
Pengetahuan akademis tingkat profesor yang ditanamkan sistem ke otaknya mulai beresonansi mencari celah kelemahan lawan.
Sring.
Mata Identifikasi Tingkat Dewa milik Bima langsung aktif dan memindai sosok pemuda sombong di depannya itu.
[Nama: Reza Mahendra]
[Status: Mahasiswa Semester 4, Pewaris Jaringan Supermarket Mahendra Group]
[Kelemahan Bisnis: Supermarket keluarganya sedang mengalami kerugian besar karena ekspansi membabi buta ke daerah rural]
Bima tersenyum tipis membaca rentetan data yang sangat berharga tersebut.
Dia mengambil spidol hitam dan membuka tutupnya dengan santai.
"Kamu Reza Mahendra, anak dari pemilik Supermarket Mahendra Group, benar?" tanya Bima memecah keheningan.
Reza mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan penuh kebanggaan.
"Ternyata kamu kenal juga dengan perusahaan raksasa ayahku, wajar saja karena kamu pasti sering mengemis di depan pintunya."
Bima mengabaikan hinaan itu dan berbalik menghadap papan tulis putih di belakangnya.
Sret sret sret.
Tangan Bima bergerak dengan sangat cepat menggambar sebuah grafik penurunan yang sangat curam di papan tulis.
Dia kemudian menuliskan beberapa rasio keuangan yang sangat rumit di samping grafik tersebut.
Seluruh mahasiswa di kelas yang awalnya berniat mengejek mulai terdiam dan mengerutkan kening mereka.
Grafik dan rumus yang ditulis Bima terlalu sempurna dan rumit untuk ukuran orang sembarangan.
Bima meletakkan spidolnya dan kembali menatap Reza yang kini tampak sedikit kebingungan.
"Tahu apa arti grafik ini, Reza?" tanya Bima dengan nada seorang guru yang sedang mengetes murid bodohnya.
"I-itu cuma coretan acak orang gila untuk menakutiku," bantah Reza mencoba menutupi kegugupannya.
Bima tertawa pelan, tawa yang penuh dengan nuansa kasihan murni.
"Ini adalah proyeksi arus kas dari Supermarket Mahendra Group selama tiga kuartal terakhir."
"Ayahmu terlalu serakah dan melakukan ekspansi membabi buta membangun sepuluh cabang baru di daerah rural tahun lalu."
Wajah Reza mendadak menegang karena apa yang dikatakan Bima adalah rahasia internal perusahaannya.
"Dan karena infrastruktur distribusi yang buruk, biaya operasional membengkak tiga ratus persen menutupi margin keuntungan."
"Jika ayahmu tidak menutup lima cabang yang merugi itu dalam waktu dua bulan, perusahaan raksasa kebanggaanmu ini akan menyatakan bangkrut."
Ruang kelas itu kini benar-benar sunyi senyap seolah ada malaikat maut yang baru saja lewat.
Semua mahasiswa menatap Bima dengan pandangan tidak percaya bercampur horor.
Bagaimana seorang pemuda berkemeja lusuh bisa membedah kebusukan perusahaan raksasa hanya dalam hitungan detik?
"K-kamu bohong!" teriak Reza dengan suara bergetar, wajahnya kini pucat pasi layaknya mayat.
"Perusahaan ayahku baik-baik saja, saham kami masih stabil di bursa!"
Bima menyilangkan lengannya di dada dan menatap Reza dengan pandangan mengintimidasi.
"Harga saham kalian stabil karena ayahmu terus menyuntikkan dana utang dari bank untuk menutupi laporan keuangan yang berdarah."
"Kamu belajar di fakultas bisnis elit ini tapi bahkan tidak bisa membaca tanda-tanda kebangkrutan di rumahmu sendiri."
"Sangat menyedihkan."
Tiga kata terakhir dari Bima itu meluncur seperti belati tajam yang menusuk langsung ke jantung pertahanan Reza.
Pemuda arogan itu mundur selangkah hingga punggungnya menabrak meja mahasiswa di belakangnya.
Reza tidak bisa membantah lagi karena dia sendiri sempat mendengar pertengkaran orang tuanya mengenai utang bank minggu lalu.
Bima mengalihkan pandangannya dari Reza dan menyapu seluruh mahasiswa di kelas itu dengan tatapan tajam.
"Ada lagi yang ingin memamerkan perusahaan keluarganya padaku pagi ini?" tantang Bima dengan nada santai namun mematikan.
Tidak ada satu pun dari puluhan mahasiswa kaya itu yang berani mengangkat tangan atau membuka mulut mereka.
Aura dominasi intelektual yang dipancarkan Bima benar-benar menghancurkan kesombongan mereka hingga ke akar-akarnya.
Bima menarik kursi dosen dan duduk dengan sangat nyaman di hadapan kelas yang kini jinak tersebut.
"Bagus, sepertinya kalian akhirnya mulai memahami cara kerja dunia yang sebenarnya."
"Uang orang tua kalian mungkin bisa membeli kursi di ruangan ini."
Bima mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap mereka dengan tajam.
"Tapi di dalam kelasku, uang kalian tidak memiliki nilai apa-apa jika otak kalian kosong."
"Mulai hari ini, aku adalah aturan mutlak di kelas ini."
Ting.
[Sistem Pekerjaan Impian: Evaluasi Kinerja]
[Host berhasil menundukkan kelas paling bermasalah dalam waktu kurang dari lima belas menit]
[Kemajuan Tugas: Penguasaan Kelas 20%]
Bima mengabaikan suara notifikasi di kepalanya dan membuka buku absensi di atas meja.
"Sekarang, kembali ke tempat duduk kalian masing-masing dan kita mulai absen pertama."
Seluruh mahasiswa yang sebelumnya bertingkah seperti berandalan itu langsung berlarian mencari tempat duduk mereka dengan patuh.
Reza juga berjalan gontai kembali ke kursinya dengan kepala tertunduk dalam menahan rasa malu yang luar biasa.
Bima tersenyum tipis melihat pemandangan indah di depannya ini.
Pekerjaan sebagai dosen pengganti ternyata jauh lebih mudah dan menyenangkan dari yang dia bayangkan sebelumnya.