Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 29 sosok wanita yang menghantui pikiranku
Keesokan paginya, Putra tidak pergi ke sekolah. Ia hanya terbaring di kamarnya, menatap kosong langit-langit.
Kejadian di pengadilan kemarin masih terus terbayang di kepalanya. Ia merasa terpukul. Lebih dari itu, Putra tidak bisa menerima begitu saja apa yang telah dilakukan Arhan.
Dengan suara lirih, ia bergumam,
“Maafkan aku, Ma... Aku tidak bisa mendapatkan keadilan untuk Mama.”
Putra perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Pandangan matanya kemudian tertuju pada sebuah bingkai foto yang terletak di meja samping kasur, Ia meraihnya. Di dalamnya terdapat foto keluarga mereka ketika Putra masih kecil.
Namun, ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.
Bagian wajah Arhan pada foto itu telah disobek.
Putra membuka bingkai tersebut dan mengambil foto di dalamnya. Ia menatap foto itu beberapa saat sebelum akhirnya turun dari tempat tidur, Saat hendak meninggalkan kamar, Putra membuang bingkai foto tersebut ke tempat sampah.
Ia kemudian berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan.
Putra meletakkan foto keluarganya di atas meja makan. Setelah itu, ia membuka lemari makanan dan mengambil sebungkus mi instan.
Ia mengambil panci, mengisinya dengan air, lalu meletakkannya di atas kompor.
bruss....
Api kompor menyala.
Putra membuka bungkus mi dan memasukkannya ke dalam panci. Setelah itu, ia mengambil piring dan pisau untuk membuka bungkus bumbu.
Namun, sebelum sempat melakukannya, sebuah suara terdengar dari belakang.
"putra...putra..."
Tangan Putra berhenti.Ia menoleh
Tidak ada siapa-siapa, Putra kebingungan kemudian kembali menghadap ke depan.
Namun suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih pelan ,Lebih lembut, Dan begitu familiar.
"putra..."
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Putra perlahan menoleh ke belakang.
“Mama?”
Tidak ada siapa pun.Ia kembali menghadap ke depan, tetapi suara itu kembali terdengar.
"putra...putra..."
Putra berusaha mengabaikannya.
Ia segera membuka bumbu mi, mematikan kompor, lalu meniriskan mi tersebut. Setelah memasukkan mi ke dalam piring, ia mengaduknya hingga bumbu tercampur rata.
Putra membawa sepiring mi ke meja makan.
Ia mulai makan. Namun, baru beberapa suapan, suara yang sama kembali terdengar dari sebelah kirinya.
“Putra... sarapan mi instan di pagi hari itu kurang baik untuk kesehatanmu, Nak.”
Tangan Putra berhenti, Ia menoleh perlahan,
Sosok yang selama ini hanya hidup dalam ingatannya kini berdiri di hadapannya.
Liza.
“Mama...?”
Liza tersenyum lembut.
Putra hanya mampu membeku. Ia menatap sosok itu seolah takut jika berkedip sekali saja, semuanya akan menghilang.
“Kenapa Mama bisa ada di sini?”
Senyum Putra perlahan muncul. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, wajahnya kembali memperlihatkan kebahagiaan.
“Mama selalu menemani Putra, di mana pun Putra berada.”
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Putra tersadar, Ia tahu apa yang sedang terjadi.
“Tidak...”
Tatapannya mulai bergetar.
“Mamaku sudah tiada.”
Putra menutup matanya rapat-rapat lalu menampar dirinya Ia berusaha menyadarkan dirinya dari apa yang dilihatnya.
PLAK!!
Ketika membuka mata kembali, sosok Liza telah menghilang.
Putra terdiam.
Kesedihan yang sempat tertahan kembali menghantamnya.
“Mama... sudah pergi, ya...”
Setelah sarapan, Putra duduk di sofa ruang tamu sambil memegang foto keluarganya, Ia menatap foto itu dalam diam Kesedihan dan penyesalan kembali memenuhi pikirannya.
“Kenapa... Mama bisa bertahan dengan pria seperti itu?”
Tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang, Putra terkejut. Suara lembut itu kembali terdengar.
“Karena Mama ingin mempertahankan keluarga kita.”
Putra menoleh.
Liza kembali berada di belakangnya.
“Mama?”
Liza hanya tersenyum.
“Putra...”
Tangannya perlahan mengusap rambut Putra.
“Mama benar-benar menyayangimu, Nak.”
Putra tersenyum kecil usapan Liza membuatnya merasa nyaman, Namun tiba-tiba...
“PUTRA!”
Suara Arhan menggema. Putra tersentak dan menoleh ke depan,
Arhan berdiri di hadapannya dengan wajah penuh kemarahan.
“PUTRA! Ingat! Semua ini kesalahan Mamamu!”
Putra terdiam.
Dalam sekejap, semuanya kembali berubah.
Liza menghilang, Arhan pun lenyap.
Putra sadar bahwa keduanya hanyalah bayangan yang diciptakan pikirannya sendiri.
Napasnya mulai berat Ia berjalan menuju meja dapur.
Di sana, matanya menangkap sebuah pisau yang tergeletak, Putra meraihnya.
Ia menatap pantulan wajahnya pada permukaan pisau tersebut. Kemudian, sebuah tangan tiba-tiba menggenggam tangannya.
Putra terkejut.
Liza berdiri di sampingnya kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Putra dan berbisik,
“Putra... apakah kamu rela jika nyawa hanya dibalas dengan permintaan maaf?”
“Tidak... Aku tidak rela.”
“Putra... apakah kamu tidak kasihan melihat Mama kehilangan nyawa hanya karena keegoisan ayahmu?”
“TIDAK!”
Putra langsung menarik diri dan menatap Liza.
“Mama... sebenarnya apa yang ingin Mama lakukan kepadaku?”
Liza tersenyum.
Ia menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya.
“Mama benar-benar kecewa dengan apa yang terjadi sebelumnya. Putra pasti merasakan hal yang sama, bukan?”
“Apa maksud Mama?”
“Mama hanya ingin melihat Putra bahagia.”
Liza menatapnya dengan lembut.
“Namun Putra kalah...”
Kedua tangan Liza kemudian menyentuh pipi Putra.Tatapannya begitu lembut, tetapi kata-katanya justru membuat hati Putra semakin goyah.
“Berikan Mama sebuah keadilan...”
Liza menggenggam tangan Putra yang masih memegang pisau.
“Mama tahu ini salah... Tapi Mama membutuhkan keadilan, Nak.”
Putra terdiam. Pikirannya dipenuhi amarah, kesedihan, dan rasa kehilangan. Pada akhirnya, emosinya mengalahkan akal sehatnya.
“Baiklah, Ma.”
......................
Malam harinya, Putra berjalan menuju rumah Arhan dan Desy. Di tangannya terdapat sebuah buket bunga besar dan kotak kue ulang tahun kecil.
Sesampainya di rumah tersebut, Putra mengetuk pintu.
Tok...Tok...Tok...
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Desy muncul di ambang pintu, Matanya langsung tertuju pada buket bunga dan kotak kue yang dibawa Putra.
“Eh, Putra? Ada malam-malam datang ke sini. Terus buket sama kotak kue itu buat apa?”
Putra memberikan senyum tipis.
“Aku datang untuk memberikan ini sebagai permintaan maafku atas kejadian di pengadilan kemarin.”
“Oh... begitu.”
Desy masih terlihat ragu.
“Kalau begitu, berikan saja kepada Tante. Biar Tante yang menyampaikan permintaan maafmu.”
“Tidak, Tante.”
Putra menatapnya.
“Maafkan aku. Aku tidak bisa memberikan semuanya sebelum bertemu Ayah.”
Desy semakin curiga. Ia memegang gagang pintu dan mulai menutupnya, Namun Putra segera menahan pintu tersebut dengan kakinya.
Desy mencoba menutupnya lagi.
Tetapi pintu tetap tertahan, Akhirnya Desy membuka kembali pintu itu.
Ia menghela napas panjang.
“Huuuh... Baiklah. Kalau begitu, masuklah.”
“Terima kasih.”
Putra masuk ke dalam dan duduk di sofa sambil membawa buket bunga serta kotak kue.
“Kamu tunggu di sini. Biar Tante panggil ayahmu.”
Desy kemudian masuk ke dalam ruangan
Beberapa saat kemudian, ia kembali bersama Arhan. Arhan langsung melihat buket bunga dan kotak kue yang dibawa Putra.
“Putra? Kenapa kamu ke sini?”
Putra berdiri dan berjalan mendekatinya.
“Ayah... Aku ingin memberikan ini kepada Ayah dan Tante sebagai permintaan maaf.”
“Permintaan maaf karena apa?”
Arhan mengernyitkan dahi. Kemudian ia teringat kejadian di pengadilan.
“Oh... Aku tahu.”
Nada suaranya berubah.
“Akhirnya kamu mengakui kesalahanmu. Makanya, Putra, kalau melihat kesalahan seseorang, jangan hanya melihat dari satu sudut pandang.”
Putra hanya tersenyum tipis.
“Oh... begitu, ya.”
Beberapa detik kemudian, suasana berubah. Putra mengangkat buket bunga di depan dadanya.
Namun tangan kanannya bergerak menarik bagian bawah buket tersebut Sesuatu tersembunyi di balik bunga. Arhan belum sempat menyadari apa yang terjadi.
Putra tiba-tiba menusuk dada Arhan menggunakan sebuah pisau yang di sembunyikan di buket tersebut. pisau yang di arahkan atas oleh putra langsung menusuk dada arhan.
“AAAH!”
Desy berteriak kaget. Putra menarik pisau yang tertancap di dada arhan. kemudian menarik pisau dari buket kemudian putra menjatuhkan buket yang sudah berlumuran darah, Tatapannya berubah dingin.
Tidak ada lagi keraguan di wajahnya, Desy panik dan berusaha menyerang Putra menggunakan sebuah vas bunga.
Namun Putra berhasil menghindarinya dan merebut vas tersebut.
“Putra, berhenti!”
Namun Putra sudah kehilangan kendali langsung ia mememukul kepala Desy menggunakan vas hingga pecah
PRAKK!!
Desy terjatuh. Putra berdiri lalu jongkok kemudian mendekati Desy dan menikam leher Desy menggunakan pisau tadi.
Arhan yang melihat keadaan itu berusaha bangkit. Ia mengambil pecahan vas dan mencoba menyerang Putra.
Putra mampu membaca serangan arhan langsung ia maju satu langkah besar. serangan arhan meleset putra memutar balikkan badannya dengan cepat langsung menangkap kepala arhan lalu putra mengangkat lutut kanannya, dan langsung saja putra menghantamkan kepala arahan hingga hidungnya mengeluarkan darah.
arhan seketika tidak sadarkan diri kemudian terjatuh.
Putra mengambil kotak kue ulang tahun yang ia letakkan di meja, kemudian mengangkat kepala arhan sedikit kemudian putra menaruh kue tersebut di bawa kepala arhan
Kemudian....
BRASSS!!!
putra langsung menghantam kepala arahan menggunakan kue hingga hancur berkeping-keping. putra menarik kembali kepala arhan yang sudah belepotan oleh kue, ia hanya menatap Arhan tanpa ekspresi.
“Maaf, ya. Ulang tahun Ayah dirayakan lebih cepat.”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari sebuah kamar.
“Oek... oek...”
Putra terdiam. Tangisan bayi,Ia melepaskan Arhan dan berdiri, Suara itu semakin jelas, Putra berjalan menuju kamar tersebut.Ia masuk sambil masih menggenggam pisau tadi yang berlumuran darah yang dibawanya.
Di atas kasur terdapat seorang bayi yang menangis.
Putra mendekatinya, Tatapannya dingin,Ia mengangkat tangannya yang menggenggam sebuah pisau, putra berniat untuk menusuk bayi itu namun, entah mengapa tangannya tiba-tiba terhenti tepat di atas bayi tersebut.
Sebuah tangan menahan tangannya.
Liza.
“Putra.”
Suara Liza kali ini berbeda, terdengar lebih datar.
“Jangan libatkan anak yang tidak memiliki dosa. Dia tidak pantas menanggung kesalahan kedua orang tuanya.”
Bayi itu masih menangis.
“Oek... oek...”
Putra menatap bayi tersebut. Untuk beberapa saat, ia hanya diam, Kemudian tangannya perlahan turun mengurungkan niatnya untuk membunuh bayi itu.
Putra berjalan meninggalkan kamar dan kembali menuju ruang tamu Di sana, ia melihat dua orang yang sudah tidak bernyawa tergeletak.
Putra terdiam.
“Apa yang harus aku lakukan dengan mereka?”
Suara Liza terdengar dari belakang.
“Kamu harus menyerahkan diri kepada polisi.”
Putra menoleh.
“Mama...?”
Putra menatap Liza dengan penuh kebingungan.
“ma... aku melakukan semua ini karena permintaan Mama, bukan?”
Liza terkekeh pelan.
“Hehehe... Sebenarnya Putra tahu, bukan, apa dampak dari perbuatanmu?”
Putra menatapnya dengan kesal, Ia menghela napas panjang.
“Huuuh...”
Beberapa saat kemudian, Putra mengangguk.
“Iya. Aku tahu.”
Tatapannya berubah pasrah.
“Aku akan mempertanggungjawabkannya, Ma.”
Putra kemudian kembali ke kamar bayi, Ia menatap bayi tersebut dengan ekspresi yang sulit dibaca.
............
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki Putra terdengar cepat di malam yang sunyi. Ia berlari menuju kantor polisi terdekat sambil menggendong bayi tadi bernama Eva.
Berbeda dari sebelumnya, bayi itu kini telah tenang.
Beberapa saat kemudian, Putra tiba di kantor polisi.
Tanpa berpikir panjang, ia masuk sambil tetap menggendong bayi.
Kling...
suara pintu terbuka
Seorang polisi yang sedang berjaga langsung terkejut ketika melihat Putra. Pakaian Putra berlumuran darah, sementara di dalam pelukannya terdapat seorang bayi.
Putra berjalan mendekati meja petugas Polisi itu tampak kebingungan.
“E... selamat malam. Ada yang bisa saya bantu, Dek?”
Putra menatapnya dengan wajah tenang.
“Pak... saya ingin menyerahkan diri.”
Polisi tersebut semakin bingung.
“Menyerahkan diri? Karena apa?”
Putra menundukkan pandangannya sejenak, Kemudian ia menjawab dengan suara pelan.
“Saya baru saja membunuh kedua orang tua bayi ini.”
Wajah polisi itu seketika berubah menjadi serius, polisi tidak percaya apa yang dia dengar barusan.
“APA?!"