Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Richard duduk di ujung meja, wajahnya kusut dengan kantung mata yang gelap, tanda ia tidak tidur semalaman. Julian duduk di sampingnya, terus-menerus menyeka keringat di pelipisnya dengan sapu tangan. Clarissa berdiri di belakang kursi ayahnya, memegang tablet, berpura-pura sibuk namun matanya waspada.
"Kau terlambat," geram Richard saat Reyna melangkah masuk.
"Pukul sembilan kurang sepuluh menit, Pa. Aku tidak pernah terlambat," jawab Reyna datar. Ia tidak duduk di kursi yang tersedia di sisi meja. Sebaliknya, ia berjalan membelakangi mereka, menuju kursi utama di ujung meja yang berlawanan dengan Richard. Kursi sang CEO.
Ia duduk, meletakkan tasnya, dan menatap ayahnya lekat-lekat. "Silakan. Aku mendengarkan."
Richard menatap putri perempuannya seolah melihat monster. "Reyna, apa yang kau lakukan semalam adalah pengkhianatan. Kau membekukan aset perusahaan. Kau tahu berapa banyak karyawan yang bisa kehilangan pekerjaan karena ulahmu? Kau sedang sakit, Nak. Stres telah membuatmu kehilangan akal sehat. Karena itu, sebagai ayahmu dan CEO perusahaan ini, aku akan mengambil alih kendali penuh atas saham ibumu untuk menyelamatkan kita semua. Julian sudah menyiapkan surat medis.."
"Cukup," potong Reyna. Suaranya tidak keras, namun memiliki bobot yang membuat Richard terdiam.
Reyna menoleh pada Vincent. "Bagikan dokumennya."
Vincent dengan cepat membuka tasnya dan membagikan map merah muda ke tengah meja, tepat di hadapan Richard dan Julian.
"Sebelum kita membahas kesehatan mentalku, Pa, mari kita bahas kesehatan finansial tunanganmu," ucap Reyna, nada suaranya ringan, seolah sedang membahas cuaca. "Buka map itu, Pa. Itu adalah laporan audit forensik independen yang dilakukan semalam atas perintahku, menggunakan hak akses ibuku."
Richard dengan ragu membuka map itu. Matanya memindai halaman pertama, lalu halaman kedua. Warna merah di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh warna abu-abu pucat.
"Apa... apa ini?" suara Richard parau.
"Itu adalah mutasi rekening atas nama PT Cipta Karya, perusahaan fiktif yang terdaftar di Kepulauan Virgin," jelas Reyna, menatap Julian yang kini tampak seperti akan pingsan. "Selama dua tahun terakhir, perusahaan fiktif itu telah menerima transfer dana dari Arland Group senilai total empat puluh miliar rupiah. Dan tebak siapa direktur utama PT Cipta Karya? Julian."
"Bohong!" Julian tiba-tiba berdiri, mejanya bergetar. "Ini fitnah! Reyna, kau memalsukan dokumen ini untuk menjebakku! Papa, jangan dengarkan dia!"
"Duduk, Julian," desis Reyna. Tatapannya begitu tajam hingga Julian seketika terduduk kembali, kakinya lemas. "Halaman ketiga dari map itu adalah salinan tanda tangan digitalmu. Halaman keempat adalah rekaman CCTV server ruanganku yang menunjukkan IP address laptopmu mengakses server perusahaan pada jam dua pagi setiap hari Jumat. Dan halaman kelima..."
Reyna tersenyum tipis, senyum yang membuat darah Julian seolah membeku. "...adalah foto kalung berlian biru yang Papa beli untuk ulang tahun Clarissa bulan lalu, yang sekarang sedang digadaikan di Swiss oleh Julian untuk menutupi kerugian judi onlinenya."
Hening.
Richard menatap Julian dengan tatapan yang sepenuhnya baru. Tatapan seorang pria yang baru saja menyadari bahwa ia sedang tidur bersama ular di tempat tidurnya sendiri. "Julian... apa maksudnya ini? Kau menggadaikan hadiah untuk Clarissa?!"
"P-Pa... aku... aku hanya meminjamnya sementara! Aku akan mengembalikannya!" Julian tergagap, air mata mulai menggenang di matanya, menghancurkan citra pria bisnisnya yang sempurna.
"Kau mencuri dari perusahaanku," suara Richard bergetar, bukan karena marah pada Reyna, tapi karena murka pada Julian.
"Dan Papa yang menyetujuinya, bukan?" sela Reyna dingin.
Richard terkesiap, menatap Reyna dengan mata terbelalak.
"Aku punya bukti otorisasi Papa untuk memindahkan dana itu ke rekening Julian," lanjut Reyna tanpa ampun. "Artinya, Papa bukan hanya membiarkan tunangan putri Papa sendiri menggerogoti perusahaan, tapi Papa juga ikut serta. Jika aku membawa map ini ke polisi sekarang, Papa akan dipenjara atas tuduhan penggelapan aset korporasi dan pencucian uang. Reputasi Arland Group akan hancur dalam semalam."
"Kau... kau berani mengancam ayahmu sendiri?!" Richard menggebrak meja, namun suaranya tidak lagi berwibawa. Itu adalah suara pria yang terpojok.
"Aku tidak mengancam, Pa. Aku sedang menawarkan solusi," ucap Reyna, menyandarkan punggungnya di kursi. "Julian akan mengundurkan diri dari semua jabatannya di Arland Group dan di keluarga ini hari ini juga. Dia akan mengembalikan setiap sen yang dicurinya, atau aset pribadinya akan disita. Dan Papa..."
Reyna menatap Richard, matanya sedingin es kutub. "Papa akan mencabut semua hak operasional Papa di perusahaan ini. Mulai hari ini, aku yang akan memegang kendali harian Arland Group. Papa hanya akan menjadi pemegang saham pasif dan menerima dividen. Jika Papa menolak, aku akan mengirim map ini ke kantor kejaksaan dalam lima menit."
Clarissa, yang sejak tadi terdiam pucat, tiba-tiba melangkah maju. Air mata mulai mengalir di pipinya, menciptakan ilusi gadis rapuh yang hancur. "Kak Reyna... kenapa kau melakukan ini? Julian adalah tunanganmu! Bagaimana bisa kau tega menghancurkannya seperti ini? Papa juga... Papa hanya ingin menyelamatkan perusahaan!"
Reyna menatap Clarissa. Di kehidupan sebelumnya, air mata ini akan membuatnya merasa bersalah dan memeluk adik tirinya itu. Sekarang, air mata itu hanya terlihat seperti air comberan yang menjijikkan.
"Clarissa," ucap Reyna pelan, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Kau tahu apa yang lebih menyedihkan dari tunangan yang mencuri? Adik tiri yang tidur dengan tunangan kakaknya sendiri di hotel St. Regis setiap hari Selasa, sambil berpura-pura menjadi gadis baik-baik di depan Papa."
Wajah Clarissa seketika kehilangan semua warnanya. Air matanya berhenti mengalir secara instan, digantikan oleh ekspresi horor yang murni. Julian menoleh menatap Clarissa dengan tatapan terkejut dan jijik. Richard tampak seolah baru saja ditinju di perutnya.
"Kau..." bisik Richard, menatap Clarissa.
"Simpan air matamu untuk pengadilan, Clarissa. Karena jika Papa tidak bisa mengontrol putrinya yang satu ini," Reyna berdiri, merapikan jas hitamnya, "aku akan memastikan seluruh kota tahu seberapa 'baik' moral keluarga Arland."
Reyna menatap ketiga orang yang dulu menghancurkannya. Kini, mereka adalah boneka-boneka yang talinya sedang ia pegang.
"Rapat selesai. Vincent, siapkan surat pengunduran diri Julian. Aku ingin melihatnya ditandatangani sebelum makan siang."