Novel Korean ala Author ❤️❤️
Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim
Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.
Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!
Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Masa Lalu di Kota Batu Putih
Udara pagi di sepanjang jalur setapak perbukitan utara perlahan-lahan mulai digantikan oleh kehangatan matahari yang merayap naik. Setelah insiden kecil pagi ini—di mana tiga pendekar hebat itu sempat salah besar mengira markas besar Sekte Dewa Langit sebagai tempat tinggal ayahku—kami resmi memutar arah haluan perjalanan menuju ke selatan, tepatnya ke arah Kota Batu Putih.
Aku berjalan di barisan paling depan, memimpin rombongan kecil yang terasa semakin padat dinamika hubungannya. Lee Do-Yun berjalan tepat di sampingku, membawa beberapa gulungan peta kuno daerah perdagangan sambil sesekali melempar senyumen kecil untuk mencairkan suasana. Sementara itu, Kang Hyu-Jin dan Choi Min-Hyuk mengekor di belakang dengan jarak aman yang masih konsisten dijaga, meskipun aura kebingungan akibat salah alamat tadi masih sedikit membekas di wajah kaku mereka.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh, kalau dipikir-pikir lagi, memori Han So-Bin versi original ini kadang-kadang bikin emosi sendiri. Kenapa informasi sepenting alamat rumah orang tua kandungnya sendiri bisa luput dari ingatan dasar? Untung saja aku tadi sempat nyeletuk soal Kota Batu Putih, kalau nggak, bisa-bisa mereka bertiga beneran ngamuk mendobrak gerbang Sekte Dewa Langit cuma buat nyari ayahku yang sedang asyik ngeteh di kota perdagangan.”
Aku melirik sekilas ke arah Do-Yun yang tampak serius mengamati garis-garis tinta di atas kertas peta tua di tangannya. Mengingat status Do-Yun sebagai tunangan sah Han So-Bin di dalam alur cerita sebelum aku datang, ada satu pertanyaan mengganjal yang sudah lama ingin kutanyakan secara langsung.
Aku menghentikan langkah kakiku sejenak, membuat Do-Yun, Hyu-Jin, dan Min-Hyuk ikut berhenti di tempat mereka masing-masing.
Aku memutar tubuhku menghadap Do-Yun, lalu menatap manik mata perak pemuda itu lekat-lekat dengan sebelah alis terangkat penuh selidik.
"Do-Yun," panggilku pelan, memecah kesunyian jalur pendakian.
Do-Yun mendongak dari petanya, mengerjap kaget sesaat, lalu tersenyum ramah. "Ada apa, So-Bin? Apakah kakimu mulai lelah lagi? Kita bisa istirahat sebentar kalau kamu mau."
Aku menggeleng pelan, melipat kedua tanganku di dada, lalu melontarkan kalimat yang langsung membuat suasana di sekitar kami mendadak hening:
"Do-Yun, bukankah kau sudah tahu rumahku?"
Deg!
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, telak dan tanpa basa-basi.
Seketika itu juga, senyuman di wajah Lee Do-Yun membeku. Pria berambut perak itu menelan ludah dengan susah payah. Gulungan peta kuno di tangannya nyaris terlepas dari genggamannya akibat keterkejutan yang mendadak menyerang pertahanannya.
Di belakang kami, langkah kaki Kang Hyu-Jin dan Choi Min-Hyuk langsung terhenti total. Kedua pendekar hebat itu menajamkan pendengaran, menatap punggung Do-Yun dengan sorot mata penuh selidik dan ketegangan yang mendadak meningkat drastis.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Nah, rasakan itu! Sebagai tunangan resmi dari si pemilik tubuh asli, secara logika harusnya dia paling tahu seluk-beluk keluarga Han. Kalau sampai dia gelagapan atau ketahuan bohong, berarti ada rahasia besar lain di balik pertunangan kontrak kami yang belum sempat terungkap di dalam ingatan asliku!”
Aku menyipitkan mata, menatap tajam ke arah Do-Yun yang kini tampak salah tingkah luar biasa. Pria itu mengalihkan pandangannya sesaat ke arah bebatuan di pinggir jalan, sebelum akhirnya kembali menatapku dengan senyuman kaku yang dipaksakan.
"Ah... t-tentu saja aku tahu, So-Bin," jawab Do-Yun terbata-bata, suaranya kehilangan nada riang yang biasa ia tunjukkan. "Rumah keluargamu di Kota Batu Putih... tempat yang tenang, dikelilingi kebun teh dan kediaman berdinding batu putih bersih. Bukankah begitu?"
Aku semakin menyipitkan mataku, menyelami setiap gerak-gerik kecil di wajah tampan pemuda itu.
"Oh, begitu ya?" balasku dengan nada curiga yang disengaja. "Kalau kau memang tahu persis letak rumahnya, kenapa kemarin malam saat mereka berdua mengusulkan rencana pergi ke Sekte Dewa Langit, kau hanya diam saja dan mengiyakan begitu saja? Padahal kau tahu persis kalau ayahku tidak pernah tinggal di sana selama bertahun-tahun!"
Mendengar pertanyaanku yang menohok telak, wajah Lee Do-Yun semakin pucat pasi.
Di seberang sana, Kang Hyu-Jin menyipitkan mata kelamnya. Pendekar es itu melangkah maju beberapa langkah—melanggar batas jarak aman yang biasanya dipatuhi—lalu menatap tajam ke arah Do-Yun dengan aura dingin yang mulai merayap keluar dari tubuhnya.
"Do-Yun," suara Hyu-Jin terdengar sangat rendah dan berbahaya, memotong udara pagi yang mulai menghangat. "Jelaskan apa maksud perkataan So-Bin. Apakah kau sengaja membiarkan kami salah mengambil arah tujuan sejak kemarin?"
Choi Min-Hyuk ikut merapatkan barisannya, menatap Do-Yun dengan sorot mata penuh selidik seorang ketua pengawas disiplin. "Sebagai sesama pendekar dari dataran tengah, kejujuran adalah hal utama. Jika kau menyembunyikan sesuatu tentang keberadaan ayah Han So-Bin, katakan sekarang sebelum kesabaran kami habis."
Suasana di jalur perbukitan itu mendadak berubah menjadi sangat tegang. Tekanan Naegong dari Hyu-Jin dan Min-Hyuk bergesekan pelan di udara, membuat dedaunan di sekitar kami bergemerisik gelisah.
Lee Do-Yun menghela napas panjang—sebuah helaan napas pasrah yang menyiratkan bahwa ia tidak bisa lagi mengelak dari situasi tersebut. Pria berambut perak itu menurunkan petanya perlahan, lalu menatapku dengan sorot mata yang mendadak berubah serius dan dipenuhi oleh beban emosional yang teramat dalam.
"Baiklah..." aku Do-Yun pelan, suaranya terdengar serak. "Aku memang tahu persis di mana letak rumah ayahmu di Kota Batu Putih, So-Bin. Dan alasan kenapa aku kemarin tidak langsung mengoreksi rencana mereka berdua... bukan karena aku ingin menyesatkan kalian."
Aku mengangkat sebelah alis, menunggu kelanjutan kalimatnya. "Lalu? Apa alasannya?"
Do-Yun menundukkan kepalanya sejenak, lalu mendongak menatapku lurus-lurus.
"Karena... kediaman ayahmu di Kota Batu Putih bukanlah tempat yang aman untuk didatangi sekarang," ucap Do-Yun dengan nada berat yang membuat darahku mendadak berdesir dingin. "Sejak Aliran Sesat Darah Hitam mulai menguasai jalur perdagangan selatan, wilayah di sekitar Kota Batu Putih sudah dikepung oleh mata-mata mereka. Ayahmu... dan seluruh rahasia tentang kekuatan Lima Elemen yang ada pada keluargamu, adalah target utama kehancuran mereka."
Deg!
Seketika itu juga, seluruh candaan dan rasa penasaran konyol di kepalaku menguap entah ke mana.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Tunggu... jadi kedatangan kami ke Kota Batu Putih bukan sekadar kunjungan keluarga biasa buat minta restu pernikahan? Melainkan langsung masuk ke sarang macan yang sudah diintai oleh faksi sesat?!”
Sebelum aku sempat memproses informasi mengejutkan itu sepenuhnya, Kang Hyu-Jin di belakang kami sudah menghunus setengah bilah pedang esnya, sementara Choi Min-Hyuk mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya bergemeretak putih.
"Kalau begitu..." suara Hyu-Jin terdengar dingin bagai badai salju di musim dingin, namun memancarkan tekad pelindung yang luar biasa mutlak. "...perjalanan kita bukan lagi soal meminta restu calon mertua. Kita sedang menuju medan pertempuran."
Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan detak jantungku berpacu dua kali lebih cepat. Di bawah langit perbukitan utara yang cerah, pelarian absurd kami resmi berubah menjadi misi penyelamatan paling berbahaya di sepanjang sejarah dunia persilatan Gangho.