NovelToon NovelToon
Danu, Kejarlah Aku

Danu, Kejarlah Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Dokter / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.

Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.

Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.

Bagaimana cerita selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Hai, kau!" bentakku dengan suara penuh amarah. "Berani sekali menyentuh milikku."

Suasana ruang keluarga mendadak membeku. Ghina sampai melongo melihatku, sementara Mama Sarah langsung bangkit dari duduknya.

"Kak Danu!" tegur Ghina. "Kamu ngapain?"

Aku mengabaikannya dan mendekatkan ponsel itu ke telinga. "Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Dinda?" tanyaku dengan nada menekan. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Hanya suara angin dan kesibukan orang-orang dari seberang sana yang terdengar, membuat kesabaranku semakin menipis. "Aku bicara denganmu!"

"Maaf, Anda siapa?" balas lelaki itu dengan tenang. Tidak ada sedikit pun nada gentar dari suaranya.

"Aku suaminya Dinda."

Ghina langsung menutup wajah dengan telapak tangannya, sedangkan Mama Sarah menghela napas panjang. Dari seberang telepon, lelaki itu sempat terdiam sebelum kembali bicara.

"Suaminya?" ulangnya. "Kalau begitu, seharusnya Anda lebih tahu daripada saya bahwa Dokter Dinda sedang tidak ingin diganggu."

Rahangku mengeras mendengar jawabannya. "Jangan mengajariku tentang istriku."

"Kak Danu, cukup!" Ghina akhirnya berhasil merebut kembali ponsel dari tanganku. Aku menoleh tajam padanya, tidak terima dengan tindakannya, tetapi dia justru membalas tatapanku dengan wajah kesal.

"Kenapa kamu membela lelaki itu?" tanyaku.

"Aku bukan membela dia. Aku cuma malu melihat kakakku sendiri seperti ini."

"Aku cuma ingin tahu siapa lelaki itu."

"Kakak pikir caranya dengan merebut ponselku lalu marah-marah pada orang yang bahkan nggak kamu kenal?" Ghina menggeleng, jelas tidak habis pikir melihat sikapku. "Kak, kamu baru sadar Kak Dinda pergi setelah semuanya terlambat. Sekarang, begitu mendengar suara laki-laki di dekatnya, kamu langsung merasa berhak marah?"

Aku mengepalkan tangan di sisi tubuh. "Aku suaminya."

"Suami yang mana?" potong Ghina cepat. "Suami yang bilang dia batu kerikil? Suami yang sudah mengancam cerai? Suami yang bahkan nggak peduli dengannya? Atau suami yang menikahi perempuan lain tepat setelah menikahi dia?"

Aku ingin membantah, tetapi tak satu pun alasan yang terlintas di kepala mampu membenarkan tindakanku selama ini. Aku memang pernah mengancam Dinda dengan kata cerai waktu bertengkar kemarin. Namun, ketika sekarang dia benar-benar pergi, aku justru tidak sanggup menerima kenyataan itu.

Mama Sarah mendekat dan mengambil ponsel dari tangan Ghina. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kemarahan, melainkan kekecewaan yang sulit kuhadapi. "Danu, kamu datang ke sini karena ingin mencari tahu keadaan Dinda, kan?"

Aku mengangguk pelan.

"Kalau begitu, jangan membuat semuanya semakin sulit."

"Mama, aku cuma..."

"Kamu cemburu?"

Aku langsung terdiam. Aku sendiri tidak mengerti sejak kapan suara lelaki lain yang berbicara pada Dinda bisa membuat darahku mendidih seperti tadi. Membayangkan perempuan itu dekat dengan laki-laki lain saja sudah cukup membuatku kehilangan kendali, padahal selama ini aku selalu bersikeras bahwa aku tidak mencintainya.

Mama menggeleng pelan, seolah bisa membaca kebingungan yang berusaha kusembunyikan. "Kalau memang kamu ingin Dinda kembali, jangan mulai dengan menganggap dia masih menjadi milikmu."

Aku menatap Mama. "Terus aku harus bagaimana?"

"Mulai dengan meminta maaf. Lalu selesaikan masalah yang sudah kamu ciptakan."

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi justru terasa seperti hal tersulit yang harus kulakukan. Aku mengusap wajah, berusaha menyusun kata-kata yang bahkan belum pernah berani kuucapkan kepada Dinda. "Bagaimana caranya? Dia bahkan nggak mau memberitahuku di mana tepatnya dia berada."

"Karena dia tahu kamu akan datang mengejarnya," jawab Mama.

Aku mengangkat kepala, sementara Ghina menyahut dengan nada getir, "Dan sekarang kamu memang mau mengejarnya."

"Aku harus bicara dengannya."

"Untuk apa?"

Aku terdiam cukup lama. Aku bisa saja menjawab bahwa aku ingin membawanya pulang atau menyelesaikan masalah rumah tangga kami. Namun, setelah kupikirkan baik-baik, tidak satu pun jawaban itu benar-benar mewakili keinginanku.

"Aku ingin melihatnya," jawabku akhirnya.

Mama dan Ghina tidak langsung menanggapi. Aku sendiri bahkan tidak menyangka bisa mengucapkan kalimat itu dengan begitu jujur. Aku tidak ingin memaksanya pulang ataupun menuntutnya menjalankan kewajibannya sebagai istri. Aku hanya ingin memastikan Dinda baik-baik saja setelah semua perlakuanku kepadanya.

Mama Sarah menatapku cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Kalau begitu, datanglah sebagai Danu yang ingin meminta maaf. Bukan sebagai suami yang merasa masih memiliki hak atas hidupnya."

"Mama tahu kamu sudah mencari informasi tentang istri kedua kamu itu, kan? Jadi, kamu sekarang bisa mengambil keputusan dan selesaikan semuanya."

Aku terdiam sejenak. Aku tahu Mama benar. Masalah dengan Belinda memang harus segera kuselesaikan, tetapi saat ini pikiranku masih tertuju pada Dinda. Aku ingin berbicara dengannya terlebih dahulu, memastikan keadaannya, sekaligus mencari tahu apakah dia masih bersedia memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.

"Aku tahu, Ma. Aku akan membereskan masalah Belinda. Tapi sekarang aku ingin menghubungi Dinda dulu."

Aku merogoh ponsel dari saku dan membuka nomor Dinda. Namanya masih tersimpan di sana, lengkap dengan foto yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kuganti. Jempolku sempat berhenti di atas tombol panggilan sebelum akhirnya kuputuskan untuk meneleponnya.

Panggilan pertama tidak diangkat. Aku mencoba lagi, berharap dia hanya sedang sibuk, tetapi hasilnya tetap sama. Ketika panggilan ketiga berakhir tanpa jawaban, aku mengembuskan napas panjang sambil menatap layar. Kali ini aku tidak marah padanya. Setelah semua perlakuanku selama ini, Dinda punya alasan untuk tidak ingin berbicara denganku.

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Aku segera membuka layar dan mendapati nama Dinda tertera di sana.

[Aku sibuk jangan ganggu!]

Hanya empat kata, tetapi aku membacanya berulang kali. Setidaknya dia masih mau memberiku kabar. Meski begitu, jawaban singkat itu juga terasa seperti batas yang sengaja dia pasang agar aku tidak bertanya lebih jauh. Aku buru-buru mengetik balasan sebelum kehilangan keberanian.

[Dinda, aku ingin bicara.]

Pesan itu terkirim. Aku menunggu sambil sesekali melihat layar, sampai akhirnya balasan darinya muncul.

[Tentang apa?]

Aku menatap dua kata itu cukup lama. Dulu, Dinda tidak pernah membuatku kesulitan untuk berbicara dengannya. Bahkan ketika aku mengabaikannya, dia tetap menjadi orang pertama yang mencariku setiap kali ada sesuatu yang ingin diceritakan. Sekarang, untuk sekadar mendapatkan kesempatan bicara, aku harus meminta izin dan menunggu apakah dia bersedia meluangkan waktunya untukku.

Aku mengetik perlahan, berusaha mencari jawaban yang tidak akan membuatnya langsung mengakhiri percakapan.

[Tentang semuanya. Tentang kita.]

Tiga titik muncul di layar, menandakan Dinda sedang mengetik. Aku menunggu, tetapi tanda itu menghilang sebelum satu pesan pun masuk. Beberapa saat kemudian, tiga titik tersebut muncul kembali. Aku bahkan tanpa sadar menahan napas sampai akhirnya balasannya tiba.

[Aku perlu tahu dulu sebenarnya bagaimana status kita. Aku nggak mau terus hidup dalam ketidakjelasan.]

Aku terpaku menatap layar. Rupanya Dinda pun memikirkan hal yang sama, tetapi dia tidak menganggap ancamanku waktu itu otomatis membuat kami bercerai. Dia justru meminta kejelasan, sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar kupikirkan karena aku terlalu sibuk memaksanya mengikuti keinginanku.

Aku ingin segera membalas, tetapi jemariku tertahan di atas layar. Apa yang harus kukatakan? Aku sendiri belum tahu bagaimana menjelaskan status pernikahan kami, apalagi setelah ucapan cerai yang pernah kulontarkan hanya untuk menakut-nakutinya agar tidak pergi.

[Tunggu, aku. Akan aku perjelas semua.]

Balasku langsung menutup ponsel, layarnya menjadi gelap. Lalu aku memandang Mama dan Ghina.

"Mama, Ghina, maaf aku terlalu keras kepala. Kalian benar, Belinda tidak seperti berlian yang aku bayangkan."

Mendengar pengakuanku, aku bisa melihat Mama dan Ghina gemas padaku, mungkin mereka berpikir kenapa aku tidak segera bertindak malah justru seperti orang bodoh nunggu keajaiban. Benar saja tangan Mama kini langsung meraih telingaku dan menariknya.

"Jadi kamu tunggu apa lagi, bodoh!"

1
Diana
Danu terlalu bodoh dan buta sih.
Diana
tinggalkan Danu, Dinda!
Diana
playing victim kamu Belinda.
Diana
jangan cengeng Dinda, Danu itu sudah ada pawangnya.
sutiasih kasih
pasti si paling maha benar...
mantan suami pecundang🙄🙄
sutiasih kasih
jgn" Dinda hamil nich....
sutiasih kasih
novel ini g di lanjut lgi kah??
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: lanjut kak, hihihi bener2 nunggu autornya free, masih banyak drama di RL nya🙏
total 1 replies
Endang Anwar Rahmawati
😍
falea sezi
🤣🤣 enak g dan di khianati mamam tuh
falea sezi
mending cerai enak aja di jadiin danu ban serep saat Belinda g sebaik yg dian kira🤣
falea sezi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mampusss
sutiasih kasih
lanjut up dunk thorrr
sutiasih kasih: ku kirim kopi... biar semangar thorr😘😘
total 2 replies
sutiasih kasih
sadarrrr woiiii bung....😂😂😂
sutiasih kasih
lupa ya klo km sdh mnjatuhkn talak ke Dinda.... perempuan yg sll mnjadi tumbal 🙄🙄
sutiasih kasih
mampusssss....
km selalu mnyudutkn dan mnyalahkn dinda.... atas smua yg trjadi... pdahal dinda gak melakukn ksalahan....
krna smuanya demi perempuan trcintamu....🙄🙄🙄
sutiasih kasih
harusnya km brsyukur blm mnyentuh belinda ..... bisa jdi belinda sdh trjangkit pnyakit krna seringnya di celup bnyk laki".....
Mariatul
baper aku Thor. mau nangis iya, mau meledak pun iya. 😁😁
sutiasih kasih
jalang sesungguhnya siapa danu???
sutiasih kasih
double up dunk thor😘😘
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, udah proses
total 1 replies
sutiasih kasih
10 th.... gmn klo dinda hamil ankmu danu.....
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!