"Kenapa?"
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Bukankah itu tak seharusnya di lakukan? Dan bukankah itu salah?"
"Seharusnya aku tak melakukan hal itu, karena aku sudah berjanji untuk melindungi Oliv bahkan dari diriku sendiri."
"Tapi tak bisa di bohongi, aku menginginkan dirinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 ILUSI
Saat malam hari Dre baru pulang ke rumah, dalam keadaan yang begitu berantakan dan bau minuman. Dirinya sepulang dari kantor langsung menghabiskan waktu bersama teman-temannya di salah satu kafe langganan mereka.
Dre sengaja melakukan hal demikian karena merasa pusing dan bingung pada dirinya, tepatnya masalah hati. Dia sendiri tidak mengerti dengan perasaanya yang sulit di jelaskan.
"Liv!" Teriak Dre sembari mengetuk pintu.
Keadaan rumah terlihat gelap, membuat Dre meragukan apakah Oliv ada di dalam.
Walau dalam keadaan mabuk, Dre masih memiliki sedikit kesadaran. Dia mengambil kunci cadangan di saku celananya yang di lekatkan bersama kunci mobil. Dengan kunci itu dia bisa membuka rumah tanpa harus koar-koar memanggil Oliv yang belum tentu ada di dalam.
Dre menyalakan lampu, hingga membuat ruang tamu seketika menjadi terang.
Dre tertegun memperhatikan Oliv yang sedang terbaring di sofa ruang tamu. Dre memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Tidur?" Tanya Dre pada dirinya sendiri.
Dre terus saja memperhatikan, gerakan pada dada Oliv memastikan kalau gadis itu masih bernapas dan hanya sedang tertidur.
Dre mendekat. Duduk di sofa sebelahnya, sesekali dia melirik Oliv yang masih mengenakan seragam Sekolah.
Gadis itu, sejak melihat kejadian di ruangan Dre tadi langsung pulang ke rumah. Dan entah apa yang terjadi hingga dia bisa tertidur di atas sofa. Yang pasti dia tidur sejak tadi siang hingga tak tau malam sudah datang.
Mata Dre kembali tertuju pada Oliv, roknya yang sedikit tersingkap memperlihatkan bagian pahanya.
Dre kembali mengalihkan pandangan. Mengusap wajahnya. Menyingkirkan pikiran kotor dari setan-setan yang mulai menggoda.
*
Dre mendekati Oliv. Jantungnya mulai berdebar kencang. Perlahan dia menyentuh wajah Oliv hingga membuat gadis itu terbangun.
"Bang Dre?" Lirih Oliv pelan, dia bangkit dan segera memeluk Dre erat.
Dre terdiam. Tidak tau harus berbuat apa.
"Maaf membuatmu terbangun."
Oliv hening, dan semakin mempererat pelukannya. Wajahnya tampak lesu dengan mata yang sembab seperti habis menangis yang sangat lama.
"Kamu kenapa?" Tanya Dre yang merasa bingung.
Oliv hanya menggelengkan kepala.
"Aku, gak mau Bang Dre sama Kak Renata." Ucap Oliv mengungkapkan isi hatinya.
"Maksud kamu apa?"
"Sejak kecil, aku sangat menyayangi Bang Dre."
"Sebagai kakak?"
"Aku juga tidak tau, tapi aku rasa ini bukanlah perasaan seorang adik terhadap kakaknya."
Dre diam. Dia mengerti yang Oliv rasakan, karena dirinya juga merasakan hal demikian. Dre membalas pelukan itu,
"Aku juga merasakan hal yang sama." Lirih Dre lembut
"Aku menyayangimu, tapi bukan juga sebagai adik."
Keduanya bertatapan, hingga tak terasa kini bibir keduanya sudah bersatu dalam kehangatan. Dengan tangan Dre yang tak akan melewatkan 1 inci pun dari tubuh Oliv.
*
"Bang Dre!" Panggil Oliv pada Dre yang memperhatikan dirinya.
Seketika Dre tersadar akan lamunannya, Oliv sudah bangun dan sudah dalam posisi duduk mengusap mata.
"Astaga! Apa yang terjadi?" Benak Dre yang menyadari semua yang terjadi barusan adalah ilusi, dan mungkin saja efek minuman yang belum hilang dari tubuhnya.
"Udah bangun?" Ucap Dre dengan nada canggung.
"Ku kira kau meninggal." Sambung Dre dengan nada candaan. Dia sengaja mencairkan suasana yang tentunya untuk menutupi kegugupan dirinya sendiri atas ilusi yang dia ciptakan.
Segera Oliv melemparnya dengan bantal sofa, membuat Dre tertawa terbahak-bahak. "Canda!"
Oliv terlihat kesal, dan menjadi cemberut.
"Hoi! Canda!" Ucap Dre lagi. Dia memperhatikan mata Oliv yang terlihat sembab.
Ingin bertanya, kenapa? Tapi tak jadi Karena Dre tau suasana hati Oliv saat ini pasti sedang tidak bagus di lihat dari raut wajah dan tatapan matanya.
"Sana ganti seragam mu, besok kan masih pake."
"Nanti aja, aku mager." Jawab Oliv kembali merebahkan tubuh di sofa.
Dirinya merasa begitu lelah, lelah hati. Dan merasakan kesakitan yang teramat sangat melihat kejadian di ruang kerja Dre tadi siang.
"Apa mau aku yang gantiin?" Ucap Dre, lagi-lagi dengan candaan. Dan kembali bantal sofa itu mendarat di tubuhnya.
"Gak mood candaannya!" Oliv semakin kesal.
*****
aq tunggu lanjutanx