Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : KORBAN PALING DIKAGUMI
...BAB 18...
...KORBAN PALING DIKAGUMI...
Sore itu halaman pos ronda dipenuhi warga, suaranya riuh rendah membicarakan satu‑satunya topik hangat sepekan terakhir: kasus pemalsuan dokumen dan penggelapan dana yang menyeret nama Alina. Belum lama berselang surat resmi dari Dewan Etik menyebut izin advokatnya hampir pasti dicabut seumur hidup, dan berkasnya makin lengkap di meja penyidik. Saat langkah tenang Arka terlihat melintas membawa kantong belanjaan, seketika suara obrolan itu mereda serentak, lalu berubah penuh simpati begitu ia dipanggil mendekat.
“Arka, Nak, sini sebentar!” panggil Pak RT mengangguk ramah. “Kami semua baru saja bicara soal kamu. Sungguh kami kasihan sekali melihat nasibmu.”
Arka berhenti, menunduk pelan sambil menghela napas panjang yang dibuat‑buat terasa berat sekali. Di balik sikap lesu itu, jantungnya berdebar campur aduk. Dialah yang merakit seluruh bukti palsu, dialah yang melapor, dialah yang mengatur saksi‑saksi, semuanya berawal dari perintah mendiang ayahnya Haris dulu untuk menghancurkan usaha Pak Aditya. Namun setelah lima tahun penuh mengawasi, menyadap dan mengintai Alina dari kejauhan, dendam warisan ayahnya sudah lama mati berganti rasa bersalah yang menyiksa dan cinta yang begitu dalam hingga merusak akal sehatnya. Di sakunya terselip rapat alat penerima sinyal usang, saksi bisu setiap detik hidup wanita yang ia hancurkan sekaligus paling ia cintai di dunia ini.
“Pak, Bu… sebenarnya saya enggan bicara soal ini. Saya tidak mau menambah aib siapa‑siapa,” jawab Arka pelan, suaranya bergetar pas sekali di nada yang tepat, matanya berkaca‑kaca menahan air mata kepalsuan.
“Jangan begitu, Ka! Semua orang tahu kamu sudah berbuat apa saja buat keluarga itu,” potong Bu Siti antusias. “Kamu yang setiap hari bawa dan antar Pak Aditya ke dokter, kamu yang bayar sebagian obatnya diam‑diam, kamu yang urus ini itu saat persiapan nikahnya Alina sampai lupa istirahat. Tapi apa balasan yang kamu dapat? Namamu hampir ikut terseret kasus itu juga kan? Katanya kamu sempat diperiksa juga hanya karena terlalu dekat sama dia?”
Arka mengangguk perlahan sambil mengusap pelan sudut matanya.
“Benar Pak, Bu. Dua hari lalu saya dipanggil juga sebagai saksi. Petugas bilang, karena saya terlalu sering ada di sana, terlalu sering pegang berkas‑berkas bantuannya, ada kemungkinan saya juga terlibat. Saya cuma diam saja. Saya ikhlas saja kalau harus repot, karena dari hati saya sudah anggap Bu Kirana itu ibu sendiri, Pak Aditya ayah sendiri, dan Alina… saya anggap saudara sendiri.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah seolah menahan sakit hati yang luar biasa.
“Yang membuat saya hancur bukan karena saya diseret masalah. Tapi kenyataan bahwa… semua kebaikan, semua kepercayaan yang saya berikan sepenuh hati tanpa pamrih itu… ternyata cuma dimanfaatkan saja. Dia pakai nama baik saya, pakai kehadiran saya buat menutupi segala perbuatannya dari awal. Sampai‑sampai uang tabungan sedikit yang saya sisihkan buat biaya pengobatan sendiri pun sempat saya pinjamkan buat urusan kantor katanya, sampai sekarang belum dikembalikan juga.”
“Astaga! Hei, dengar itu semua?” seru salah satu ibu‑ibu terkejut. “Kamu sampai keluar uang tabungan juga, Ka?”
“Iya Bu. Tapi sudahlah… biarlah. Anggap saja itu sedekah. Yang paling menyakitkan cuma satu, saya kira dia wanita baik, saleh, menjaga diri mati‑matian demi membanggakan ayahnya yang jatuh sakit. Ternyata semua itu cuma topeng rapi saja. Saya yang bodoh terlalu mudah percaya.”
Seketika suasana meledak penuh emosi.
“Dasar tidak tahu diuntung!” geram seorang bapak‑bapak mengepal. “Sudah dibantu sekuat tenaga, malah dikhianati begitu saja!”
“Memang benar kata orang, orang yang kelihatannya paling suci itulah yang paling licik di belakang,” sahut yang lain mengangguk‑angguk. “Lihat deh Arka ini, rendah hati, tidak pernah menonjol‑nonjolkan kebaikan, mau menelan kerugian besar saja masih mau bicara baik. Dialah korban yang paling malang di antara kita semua.”
“Bukan cuma malang, Pak. Arka ini malaikat betul‑betul turun dari langit!” puji Bu Siti berapi‑api. “Di saat semua orang sudah menjauh, masih saja dia bicara baik. Jarang sekali sekarang ada manusia sebaik hati dia. Kalau saja semua orang berakhlak seperti dia, pasti dunia damai sentosa.”
Pujian itu makin mengalir deras dari mulut ke mulut. Yang tadinya hanya simpati, kini berubah menjadi kekaguman yang luar biasa. Nama Arka yang tadinya hanya dikenal pemuda pendiam, kini disebut‑sebut sebagai teladan kebaikan, sosok yang terlalu mulia untuk hidup di tengah dunia yang penuh khianat. Semakin ia terlihat merendah dan menahan sakit, semakin tinggi orang mengangkat derajatnya di hati publik.
Belum lama Bu Kirana berjalan lewat dari arah pasar mendengar semua itu. Wajahnya memerah bercampur malu, sedih dan bingung bercampur jadi satu. Arka segera menyongsong dengan langkah cepat, sikapnya tetap hormat dan lembut persis seperti sediakala.
“Bu Kirana… jangan dipikirkan berat‑berat ya. Saya sama sekali tidak berniat menyebar aib atau menuntut apa‑apa. Saya ngomong begitu cuma menjawab pertanyaan warga saja. Saya mengerti, Ibu pasti juga sangat terkejut dan kecewa berat,” ucapnya lembut sekali.
Bu Kirana menghela napas panjang, tangannya gemetar memegang anyaman tas belanjaannya.
“Maafkan kami, Arka… maafkan semuanya. Ibu benar‑benar malu sekali mendengarnya. Ibu sendiri sampai sekarang masih tidak percaya, tapi bukti‑bukti di sana semuanya mengarah ke dia. Ibu bingung harus berbuat apa, apalagi suami Ibu, Pak Aditya, kondisinya makin hari makin lemah, belum tahu apa‑apa soal semua ini. Takutnya kalau tahu, nyawanya jadi taruhannya.” Air mata wanita itu mulai menggenang. “Kamu sudah berbuat terlalu banyak buat kami, Arka. Terlalu banyak. Malah kami yang membalasnya dengan luka yang dalam buat kamu. Ibu benar‑benar tidak tahu harus membalas kebaikanmu bagaimana lagi.”
“Jangan begitu Bu. Cukup doa saja dari Ibu itu sudah lebih dari segalanya buat saya. Bagaimanapun juga, saya tetap sayang sama keluarga ini. Walau… apa yang Alina lakukan itu benar‑benar menghancurkan kepercayaan saya sampai ke dasar hati.”
Tepat di saat itu, Alina berjalan pelan dari ujung gang didampingi erat Farhan. Wajahnya pucat pasi, langkahnya tertatih, jelas baru saja mendengar setiap kata yang diucapkan. Farhan langsung melangkah maju sedikit melindungi bahu kekasihnya, tatapannya tajam mengarah ke Arka.
“Cukup sampai di situ saja omongan kalian semua. Belum ada keputusan tetap dari pengadilan, tapi kalian sudah menghakimi mati‑matian. Dan kamu, Arka…” suaranya dingin menusuk. “Kamu bicara seolah kamu paling rugi, paling terluka. Padahal sejak awal kemunculan mu, hal‑hal aneh mulai terjadi satu per satu.”
Arka tidak marah. Ia malah tersenyum getir penuh kepahitan buatan, lalu menatap Alina lekat‑lekat. Di balik tatapan itu, batinnya berteriak hebat memohon maaf, berteriak betapa ia sangat mencintainya, betapa lima tahun mengawasi dari gelap membuatnya tahu setiap helai nafas wanita itu, betapa ia benci dirinya sendiri harus melakukan semua ini. Tapi yang keluar dari mulutnya cuma kalimat halus yang makin membuatnya terlihat suci.
“Farhan… saya mengerti kamu marah, kamu membela orang yang kamu sayang. Saya tidak akan membalas omonganmu dengan marah. Saya cuma bisa bilang… biarlah waktu yang menjawab semuanya. Saya cuma manusia biasa yang kebetulan terlalu percaya, lalu terluka karenanya.” Ia menoleh pelan ke arah Alina, suaranya jatuh begitu pelan hanya bisa didengar berdua saja. “Lin… saya tidak pernah menyesal sudah berbuat baik buat kamu dan Ayahmu. Saya cuma kecewa… kenapa kepercayaan yang saya berikan sepenuh hati, harus kamu balas dengan cara seperti ini.”
Alina menggigit bibirnya kuat‑kuat menahan tangis, dadanya sesak bukan main. Ia tidak paham, kenapa orang yang selama ini terlihat begitu baik, bisa bicara seolah ia benar‑benar penjahat tak berperikemanusiaan.
Sementara di dalam hati Arka, rasa sakit itu berlipat ganda, ia berhasil membuat seluruh dunia memujinya setinggi langit, berhasil memposisikan diri sebagai korban paling mulia, tapi ia juga baru saja menusuk lagi hati satu‑satunya wanita yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri.
Saat mereka berlalu pergi, sorakan warga makin keras memuji Arka, makin membencikan Alina.
“Lihat kan? Sampai dihina begitu saja dia tetap sabar dan bicara baik!”
“Benar‑benar teladan! Namanya makin harum saja di sini!”
Arka hanya tersenyum rendah hati sambil berpamitan pulang. Begitu berbelok di tikungan sepi dan tak ada lagi yang melihat, punggungnya langsung bersandar lemas ke tembok. Tangan kanannya merogoh saku dalam, memegang erat alat sadap usang yang selalu dibawa ke mana‑mana. Air mata aslinya akhirnya jatuh juga, diam‑diam, tanpa saksi.
Mereka memujiku, mereka mengagungkan ku, mereka menganggap ku malaikat… batinnya menangis pilu sendirian.
Tapi hanya Tuhan dan aku yang tahu sebenarnya. Bahwa aku ini penjahat sesungguhnya. Bahwa semua pujian ini aku curi dengan kebohongan. Bahwa satu‑satunya hal yang paling tulus, paling nyata, dan tidak pernah aku bohongi seumur hidupku… hanyalah rasa cintaku yang gila dan terlambat itu padamu, Alina.
Bersambung....
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏