NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina: "Kenapa kamu kembali, Arka? Untuk menghancurkanku?"

Arka: "Aku datang untuk menghancurkanmu... tapi malah jatuh cinta."

Farhan: "Kalau begitu pergilah. Karena aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya."

CINTA DAN DENDAM

Sepuluh tahun lalu, Alina menjadi korban pelecehan oleh kekasihnya sendiri, Raka. Tanpa ia sadari, semua perhatian dan cinta yang diberikan Raka hanyalah topeng. Di balik senyumnya, tersimpan rencana keji untuk menghancurkan hidup Alina dan ayahnya demi membalaskan dendam keluarganya.

Tepat sepuluh hari menjelang pernikahan Alina dengan Farhan, Raka dengan identitas baru sebagai Arka. Di balik topeng pria yang tampak baik, berwibawa, dan penuh pesona, tersimpan dendam yang siap menghancurkan kebahagiaan Alina.

Namun, semakin dekat dengan Alina, hati Arka justru goyah. Dendam yang ia pelihara selama sepuluh tahun perlahan berubah menjadi cinta dan obsesi untuk memiliki wanita itu, meski harus merebutnya dari pelukan Farhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : KORBAN PALING DIKAGUMI

...BAB 18...

...KORBAN PALING DIKAGUMI...

Sore itu halaman pos ronda dipenuhi warga, suaranya riuh rendah membicarakan satu‑satunya topik hangat sepekan terakhir: kasus pemalsuan dokumen dan penggelapan dana yang menyeret nama Alina. Belum lama berselang surat resmi dari Dewan Etik menyebut izin advokatnya hampir pasti dicabut seumur hidup, dan berkasnya makin lengkap di meja penyidik. Saat langkah tenang Arka terlihat melintas membawa kantong belanjaan, seketika suara obrolan itu mereda serentak, lalu berubah penuh simpati begitu ia dipanggil mendekat.

“Arka, Nak, sini sebentar!” panggil Pak RT mengangguk ramah. “Kami semua baru saja bicara soal kamu. Sungguh kami kasihan sekali melihat nasibmu.”

Arka berhenti, menunduk pelan sambil menghela napas panjang yang dibuat‑buat terasa berat sekali. Di balik sikap lesu itu, jantungnya berdebar campur aduk. Dialah yang merakit seluruh bukti palsu, dialah yang melapor, dialah yang mengatur saksi‑saksi, semuanya berawal dari perintah mendiang ayahnya Haris dulu untuk menghancurkan usaha Pak Aditya. Namun setelah lima tahun penuh mengawasi, menyadap dan mengintai Alina dari kejauhan, dendam warisan ayahnya sudah lama mati berganti rasa bersalah yang menyiksa dan cinta yang begitu dalam hingga merusak akal sehatnya. Di sakunya terselip rapat alat penerima sinyal usang, saksi bisu setiap detik hidup wanita yang ia hancurkan sekaligus paling ia cintai di dunia ini.

“Pak, Bu… sebenarnya saya enggan bicara soal ini. Saya tidak mau menambah aib siapa‑siapa,” jawab Arka pelan, suaranya bergetar pas sekali di nada yang tepat, matanya berkaca‑kaca menahan air mata kepalsuan.

“Jangan begitu, Ka! Semua orang tahu kamu sudah berbuat apa saja buat keluarga itu,” potong Bu Siti antusias. “Kamu yang setiap hari bawa dan antar Pak Aditya ke dokter, kamu yang bayar sebagian obatnya diam‑diam, kamu yang urus ini itu saat persiapan nikahnya Alina sampai lupa istirahat. Tapi apa balasan yang kamu dapat? Namamu hampir ikut terseret kasus itu juga kan? Katanya kamu sempat diperiksa juga hanya karena terlalu dekat sama dia?”

Arka mengangguk perlahan sambil mengusap pelan sudut matanya.

“Benar Pak, Bu. Dua hari lalu saya dipanggil juga sebagai saksi. Petugas bilang, karena saya terlalu sering ada di sana, terlalu sering pegang berkas‑berkas bantuannya, ada kemungkinan saya juga terlibat. Saya cuma diam saja. Saya ikhlas saja kalau harus repot, karena dari hati saya sudah anggap Bu Kirana itu ibu sendiri, Pak Aditya ayah sendiri, dan Alina… saya anggap saudara sendiri.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah seolah menahan sakit hati yang luar biasa.

“Yang membuat saya hancur bukan karena saya diseret masalah. Tapi kenyataan bahwa… semua kebaikan, semua kepercayaan yang saya berikan sepenuh hati tanpa pamrih itu… ternyata cuma dimanfaatkan saja. Dia pakai nama baik saya, pakai kehadiran saya buat menutupi segala perbuatannya dari awal. Sampai‑sampai uang tabungan sedikit yang saya sisihkan buat biaya pengobatan sendiri pun sempat saya pinjamkan buat urusan kantor katanya, sampai sekarang belum dikembalikan juga.”

“Astaga! Hei, dengar itu semua?” seru salah satu ibu‑ibu terkejut. “Kamu sampai keluar uang tabungan juga, Ka?”

“Iya Bu. Tapi sudahlah… biarlah. Anggap saja itu sedekah. Yang paling menyakitkan cuma satu, saya kira dia wanita baik, saleh, menjaga diri mati‑matian demi membanggakan ayahnya yang jatuh sakit. Ternyata semua itu cuma topeng rapi saja. Saya yang bodoh terlalu mudah percaya.”

Seketika suasana meledak penuh emosi.

“Dasar tidak tahu diuntung!” geram seorang bapak‑bapak mengepal. “Sudah dibantu sekuat tenaga, malah dikhianati begitu saja!”

“Memang benar kata orang, orang yang kelihatannya paling suci itulah yang paling licik di belakang,” sahut yang lain mengangguk‑angguk. “Lihat deh Arka ini, rendah hati, tidak pernah menonjol‑nonjolkan kebaikan, mau menelan kerugian besar saja masih mau bicara baik. Dialah korban yang paling malang di antara kita semua.”

“Bukan cuma malang, Pak. Arka ini malaikat betul‑betul turun dari langit!” puji Bu Siti berapi‑api. “Di saat semua orang sudah menjauh, masih saja dia bicara baik. Jarang sekali sekarang ada manusia sebaik hati dia. Kalau saja semua orang berakhlak seperti dia, pasti dunia damai sentosa.”

Pujian itu makin mengalir deras dari mulut ke mulut. Yang tadinya hanya simpati, kini berubah menjadi kekaguman yang luar biasa. Nama Arka yang tadinya hanya dikenal pemuda pendiam, kini disebut‑sebut sebagai teladan kebaikan, sosok yang terlalu mulia untuk hidup di tengah dunia yang penuh khianat. Semakin ia terlihat merendah dan menahan sakit, semakin tinggi orang mengangkat derajatnya di hati publik.

Belum lama Bu Kirana berjalan lewat dari arah pasar mendengar semua itu. Wajahnya memerah bercampur malu, sedih dan bingung bercampur jadi satu. Arka segera menyongsong dengan langkah cepat, sikapnya tetap hormat dan lembut persis seperti sediakala.

“Bu Kirana… jangan dipikirkan berat‑berat ya. Saya sama sekali tidak berniat menyebar aib atau menuntut apa‑apa. Saya ngomong begitu cuma menjawab pertanyaan warga saja. Saya mengerti, Ibu pasti juga sangat terkejut dan kecewa berat,” ucapnya lembut sekali.

Bu Kirana menghela napas panjang, tangannya gemetar memegang anyaman tas belanjaannya.

“Maafkan kami, Arka… maafkan semuanya. Ibu benar‑benar malu sekali mendengarnya. Ibu sendiri sampai sekarang masih tidak percaya, tapi bukti‑bukti di sana semuanya mengarah ke dia. Ibu bingung harus berbuat apa, apalagi suami Ibu, Pak Aditya, kondisinya makin hari makin lemah, belum tahu apa‑apa soal semua ini. Takutnya kalau tahu, nyawanya jadi taruhannya.” Air mata wanita itu mulai menggenang. “Kamu sudah berbuat terlalu banyak buat kami, Arka. Terlalu banyak. Malah kami yang membalasnya dengan luka yang dalam buat kamu. Ibu benar‑benar tidak tahu harus membalas kebaikanmu bagaimana lagi.”

“Jangan begitu Bu. Cukup doa saja dari Ibu itu sudah lebih dari segalanya buat saya. Bagaimanapun juga, saya tetap sayang sama keluarga ini. Walau… apa yang Alina lakukan itu benar‑benar menghancurkan kepercayaan saya sampai ke dasar hati.”

Tepat di saat itu, Alina berjalan pelan dari ujung gang didampingi erat Farhan. Wajahnya pucat pasi, langkahnya tertatih, jelas baru saja mendengar setiap kata yang diucapkan. Farhan langsung melangkah maju sedikit melindungi bahu kekasihnya, tatapannya tajam mengarah ke Arka.

“Cukup sampai di situ saja omongan kalian semua. Belum ada keputusan tetap dari pengadilan, tapi kalian sudah menghakimi mati‑matian. Dan kamu, Arka…” suaranya dingin menusuk. “Kamu bicara seolah kamu paling rugi, paling terluka. Padahal sejak awal kemunculan mu, hal‑hal aneh mulai terjadi satu per satu.”

Arka tidak marah. Ia malah tersenyum getir penuh kepahitan buatan, lalu menatap Alina lekat‑lekat. Di balik tatapan itu, batinnya berteriak hebat memohon maaf, berteriak betapa ia sangat mencintainya, betapa lima tahun mengawasi dari gelap membuatnya tahu setiap helai nafas wanita itu, betapa ia benci dirinya sendiri harus melakukan semua ini. Tapi yang keluar dari mulutnya cuma kalimat halus yang makin membuatnya terlihat suci.

“Farhan… saya mengerti kamu marah, kamu membela orang yang kamu sayang. Saya tidak akan membalas omonganmu dengan marah. Saya cuma bisa bilang… biarlah waktu yang menjawab semuanya. Saya cuma manusia biasa yang kebetulan terlalu percaya, lalu terluka karenanya.” Ia menoleh pelan ke arah Alina, suaranya jatuh begitu pelan hanya bisa didengar berdua saja. “Lin… saya tidak pernah menyesal sudah berbuat baik buat kamu dan Ayahmu. Saya cuma kecewa… kenapa kepercayaan yang saya berikan sepenuh hati, harus kamu balas dengan cara seperti ini.”

Alina menggigit bibirnya kuat‑kuat menahan tangis, dadanya sesak bukan main. Ia tidak paham, kenapa orang yang selama ini terlihat begitu baik, bisa bicara seolah ia benar‑benar penjahat tak berperikemanusiaan.

Sementara di dalam hati Arka, rasa sakit itu berlipat ganda, ia berhasil membuat seluruh dunia memujinya setinggi langit, berhasil memposisikan diri sebagai korban paling mulia, tapi ia juga baru saja menusuk lagi hati satu‑satunya wanita yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri.

Saat mereka berlalu pergi, sorakan warga makin keras memuji Arka, makin membencikan Alina.

“Lihat kan? Sampai dihina begitu saja dia tetap sabar dan bicara baik!”

“Benar‑benar teladan! Namanya makin harum saja di sini!”

Arka hanya tersenyum rendah hati sambil berpamitan pulang. Begitu berbelok di tikungan sepi dan tak ada lagi yang melihat, punggungnya langsung bersandar lemas ke tembok. Tangan kanannya merogoh saku dalam, memegang erat alat sadap usang yang selalu dibawa ke mana‑mana. Air mata aslinya akhirnya jatuh juga, diam‑diam, tanpa saksi.

Mereka memujiku, mereka mengagungkan ku, mereka menganggap ku malaikat… batinnya menangis pilu sendirian.

Tapi hanya Tuhan dan aku yang tahu sebenarnya. Bahwa aku ini penjahat sesungguhnya. Bahwa semua pujian ini aku curi dengan kebohongan. Bahwa satu‑satunya hal yang paling tulus, paling nyata, dan tidak pernah aku bohongi seumur hidupku… hanyalah rasa cintaku yang gila dan terlambat itu padamu, Alina.

Bersambung....

1
Kam1la
cepet amat kak, alurnya. kesehatan Alina sendiri bagaimana? semoga cepat pulih
Kayla Rane: iya k, nnti bakal ada konflik lagi setelah Fikri nikah sama Dila. dan disini bakal serunya 🤭 ujian Alina tambah berat lagi
total 1 replies
Kam1la
Sari tidak punya perasaan
Kam1la
pasti ada jalan keluarnya
Kam1la
malah sakit yang kerepotan sendiri , mama Sari kemana ?
Kam1la
ya Allah, ada apa dengan Alina...semoga tidak serius lukanya
Kam1la
keren.... akhirnya Mama Sari sadar juga...
Kam1la
untung saja, Nisa ketahuan kalau tidak bakal sembunyi terus🤭
Kam1la
kalau Alina bekerja lagi dan kaya. pasti Sari gk ngejek
Kam1la
kalau ditinggal beneran, baru tahu rasa Farhan...🤭
Kam1la
jangan2 akal -akalan Sari...
Kam1la
alhamdulillah...sudah lahir anak cewek. siapa nama bayinya ....
Kam1la
nah kan, Farhan bakal kena akibatnya
Kam1la
Alina yg kuat ya....mending di rumah sendiri saja, cari pembantu....🤭
Kam1la
syukurlah...hamil juga. selamat ya Alina...😍
Kam1la
semoga saja dikemudian waktu Laila bisa terbuka sama Fikri, biar Alina bisa tenang.
Kam1la
Laila punya banyak rencana, tapi Alina punya seribu cara untuk menangkisnya
Kam1la
nah ...kan, Farhan mulai bercanda nya kelewatan...jangan-jangan dia juga berencana poligami
Kam1la
greget sama Laila.... Farhan kira - kira bagaimana ya hatinya? kan dia begitu mengagumi Laila
Kam1la
rencana apa yang disusun Laila?
Kam1la
aku takut, jika setiap hal Farhan ingat Laila, justru jatuh cinta padanya...😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!