Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Di Antara Lelah dan Pelukan
Sesampainya di kantor, suasana kembali berubah menjadi formal dan rapi seperti biasa.
Jifan berjalan di depan, sementara Diara mengikutinya dari belakang. Beberapa karyawan menyapa dengan sopan saat mereka melewati lobby.
“Selamat siang, Pak Jifan. Bu Diara.”
Jifan hanya mengangguk singkat, sedangkan Diara membalas dengan senyum kecil.
Di dalam ruangan kerja Jifan, suasana lebih tenang.
Jifan meletakkan map berisi beberapa dokumen di atas meja.
“Diara, tunggu sebentar di sini,” ucapnya sambil duduk.
“Ada beberapa berkas yang harus aku tanda tangan dulu.”
Diara mengangguk.
“Ya, Mas.”
Jifan mulai bekerja, menandatangani satu per satu dokumen dengan ekspresi fokus. Diara duduk di sofa kecil di sudut ruangan, menunggu dengan tenang sambil memainkan ponselnya.
Beberapa menit kemudian, semua urusan selesai.
“Sudah,” kata Jifan sambil menutup map.
“Pulang?”
“Ya,” jawab Jifan singkat. “Kita pulang.”
Di rumah, suasana sore terasa santai.
Jifan langsung masuk kamar untuk istirahat, sementara Diara duduk sebentar di ruang tengah sebelum akhirnya berdiri lagi.
“Aku masak ya,” ucapnya pelan.
Jifan yang sudah rebahan di kamar hanya menjawab singkat.
“Hmm.”
Beberapa saat kemudian, Diara menuju kamar Jifan untuk bertanya soal makan malam.
Ia mengetuk pintu pelan.
“Mas, makan malam mau makan apa?”
Tidak ada jawaban dari dalam.
Diara membuka pintu perlahan dan masuk.
Di dalam kamar, Jifan sedang rebahan di kasur sambil bermain ponsel.
Namun kali ini… ia tidak memakai baju atasan.
Hanya celana rumah, membuat suasana terlihat lebih santai dari biasanya.
Diara langsung berhenti di pintu.
Matanya langsung tertuju ke Jifan.
“…Mas.”
Jifan menoleh sekilas, lalu tersenyum santai.
“Kenapa?”
Diara langsung mengerutkan kening.
“Mas kok senang banget gak pakai baju?”
Jifan tetap santai, tidak langsung bangun.
“Lagi nyaman.”
Diara menghela napas.
“Ini di kamar, tapi tetap saja…”
Jifan menatapnya lalu tersenyum kecil.
“Kenapa? ganggu kamu?”
Diara langsung refleks.
“Bukan ganggu—”
Ia berhenti.
Jifan langsung tertawa pelan.
“Berarti ganggu.”
Diara langsung menatapnya tajam.
“…Mas Jifan.”
Jifan akhirnya duduk sedikit di kasur, menyandarkan tubuhnya.
“Kalau kamu tidak suka, aku pakai baju lagi.”
Diara terdiam sejenak.
“…ya pakai saja.”
Jifan mengangguk pelan, tapi ekspresinya tetap jahil.
“Tapi tadi kamu masuknya cepat banget.”
Diara langsung salah tingkah.
“Aku cuma mau tanya menu makan malam.”
Jifan tersenyum.
“Tanya menu atau lihat aku?”
Diara langsung membeku.
“…Mas!”
Jifan tertawa pelan, lalu mengambil kaus di samping kasur.
“Sudah, sudah. Aku pakai.”
Namun sebelum benar-benar mengenakan kausnya, ia menatap Diara sebentar.
“Masakan kamu nanti aku makan banyak.”
Diara masih berdiri di pintu.
“…iya.”
Tapi sebelum keluar, ia berhenti sebentar.
Lalu pelan berkata,
“Jangan godain aku terus.”
Jifan hanya tersenyum.
“Tidak bisa.”
Dan Diara langsung keluar kamar sambil menutup pintu cepat—meninggalkan Jifan yang masih tersenyum kecil di dalam, menikmati reaksinya yang semakin sulit disembunyikan.
🪻🪻
Dapur rumah itu masih dipenuhi aroma harum bawang putih yang baru saja digoreng. Wajan masih sedikit berasap, sementara Diara berdiri di depan kompor, memastikan semua hidangan tersaji rapi di meja makan.
Ayam goreng bawang putih tampak keemasan, renyah di luar, sementara sambal merah yang masih segar diletakkan di mangkuk kecil di sampingnya. Lalapan sederhana—timun, kemangi, dan selada—menjadi pelengkap yang membuat meja makan terlihat hangat dan “rumahan”.
Diara menatap hasil masakannya sejenak. Ada kepuasan kecil yang tak ia ucapkan. Ini bukan sekadar memasak, tapi juga bentuk perhatian yang ia berikan untuk Jifan.
Setelah memastikan semuanya siap, ia melap tangan dengan kain kecil dan melangkah ke arah ruang tengah.
“Mas Jifan… sudah siap makan malam,” panggil Diara dari arah dapur, suaranya terdengar lembut tapi cukup jelas.
Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat.
Jifan muncul dari arah kamar, tampak santai dengan kaus rumahnya. Ia melirik ke arah meja makan, lalu mengangkat alis sedikit, seperti menilai.
“Wah… ini yang kamu bikin sendiri?” tanya Jifan.
Diara mengangguk pelan. “Iya. Kan Mas yang minta ayam goreng bawang putih sama sambal.”
Jifan tersenyum kecil, lalu menarik kursi dan duduk. “Berarti aku harus serius makan ini. Kalau enak, kamu naik kelas.”
Diara langsung menoleh. “Naik kelas apanya?”
“Naik kelas jadi… koki andalan rumah ini,” jawab Jifan santai, sambil mengambil sendok.
Diara mendengus pelan, tapi sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyum. “Coba dulu saja. Jangan banyak komentar sebelum makan.”
Jifan tertawa kecil. “Siap, chef Diara.”
Ia mulai mencicipi ayam goreng itu. Suasana berubah hening sesaat, hanya suara kunyahan yang terdengar. Diara berdiri di dekat meja, sedikit tegang menunggu reaksi.
Jifan mengangguk pelan, lalu menatap Diara.
“Ini enak,” ucapnya singkat.
Diara langsung menghela napas kecil, seperti beban yang jatuh dari bahunya. “Serius?”
“Serius,” jawab Jifan. “Tapi sambalnya nanti tambahin sedikit lagi, biar lebih ‘nendang’.”
Diara menggeleng pelan. “Masih aja bisa ngatur.”
Jifan tersenyum miring. “Kan aku yang makan.”
Diara akhirnya duduk di seberang Jifan. Malam itu, meja makan sederhana terasa lebih hangat dari biasanya—bukan hanya karena makanan, tapi karena percakapan yang pelan-pelan membuat jarak di antara mereka terasa sedikit lebih dekat.
Setelah makan malam selesai, suasana rumah mulai mereda. Piring-piring sudah dibereskan, sisa aroma bawang putih masih samar di dapur, bercampur dengan udara malam yang lebih tenang.
Diara berdiri sebentar di lorong, tangannya memegang pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena aktivitas hari ini, tapi juga karena ritme hari yang panjang tanpa jeda.
Ia menghela napas pelan.
“Capek banget…” gumamnya lirih.
Ia berniat masuk ke kamar dan langsung beristirahat. Namun sebelum benar-benar melangkah, matanya menangkap Jifan yang berjalan melewati lorong, lalu masuk ke kamar di sisi lain—kamar miliknya sendiri.
Langkah itu berhenti sejenak di depan pintu.
Diara menatap pintu kamar Jifan yang sudah tertutup.
Wajahnya berubah sedikit, alisnya mengerut, lalu bibirnya maju pelan.
“Katanya cinta…” gumamnya pelan, hampir seperti protes untuk dirinya sendiri. “Tapi tidak mau tidur bareng sama aku.”
Nada suaranya pelan, tapi jelas mengandung kekesalan kecil yang tidak ia sembunyikan.
Ia berdiri beberapa detik, lalu menarik napas pendek. Emosinya yang tidak sepenuhnya stabil hari itu akhirnya tumpah dalam satu tindakan impulsif.
BRAK.
Pintu kamarnya ditutup dengan keras.
Suara itu menggema singkat di lorong.
Dari kamar sebelah, terdengar suara langkah terhenti.
Jifan yang baru saja masuk ke kamarnya tampak sedikit tersentak. Ia menoleh ke arah pintu Diara yang sudah tertutup.
“…kenapa dia?” gumam Jifan pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Ia berdiri diam sebentar, lalu mengusap tengkuknya, seperti mencoba memahami situasi tanpa langsung bereaksi berlebihan.
Di dalam kamar, Diara sudah bersandar di balik pintu. Dadanya naik turun pelan. Ia tahu tindakannya tadi berlebihan, tapi rasa kesal dan lelah bercampur jadi satu, membuatnya sulit mengontrol diri.
Sementara itu, di luar, lorong kembali sunyi.
Hanya menyisakan dua kamar yang tertutup—dan dua orang yang sama-sama memilih diam, meski dengan alasan yang berbeda.
Di dalam kamar, Diara sudah berbaring di kasur. Lampu redup menyala, menyorot langit-langit yang sunyi. Ia memunggungi pintu, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
“Udah lah… tidur aja,” gumamnya pelan, seolah meyakinkan diri sendiri.
Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi, memejamkan mata, meski pikirannya masih terasa ramai. Adegan Jifan masuk kamar tadi terus berputar di kepalanya, menambah sedikit rasa kesal yang belum reda.
Beberapa menit kemudian—
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu terdengar pelan tapi jelas.
Diara membuka mata perlahan. Ia menatap pintu, ragu sesaat, lalu bangkit dengan malas. Wajahnya sudah jelas menunjukkan mood yang belum membaik.
Ia membuka pintu.
Jifan berdiri di sana, tangan santai di sisi tubuh, ekspresinya tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
“Apa lagi?” tanya Diara langsung, nada suaranya ketus, alisnya terangkat sedikit. “Katanya mau tidur sendiri.”
Jifan tidak langsung menjawab. Ia malah menatap Diara sebentar, lalu menghela napas kecil.
“Aku nggak jadi tidur di kamar aku,” katanya santai.
Diara menyipitkan mata. “Hah? Tadi itu apa?”
Jifan mengangkat bahu kecil. “Aku mau tidur di sini.”
Diara langsung diam sesaat, lalu menatapnya tajam.
“Serius?”
“Serius,” jawab Jifan singkat.
Diara masih berdiri di depan pintu, tidak bergerak. “Kenapa tiba-tiba?”
Jifan menatapnya lebih tenang kali ini, suaranya sedikit lebih rendah.
“Kalau aku tidur sendiri, aku nggak bisa tidur.”
Diara mendengus pelan. “Alasan.”
Jifan tidak membantah. Ia justru melangkah sedikit lebih dekat ke pintu, suaranya tetap datar tapi jujur.
“Aku butuh kamu. Harus ada kamu di dekatku. Aku harus bisa… ngerasa kamu. Bahkan cuma dari aroma kamu aja.”
Kalimat itu membuat Diara terdiam.
Wajahnya yang tadi ketus perlahan berubah, meski ia berusaha tetap terlihat tidak peduli.
“Aneh banget,” gumamnya pelan, tapi nadanya sudah tidak setajam tadi.
Jifan menatapnya tanpa berubah ekspresi. “Kalau kamu nggak mau, ya aku balik.”
Diara menghela napas panjang, lalu menyingkir sedikit dari pintu, membuka ruang.
“…masuk aja.”
Jifan tidak langsung bergerak, hanya menatapnya sekilas seolah memastikan.
Diara menambahkan cepat, masih dengan nada pura-pura kesal. “Tapi jangan ganggu aku. Aku mau tidur.”
Jifan tersenyum kecil, hampir tidak terlihat.
“Siap.”
Ia melangkah masuk ke kamar Diara, sementara Diara menutup pintu perlahan di belakang mereka—lebih pelan dari sebelumnya.
Kamar itu sudah gelap, hanya lampu tidur kecil di sudut yang masih menyala dengan cahaya redup kekuningan. Diara sudah hampir terlelap sejak tadi, tubuhnya tenggelam di kasur dengan selimut yang membungkus setengah badannya.
Namun rencananya untuk tidur cepat gagal.
Jifan yang berbaring di sebelahnya justru terlihat semakin aktif. Ia tidak benar-benar tidur. Sesekali ia mendekat, lalu menyandarkan kepalanya di dekat leher Diara, seolah mencari posisi yang paling nyaman untuknya.
Diara menghela napas pelan.
“Mas…” gumamnya lemah, mata masih terpejam. “Aku mau tidur…”
Jifan tidak menjawab. Beberapa detik kemudian, ia malah sedikit menggeser posisi, lalu memainkan ujung rambut Diara dengan jarinya.
Diara langsung membuka mata sedikit, lalu menatap ke samping dengan tatapan lelah.
“Mas Jifan…” nadanya mulai naik satu tingkat, tapi tetap tertahan karena kantuk. “Jangan gangguin…”
Jifan masih santai. “Aku nggak ganggu.”
“Ini ganggu,” balas Diara pelan, hampir seperti protes yang kehilangan tenaga.
Ia menarik napas panjang, lalu mencoba kembali memejamkan mata. Tapi Jifan kembali mendekat, membuat Diara akhirnya benar-benar geram.
“Mas…” kali ini suaranya lebih tegas, meski tetap pelan. “Aku capek banget. Aku mau tidur.”
Jifan berhenti sejenak. Ruangan kembali sunyi.
Namun beberapa detik kemudian ia bersuara, lebih pelan dari sebelumnya.
“Sayang aku mau kamu.” ucap Jifan sambil mengendus leher Diara.
Diara terdiam.
Diara membuka mata perlahan. Wajahnya terlihat lelah sekali, bukan marah, hanya benar-benar kehabisan tenaga.
“Mas… aku bukan nggak mau,” katanya pelan, suaranya melembut. “Tapi aku sudah ngantuk banget. Badan aku capek. Aku takut malah nggak bisa istirahat kalau dipaksa bangun terus.”
Ada jeda singkat.
Jifan menatapnya, lalu ekspresinya berubah sedikit kecewa. Ia baru sadar Diara benar-benar sudah berada di batas lelahnya.
Beberapa detik kemudian ia menghela napas kecil.
“Oke,” jawabnya akhirnya.
Ia bergeser sedikit menjauh, memberi ruang untuk Diara bernafas lebih lega.
Diara menatapnya sekilas, masih dengan mata setengah terpejam.
“Maaf ya, kita lakukan besok pagi aja ya kan besok libur” gumamnya pelan.
Jifan menggangguk kecil. “Ya udah janji yaa.”
Ruangan kembali hening, tapi kali ini bukan tegang—lebih tenang.
Namun beberapa saat kemudian, Jifan kembali bergerak. Kali ini lebih pelan, lebih hati-hati. Ia menarik selimut sedikit, lalu meraih Diara dengan lembut.
“Aku nggak ganggu,” katanya singkat. “Cuma mau mau peluk kamu.”
Diara tidak menjawab. Tubuhnya terlalu lelah untuk protes lebih jauh.
Ia hanya menuruti, membiarkan dirinya ditarik perlahan ke dalam pelukan yang hangat.
Jifan menatapnya sebentar, lalu berbisik pelan.
“Tidur sayang.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Diara benar-benar bisa memejamkan mata tanpa terganggu lagi—dalam diam yang akhirnya terasa cukup aman untuk mereka berdua.