NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Saling Diam

"Aluna, kamu tidak salah dengar. Adrian memang sudah keluar dari Cendekia. Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri; dia itu pria berbakat yang akan tetap sukses di mana pun dia berada."

Ucapan Pak Lukman justru membuat Aluna didera rasa bersalah yang teramat sangat. Ia tahu Adrian berakhir dalam situasi sulit ini murni karena imbas dari urusan pribadinya.

Sepanjang hari itu, pikiran Aluna terus terganggu oleh masalah ini. Ia menjalani jam kerjanya dengan tatapan kosong seperti robot yang tak bernyawa. Setelah jam pulang kantor tiba, ia melangkah menuruni tangga gedung dengan kondisi bingung dan tertekan.

Tiba-tiba, ujung sepatunya tersandung kerikil kecil. Aluna kehilangan keseimbangan, langkahnya goyah, dan tubuhnya terhuyung jatuh ke depan.

Dalam kondisi itu, reaksi naluriah manusia adalah berteriak. Namun, pekikan itu bahkan belum sempat lolos dari tenggorokannya ketika sepasang tangan yang besar dan hangat langsung menangkap tubuhnya dengan erat. Dada bidang yang keras seketika menahan tubuh Aluna.

Aroma tubuh yang sangat familier itu langsung menyentak kesadaran Aluna. Siapa lagi jika bukan Gavin?

"Kamu benar-benar begitu terpukul karena berpisah dengannya? Lihat dirimu sekarang, sangat menjijikkan."

Aluna yang sudah menahan sesak dan amarah sepanjang hari akhirnya meledak mendengar sindiran Gavin. Dengan keras kepala, ia mendongakkan kepala dan menatap balik pria itu dengan angkuh. "Ya, aku memang tidak rela dia pergi. Memangnya kenapa?!"

"Aluna!" Gavin menggertakkan giginya rapat-rapat. "Jangan memancing amarahku."

Hati Aluna sudah terlanjur hancur. Tanpa menahan diri lagi, ia langsung membalas dengan konfrontatif. "Kamu sudah keterlaluan, Gavin! Hak apa yang kamu miliki sampai menggunakan kekuasaanmu hanya untuk memecat Adrian secara sepihak?!"

"Karena aku adalah ayah dari anak yang ada di dalam kandunganmu!"

Aluna tertawa dengan getir. "Kalau aku bisa memilih, aku justru ingin anak ini lenyap sekarang juga!"

Krek...

Suara retakan sendi jari Gavin yang mengepal terdengar sangat jelas di keheningan sore itu, menciptakan atmosfer yang mencekam.

Wajah Gavin menggelap seketika, dan sepasang matanya menyipit berbahaya.

"Aluna, jangan pernah lupa. Nyawa dan masa depan seluruh keluargamu saat ini berada di dalam genggaman tanganku."

Aluna mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Gavin yang mendingin tanpa kehangatan sedikit pun. Rasa takut perlahan merayapi hatinya, membuat jantungnya berdegup kencang. Namun, ego mereka membuat keduanya tetap bertahan dalam posisi saling mengunci pandangan, tidak ada satu pun yang mau mengalah.

Satu hari, dua hari, tiga hari...

Selama lima hari berturut-turut, Gavin mendiamkan Aluna secara total dan tidak memunculkan batang hidungnya.

Kondisi tersebut langsung dimanfaatkan oleh para pelayan di mansion yang bermuka dua.

Melihat Aluna yang sedang diabaikan oleh Tuan Muda mereka, mereka mulai bersikap acuh tak acuh dan tidak lagi menganggap Aluna serius. Tidak hanya harus menerima tatapan sinis dan komentar sarkastik setiap hari, Aluna bahkan mulai dibatasi dalam hal makanan.

Malam ini, tidak ada satu pun pelayan yang membantunya mengantarkan makanan ke kamar. Aluna yang sudah sangat kelaparan dan tidak mampu menahan rasa perih di perutnya terpaksa menyelinap turun ke dapur sendirian untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.

Setelah menggeledah isi lemari es, ia akhirnya menemukan sepotong kecil kue sisa.

Baru saja ia hendak mengambil kue tersebut untuk memasukanya ke dalam mulut, sebuah tangan mendadak menepis lengannya dengan kasar hingga kue itu jatuh.

Aluna berbalik dengan amarah yang memuncak. Di hadapannya, berdiri Sisi dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai. Pelayan itu sengaja mengenakan gaun putih yang modelnya sangat mirip dengan pakaian milik Aluna.

"Nona Aluna, kenapa tidak bilang dari tadi kalau Anda sedang ingin makan sesuatu? Saya bisa menyuruh pekerja lain untuk menyiapkannya. Mengapa Anda harus merendahkan diri dengan mengambil makanan sisa orang lain?" Sisi melingkarkan lengannya di lengan Aluna sembari memamerkan senyum merendahkan, bertingkah seolah dirinya adalah nyonya rumah yang sah.

Menghadapi intimidasi murahan tersebut, Aluna hanya menatap Sisi dengan pandangan datar lalu berucap perlahan, "Jika kamu memang merasa seberkuasa itu di rumah ini, suruh Gavin untuk melepaskan dan mengusirku dari sini sekarang juga."

Sisi seketika tertegun, matanya membelalak lebar dan lidahnya mendadak terasa kelu. Ia tahu betul bahwa obsesi Gavin terhadap Aluna adalah hal terlarang yang tidak akan pernah berani diusik oleh siapa pun di mansion ini, kecuali jika Gavin sendiri yang memutuskan untuk menyudahinya.

Melihat Sisi yang terdiam seribu bahasa, Aluna menyunggingkan tawa sinis. Tanpa membuang kata lagi, ia melangkah melewati Sisi begitu saja dan berjalan kembali ke lantai atas menuju kamarnya.

"Perempuan sialan!" desis Sisi menahan geram setelah ditinggalkan sendirian di dapur. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan penuh kekesalan.

Setibanya di dalam kamar, Aluna merebahkan diri di atas ranjang. Ia mencoba memejamkan mata dan memaksa dirinya untuk tidur demi melupakan rasa perih di perutnya akibat kelaparan.

Tepat pada saat itu, ponselnya bergetar. Layar menampilkan panggilan masuk dari Rendra.

Melihat nama kakaknya tertera di sana, Aluna langsung duduk tegak dengan secercah harapan. Ia mengira sang kakak akhirnya datang untuk menjemputnya keluar dari neraka ini. Dengan suara yang antusias, ia langsung bertanya, "Kak Rendra? Kapan Kakak akan datang menjemputku pulang?"

Namun, tidak ada jawaban instan dari seberang telepon. Keheningan yang panjang dari Rendra perlahan-lahan mengikis kegembiraan Aluna, menggantinya dengan rasa cemas.

Setelah beberapa saat berlalu, suara Rendra terdengar dari gagang telepon, terdengar sangat rendah dan serak. "Aluna... apa kamu baru saja melakukan sesuatu yang membuat Gavin marah besar?"

"Apa maksud Kakak?"

"Kemarin pagi, Gavin tiba-tiba menarik kembali seluruh investasi dan suntikan modal dari perusahaan Ayah. Padahal sebelumnya semua proses pemulihan bisnis kita sudah berjalan dengan sangat lancar."

Mendengar rentetan kalimat itu, Aluna langsung paham. Ini adalah balas dendam Gavin karena dirinya telah membela Adrian tempo hari.

"Aluna, Kakak tahu kami sudah egois dan menyusahkanmu. Tapi situasi perusahaan sekarang..."

"Sudah, Kak. Aku mengerti maksudmu,"

potong Aluna lirih.

Sebelum Rendra menyelesaikan kalimatnya untuk meminta Aluna mengalah pada Gavin, Aluna sudah menangkap arah pembicaraan dengan jelas. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia menyetujui situasi tersebut dengan pasrah, lalu segera memutuskan sambungan telepon dengan hati yang patah semangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!