NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24: Badai Hujan dan Darah

Senin subuh pukul dua lewat empat puluh lima menit.

Langit di atas pesisir Marunda tertutup oleh awan hitam yang pekat, menumpahkan hujan deras yang langsung mengubah jalur alternatif timur Kampung Bahari menjadi kubangan lumpur yang licin.

Gemuruh petir sesekali menyambar, memecah kesunyian rawa sepi dan menerangi siluet belasan truk fuso bermuatan semen curah yang berbaris memanjang dengan lampu hazard yang berkedip-kedip.

Di dalam kabin truk paling depan, Doni Salman duduk tenang.

Lampu dasbor yang temaram memantulkan gurat wajah tirusnya yang sedingin es.

Di sebelahnya, Joko mencengkeram kemudi dengan tangan yang basah oleh keringat dingin.

Di saku jaket Joko, alat perekam digital berisi suara konspirasi Andreas dan Suryo bergetar pelan akibat deru mesin diesel truk yang menderu rendah.

"Pak Doni, dari pantauan anak-anak di depan, kelompok si Jago sudah menutup jembatan kayu di ujung rawa,"

bisik Joko, suaranya gemetar menembus suara gemercik hujan yang menghantam atap kabin.

"Ada sekitar tiga puluh orang, pak."

"Semuanya bawa balok kayu, cerurit, dan botol bom molotov."

"Mereka cuma nunggu kita masuk lebih dalam ke area sepi ini."

Doni Salman tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia meraba saku kemeja batiknya, mengeluarkan ponsel monokrom lamanya, lalu menekan tombol panggil cepat nomor satu.

Sambungan langsung terhubung pada nada dering pertama.

"Pasukan Anda sudah di posisi, Pak Wahyu?"

tanya Doni, suaranya begitu stabil, mengalir datar tanpa ada sedikit pun riak ketakutan menghadapi kepungan massa di depan.

"Dua kompi personel Brimob dan Satreskrim sudah menutup jalur keluar dan masuk rawa, Pak Doni,"

suara Kombes Pol Wahyu terdengar tegas di seberang telepon, diiringi suara desis radio HT polisi.

"Begitu mereka melakukan kontak fisik atau melakukan perusakan pertama pada armada Anda, kami akan langsung melakukan penyergapan massal atas delapan pasal berlapis:

"premanisme, pemerasan, kepemilikan senjata tajam, hingga konspirasi sabotase proyek vital negara."

"Terima kasih, Pak Kombes."

"Mari kita mulai pertunjukannya," kata Doni sambil mematikan ponselnya.

Doni menoleh ke arah Joko yang masih tegang.

"Joko, perintahkan semua sopir untuk maju perlahan."

"Begitu truk depan dihadang, langsung kunci semua pintu kabin dari dalam."

"Jangan ada satu pun sopir yang turun atau membalas pukulan mereka."

"Biarkan kamera perekam yang sudah kita pasang di bemper depan mencatat setiap kerusakan dengan jelas."

Truk fuso raksasa itu kembali bergerak, rodanya yang besar membelah lumpur hitam rawa sepi.

Sesuai perkiraan, begitu truk depan melewati tikungan tajam yang diapit pohon bakau tua, puluhan pria berjaket hitam dengan ikat kepala kain mendadak muncul dari balik semak-semak ilalang.

Mereka berteriak-teriak beringas, mengacungkan cerurit yang berkilat memantulkan cahaya lampu tembak truk.

Suryo alias si Jago melangkah paling depan.

Dengan wajah yang dipenuhi seringai kejam, ia menghantamkan sebatang pipa besi ke arah kaca depan truk fuso tempat Doni berada.

PRANK!

Kaca tebal itu retak seribu, menyisakan lubang kecil di bagian sudut.

"Turun kalian semua babi-babi logistik!"

"Turun atau kami bakar truk ini hidup-hidup!"

teriak Suryo beringas, anak buahnya mulai memukuli badan bak truk dengan balok kayu, menciptakan suara dentuman besi yang memekakkan telinga di tengah badai hujan.

Joko refleks menundukkan kepalanya, wajahnya pucat pasi.

Namun, Doni Salman tetap duduk tegap di kursinya.

Sepasang mata sumur tuanya menatap lurus ke arah wajah Suryo di balik kaca yang retak dengan pandangan yang begitu dingin, kosong, seolah-olah ia sedang melihat sekelompok orang mati yang sedang menari. Doni melirik jam tangannya.

Pukul tiga lewat lima menit subuh.

DOR! DOR!

Dua tembakan peringatan ke udara mendadak membelah gemuruh petir dan hujan deras.

Dari balik kegelapan rawa sepi dan rimbunnya ilalang, ratusan personel polisi bersenjata laras panjang dengan seragam taktis lengkap merangsek maju dengan kecepatan penuh.

Lampu sorot berkekuatan tinggi dari mobil-mobil jip polisi seketika dinyalakan, mengubah rawa yang gelap gulita menjadi seterang siang hari.

"POLISI! JANGAN BERGERAK! JATUHKAN SENJATA KALIAN SEKARANG JUGA ATAU KAMI TEMBAK DI TEMPAT!" suara peringatan dari pengeras suara polisi menggema mematikan.

Kelompok preman bayaran wilayah barat itu seketika panik gila.

Seringai beringas di wajah mereka lenyap dalam sekejap, digantikan oleh ketakutan yang masif.

Beberapa orang mencoba melarikan diri dengan melompat ke dalam rawa-rawa lumpur yang dalam, namun mereka langsung dikepung oleh barikade polisi yang sudah berjaga di setiap sudut perimeter.

Suryo yang mencoba berbalik arah langsung dijatuhkan ke atas lumpur hidup oleh tiga orang petugas Resmob.

Wajahnya ditekan ke dalam tanah basah, tangannya diborgol ke belakang dengan kasar.

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, seluruh kelompok preman yang ditakuti di kawasan Jakarta Barat itu berhasil dilumpuhkan total tanpa sempat memberikan perlawanan yang berarti.

Doni Salman membuka pintu kabin truknya, lalu melangkah turun dengan tenang.

Sepatu bot karetnya menapak di atas tanah lumpur yang bercampur dengan ceceran darah tipis dari beberapa preman yang sempat melawan petugas.

Di bawah guyuran air hujan subuh, kemeja batik bekasnya basah kuyup, namun pembawaan Doni tetap memancarkan otoritas seorang titan yang tidak tersentuh.

Kombes Pol Wahyu berjalan mendekat, memegang sebuah kantong plastik transparan berisi cerurit dan sisa botol bom molotov yang berhasil disita.

"Semuanya bersih, Pak Doni."

"Suryo dan seluruh anak buahnya akan langsung kami bawa ke markas Polres Jakarta Utara untuk pemeriksaan intensif."

Doni mengangguk formal, lalu memberikan isyarat kepada Joko untuk mendekat.

Joko menyerahkan alat perekam digital yang sejak tadi dipegangnya kepada Kombes Wahyu.

"Di dalam alat perekam ini, Pak Kombes, terdapat bukti rekaman suara transaksi aliran dana sebesar lima puluh juta rupiah dari Andreas,"

"Asisten Manajer Senior Kantor Pusat PT Santoso Karya, kepada Suryo untuk mendanai aksi sabotase berdarah ini,"

kata Doni, suaranya terdengar sangat jernih dan tajam di bawah rintik hujan.

"Saya rasa, bukti audio ini lebih dari cukup untuk membuat pihak kepolisian menerbitkan surat panggilan paksa dan penetapan status tersangka kepada Andreas besok pagi atas kasus konspirasi kriminal yang membahayakan proyek strategis nasional."

Kombes Wahyu menerima alat perekam itu dengan mata berbinar.

Menangkap seorang eksekutif muda dari keluarga konglomerat seperti Santoso dengan bukti yang se-valid ini adalah tiket emas untuk kenaikan kariernya menuju pangkat jenderal di masa depan.

"Informasi dan persiapan Anda sangat sempurna, Pak Doni."

"Kasus ini akan langsung menjadi prioritas utama kami pagi ini."

Andreas tidak akan bisa lolos dari jeratan hukum ini."

Setelah pihak kepolisian mengosongkan area rawa, Doni Salman kembali berdiri di depan barisan truk fusonya yang kini siap melanjutkan perjalanan menuju lokasi proyek Marunda.

Waktu baru menunjukkan pukul empat subuh; keterlambatan pasokan material sama sekali tidak menyentuh batas toleransi empat puluh delapan jam yang tertera dalam kontraknya. Zero-delay tetap terjaga mutlak.

Doni menatap ke arah jalur timur yang kini bersih total dari parasit pelabuhan.

Di dalam lubuk batinnya, seulas senyuman kemenangan yang sangat kejam terukir dengan sempurna.

Andreas mengira telah memasang jaring maut untuk menghancurkan kariernya di akhir pekan kemarin.

Ular muda itu sama sekali tidak pernah menduga bahwa seluruh modal lima puluh juta rupiah yang ia bayarkan kepada Suryo, justru menjadi tali gantungan yang dibeli menggunakan uangnya sendiri untuk menyeret dirinya ke dalam sel tahanan.

"Perangkapmu sudah patah, Andreas,"

bisik Doni Salman pada keheningan subuh yang dingin, matanya berkilat tajam membelah kegelapan malam yang mulai memudar.

"Besok pagi, saat matahari terbit di atas Menara Thamrin, giliran aku yang akan melangkah masuk ke ruang rapat direksi untuk menuntut hak kepemilikan sahamku atas kehancuran reputasimu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!