Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: VONIS DI LORONG DINGIN
Aroma menyengat cairan antiseptik langsung menyambut indra penciuman begitu pintu ganda ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) terbuka lebar. Suara roda brankar yang didorong tergesa-gesa bergesekan dengan lantai keramik, berpadu dengan sahutan suara monitor penanda detak jantung yang monoton. Di tengah hiruk-pikuk malam badai itu, Dafa Mahardika berdiri tegak di sudut ruangan dengan pakaian yang masih setengah basah.
Setelan jas mahalnya kini sudah ia lepas, menyisakan kemeja putih yang mencetak samar lekuk tubuh tegapnya karena beberapa bagian masih lembap oleh air hujan. Beberapa perawat sempat mencuri pandang ke arahnya, terpesona oleh karisma luar biasa yang memancar dari pria itu, meski kondisinya saat ini jauh dari kata rapi. Namun, Dafa sama sekali tidak peduli. Sepasang mata elangnya terus tertuju pada tirai hijau nomor tiga, tempat di mana Nazya sedang diperiksa oleh dokter spesialis ortopedi.
Di samping Dafa, Pak Joko duduk di kursi besi panjang dengan wajah pucat dan tangan yang masih gemetar. "Pak Dafa... saya benar-benar minta maaf. Saya tidak melihat motor itu karena lampu jalannya mati," bisik Pak Joko dengan suara parau penuh penyesalan.
Dafa menoleh sekilas, lalu menepuk bahu sopir pribadinya itu dengan pelan. "Tenang, Pak Joko. Ini murni kecelakaan karena cuaca buruk. Yang terpenting sekarang adalah memastikan kondisi kedua korban. Semua biaya dan urusan administrasi sudah saya selesaikan dengan kartu saya. Anda tidak perlu memikirkan apa pun."
Mendengar ketegasan bosnya, Pak Joko hanya bisa mengangguk pasrah sambil merapalkan doa. Tidak lama kemudian, seorang perawat keluar dari bilik tirai nomor empat, tempat Pak Handoko dirawat. Perawat itu mengabarkan bahwa Pak Handoko hanya mengalami luka lecet di siku dan memar ringan di lutut, tidak ada cedera serius yang perlu dikhawatirkan.
Dafa bernapas lega mendengar kabar itu. Namun, rasa leganya menguap seketika saat melihat tirai nomor tiga perlahan tersingkap. Seorang dokter pria paruh baya melangkah keluar sambil memegangi sebuah map jepit berisi lembar hasil rontgen hitam putih.
"Dengan keluarga dari saudari Nazya?" tanya dokter itu sambil membetulkan letak kacamata minusnya.
Dafa langsung melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Sifat dominannya secara otomatis mengambil alih situasi. "Saya yang bertanggung jawab penuh atas pasien, Dok. Bagaimana kondisinya?"
Dokter itu menatap Dafa sesaat, menilai penampilan pria di hadapannya yang jelas bukan orang sembarangan, sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Benturan pada sepeda motor tampaknya menghantam tepat di sisi kanan pasien. Hasil rontgen menunjukkan adanya fraktur kompleks atau patah tulang yang cukup serius pada bagian tibia dan fibula kaki kanannya. Selain itu, ada trauma ligamen yang cukup parah di sekitar lutut."
Dada Dafa berdenyut kencang mendengarnya. "Apa artinya itu, Dok? Apakah dia bisa sembuh?"
"Bisa, tentu saja. Kami akan segera melakukan tindakan operasi untuk memasang pen demi menyambung tulangnya kembali," jawab dokter itu dengan nada menenangkan. "Namun, karena kerusakan ligamennya cukup luas, proses pemulihannya akan memakan waktu yang lama. Pasien dipastikan tidak akan bisa berjalan atau menumpu beban pada kaki kanannya selama minimal satu tahun ke depan. Untuk sementara waktu, dia harus bergantung penuh pada kursi roda."
Cacat sementara. Kata-kata itu terngiang berulang kali di dalam kepala Dafa, memicu rasa bersalah yang semakin meremas hatinya. Wanita muda seindah itu, harus kehilangan kebebasan bergeraknya selama satu tahun penuh akibat kelalaian mobilnya.
"Apakah saya boleh melihatnya sekarang?" tanya Dafa, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
"Silakan, Pak. Pasien sudah diberi obat pereda nyeri, jadi kondisinya sudah lebih tenang, meskipun tampaknya dia masih sangat syok," ujar dokter itu sebelum berpamitan untuk mempersiapkan jadwal operasi.
Dafa menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keteguhan hatinya sebelum perlahan menyibak tirai hijau tersebut. Suasana di dalam bilik terasa begitu sunyi. Nazya berbaring di atas brankar rumah sakit dengan pakaian yang sudah diganti dengan gaun pasien berwarna hijau muda. Kaki kanannya sudah dibalut perban tebal dan ditopang oleh penyangga khusus.
Wajah Nazya tampak luar biasa pucat di bawah pendar lampu neon IGD. Rambut hitam panjangnya yang setengah kering terurai berantakan di atas bantal. Ketika mendengar desiran kain tirai yang terbuka, sepasang mata jernih milik Nazya bergerak perlahan, lalu terkunci pada sosok Dafa yang melangkah masuk.
Detik itu juga, Dafa bisa melihat ketakutan yang kembali merayap di bola mata wanita itu. Nazya tidak menangis histeris. Dia hanya meremas pinggiran selimut rumah sakit dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya seolah mengemis agar Dafa tidak melangkah lebih dekat lagi.
"Nazya..." Dafa memanggil namanya untuk pertama kali. Suara bariton Dafa yang biasanya terdengar dingin di ruang rapat, kini mengalun sangat lembut dan hati-hati, takut jika polusi suaranya akan memecahkan kerapuhan wanita di depannya.
Nazya tidak menyahut. Bibir pucatnya terkatung rapat. Di dalam benaknya, kehadiran pria bertubuh tegap dan berwajah tegas seperti Dafa justru membangkitkan memori mengerikan. Mantan suaminya dulu juga selalu memasang wajah tegas dan dingin seperti itu sebelum melayangkan makian atau pukulan. Nazya merasa sangat tidak berdaya; fisiknya yang lumpuh saat ini membuatnya merasa seperti mangsa yang siap diterkam kapan saja.
Dafa yang cerdas segera menangkap bahasa tubuh itu. Ia memilih untuk berhenti melangkah tepat dua meter di samping brankar, enggan melewati batas aman yang membuat Nazya merasa terancam.
"Maafkan saya," ucap Dafa tulus, sepasang mata elangnya menatap Nazya dengan binar penyesalan yang mendalam. "Mobil saya yang membuatmu seperti ini. Tapi saya berjanji, saya akan bertanggung jawab penuh atas seluruh hidupmu dan pengobatanmu sampai kamu benar-benar sembuh total. Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun."
Nazya perlahan memalingkan wajahnya ke arah dinding, menghindari tatapan Dafa. "Saya... saya hanya ingin pulang bersama ayah saya," bisik Nazya. Suaranya terdengar sangat parau, kecil, dan bergetar hebat. Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya, dan bagi Dafa, suara itu terdengar bagai melodi sedih yang menyayat hati.
"Kamu harus dioperasi dulu, Nazya. Kakimu..." Dafa menggantung kalimatnya, tidak tega melanjutkan kata 'patah' di depan wanita itu. "Setelah operasimu selesai dan kondisimu stabil, saya sendiri yang akan mengantarmu pulang."
Sebelum Nazya sempat merespons, tirai bilik kembali terbuka kasar. Pak Handoko melangkah masuk dengan langkah yang sedikit pincang, didampingi oleh seorang perawat. Begitu melihat ayahnya, pertahanan Nazya runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya.
"Ayah..." tangis Nazya pecah, menyuarakan seluruh ketakutan dan rasa sakit yang ia pendam sendiri.
Pak Handoko langsung menghampiri brankar, memeluk erat tubuh putrinya yang gemetar. "Nazya, anakku... maafkan ayah, Nak. Ayah tidak becus menjagamu," bisik pria tua itu dengan suara yang ikut terisak. Ayahnya tahu betul betapa berat penderitaan yang sudah dilewati Nazya di masa lalu, dan kini, putrinya harus menerima cobaan seberat ini lagi.
Dafa berdiri diam di sudut bilik, menyaksikan interaksi emosional antara ayah dan anak itu dengan dada yang terasa bergemuruh aneh. Ada rasa cemburu yang tipis melihat bagaimana Nazya hanya bisa merasa aman di pelukan ayahnya, namun di sisi lain, keinginan Dafa untuk menjadi sosok pelindung bagi wanita itu justru semakin membara dan mengakar kuat di dalam jiwanya.
Pak Handoko perlahan melepaskan pelukannya, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Dafa. Pria tua itu menatap setelan pakaian Dafa, menyadari status sosial pria yang telah menabrak mereka. Wajah Pak Handoko tampak mengeras, menyimpan sebuah keputusan besar yang mendesak di dalam kepalanya.
"Tuan," panggil Pak Handoko dengan suara bergetar namun sarat akan ketegasan. "Dokter sudah memberi tahu saya tentang kondisi kaki anak saya. Dia tidak akan bisa berjalan selama satu tahun. Anda bilang, Anda mau bertanggung jawab, bukan?"
Dafa mengangguk tanpa ragu sedikit pun. "Benar, Pak. Apa pun yang Anda minta untuk kesembuhan Nazya, akan saya penuhi."
Pak Handoko menarik napas panjang, melirik ke arah Nazya yang mendadak menahan napasnya karena cemas, lalu kembali menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Dafa.
"Kalau begitu... nikahi anak saya," ucap Pak Handoko lantang.
Kata-kata itu seketika menjatuhkan keheningan yang mencekam di dalam bilik IGD. Nazya membelalakkan matanya sempurna, menatap ayahnya dengan rasa tidak percaya yang luar biasa, sementara Dafa terpaku di tempatnya berdiri dengan jantung yang berdegup kencang secara abnormal.
Bagaimana kelanjutan kisahnya, Kita lanjut ke bab berikutnya ya teman-teman!
Jika kalian suka dengan cerita ini jangan lupa berikan LIKE nya ya,!! 🥰🥰🥰