"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 (Kesepakatan di atas meja kerja)
Aroma kopi arabika yang pekat selalu menjadi penanda bahwa hari kerja seorang Mike Raharja telah dimulai. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tiga tahun. Disaat orang lain mungin masih pusing dengan skripsi, Mike sudah memikul beban yang digendong oleh ratusan karyawan di bawah bendera Raharja Group. Setelan jas abu-abu gelap yang melekat di tubuh tegapnya tampak sempurna, tapi lingkar hitam di bawah mata? Tida bisa menyembunyikan letih dari rapat estafet yang dihadirinya sejak pagi.
Mike memijat pangkal hidungnya yang mancung, menatap tumpukan berkas di meja jati besarnya yang seakan tidak pernah ada habisnya. Namun, fokusnya buyar ketika pintu ruang kerjanya diketuk dengan ketukan berirama konstan—tiga kali, tidak terlalu keras, tidak terlalu lemah. Mike hafal siapa orangnya.
"Masuk," suara bariton Mike terdengar serak.
Pintu terbuka, menampilkan sosok wanita dengan rambut disanggul rapi, mengenakan kemeja kerja berwarna pastel dan rok span selutut. Anita. Wanita berusia dua puluh tiga tahun itu melangkah masuk dengan keanggunan seorang profesional sejati. Di tangannya, selembar tablet dan sebuah dokumen fisik bermaterai sudah siap.
"Jadwal Anda untuk sore ini sudah dikosongkan, Pak Mike. Seperti yang Anda minta," ucap Anita dengan suara yang tenang dan menyejukkan. Meskipun Anita sebenarnya adalah sekretaris pribadi dari Alvin—sahabat karib Mike sekaligus CEO dari perusahaan mitra— Perusahaan yang masih juga dinaungi oleh Mike, namun dipercayakan dan dikelola oleh Alvin. Anita diminta untuk membantu Mike selama dua minggu terakhir ini, untuk menyokong Mike yang sedang kelabakan memegang proyek merger besar.
"Terima kasih, Anita. Alvin tidak mengeluh karena aku meminjam sekretaris terbaiknya?" Mike menyandarkan punggungnya, menyunggingkan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.
Anita tersenyum sopan, menggeleng pelan. "Pak Alvin justru berpesan agar saya memastikan Anda tidak pingsan di kantor. Dan... ada satu hal lagi, Pak. Kursi roda Komisaris Utama sudah memasuki lobi utama sejak sepuluh menit yang lalu."
Mendengar kata 'Komisaris Utama', helaan napas berat lolos dari bibir Mike. Kakeknya, Surya Raharja. Pria tua yang meletakkan seluruh kejayaan keluarga di pundak Mike, sekaligus pria yang paling gigih merongrong kehidupan pribadinya.
"Beliau langsung menuju kemari?" tanya Mike.
"Benar. Dan sesuai instruksi rahasia Anda kemarin, saya sudah menyiapkan dokumen yang Anda minta," Anita meletakkan map hitam di atas meja, tepat di depan Mike.
Sebelum Mike sempat membuka map itu, pintu ruangan terbuka lebar. Surya Raharja, dengan rambut yang memutih seluruhnya namun memiliki tatapan mata yang masih setajam elang, didorong oleh seorang pengawal pribadi. Pria tua itu langsung memberi isyarat agar pengawalnya keluar, menyisakan dirinya, Mike, dan Anita di dalam ruangan.
"Kakek," Mike bangkit dari kursinya, membungkuk hormat lalu mendekati sang kakek. "Ada apa berkunjung mendadak? Jika memang ada hal penting, Kakek bisa meneleponku, tidak perlu repot datang ke sini."
"Kalau Kakek menelepon, kamu pasti punya seribu satu alasan dengan dalih rapat rapat dan rapat!" suara Surya menggelegar, meskipun fisiknya sudah melemah, auranya sebagai pendiri Raharja Group tidak pernah pudar. "Kakek tidak mau tahu, Mike. Umur Kakek sudah delapan puluh tahun. Jantung Kakek bisa berhenti kapan saja. Perusahaan ini sudah mapan di tanganmu, tapi garis keturunan Raharja tidak boleh mandek karena kamu terlalu sibuk bekerja!"
Mike menghela napas, sudah menduga arah pembicaraan ini. Rasanya stressnya naik 90% "Aku baru dua puluh tiga tahun, Kek. Masih banyak yang harus kubenahi di perusahaan."
"Dua puluh tiga tahun adalah usia yang matang untuk membina rumah tangga! Kakek dulu menikah di usia dua puluh satu tahun," potong Surya keras. Tangannya yang keriput menggebrak sandaran kursi roda. "Kakek beri waktu satu bulan. Cari wanita yang pantas, atau Kakek yang akan menjodohkanmu dengan putri dari keluarga kolega Kakek di Surabaya. Dan kamu tahu betul, Kakek tidak menerima penolakan."
Suasana ruangan seketika mendingin. Tegas, mutlak, dan mengikat. Itulah perintah Surya Raharja. Setelah melayangkan ancaman yang tidak main-main itu, Surya meminta pengawalnya masuk kembali dan mendorongnya keluar dari ruangan, meninggalkan keheningan yang mencekam.
Mike membalikkan tubuhnya, menatap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta. Di sudut ruangan, Anita masih berdiri dengan sikap sempurna, tidak menunjukkan kepanikan atau rasa canggung sedikit pun, meskipun baru saja menyaksikan drama internal keluarga paling rahasia.
"Kamu dengar itu, Anita?" Mike bertanya tanpa berbalik.
"Saya mendengar seluruhnya, Pak Mike," jawab Anita jujur, namun tetap dengan nada profesional yang netral.
Mike berbalik, menatap wanita di depannya dengan saksama. Anita adalah definisi wanita idaman bagi banyak pria: cerdas, mandiri, sangat dewasa, tenang dalam situasi genting, dan yang paling penting, dia adalah orang kepercayaan Alvin, yang berarti kesetiaannya tidak perlu diragukan. Di mata kakeknya, Anita yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan pembawaan anggun pasti akan langsung mendapat lampu hijau.
Mike berjalan mendekati mejanya, lalu mengetuk map hitam yang tadi dibawa oleh Anita.
"Buka dokumen itu, Anita. Bacalah."
Anita melangkah maju, membuka map hitam tersebut. Matanya yang jeli menyapu baris demi baris kalimat yang tertulis di sana. Itu adalah draf sebuah perjanjian. Perjanjian pernikahan.
"Pernikahan kontrak?" Anita mengangkat wajahnya, menatap Mike dengan kilat keterkejutan yang tertahan. "Empat tahun?"
"Ya. Empat tahun," Mike duduk di tepi mejanya, melipat kedua tangan di dada. "Aku membutuhkan perlindungan dari desakan Kakek, dan aku tidak punya waktu untuk berkencan atau membangun hubungan emosional yang rumit. Aku butuh seseorang yang bisa bekerja sama denganku sebagai tim. Menjadi istri dari seorang Mike Raharja di depan publik, menghadiri jamuan bisnis, dan menenangkan Kakek."
Anita terdiam, mencerna setiap klausul. "Dan kenapa harus empat tahun, Pak? Biasanya pernikahan kontrak seperti ini di kalangan pengusaha hanya berlangsung satu atau dua tahun."
Sorot mata Mike meredup sesaat, seolah ada sebuah rahasia besar yang melintas di benaknya, sebuah perhitungan matematis yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Empat tahun. Angka yang sangat spesifik. Namun, dengan cepat Mike menguasai ekspresi wajahnya kembali menjadi datar dan dingin.
"Empat tahun adalah waktu yang kubutuhkan untuk mengamankan posisi sahamku secara penuh tanpa intervensi keluarga besar. Setelah empat tahun, Kakek tidak akan bisa menggugat keputusanku lagi, bahkan jika aku bercerai," Mike memberikan alasan komersial yang terdengar sangat masuk akal bagi seorang CEO berdarah dingin.
Anita mengangguk perlahan. Penjelasan itu sangat logis di dunia bisnis.
"Lalu, apa kompensasi untuk saya?" tanya Anita. Dia tidak naif. Pernikahan ini akan menyita kehidupan pribadinya selama empat tahun.
"Apartemen atas namamu di kawasan SCBD, seluruh biaya hidupmu ditanggung, dan setelah empat tahun selesai, aku akan mendanai seluruh modal untuk perusahaan rintisan yang sangat ingin kamu bangun. Aku tahu kamu ingin membuka firma konsultan bisnismu sendiri, bukan? Aku akan menjadi investor utamamu tanpa bagi hasil selama tiga tahun pertama."
Penawaran yang luar biasa. Itu bukan sekadar kompensasi, itu adalah jaminan masa depan yang mapan bagi Anita.
"Pernikahan ini akan didasarkan pada rasa saling menghormati dan profesionalisme," tambah Mike, suaranya melembut, mencoba meyakinkan. "Kita akan tinggal di rumah yang sama, tapi di kamar yang terpisah. Aku tidak akan menuntut hak biologis apa pun darimu. Di luar rumah, kita adalah pasangan ideal. Di dalam rumah, kita adalah rekan kerja yang berbagi ruang. Bagaimana?"
Anita menatap lembaran kertas di tangannya, lalu beralih menatap Mike. Di mata Anita, Mike adalah pria yang baik, meskipun kaku dan gila kerja. Selama bekerja diperbantukan di sini, Mike selalu memperlakukannya dengan sangat hormat, tidak pernah sekalipun bertindak kurang ajar. Menolong Mike sekaligus mengamankan impian masa depannya sendiri tampaknya bukan pilihan yang buruk. Anita tahu dia bisa mengatasinya. Dia adalah wanita yang pragmatis.
"Apakah Anda yakin tidak akan menyesali keputusan ini, Pak Mike? Empat tahun bukanlah waktu yang singkat," Anita memastikan sekali lagi.
Mike berjalan menuju jendela lagi, menatap langit sore yang mulai memerah. Di dalam hatinya, ada sebentuk debaran yang ia sembunyikan rapat-rapat. Empat tahun memang bukan waktu yang singkat. Itu adalah waktu yang menyiksa untuk menunggu. Menunggu seseorang tumbuh, menunggu seseorang menyelesaikan masa mudanya hingga siap ia jemput secara legal. Tapi bagi Mike, demi melindunginya, empat tahun ini akan ia korbankan dengan senang hati.
"Aku tidak akan pernah menyesal, Anita," ucap Mike pelan, nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri.
Mike berbalik, mengulurkan sebuah pena mewah ke hadapan Anita. "Jadi, apakah kita sepakat?"
Anita menatap pena itu, mengembuskan napas panjang untuk kemantapan hatinya, lalu menyambut pena tersebut dengan senyuman hangat yang tulus. "Mari kita bekerja sama dengan baik selama empat tahun ke depan... Pak Mike."
Anita menunduk dan membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Dia menandatangani kontrak itu dengan keyakinan bahwa ini hanyalah sebuah transaksi bisnis yang rapi. Dia tidak pernah tahu, bahwa di balik senyum tipis Mike saat menerima kembali dokumen itu, ada sebuah skenario besar yang sama sekali tidak melibatkan dirinya sebagai pemeran utama.
Bagi Mike, bidak catur pertama telah resmi digerakkan. Dan hitung mundur empat tahun pun dimulai dari sekarang.