NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jumpa di Cafe

Kring... kring... HP Andira bunyi.

"Halo, Ind. Share lok dong. Ini aku baru sampe di rumah,"

ucap Aditia dari seberang.

"Iya, nanti aku kirim ya," ucap Andira.

"Oke, sampe ketemu ya, cantik," goda Aditia.

"Da da," balas Andira.

"Aduh, pake baju apa ya biar ketemu Aditia sebentar?

Harus dandan cantik nih," ucap Andira ke dirinya sendiri.

Dia sibuk bongkar-bongkar baju di lemari satu-satu.

Akhirnya dia pilih celana panjang warna navy, blouse baby pink,

jilbab senada sama celana, plus lipstik pink.

Andira siap-siap ketemu kekasih lamanya itu.

Tut... tut... Klakson mobil bunyi di depan rumah Andira.

Dengan cepat Andira bergegas keluar.

"Iya, Dit," jawab Andira pas sampe depan mobil.

Aditia langsung buka pintu depan buat Andira masuk.

"Silakan, Tuan Putri," goda Aditia sambil senyum lebar.

"Ih, apaan sih. Malu tau," jawab Andira. Pipinya merah.

"Mau ke mana nih?" ucap Aditia sambil nyalain mesin.

"Ke kafe baru aja. Namanya Jumpa Kafe, adanya di Jalan Permai,"

jawab Andira.

"Oke," ucap Aditia. Mobilnya melaju pelan.

Di dalam perjalanan.

"Gak ketemu sekian lama, makin cantik aja ya.

Gak keliatan kayak janda pada umumnya," celoteh Aditia.

"Apaan sih. Emangnya kalau janda gak boleh cantik ya?"

ucap Andira. Agak malu.

"Bukan gitu. Maksud aku kan, kalau udah lama nikah pasti auranya beda.

Tapi kamu auranya masih kayak ABG, hehe," goda Aditia lagi.

"Biar janda tapi kamu suka kan?" Andira gak mau kalah.

Kali ini dia yang goda balik.

"Iya... iya, kan masih cinta kayak dulu," timpal Aditia.

"Ih, gombal. Cinta kok baru muncul sekarang?" kata Andira.

"Ya kamu kan milih nikah sama laki-laki lain.

Gak mungkin aku ganggu pernikahan kamu.

Itu namanya bukan cinta, tapi bikin celaka buat kamu maupun aku,"

jelas Aditia.

"Terus kalau gitu kenapa kamu gak ada kabar selama tiga tahun?

Akhirnya aku terima lamaran Mas Renaldi," jawab Andira.

"Iya, aku salah deh. Karena aku pikir ngelamar kamu

harus punya banyak uang dulu, harus mapan dulu.

Makanya aku milih merantau, kerja, kumpul banyak uang.

Eh pas uang udah kekumpul, kamu udah nikah.

Tapi akhirnya kamu janda kan? Berarti dia bukan jodoh kamu,

tapi aku. Dia cuma sementara jagain kamu," jelas Aditia.

"Hmmmm iya sih. Tapi dia sayang banget sama aku,

walaupun kami gak punya anak," ucap Andira. Suaranya pelan.

"Tapi sekarang dia udah gak ada. Kamu cuma milik aku seorang,"

timpal Aditia.

Asik ngobrol panjang lebar, gak disangka mereka udah sampe

di kafe tujuan. Aditia muter-muter cari parkiran.

Abis itu mereka berdua masuk ke dalam kafe.

"Duduk di pojok sana aja ya, Dit?" ucap Andira.

"Terserah kamu aja, Ind. Yang penting nyaman," jawab Aditia.

Mereka langsung duduk di sofa pojok. Ada lampu gantung temaram.

Abis itu pesen makanan.

"Aku pesen ayam kremes sama es lemon tea ya," ucap Aditia.

"Kalau kamu, Ind?" tanya Aditia balik.

"Samaan aja," jawab Andira.

"Ya udah. Mas, kami pesen ayam kremes dua sama es lemon tea dua ya,"

ucap Aditia ke pelayan.

Selang 15 menit, makanan yang dipesen dateng juga.

Udah lama Andira gak jalan begini. Dia mutusin motret makanan

sebelum makan, terus diposting di aplikasi hijau miliknya.

"Ind, kita foto ya. Abadikan momen," ucap Aditia sambil ngangkat HP.

"Boleh," jawab Andira. Mereka selfie, senyum lebar.

Abis foto, mereka nikmatin makan malam sambil cerita-cerita.

Clut... Notifikasi di HP Andira bunyi.

Andira buka. Komentar masuk di foto postingannya:

"Bagus ya, mulai bebas. Seneng kan adik aku meninggal,

biar kamu bebas jalan sama laki-laki lain," tulis Imel di foto Andira.

"Apaan sih, Mbak. Ini sama temen," balas Andira.

"Temen apa temen? Iya temen yang bikin kamu kegatelan gitu,"

balas Imel dengan emosi.

"Udah ya, Mbak. Ini hidup aku. Kamu gak berhak atur aku,"

balas Andira.

Karena liat wajah Andira gak seceria tadi, Aditia langsung nanya:

"Ada apa, Ind?"

"Enggak kok, enggak apa-apa, Dit," jawab Andira. Dia sembunyiin HP.

"Dasar kesepian," balas Imel lagi di kolom komentar.

Andira cuma baca tanpa ngebalas.

"Hmmm," Andira mendesah sambil masukin HP ke tas.

"Ada apa, Ind?" tanya Aditia lagi. Nadanya khawatir.

"Anu... Ini ipar aku. Tadi pas aku posting foto makanan,

dia WA agak kasar ke aku," ucap Andira sambil nunduk.

"Emangnya apa balasannya?" selidik Aditia.

"Udah, jangan dibahas lagi," jawab Andira.

"Ya udah. Kita langsung balik, atau...?" tanya Aditia.

"Kita ke alun-alun kota aja ya. Aku mau nikmatin malam ini sama kamu,"

ucap Andira.

"Ya udah, ayo," balas Aditia.

Aditia langsung bayar makanan mereka di kasir.

Abis itu mereka ke parkiran, naik mobil, menuju alun-alun kota.

Di dalam mobil mereka diem aja. Angin AC berembus pelan.

Sampe di alun-alun, mereka cari tempat yang pas buat santai.

Duduk di bangku taman bawah lampu jalan.

"Maaf ya kalau hari ini kamu gak nyaman," pinta Andira.

"Enggak apa-apa kok. Tapi sebenarnya ada apa?

Kalau kamu mau cerita, aku siap denger kok," ucap Aditia.

Hmmmm... Andira narik napas dalam-dalam.

"Suami aku kan tiga bersaudara. Mas Renaldi anak nomor dua.

Yang tua Mbak Imel. Yang tadi ngebales cerita aku itu.

Dia selalu aja ngina aku... Katanya aku mandul, pembawa sial.

Tadi aja dia bilang aku kegatelan, kesepian, jadi mulai jalan sama cowok.

Emangnya salah kalau aku jalan sama cowok lain?" ucap Andira.

Matanya mulai berkaca.

"Kamu gak salah kok. Yang salah itu kalau kamu larut-larut dalam sedih.

Kan Mas Renaldi udah pergi untuk selamanya. Itu murni kecelakaan.

Soal anak, mungkin aja itu belum rezeki kalian berdua.

Jadi apapun yang ipar kamu bilang, jangan diambil hati ya.

Kamu berhak bahagia," ucap Aditia sambil nepuk bahu Andira pelan.

"Makasih ya, Dit. Udah mau dengerin cerita aku," ucap Andira.

"Sama-sama, Andira. Aku selalu ada buat kamu," ucap Aditia.

Andira cuma senyum malu. Dia mainin ujung kerudungnya.

"Ya udah, besok kamu harus kerja. Kita pulang udah ya,"

ucap Aditia sambil berdiri.

"Iya, Dit," jawab Andira.

Aditia langsung nganterin Andira pulang.

Jam di dashboard nunjukin pukul sebelas malam.

Sampe depan rumah, Aditia matiin mesin.

Andira turun pelan.

"Makasih ya, Dit. Malam ini seru," ucap Andira.

"Besok ketemu lagi ya?" goda Aditia.

Andira senyum. Gak jawab. Dia masuk rumah, kunci pintu.

Di dalam, Andira sandarkan punggung ke pintu.

Dadanya masih deg-degan.

"Mas, maafin aku ya. Aku cuma ketawa sebentar aja, Mas,"

bisik Andira ke arah foto Renaldi di ruang tamu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!