Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.
Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.
Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.
Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Pertama di Hari Senin (2)
Tujuh hari telah berlalu sejak lingkaran setan Protokol Septem mengunci hidup Althea secara mutlak. Siklus mingguan itu berjalan tanpa cela: Jin dengan nutrisinya, Suga dengan audionya, Suga dengan sensornya, Jimin dengan isolasinya, Taehyung dengan kanvasnya, Jungkook dengan kekuatannya, dan Rm dengan hukumnya.
Di mata ketujuh pria itu, Althea telah sepenuhnya jinak. Sempurna. Patuh.
Namun, kepatuhan Althea adalah sebuah sandiwara terbesar yang pernah ia mainkan. Di balik tatapan matanya yang kosong, sebuah rencana pemberontakan terselubung mulai dirajut.
Althea menyadari satu hal: kekuatan terbesar Septem Foundation adalah kekompakan mereka. Jika ia ingin menghancurkan sangkar emas ini, ia harus merusak harmoni tersebut. Ia harus memicu kembali riak kecemburuan dan ego yang sempat mereka kubur demi Protokol gila ini.
Senin pagi kembali tiba. Hari milik Jin.
Pintu paviliun kaca bergeser terbuka, dan Jin melangkah masuk dengan senyuman hangatnya yang biasa, membawa nampan berisi bubur gandum dan obat-obatan. Namun, hari ini Althea tidak lagi bersembunyi di sudut lemari.
Ia sudah duduk rapi di tepi tempat tidur, mengenakan gaun tidur sutra putih murni, menatap Jin dengan binar mata yang tampak... menyambut.
"Selamat pagi, Tuan Jin," sapa Althea, suaranya sengaja dibuat selembut mungkin, sedikit bergetar seolah-olah ia sedang berusaha menekan rasa malunya.
Jin sempat menghentikan langkahnya selama satu detik. Sepasang alisnya terangkat, terkejut melihat perubahan drastis sikap gadis itu.
Namun, keterkejutan itu segera digantikan oleh binar kepuasan yang mendalam di matanya. Pria tertua itu berjalan mendekat dan duduk di samping Althea.
"Selamat pagi, Althea-ku. Kau terlihat sangat cantik hari ini," ujar Jin, jemarinya yang hangat perlahan mengusap rambut Althea.
"Apakah kau sudah mulai terbiasa dengan rumahmu?"
Althea menunduk, memainkan jemarinya di atas pangkuan.
"Aku sadar... pelarianku ke Prancis hanya menyusahkan tubuhku sendiri. Di sini, makanan yang Anda siapkan membuatku merasa jauh lebih sehat. Terima kasih, Tuan Jin."
Kata-kata itu seperti musik paling indah di telinga Jin. Ego dan insting protektifnya sebagai seorang dokter dan pria tertua seketika melonjak tinggi.
Ia menyendok bubur dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa senang yang membumbung. Saat Althea menerima suapan itu dengan patuh, Jin merasa ia telah memenangkan kompetisi tidak resmi di antara ketujuh member.
Namun, di sela-selas suapan ketiga, Althea mendongak dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca, menatap langsung ke dalam manik mata Jin.
"Tapi... Tuan Jin, bolehkah aku meminta sesuatu?" bisik Althea pelan, suaranya terdengar sangat rapuh.
"Apa pun, Sayang. Katakan saja," sahut Jin tanpa ragu.
"Hari Selasa besok... jadwal Tuan Suga. Frekuensi audio yang dia putar di studio bawah tanah membuat kepalaku sangat pusing dan dadaku sesak," Althea mencengkeram lengan jubah putih Jin, berpura-pura ketakutan.
"Setiap kali pulang dari sana, aku tidak bisa tidur. Aku tahu Tuan Suga berniat baik, tapi secara medis... apakah itu sehat untuk sarafku? Aku hanya percaya pada analisis medis mu, Tuan Jin. Bisakah Anda... bicara padanya untuk mengurangi jam jadwalku esok hari?"
Mendengar kata "secara medis" dan "hanya percaya padamu", ego Jin langsung tersentuh di titik tertingginya. Profesionalismenya sebagai dokter berbenturan dengan rasa kepemilikannya atas kesehatan Althea. Sorot mata Jin mendadak menegang, senyumannya miring secara berbahaya.
"Terapi Suga membuatmu pusing?" Jin meletakkan mangkuk bubur ke meja dengan bunyi ketukan yang agak keras. "Dia bilang metodenya sudah diuji. Berani-beraninya dia merusak sistem saraf yang sudah ku rawat dengan susah payah sepanjang hari Senin."
Jin berdiri, merapikan jubah putihnya dengan ekspresi dingin yang sarat akan arogansi yang mulai tersulut. Ia menatap Althea, mengusap puncak kepalanya sekali lagi.
"Istirahatlah, Althea. Aku yang memegang kendali atas kesehatanmu di rumah ini. Aku akan 'menyelesaikan' masalah ini dengan Suga sekarang juga."
Begitu Jin melangkah keluar dari paviliun dengan langkah kaki yang terburu-buru dan dipenuhi amarah, Althea perlahan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
Senyuman manis di wajahnya menghilang, digantikan oleh tatapan mata yang tajam dan dingin.
Umpan pertama telah dimakan. Di dalam sebuah organisasi gila yang dibangun dari obsesi, tidak ada hal yang lebih rapuh daripada ego seorang pria yang merasa hak miliknya diganggu oleh saudaranya sendiri.
Retakan pertama telah muncul di hari Senin, dan esok hari, hari Selasa, Althea akan menyaksikan bagaimana melodi Suga berbenturan dengan otoritas medis Jin.
---
Bersambung~