NovelToon NovelToon
The Sketchbook

The Sketchbook

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Contest / Asmara / Romansa-Teen school / Gadis baik / Tamat
Popularitas:52.3k
Nilai: 4.2
Nama Author: @l_uci_ous

Vita adalah seorang gadis jenius yang merupakan anak angkat, yang sering
mendapatkan perkataan tidak bersahabat dari ibunya. Pada kelas tiga SMA dia
pindah dari Surabaya ke Jakarta dan bertemu dua laki-laki populer yang
menyukainya. Andra dan Rafka. Andra adalah penerima juara umum selama
bertahun-tahun, dan Rafka adalah siswa tukang bolos yang tak asing bagi Vita.
Kemudian Vita berteman dekat dengan keduanya, terutama dengan Rafka.

Di sekolah, bersama teman-teman barunya ini, Vita akan mengalami
pengalaman terasa begitu
manis. Vita akan bertengkar dengan sepupunya, dibully oleh teman sekelasnya,
tapi tidak ada yang dapat membuat Vita takut atau berhenti berteman dengan
Rafka juga dekat dengan Andra.

Hingga beberapa bulan kemudian Vita bertengkar dengan Rafka
setelah Vita menolak Andra. Namun, pertengkaran itu
tidak bertahan lama, Vita dan Rafka kembali bersahabat. Dan Vita pun pergi ke
London. Meninggalkan Rafka yang khawatir dan Andra yang menanti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Vita menopang wajah pada tangannya di atas meja. Matanya terpejam. Ia merasakan angin membilas wajahnya yang penuh keringat. Ia baru terjaga dari tidurnya karena kepanasan. Sebelum tidur ia sengaja mematikan pendingin karena ia merasa kedinginan dan sangat pusing. Walau ia saat ini kepanasan, ia tetap merasa tak baik. Ia merasa ada yang salah pada dirinya. Ia mengira dirinya agak sakit belakangan ini. Dan itu membuatnya kesal dan merasa tak berdaya juga tak berguna.

Ia tak ingin sakit. Sungguh.

Saat ia sakit ia akan merepotkan ayahnya. Menambah biaya hidup. Padahal ia sudah cukup lama tidak ‘sedikit sakit’ seperti yang saat ini diduganya. Ia harap dugaannya salah. Ia merasa benci karena ia terlalu pandai dalam mengenali tanda-tanda yang dialami tubuhnya dan memcocokannya pada gejala penyakit yang begitu banyak diketahuinya. Ia berharap jadi orang yang tak begitu pintar dalam situasi seperti ini.

Nada dering ponsel Vita terdengar. Ia membuka matanya. Dengan malas ia meraih tas biru yang tergolek tak berdaya di dekat kursi yang didudukinya. Ia tadi menjatuhkannya begitu saja. Ada saat-saat ia terlalu malas, bahkan untuk melatakkan tas dengan benar. Mungkin nanti ia akan akan malas untuk makan, lalu bernapas. Hanya mungkin. Karena biasanya ia akan memaksakan diri jika ia malas, pengecuali untuk hari ini, dan beberapa hari lain yang telah lalu. Bukankah hampir selalu ada pengecualian untuk segala hal?

Vita membaca pesan yang baru saja masuk.

Rafka mengajaknya makan mie ayam di tempat langganannya dan teman-temannya. Ia mau saja, namun masih merasa tak enak badan. Lagi pula sudah terlalu sore. Ibunya akan mengomel nanti.

Vita: Enggak hari ini, deh, Raf, Mamaku lagi uring-uringan.

Rafka: Senangnya yang Mamanya lagi uring-uringan.

Vita mematikan ponselnya dan mendorongnya ke ujung meja. Selanjutnya ia menjatuhkan kepalanya di atas meja dan kembali terpejam.

“Kak! Kak Vita!”

Vita menghembuskan napas kencang dari mulutnya. Ia membuka matanya dan menoleh pada adiknya yang telah berada di belakangannya.

“Kenapa?” tanya sembari menghapus bintik-bintik keringat di keningnya.

“Sepedaan, yuk, Kak,” ajaknya.

“Besok aja, ya, Kakak lagi capek.”

“Sebentar... aja,” bujuk adiknya. “Kalo boleh sama Mama sedirian, aku juga gak akan ganggu Kakak.”

Ah, ya. Ibunya memang over protective dalam urusan Vhindy. Mengingat ibunya sangat lama menunggu kehadiaran adiknya itu. Vhindy tak boleh berkeliaran sendiri di luar. Jika ingin pergi ke suatu tempat, pasti di antar dan pulangnya dijemput. Kadang, kalau urusan Vhindy tak memakan waktu yang lama ibunya akan menunggu. Pokoknya Vhindy harus benar-benar safe.

“Bener, ya?”

Vhindy mengangguk. “Ayo! Temenku bentar lagi datang.”

“Temen?” kening Vita mengernyit.

“Iya. Dia yang ngajakin sepedaan. Kayaknya dia sama Kakaknya juga.”

Wah. Ia sama sekali tak ingin bersapa-sapaan dengan orang lain saat ini.

“Kakak mau ganti baju dulu. Kamu duluan aja ke depan.”

Lima menit kemudian Vita sudah melangkah menuju garasi untuk mengambil sepeda. Ia menukar pakaiannya dengan selembar kaus oblong dan training longgar berwarna putih bersih bersanding dengan sepatu berwarna senada. Rambut Vita yang sering di gerai begitu saja, kini diikat dalam ikatan satu yang rendah. Meski begitu, wajahnya yang tampak lelah telah membuyarkan tampilan sportinya yang seharusnya kelihatan sehat.

Vita meluncur bersama sepedanya menghampiri adiknya yang langsung bersinar wajahnya. Ia bahkan berlari menuju Vita, tak sabar untuk menempati tempat kosong di belakang.

“Vhindy!” suara seseorang yang terasa tak asing berhembus ke telinga Vita. Ia menoleh ke sumber suara dan menemukan Andra yang membonceng Andien di belakangnya. Laki-laki itu tersenyum mengetahui Vita memandangnya.

Ternyata benar dugaannya dulu itu. Andien adik Andra adalah Andien teman adiknya.

“Ayo, Kak!” Vhindy memukul punggung Vita.

Ini perasaanku aja atau memang detak jantungku lebih cepet, ya?

Dengan satu dorongan santai kaki kirinya, sepada Vita mulai meluncur mulus melewati gerbang, mengiringi Andra yang sedikit mendahuluinya.

Selama beberapa menit Vita dan Andra hanya saling mendahului yang lain, sementara Vhindy dan Andien bercanda dan tertawa. Namun pada akhirnya Andra menyamakan posisi mereka. Hal itu membuat adik-adik mereka lebih leluasa mengobrol sesuatu yang tak begitu Vita pahami, tentang teman-temannya di sekolah dan sebagainya. Sedangkan Andra tersenyum sangat ramah pada Vita dan bertanya, “Kamu lagi sakit, ya?”

“Enggak. Cuma kecapekan aja.”

“Kakak kenal sama Kak Andra?” tanya Vhindy yang tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada Vita.

“Kakak yang waktu itu ke rumah sama Kakak ganteng, ya?”

Vita tersenyum mendengar selaan Andien. Gadis kecil ini benar-benar tahu laki-laki tampan.

“Kakak ganteng?” Vhindy bertanya dengan alis terangkat.

“Kak Rafka,” Vita mengingatkan adiknya.

“Oh.”

“Iya. Kakak yang waktu itu ke rumah Andien sama Kak Rafka,” ujar Vita untuk menjawab pertanyaan Andien, ia beralih dari gadis kecil itu kepada adiknya. “Kakak sama Kak Rafka sama Kak Andra itu teman satu kelas.”

“Temen?”

“Mm.”

“Aku kira Kakak sama Kakak ganteng pacaran.”

“Enggak, kok.”

Vita kembali memerhatikan jalanan. Ada senyum samar di bibirnya, atau mungkin ada kilau di matanya, yang pasti ada kecurigaan gadis itu menahan senyum.

“Ehem!” Andra berdehem keras, menyadarkan pikiran Vita yang nyaris melantur. Bisa-bisa ia masuk selokan jika tak segera disadarkan oleh Andra.

Tak ada lagi yang mereka bicarakan lagi setelah itu selama perjalanan, sebab Andra memacu sepedanya lebih cepat. Vita tebak, laki-laki itu tak suka pada topik yang mereka bicarakan, Rafka. Tahu sendiri bagimana hubungan Rafka dan Andra. Bukannya tambah baik dengan berlalunya waktu, hubungan mereka malah memanas akhir-akhir ini. Vita belum lupa sedikitpun perkelahian tak-perlu yang terjadi di antara mereka beberapa hari yang lalu.

Beberapa saat kemudian Vita menghentikan sepedanya di bawah nauangan sebuah pohon besar. Vita menunggu adiknya berangsur turun sebelum menurunkan penyangga.

“Kamu mau minum apa, Vhin?” tanya Vita yang sudah bebas dari sepedanya.

“Susu yougurt rasa blueberry.”

“Kamu tunggu di sini dulu, ya!”

“Jangan lama-lama!”

Vita membuat isyarat oke dengan jari-jarinya. Setelah itu ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan Vhindy yang masih mematung di sisi sepeda.

Vita tak membuang-buang waktunya di dalam minimarket. Begitu masuk ia langsung menuju lemari pendingin dan mengambil beberapa botol minuman dingin, temasuk pesanan Vhindy yang di lipat gandakan dan dua botol air mineral. Ia juga membelikan Andra dan Andien. Setelah itu ia berbalik untuk membayar lalu keluar. Ia bahkan tak menghabiskan waktu lima belas menit dalam perjalanan singkatnya.

Sesampainya di taman, Vita tak menemukan Vhindy lagi di bawah pohon di mana sepedanya terparkir. Alih-alih, ia mendapati Andra tersenyum padanya dari kursi tepat di dekat situ. Sepeda yang terparkir kini ada dua.

“Ke mana Vhindy?” tanya Vita, duduk di sebelah Andra.

“Itu,” Andra menunjuk ke kejauhan di mana adiknya duduk merapat bersama adik laki-laki yang kini ada di sisinya.

“Minum?” tawar Vita.

“Boleh.”

Vita memberikan satu air mineral yang sengaja di belinya untuk Andra.

“Kamu dari mana?” tanya Vita begitu Andra menyambut airnya, dan sedang membuka segel botol.

“Keliling dulu.”

Andra mengangkat botol airnya dan mulai menuangkan airnya ke dalam mulutnya dengan dagu terangkat. Vita memerhatikan itu satu detik dan buru-buru mengalihkan perhatiannya dengan mengambil air mineralnya sendiri dan mulai meminumnya. Ia lumayan sering salah tingkah jika berada di dekat Andra akhir-akhir ini. Jangan sampai ia memiliki perasaan lebih pada Andra. Jangan sampai.

Andra menurunkan botolnya, Vita juga melakukan hal yang sama. Andra memutar tutup botolnya, Vita pun melakukan hal itu. Sampai akhirnya Andra menatap Vita, gadis itu juga melakukan hal yang sama, namun langsung mengalihkannya ke tempat lain dalam waktu dua detik. Jantungnya berdebar. Jari-jarinya gemetar. Belum pernah ia seperrti ini.

“Kamu benaran gak pacaran sama Rafka, Vit?”

Vita menggelang kaku. Jarinya masih gemetar, jadi ia mengepalkan tangannya.

“Niat buat pacaran?”

Dengan satu hela napas panjang, Vita mengendalikan dirinya, termasuk jari-jarinya yang getarannya mulai tak terlihat. Rafka, ia mengingatnya dalam hati.

Vita mengangkat bahunya. “Enggak tahu. Ke depannya ‘kan bisa berubah.”

“Sekarang?” tanya Andra lugas.

Sejenak Vita terdiam, dan kemudian bersuara, “Enggak.”

“Kamu...” sebulir keringat mengalir dan bersarang di alis Andra. Vita memerhatikannya sedetik, dan mendapati kening Andra sudah basah oleh keringat. “suka gak sama aku?” Andra menyeka keringat di alisnya, yang sejak terlihat ingin sekali Vita seka.

Oh my God. Oh my God. Oh my God.

Vita menelah ludahnya. Mulutnya terasa kering, namun ia tetap berpura-pura tak peka. “Suka. Kamu temen yang baik.”

Andra membasahi bibir bawahnya. “Kalo... lebih...”

Calm. Calm.

“...dari—”

Vita terlonjak berdiri. “Oh iya aku ada janji sama Rafka!”

Air muka Andra berubah-ubah dalam waktu satu detik, dari terkejut, bingung, lalu tak suka, dan terakhir, masam.

Berlagak sok sibuk, Vita melirik arlojinya kemudian berseru pada Vhindy di kejauhan, “Ayo pulang Dek!”

***

Pukul sepuluh Vita keluar melewati pintu kamarnya. Lampu di ruang keluarga sudah berganti dengan lampu tidur yang remang. Jika lampu sudah berganti, artinya ibunya telah terlelap. Tapi biasanya, di waktu seperti ini ayahnya belum tidur, sibuk di ruang kerja, atau hanya sekedar membaca.

Kepalan tangan Vita terangkat untuk mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, namun terhenti di udara saat mendengar namanya tersebut dari balik pintu. Ibu. Ibunya yang kiranya menyebutnya. Tenyata ibunya belum tidur.

Vita menurunkan tangannya. Ia merapatkan dirinya ke daun pintu dan mendengarkan dengan saksama.

“Pa, menurut kamu Vita gak apa-apa dekat sama anak... siapa namanya yang datang waktu ulang tahun Vita?”

“Rafka,” ayahnya menyahut bosan. Ada suara tuts keyboard yang di tekan-tekan cepat.

“Mm, iya, Rafka. Kayaknya di bukan anak baik-baik. Orang tuanya udah gak ada.”

Hening sejenak, kemudian, “Siapa yang tahu apa yang mereka berdua lakuin waktu kemping.  Guru-guru ‘kan bukannya mau ngawasin murid-murid dua puluh empat jam nonstop. Vita belum tentu sebaik di rumah kalo di luar sana.”

“Jangan kelewatan, Ma.”

“Aku cuma kepikiran aja. Akhir-akhir ini Vita sering minum obat sakit kepala. Dia juga bolak-balik ke toilet, muntah kupikir. ‘Kan bukannya gak mungkin kalo di—”

“Enggak mungkin!” sela ayahnya tajam, “Vita anakku. Aku kenal dia. Dia gak mungkin bikin malu keluarga.” Suara monoton tuts keyboard telah hilang.

“Siapa yang tahu. Mendingan kamu suruh Vita jauh-jauh aja dari Rafka. Kalaupun Vita belum terkontaminasi pengaruh buruk dari Rafka, belum tentu ke depannya nanti enggak. Anak sekarang beda sama kita jaman dulu, apa lagi anak perempuan.”

“Jaman kita dulu gak sebersih yang kamu bilang. Dan... jangan samain Vita sama kamu.” Kalimat terakhir juga terdengar tajam. Lalu setelahnya terdengar suara kursi di dorong. “Lain kali jangan sembarang ngomong tentang anakku.”

Vita menghela napas dalam-dalam. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, mencegah air matanya yang darurat hendak tumpah. Ada bagian yang begitu nyeri di dalam dirinya, yang tak sampai untuk di rengkuhnya. Ia juga tak tahu bagimana cara menyembuhkannya. Namun sungguh... itu sangat menyakitkan. Ia ingin bagian itu diamputasi dari dirinya. Tolong...

Vita menekan kenop lalu mendorongnya. Pintu terbuka. Ayah dan ibunya berdiri memaku di tempat masing-masing. Dengan kakinya yang seperti agar-agar, Vita melemparkan beberapa langkah, mempersempit jaraknya dengan orang tuanya. Hal yang ingin dibicarakan dengan ayahnya telah lenyap dari benaknya. Hilang tanpa jejak.

Mata Vita memerah, namun tak ada kumpulan air mata yang bergumul di pelupuknya lagi.

“Aku baik-baik aja, Ma,” ucapnya serak, suaranya terdengar jauh.

Ibunya menggerakkan alisnya, sementara ayahnya masih sekaku saat pertama kali Vita menunjukkan kehadirannya.

“Memang siapa yang ngekhawatirin kamu.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Pernyataan yang keluar dari mulut ibunya, yang sama sekali tak merasa bersalah telah mengatakan sesuatu yang buruk tentang putrinya—bukankah? “Siapa tahu kamu bakalan malu-maluin keluarga.”

“Aku tahu batasku,” Vita berkedip, “Ma,” tambahnya dengan lirih.

“‘Kan siapa tahu.”

“Aku bisa jaga harga diriku sendiri, juga keluargaku. Aku tahu mana yang baik, mana yang benar, mana yang buruk, mana yang salah.” Vita mengangkat dagunya lebih tinggi. Interval kerjapan matanya semakin rapat. “Soal Rafka, dia masih punya orang tua. Ayah. Ayah Rafka pemilik sekolah tempat aku sekolah sekarang. Rafka juga gak seburuk yang Mama pikirin.”

“Kamu bilang kayak ‘gitu pasti karena kamu suka sama anak itu, ‘kan? Dan lagi, anak mana yang bilang ke orang lain kalo ayahnya udah meninggal. Bener-bener sakit jiwa teman kamu itu. Mendingan kamu jauh-jauh dari dia. Demi kebaikkan kamu sendiri.”

“Rafka punya alasan kenapa dia bilang ayahnya udah meninggal.”

“Apa alasannya?”

“Gak semua orang perlu tahu alasannya.”

“Ah... paling-paling karena permintaannya gak diturutin ayahnya. Atau ayahnya ngelarang kegiatannya yang gak bener,” ibunya berlagak sok tahu. “Seharusnya kamu cari temen yang baik kayak temen-temennya Tiara.

Vita tercenung. Tiara, pembanding favorit ibunya.

“Kalo Tiara yang bilang bahwa Rafka itu anak baik-baik, Mama percaya?”

“Mungkin.”

“Ta...” lirih ayahnya mengingatkan.

“Kalo Tiara suka sama Rafka, Mama

percaya Rafka anak baik-baik?”

“Ya. tapi Tiara gak—”

“Tiara suka sama Rafka,” sela Vita. “Dia bahkan berantem sama aku, cuma supaya aku gak deket-deket sama Rafka lagi.”

“Jadi kamu ngerebut cowok yang Tiara suka?” tanya ibunya tak percaya.

Sekarang suara Vita bergetar. “Mama gak berpikir dua kali buat percaya sama semua yang Tiara bilang, semua orang yang Tiara anggap temen. Tapi sama aku?”

*** 

1
Ochi_Ara Alleta
aku kira Vita bakalan gak ada gara2 penyakitnya,tapi gak nyangka banget dia gak ada gara2 kecelakaan pasca lolos dari penyakit kronisnya☹️ini drama mengaduk aduk perasaan banget...menguras emosi,menguras air mata di ujung cerita
Ochi_Ara Alleta
ini skenario terburuk yang pernah kamu buat kak....tapi aku tetep like karya kamu.jahat banget lho kak kamu......
Ochi_Ara Alleta
kok jadi drama kayak gini sih kak😭😭😭😭
Ochi_Ara Alleta
kak Vita sedang berjuang dengan penyakitnya,vindhy....
Ochi_Ara Alleta
gak bisa bayangin,seandainya Vita pas udah gak ada tapi mereka pada belum baikan.....bakal semenyesal kayak apa temen2nya😭😭.waktu gak bisa diputar kembali
Ochi_Ara Alleta
berarti ini yang kemarin Vita kasih tau ke rafka ya???
soal rahasia
gak sebuah rahasia cuma selama ini gak ada yang nanya,jadi gak ada yang tau
Ochi_Ara Alleta
nangis kejer we😭😭😭😭😭😭
ternyata Vita anak angkat,pantes Bu Helena ke vita dah kayak ibu tiri
Ochi_Ara Alleta
kak Uci ini pindah lapak berbayar???apa emang udah gak nulis cerita lagi ???
lihat dr profil nya kak Uci banyak cerita gak sampai ending.
padahal bagus banget lho karya2 dari kak Uci ini....pemilihan katanya oke,penataan kosakata-good,sama perbendaharaan katanya tuh banyak,ceritanya tuh jadi kaya karya penulis2 profesional tau gak.berkelas gitu.
wajib dicetak kedalam buku kak....kaya karya2 kak shephinasera bagus2 semua.
sayang ya q baru sekarang nemu karya sebagus ini....telat banget
Ochi_Ara Alleta
next karya ke-2 dr kak Uci yg aq baca❣️❣️❣️
Ochi_Ara Alleta
sad ending😭😭😭
Trusthi Widhi
keren pake bangett😍💝
yul,🙋🍌💥💥💥
ceritanmu kenapa tidak ada oksiginya thor.. bikin aq sesak nafas...
yul,🙋🍌💥💥💥
hik hik hik
MWi
sukaa
MWi
sukaaa
MWi
sukaaaa
MWi
like
Suri Hadassa
Buka Hati sudah mendaratkan jempolnya ❤️❤️❤️

jangan lupa feedbacknya 😊🙏😊

semangat up Thor 💪💪
Ruliyah Yu Yah
makasih thor udah nurutin emak2 kayak kita buat nerusin ceritanya biarpun yg ngasih jempol dikit.cumungut ya thor lupyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Pitara Lusiana: Thank u udah mau nyempetin baca cerita gak jelas ini
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!