NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

langit malam yg berbintang II

Malam kian larut. Setelah Ibu Cyena masuk kembali ke dalam rumah, uap hangat dari sisa teh berempah masih samar-samar mengepul di udara yang makin dingin. Brisa menggenggam erat cangkirnya, menyesap isinya perlahan, lalu menatap profil wajah Yuse yang tampak tenggelam dalam lamunan setelah pembicaraan tentang Cindy tadi.

"Yuse," panggilnya pelan memecah kesunyian, matanya masih menatap kerlap-kerlip bintang di langit. "Kalau Cindy memilih jalan yang berbeda denganmu… bagaimana dengan keluarganya? Seorang putri kerajaan pasti punya pelindung yang sangat hebat, bukan?"

Yuse mengangguk pelan, sorot matanya berubah serius saat ingatan tentang silsilah Kerajaan Palipurna melintas jelas di kepalanya.

"Kamu benar, Brisa. Cindy adalah satu-satunya putri dari Raja Alaral Gulla. Dialah penguasa tertinggi sekaligus ayah kandung Cindy."

Dahi Brisa sedikit berkerut mendengar nama itu.

"Alaral Gulla… nama yang terdengar sangat berwibawa."

"Bukan cuma berwibawa, dia juga sosok ayah yang sangat tegas dan protektif," lanjut Yuse sambil memainkan cangkir di tangannya. "Raja Alaral sangat dihormati di seluruh penjuru negeri. Meski memegang kekuasaan besar, dia tidak memanjakan Cindy dengan kemewahan semata. Justru dialah yang memilih dan mengutus Mpu Sandry untuk mendidik Cindy di Perguruan Arpati, supaya putrinya bisa mandiri dan mampu menjaga diri sendiri."

Yuse terkekeh kecil teringat sifat keras kepala gadis itu.

"Jadi kalau aku bilang Cindy agak manja, itu cuma karena dia terbiasa jadi tuan putri. Tapi di balik itu, darah ketegasan Raja Alaral mengalir kuat di dalam tubuhnya. Makanya dia punya nyali sebesar itu, bahkan berani bertaruh nyawa bersamamu di dalam kereta waktu itu."

Brisa manggut-manggut paham. Penjelasan itu membuatnya makin mengerti alasan kenapa Cindy bisa begitu nekat dan penuh tekad saat pertempuran di Lembah Hitam tempo hari. Di bawah naungan pohon besar, diiringi suara dedaunan yang berdesir ditiup angin malam, obrolan mereka tentang kerajaan dan jalan hidup ksatria mengalir makin dalam.

"Selain Raja Alaral, ada satu nama lagi yang sangat dihormati di Kerajaan Palipurna," lanjut Yuse tiba-tiba, matanya mendadak berbinar penuh rasa hormat. "Dia adalah Panglima Aloska — benteng terkuat yang melindungi seluruh wilayah dari ancaman Sekte Hitam."

Brisa menoleh cepat, menangkap perubahan nada suara Yuse yang tiba-tiba penuh semangat dan ambisi.

"Aloska? Sepertinya dia orang yang sangat berarti bagimu ya?"

Yuse mengepalkan tangannya erat, menatap hamparan langit luas di atas kepalanya dengan tekad yang membara.

"Benar sekali. Dialah sosok yang membuatku memantapkan hati menempuh jalan ini. Sejak aku masih kecil, melihat kegagahannya melindungi rakyat selalu membuatku bermimpi: aku juga ingin menjadi sekuat dia, ingin menggapai langit seluas itu, dan melindungi sebanyak mungkin orang."

Brisa tersenyum tipis. Ia tahu, di balik tingkah konyol dan wajah bodoh yang sering ditampilkannya, ada mimpi besar yang tumbuh subur di hati pemuda itu — semua berkat inspirasi dari sang panglima legendaris.

Brisa menopang dagunya di atas tali ayunan, menatap wajah samping Yuse yang tampak bersinar terang diterangi cahaya bulan. Seulas senyum manis tersungging di bibirnya.

"Kamu kelihatan sangat bersemangat sekali saat menceritakannya, Yuse," godanya pelan memotong ucapan pemuda itu.

Seketika mulut Yuse terkatup rapat. Wajah salah tingkahnya langsung muncul lagi secepat kilat. Ia refleks menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, baru sadar kalau sejak tadi ia terus mengoceh panjang lebar tanpa jeda.

"Eh? A-apa aku terlihat seantusias itu?" tanyanya sambil tertawa garing yang terdengar sangat kikuk.

"Bukan cuma antusias… matamu sampai terlihat mau melompat keluar saking senangnya," sahut Brisa sambil terkekeh pelan. Tawa renyahnya kembali terdengar indah membelah kesunyian malam. "Tapi aku mengerti kok. Punya sosok panutan sehebat Panglima Aloska pasti bikin jalanmu terasa lebih jelas dan punya tujuan yang pasti."

Yuse tersenyum lega, rasa canggungnya perlahan hilang berganti rasa hangat di dada.

"Kamu benar. Kadang pas latihan sama Bibi Liana terasa begitu menyiksa sampai rasanya tulang-tulangku mau hancur, cuma ingat sosok Aloska dan semangatnya itu yang bikin aku bangkit berdiri lagi."

Angin malam kembali berhembus lembut, membuat dedaunan bergoyang pelan seolah ikut mendengarkan percakapan mereka. Seiring dengan habisnya teh hangat di dalam cangkir, obrolan panjang itu pun perlahan surut. Kedamaian dan kehangatan yang mereka rasakan malam ini di rumah masa kecil Yuse menjadi kekuatan baru yang sangat mereka butuhkan — sebelum badai besar dan bahaya sesungguhnya datang menjemput mereka di masa depan.

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!