NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sudah dua minggu Slamet bergabung dengan kelompok relawan. Dia sudah hafal di luar kepala rute pengiriman logistik ke berbagai pos di sekitar ibu kota Holy Kingdom.

Pos barat. Jalanan becek, jaraknya dua kilometer, saljunya tipis. Pos timur. Jalanannya rusak karena sering dilewati gerobak berat, satu setengah kilometer, lebih cepat sampai. Pos utara. Jauh, tiga kilometer, tapi jarang dikirimi barang besar.

Slamet tidak peduli dengan perbedaan itu. Baginya, setiap peti yang berhasil diantar berarti jatah makan. Dan jatah makan hari ini sudah menipis.

Dia berdiri di depan tenda logistik sambil mengunyah roti keras. Roti itu masih keras, meski tidak sekeras saat minggu pertama dia tiba. Tangannya yang kotor memegang roti itu dengan malas. Dia menggigit kecil-kecil, mengunyah dengan gerakan rahang yang lambat dan mekanis.

Neia menghampirinya dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya tegang. Di tangannya ada sebuah kotak kayu berukuran sedang.

"Pos selatan. Suplai obat." Neia menyerahkan kotak itu. "Luka-luka di sana mulai menumpuk. Jika tidak sampai hari ini, mereka akan kehabisan stok."

"Bagaimana jalannya?"

"Lurus ke selatan. Ikuti sungai kecil yang membeku. Tapi hati-hati." Neia menunjuk ke arah langit yang kelabu. "Semalam salju turun lebat. Bisa jadi jalannya tertutup."

Slamet menerima kotak itu. Beratnya memang lebih dari biasanya. Tapi dia tidak bertanya banyak.

"Kalau tertutup, gue balik?"

"Jangan. Cari jalan lain." Neia menggigit bibir bawahnya. "Obat ini penting. Jangan sampai terlambat."

Slamet mengangguk singkat. "Oke."

Dia berbalik. Sandal jepitnya mulai berbunyi.

Plak. Plok. Plak. Plok.

Setengah jam kemudian, Slamet sampai di jalur yang biasa dia lalui.

Tapi kondisinya tidak seperti biasanya.

Salju semalam turun terlalu lebat. Jalan yang biasanya hanya becek kini tertutup tumpukan putih setinggi betis orang dewasa. Pohon-pohon di pinggir jalan tertunduk rendah karena beratnya salju di dahan-dahan mereka.

Slamet berhenti. Matanya menyipit.

Sial. Ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Dia melirik ke kiri dan kanan. Tidak ada jalan lain yang jelas terlihat. Hanya hutan yang lebih lebat dengan pepohonan rapat.

Neia bilang cari jalan lain.

Tapi jalan lain di mana?

Dia berdiri diam beberapa detik, lalu memutuskan untuk tetap maju. Salju setinggi betis bukan hambatan besar. Itu hanya memperlambat langkah.

Langkahnya menjadi lebih berat. Kaki kirinya yang telanjang mulai terasa dingin, lebih dingin dari biasanya. Sandal jepit di kaki kanannya semakin tenggelam ke dalam tumpukan putih, menciptakan suara yang berbeda.

Pluk. Pluk. Pluk. Pluk.

Bukan bunyi yang biasa dia dengar.

Dia terus berjalan.

Sekitar lima belas menit kemudian, Slamet melihat sesuatu di kejauhan. Sebuah pohon besar tumbang melintang di jalur yang harus dia lewati. Batang pohon itu tertutup salju, tapi ukurannya jelas cukup besar untuk menghalangi jalan.

Sial lagi.

Dia mendekat dan memeriksa pohon itu. Batangnya tebal, mungkin usianya dua atau tiga kali lipat dari usianya sendiri. Tidak mungkin dia pindahkan. Tidak mungkin dia hancurkan.

Jalan lain? Tidak ada. Kiri dan kanan adalah hutan dengan pepohonan rapat dan semak-semak berduri yang tertutup salju.

Slamet menghela napas. Uap putih keluar dari mulutnya.

Gue harus memanjat.

Dia meletakkan kotak kayu di tanah. Menggigit kotak itu? Tidak bisa. Terlalu besar.

Dia mengamati sekeliling. Mencari akal.

Akhirnya, dia mengambil tali dari saku celananya—tali yang selalu dia bawa untuk membuat simpul mati. Dia mengikat kotak itu ke punggungnya. Ikatannya tidak rapi, tapi cukup kuat.

Lalu dia mulai memanjat.

Pohon tumbang itu tidak terlalu tinggi. Tapi permukaannya licin karena salju. Kaki kirinya yang telanjang tergelincir dua kali. Sandal jepit di kaki kanannya hampir copot.

Tapi dia berhasil.

Dia turun di sisi lain, menghela napas lega, lalu melanjutkan perjalanan.

Pluk. Pluk. Pluk. Pluk.

Di pos selatan, seorang penjaga berjubah tebal menyambutnya dengan ekspresi lega yang sedikit tertahan.

"Kau kurir dari kelompok relawan?"

"Iya."

"Di mana petinya?"

Slamet menunjuk ke punggungnya. "Di sini."

Dia melepaskan ikatan tali, menurunkan kotak itu, lalu menyerahkannya. Penjaga itu menerima dengan hati-hati, membuka tutupnya, dan memeriksa isinya.

Lalu wajahnya berubah.

"Ini... terlambat dua jam."

Slamet mengernyit. "Jalannya tertutup salju. Ada pohon tumbang."

"Tidak ada yang bilang jalannya mudah," kata penjaga itu, suaranya sedikit tajam. "Tapi luka-luka di sini butuh obat ini sejak pagi."

Slamet tidak menjawab. Dia hanya berdiri diam.

Penjaga itu menghela napas panjang, menggosok wajahnya dengan telapak tangan.

"Sudahlah. Setidaknya sampai." Dia menatap Slamet. "Lain kali, berangkat lebih awal."

"Hm."

Slamet berbalik. Sandal jepitnya berbunyi lagi.

Di belakangnya, penjaga itu masih menatap.

Anak ini... dingin sekali. Tidak marah. Tidak bersedih. Hanya pergi begitu saja.

Orang aneh.

Di tenda logistik, Neia menyambut kepulangan Slamet dengan ekspresi lega.

"Tidak apa-apa?"

"Jalannya tertutup salju. Ada pohon tumbang." Slamet merebahkan diri di atas karung goni. "Selambat dua jam."

Neia terdiam. Tangannya menggenggam ujung jaketnya erat.

"Obatnya sampai?"

"Iya."

"Penjaganya marah?"

"Sedikit."

Neia tidak bertanya lagi. Dia hanya mengangguk.

Dua jam terlambat. Tapi obatnya sampai.

Itu yang penting.

Tapi kenapa aku merasa—

Tidak. Jangan terlalu paranoid.

Dia berbalik dan meninggalkan tenda.

Di dalam tenda, Slamet memejamkan mata.

Perutnya masih keroncongan. Jidatnya gatal. Kakinya terasa dingin menusuk.

Besok antar paket lagi. Semoga tidak ada pohon tumbang.

Tapi kayaknya sih bakal ada.

Nasib sial.

Ya udah.

Dengkur mulai terdengar pelan.

Di Ruang Takhta Nazarick, Ainz menunggu laporan yang belum juga datang.

Holy Kingdom jauh. Para mata-mata butuh waktu.

Dia menatap peta di depannya. Jarinya bergerak pelan menyusuri garis pantai selatan, wilayah yang bahkan belum pernah dia kunjungi. Wilayah yang sekarang menyimpan terlalu banyak pertanyaan yang tidak bisa dia jawab.

Satu pertanyaan yang paling mengganggu bukan soal kekuatan musuh. Bukan soal cara mereka masuk ke Nazarick.

Tapi soal mengapa mereka memilih Nazarick.

Dari seluruh tempat di New World ini, kenapa harus di sini?

Dia tidak punya jawabannya.

Dan ketidaktahuan itu lebih mengganggunya daripada apapun.

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!