.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inti Istana Gua, Ujian Ilusi Masa Lalu, dan Pengambilan Cincin Paling Santai
Kedalaman Istana Gua Karang Jiwa memancarkan atmosfer yang jauh berbeda dari area hutan di luar. Dinding-dinding gua dilapisi oleh kristal spiritual kuarsa yang berpendar keunguan, memantulkan cahaya redup yang menenangkan. Di langit-langit gua, stalaktit tua meneteskan air spiritual ke dalam kolam-kolam kecil, menciptakan gema ritmis yang lambat.
Di tengah ruangan altar utama yang luas, sebuah altar batu giok putih berdiri dengan kokoh. Di atasnya, melayang sebuah Cincin Giok berbentuk Bulan Sabit yang memancarkan pendaran perak lembut. Benda peninggalan ibu Ji Huang itu dikelilingi oleh jaring petir pelindung berwarna biru tua yang terus-menerus memercikkan energi destruktif.
Krek... krek...
Semut Baja raksasa yang dikendarai Ji Huang melangkah santai memasuki altar utama. Ji Huang masih mempertahankan posisi berbaring miring yang ergonomis, menjadikan selimut bebek rajutan ayahnya sebagai sandaran kepala yang nyaman.
"Tuan Muda, itu cincin milik Nyonya Besar," bisik Xiao Mei, matanya berbinar melihat artefak yang selama ini menjadi misteri di keluarga mereka.
Sebelum semut tunggangan Ji Huang sempat mendekati altar, udara di atas giok putih mendadak berputar hebat. Fluktuasi energi setingkat Fondasi Lapis Tinggi meledak, memadatkan kabut spiritual menjadi sesosok raksasa berbaju zirah kuno tanpa wajah yang memegang kapak perang gaib.
Inilah Manifestasi Jiwa Penjaga, mekanisasi pertahanan terakhir yang dipasang oleh pendiri akademi untuk menguji kelayakan spiritual siapa pun yang ingin mengklaim trofi tertinggi.
"Manusia fana yang lancang!" suara Penjaga Gua menggelegar, memicu guncangan kecil di langit-langit gua. "Untuk menembus tempat ini, kamu harus melewati Domain Ilusi Patah Hati! Jiwamu akan ditarik ke dalam penyesalan terdalam, trauma terbesar, dan ketakutan paling kelam dalam hidupmu hingga kesadaranmu hancur menjadi debu!"
Wush!
Tanpa memberikan kesempatan untuk menolak, mata kapak sang penjaga memancarkan gelombang energi hitam yang langsung membungkus seluruh kesadaran Ji Huang.
Teknik Domain Ilusi Patah Hati bekerja dengan cara menyelami lubuk hati terdalam target secara otomatis, mencari memori paling menyedihkan atau momen kekalahan terbesar untuk dijadikan senjata penghancur mental. Sistem formasi kuno ini mulai menarik kesadaran Ji Huang masuk ke dalam lautan ingatan tubuh fana ini.
Namun, sistem ilusi tersebut melakukan kesalahan kalkulasi kosmis yang fatal.
Alih-alih menemukan memori remaja ringkih yang disiksa oleh klan Huang di Kota Amerta, kesadaran ilusi itu justru mendadak menembus batas ruang dan waktu, tersesat masuk ke dalam labirin memori Sembilan Langit milik jiwa kuno sang Dewa Pedang yang menduduki tubuh ini.
Dalam sekejap, entitas Penjaga Gua dipaksa menyaksikan fragmen memori yang belum pernah terbayangkan oleh makhluk dunia fana:
Dia melihat Ji Huang berdiri di atas lautan darah kosmis, memegang pedang tunggal yang sekali tebasannya mampu membelah tiga planet sekaligus. Dia melihat manifestasi Naga Purba Zaman Awal berukuran sebesar galaksi melolong ketakutan sebelum kepalanya dipancung oleh Niat Pedang Ji Huang. Dia melihat para Dewa Agung dari langit tertinggi bersujud massal di bawah kaki sandal kayu pemuda ini sembari memohon ampunan.
Bagi sebuah entitas jiwa setingkat Fondasi yang diciptakan di dunia bawah, melihat memori kosmis seorang Dewa Pedang yang telah membantai jutaan entitas langit adalah sebuah hantaman mental yang kelewat brutal. Itu bukan lagi sekadar melihat ketakutan, melainkan dipaksa menyaksikan kiamat seluruh alam semesta secara berulang-ulang.
"AAAKKKHHHHHH!!!"
Bukannya Ji Huang yang berteriak histeris, justru Manifestasi Jiwa Penjaga Gua yang mendadak melolong kesakitan. Kapak perang gaibnya terlepas dari genggaman dan hancur menjadi abu. Makhluk zirah raksasa itu langsung jatuh berlutut di atas lantai gua, memegangi kepalanya yang mengeluarkan asap spiritual, sementara air mata energi mengalir deras dari balik helm zirahnya yang kosong.
Penjaga gua itu gemetar hebat, menatap Ji Huang dari lantai dengan pandangan penuh trauma yang teramat mendalam. Dia merangkak mundur dengan terburu-buru hingga menabrak pilar, menangis ketakutan seolah-olah baru saja melihat monster paling mengerikan dalam sejarah penciptaan.
Ji Huang perlahan membuka matanya, lalu menguap panjang. Dia turun dari punggung Semut Baja dengan gerakan lambat, masih membalut bahunya dengan selimut bebek rajutan Ji Tian.
Dia berjalan lempeng melewati sang Penjaga Gua yang kini sedang meringkuk di pojokan sambil bergumam tidak jelas meratapi hidupnya yang trauma. Saat Ji Huang mendekati altar batu giok, jaring petir pelindung yang tadinya memercikkan energi mematikan secara otomatis langsung padam total. Formasi penjara itu tampaknya ikut menyerah karena menolak berurusan dengan entitas yang membuat hantunya sendiri menangis.
Ji Huang mengulurkan tangan fanya yang kurus, lalu mengambil Cincin Giok berbentuk Bulan Sabit tersebut.
Tepat saat permukaan giok dingin itu menyentuh kulit jarinya, sebuah getaran hangat merambat masuk ke dalam garis darah tubuh Ji Huang. Resonansi karma terselesaikan secara mutlak. Di dalam ruang kesadarannya, sebuah residu suara wanita yang teramat lembut dan anggun—suara ibu kandung dari tubuh ini—terpantik dari segel terdalam cincin.
"Anakku... jika kamu berhasil memegang cincin ini, berarti kamu telah tumbuh menjadi pria yang kuat. Maafkan ibu yang harus kembali ke sangkar emas klan utama di Ibu Kota Kekaisaran demi melindungimu dan ayahmu... Jangan pernah mencariku jika kamu belum memiliki kekuatan untuk menundukkan pilar langit..."
Suara itu meredup, meninggalkan sebaris koordinat energi spasial yang mengarah langsung ke sebuah distrik terlarang di Ibu Kota Kekaisaran.
Ji Huang menatap cincin di jarinya dengan pandangan lempeng yang kembali mengantuk. "Saran yang bagus, Ibu. Aku memang tidak berniat mencari masalah yang melelahkan. Tapi karena mereka menahanmu dan membuat ayahku harus membakar panci karena merenung, aku terpaksa harus pergi ke Ibu Kota nanti untuk membereskan sangkar emas itu agar tidur siangnya bisa kembali tenang."
"Ji Huang! Bertahanlah! Kami datang membantu—"
Brak!
Suara langkah kaki yang panik terdengar dari koridor masuk gua. Mu Ning’er, Zhou Yan, dan dua tetua pengawas akademi akhirnya berhasil menembus sisa-sisa formasi luar dengan napas terengah-engah dan pedang terhunus, siap bertarung mati-matian melawan Penjaga Gua yang legendaris demi menyelamatkan murid VIP mereka.
Namun, pemandangan di dalam ruang altar membuat gerak insting bertarung mereka mendadak membeku di tempat.
Tidak ada pertarungan berdarah. Di pojok ruangan, Manifestasi Jiwa Penjaga Gua setingkat Fondasi yang terkenal kejam sedang duduk bersandar di pilar, menghadap ke dinding sembari mengisak pelan karena trauma mental. Sementara itu, Ji Huang sudah kembali merangkak naik ke atas punggung Semut Baja, merebahkan tubuhnya dalam posisi miring yang nyaman, dengan Cincin Giok Bulan Sabit—hadiah utama turnamen—sudah terpasang manis di jarinya.
"Kamu... kamu sudah menyelesaikan ujiannya?!" Mu Ning’er melongo, matanya hampir keluar menatap cincin di jari Ji Huang, lalu menatap penjaga gua yang menangis. "Bagaimana bisa penjaga gua dari pendiri akademi berubah menjadi... sekacau itu?!"
Ji Huang menarik kembali selimut bebeknya hingga menutupi batas mata untuk menghalangi pantulan cahaya kristal gua yang berkilau.
"Instruktur Mu, turnamen hutan ini sangat melelahkan dan menguras banyak energi faku," ucap Ji Huang polos dari balik selimut. "Penjaga gua ini tampaknya sedang mengalami masalah emosional internal dan dengan sukarela memberikan cincin ini agar aku tidak mengganggu waktu merenungnya. Karena trofi utama sudah kuambil, tolong siapkan kereta asrama terbaik yang memiliki suspensi empuk untuk mengantarku pulang ke Paviliun No. 01. Tulang belakangku sudah mencapai batas maksimal untuk bergerak minggu ini."
Semut Baja yang dikendarai Ji Huang mulai bergerak maju perlahan, melewati rombongan instruktur dan murid elit yang hanya bisa berdiri mematung dengan kepasrahan total menghadapi keajaiban malas sang Dewa Pedang fana.