NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Resep Masakan Rahasia

​Langkah kaki Vina dan Radit beriringan menuruni anak tangga menuju area dapur yang luas di lantai bawah. Setelah ketegangan yang mendebarkan di kamar Nyonya Laksmana, atmosfer di sekitar mereka berdua kini berangsur-angsur melunak.

​"Kau bisa tunggu di sini ya, Mas," ucap Vina lembut sembari menunjuk deretan kursi di meja makan yang terletak tidak jauh dari konter dapur.

​"Baiklah," jawab Radit patuh.

​Perwira muda itu menarik salah satu kursi kayu jatinya, mendudukkan diri di sana sembari terus memperhatikan gerak-gerik istrinya. Sementara itu, Vina melangkah masuk ke dalam dapur dan mulai mempersiapkan beberapa bahan untuk memasak.

Tak lama kemudian, ia melihat Ica baru saja datang dari arah luar dengan langkah yang tampak agak cemas. Vina sengaja berdehem pelan untuk menarik perhatian pelayan muda itu.

​"Apa kau yang melaporkan kejadian tadi ke Tuan Muda?" tanya Vina setengah berbisik saat Ica sudah berada di dekatnya.

​Ica menundukkan kepalanya, wajahnya dipenuhi rasa bersalah sekaligus cemas. "Maafkan aku, Nyonya Muda. Aku benar-benar tidak sanggup melihatmu teraniaya seperti tadi di kamar Nyonya Besar. Lagipula, aku juga mendapat pesan langsung dari Tuan Muda... jika suatu hari nanti Nyonya Muda menerima perilaku yang tidak baik di rumah ini, maka aku wajib melaporkannya segera."

​Vina mengembuskan napasnya pelan, tersenyum tipis mendengar kesetiaan pelayan di depannya. "Kau sangat baik, Ica. Aku menghargainya. Tapi jika selalu tiap waktu kau melaporkan hal seperti ini, bisa-bisa kau yang akan didepak dan dipecat oleh Nyonya Besar."

​"Baik, Nyonya Muda. Akan aku ingat selalu pesan Nyonya," sahut Ica pelan, merasa lega karena tidak dimarahi.

​"Baiklah. Sekarang bantu aku memasak makanan untuk Tuan Muda," ujar Vina mengalihkan pembicaraan. "Mungkin kita buat sup rumput laut saja? Apa Tuan Muda tidak ada alergi terhadap makanan itu?"

​Ica mengetuk dagunya sejenak, mengingat-ingat menu harian sang perwira. "Tidak ada, Nyonya. Tapi sepertinya saya sangat jarang—bahkan tidak pernah melihat Tuan Muda memakan makanan itu di rumah ini."

​"Berarti ini kali pertama ia akan memakan sup ini. Baiklah, kalau begitu aku harus memasaknya dengan sangat teliti dan hati-hati," ucap Vina mantap.

​Saat mulai memasak, Vina menunjukkan kebolehannya. Jemarinya sangat telaten dan lincah saat menggunakan pisau dapur untuk mengiris bumbu. Adaptasinya juga cepat, ia kini sudah mulai bisa menguasai penggunaan alat-alat modern yang ada di dapur mewah tersebut.

​Di tengah kegiatannya menyiangi sayur, mata Vina mendadak menangkap sesuatu yang janggal. Beberapa buah ubi berwarna ungu berukuran sedang tergeletak begitu saja di dalam wadah dekat tempat pembuangan sampah. Ia melangkah mendekat dan mengamati ubi-ubi segar yang tampak mubazir tersebut.

​"Ini... dibuang semua?" tanya Vina heran.

​"Iya, Nyonya," jawab Ica lemas. "Soalnya pelayan dan koki di sini tidak ada yang bisa memasak ubi tersebut. Setiap kali direbus atau dikukus, rasanya selalu sangat pahit. Kami sudah melakukan semua cara yang kami tahu agar rasa pahitnya hilang, tapi tetap saja tidak berhasil. Akhirnya Nyonya Besar menyuruh membuangnya."

​Vina tersenyum misterius, matanya berbinar. "Aku ada ide."

​Vina segera mengambil beberapa buah ubi ungu tersebut, mencucinya hingga benar-benar bersih, lalu mengupas kulitnya. Untuk menghilangkan getah pekat yang menjadi sumber rasa pahit, Vina merendam potongan ubi itu ke dalam air garam hangat selama beberapa menit.

​Setelah getah pahitnya luruh, ia mengukus ubi tersebut hingga teksturnya menjadi sangat lembut. Setelah matang, ubi ungu itu ditumbuk halus dan dicampur dengan sedikit tepung sagu serta santan kental agar teksturnya menjadi kenyal dan gurih. Vina kemudian membentuk adonan tersebut menjadi bola-bola kecil, lalu menggorengnya hingga bagian luarnya membentuk lapisan yang renyah.

​Tidak berhenti di sana, ia mencairkan gula aren murni di wajan terpisah hingga mengental dan berkaramel, lalu menggulingkan bola-bola ubi ungu goreng tadi ke dalamnya hingga seluruh permukaannya terbalut lapisan gula yang berkilau mewah. Camilan khas pedesaan yang kerap disebut "Ubi Karamel Manis" itu kini tertata cantik di atas piring porselen.

​Di tengah-tengah kesibukan Vina menata makanan, Radit diam-diam bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke ambang pintu dapur.

​"Apa tema makan kita hari ini?" tanya Radit dengan suara baritonnya yang khas, melipat kedua tangannya di dada.

​Vina menoleh sekilas, memberikan senyuman misterius yang menggoda. "Sesuatu yang spesial dan pastinya belum pernah kau cicipi seumur hidupmu, Mas."

​"Oh ya?" alis Radit terangkat sebelah, merasa tertarik.

​"Hmm... karena itu, tunggulah sebentar lagi di meja makan," sahut Vina jenaka.

​Vina mulai memindahkan masakan. Sup rumput laut yang berkuah bening dengan aroma kaldu gurih yang kuat dituangkannya ke dalam mangkuk besar. Beberapa lauk pendamping lainnya juga sudah disiapkan dengan rapi.

​"Akhirnya selesai. Ica, bantu aku membawa ini semua ke meja makan," panggil Vina.

​"Baik, Nyonya," sahut Ica sigap.

​Ica dan Vina bersama-sama membawa piring dan mangkuk yang sudah terisi makanan hangat ke hadapan Radit. Sebuah mangkuk berisi nasi putih yang penuh dan mengepulkan uap panas disajikan tepat di depan sang perwira. Dengan penuh perhatian, Vina langsung bergerak sigap menyendokkan kuah sup rumput laut serta menaruh beberapa lauk terbaik di atas nasi Radit sebelum suaminya itu mulai makan.

​Radit menyendok nasi beserta lauknya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Matanya seketika berbinar dikejutkan oleh rasa gurih kaldu yang berpadu sempurna dengan kesegaran rumput laut. "Ini... sangat enak, Vina. Kau benar-benar sangat pintar memasak."

​Vina tersenyum puas mendengar pujian jujur tersebut. "Nah, setelah kau selesai menghabiskan makanan berat ini, aku ingin kau mencicipi camilan ubi ungu manis ini."

​Radit melirik piring kecil berisi bola-bola ubi berbalut karamel mengilap di sampingnya. "Ini? Apa tidak pahit? Setahuku ubi jenis ini sulit diolah."

​Vina menggelengkan kepalanya dengan percaya diri. "Cobalah dulu."

​Radit mengambil satu bola ubi menggunakan jemarinya. Begitu makanan itu masuk ke dalam mulut, tekstur renyah di luar dan super lembut di dalam langsung menyambut lidahnya.

Rasa manis legit dari gula karamel yang mencair berpadu sempurna dengan rasa gurih alami ubi tanpa ada jejak rasa pahit sedikit pun. Sungguh sebuah perpaduan rasa manis tradisional yang sangat memanjakan lidah.

​"Manis... dan sama sekali tidak ada rasa pahitnya. Bagaimana caramu memasaknya hingga bisa selembut dan seenak ini?" tanya Radit takjub, tangannya bahkan langsung bergerak mengambil satu buah lagi.

​Vina terkekeh pelan, menaruh telunjuknya di depan bibir. "Sebuah rahasia dapur, Mas."

​Tepat pada momen hangat itu, pintu ruang makan mendadak terbuka. Sella berjalan masuk dengan langkah yang dihentak-hentakkan, sementara kedua tangannya menenteng beberapa wadah makanan premium berlogo restoran mewah.

​"Apa yang sedang kalian makan?!" seru Sella dengan suara melengking yang seketika memecah ketenangan.

​Semua orang di ruangan itu—Radit, Vina, dan Ica—langsung menoleh secara serentak ke arah pintu.

​Sella berjalan mendekat ke meja makan dengan dagu terangkat tinggi, memandang Vina dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. Ia meletakkan wadah makanan yang dibawanya ke atas meja dengan kasar di hadapan Radit.

​"Kak Radit, kenapa kau malah makan makanan rumahan tidak jelas seperti ini?" cemooh Sella sembari melirik sinis ke arah sup rumput laut buatan Vina. "Lihat, aku membawakanmu makan siang yang sangat mewah! Ini dimasak langsung oleh koki bersertifikat bintang lima dari restoran Prancis terkenal di pusat kota. Rasanya sudah pasti berkelas tinggi, jauh berbeda dengan masakan ala kampung yang miskin bumbu dan murahan seperti ini!"

​Mata Sella kemudian tidak sengaja menangkap sisa bola-bola ubi ungu karamel di piring Radit. Ia mendengus geli, lalu mengambil sepasang sumpit yang ia bawa dari wadah makanannya untuk menjepit ubi tersebut dengan gestur jijik.

​"Apa-apaan ini? Masakan ubi ungu?" Sella tertawa sinis ke arah Vina. "Heh, apa kau tidak tahu ya, kalau ubi jenis ini rasanya sangat pahit dan tidak bisa dimasak oleh orang kota? Di mansion ini, ubi menjijikkan seperti ini biasanya cuma berakhir jadi pakan ternak di belakang rumah tahu!"

​Dengan niat ingin membuktikan kata-katanya bahwa makanan itu menjijikkan dan pahit di depan Radit, Sella memasukkan bola ubi ungu karamel itu ke dalam mulutnya.

​Namun, begitu ubi tersebut dikunyah, gerakan rahang Sella mendadak terhenti. Matanya membelalak tidak percaya. Rasa manis legit yang berpadu dengan tekstur lembut yang lumer di dalam mulut seketika meledak di lidahnya. Tidak ada rasa pahit sama sekali. Rasa camilan itu justru jauh lebih memikat dan kaya rasa ketimbang hidangan penutup mewah dari restoran bintang lima yang sering ia beli.

​'Sial, ini seharusnya pahit! Kenapa rasanya malah bisa seenak ini?!' jerit Sella frustrasi di dalam hatinya.

​Demi memastikan lidahnya tidak salah, Sella dengan cepat mengambil satu bola ubi lagi menggunakan sumpitnya dan kembali memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya dengan ekspresi wajah yang tampak linglung sekaligus syok.

​Melihat Sella yang awalnya mencemooh namun sekarang justru lahap mengunyah, Radit menatapnya dengan pandangan dingin penuh sindiran. "Gimana? Enak, kan?"

​Sella tersentak, tersadar dari keterpakuannya. Gengsi tingginya membuat ia buru-buru memasang wajah masam dan menggelengkan kepala dengan keras, menolak untuk mengakui kehebatan masakan Vina.

​"Tidak! Ini... ini masih terasa sangat pahit di lidahku! Benar-benar sangat tidak enak, aneh, dan sama sekali tidak memenuhi standar—"

​"Sudahlah, Sella," potong Radit dengan nada suara yang sangat datar namun sarat akan ketegasan, membuat Sella seketika tersedak. "Kau bilang makanan pakan ternak yang tidak enak, tapi kau sendiri sudah memakannya berkali-kali tanpa berhenti sejak tadi."

​Wajah Sella seketika memerah padam menahan malu yang luar biasa akibat ucapan telak dari Radit yang langsung membuatnya mati kutu di depan Vina.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
aduh maaf banget di bab kali ini banyak typo bertebaran 😭🙏
Ris Ris.25
Semangat ya Thor🙏
Ris Ris.25
Semangat thor🙏🙏
Ris Ris.25
mana nih kelanjutannya?🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: Oke ditunggu ya kak😊
total 1 replies
Ris Ris.25
Bagus sekali Thor... semangat! 🙏
Sri Sulastri
mana lanjutannya min 🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: huhu makasih ya kak sudah nungguin.. setiap Hari update 1 kali sehari ya biar sehat 🤣🤭 setiap jam 9
total 1 replies
Wawan
Salam kenal Vina ✍️💪
Putri Ayu/PqxxyZ: Hai kakk.. salam kenal kembali..
total 1 replies
Mustafa
Keren
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo kita lihat bersama PERWIRA GANTENG DAN BAIK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!