Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DETAK JANTUNG
"Fan, apa mungkin ada orang yang bius aku tiap malam? Tapi CCTV rumah aku beneran bersih, nggak ada yang masuk!" seru Naya lagi, kepalanya mulai berdenyut kencang memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.
Fanya menggenggam kembali tangan Naya, meremasnya pelan untuk mengembalikan fokus sahabatnya yang mulai melantur kemana-mana.
"Nay, dengerin aku, untuk sekarang, stop cari tahu gimana caranya atau siapa pelakunya dulu kalau itu malah bikin kamu makin breakdown, yang paling penting sekarang adalah kondisi kamu, kamu lagi hamil, dan janin di dalam perut kamu ini nyata," ucap Fanya dengan nada tegas namun penuh perhatian.
Naya menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya kembali menetes.
"Aku nggak mau anak ini, Fan, aku nggak tahu ini anak siapa, tolong gugurin aja, ya? Kamu kan bisa, Fan. Aku mohon..." pinta Naya dengan suara memelas, mencengkeram tangan Fanya.
Fanya tertegun mendengarnya, namun sebagai dokter kandungan yang terikat sumpah janji, dan juga sebagai sahabat yang peduli, dia tidak bisa langsung mengiyakan permintaan nekat tersebut, dia tahu saat ini kondisi Naya masih dalam emosi yang tidak stabil.
"Nay, aku paham kamu lagi syok banget dan emosi kamu nggak stabil, tapi sebagai dokter, aku nggak bisa sembarangan ngelakuin tindakan itu tanpa alasan medis yang darurat. Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu..." ucap Fanya sengaja menjeda kalimatnya, membuat Naya menatapnya penuh tanya.
"Apa, Fan?" tanya Naya dengan suara serak.
Fanya membalikkan tubuhnya sedikit dan menunjuk ke arah layar USG, memperlihatkan grafik garis yang bergerak naik-turun dengan ritme yang sangat cepat dan konstan.
"Lihat ini, ini grafik detak jantung janin kamu. Normalnya, janin usia dua minggu itu bahkan belum kelihatan jelas bentuknya, apalagi detak jantungnya, tapi anak yang kamu kandung ini, detak jantungnya kuat banget, bahkan lebih kuat dari janin manusia biasa yang usianya udah jalan dua bulan," jelas Fanya dengan binar mata yang campur aduk antara takjub dan ngeri.
Naya terpaku menatap layar monitor tersebut. Suara detak jantung yang keluar dari mesin USG itu terdengar begitu dominan di dalam ruangan.
Duk
Duk
Duk
Mendengar suara itu, ada getaran aneh yang mendadak menjalar di perut bagian bawah Naya, sensasi hangat yang sangat asing namun entah kenapa terasa begitu mengikat.
Naya buru-buru memegang perutnya yang tertutup kemeja kerja, napasnya kembali tertahan.
"Rasanya aneh, Fan, perut aku mendadak anget banget pas dengar suara itu, dan juga aku udah gak mual lagi," bisik Naya dengan pandangan kosong, rasa mual yang menyiksanya sejak pagi tadi tiba-tiba hilang begitu saja digantikan oleh rasa nyaman yang entah datang dari mana.
Fanya yang melihat reaksi Naya langsung tersenyum tipis, dia mengusap bahu Naya dengan penuh rasa sayang.
"Itu namanya ikatan batin, Nay, mau bagaimanapun caranya dia ada di dalam sana, dia udah milih kamu jadi ibunya. Apapun yang terjadi nanti, aku janji nggak bakal ninggalin kamu sendirian. Kita bakal hadapi ini bareng-bareng, oke?" ucap Fanya menenangkan, berusaha memberikan jaminan keamanan bagi mental sahabatnya yang sedang terguncang.
Naya tidak menjawab, dia hanya menatap perut ratanya dengan perasaan yang sangat campur aduk, rasa benci, takut, bingung, dan setitik rasa kebanggaan yang tidak masuk akal mulai bergolak di dalam dadanya, menciptakan konflik batin yang teramat sangat bagi seorang Kanaya Tabitha.
"Apa mual kamu beneran langsung hilang?" tanya Fanya, menatap sahabat nya.
"Iya, Fan, tadi pagi pas di kantor, aku rasanya mau muntah terus sampai lemes, tapi sekarang mendadak kayak biasa aja, malah rasanya nyaman banget, kayak ada yang meluk aku dari dalam," jawab Naya mengangguk pelan, matanya masih menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Mendengar penuturan yang tidak biasa itu, bulu kuduk Fanya sempat meremang, sebagai dokter yang logis, dia tahu gejala morning sickness tidak bisa hilang begitu saja dalam hitungan detik hanya karena pasien mendengar detak jantung janin. Namun, melihat Naya yang mulai agak tenang, Fanya memilih untuk menyimpan keheranannya sendiri.
"Baguslah kalau mualnya hilang, berarti kamu bisa mikir lebih jernih sekarang," ucap Fanya sambil beranjak dari tepi ranjang untuk mematikan mesin USG.
Ruangan yang tadinya dipenuhi suara detak jantung yang cepat dan kuat itu seketika kembali sunyi.
Naya menghela napas panjang, dia perlahan mengubah posisinya menjadi duduk di pinggir ranjang periksa, membiarkan kakinya menggantung.
"Tapi tetep aja, Fan, ini gila, aku hamil anak siapa? Alexander? Pria di mimpi itu? Memangnya ada hantu yang bisa bikin orang hamil?" tanya Naya, bingung.
Fanya berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya, lalu melepas sarung tangan medisnya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Kalau kamu tanya dari sudut pandang medis, jawabannya jelas nggak mungkin, Nay, tapi kalau melihat semua bukti yang ada sekarang, dua titik merah di leher kamu, mimpi yang terasa nyata, dan perkembangan janin kamu ini, aku juga jadi bingung mau jelasin pakai teori apa," jawab Fanya, menggeleng kan kepala nya.
"Terus aku harus gimana sekarang?" tanya Naya kembali bergetar, bayangan reputasinya sebagai CEO muda yang sukses mendadak berkelebat di kepalanya.
"Gimana kalau orang-orang tahu? Rekan bisnis aku, karyawan aku mereka bakal mikir apa tentang aku?" tanya Naya, kembali khawatir.
Fanya kembali mendekati Naya, dia menarik sebuah kursi lalu duduk tepat di hadapan sahabatnya itu.
"Nggak bakal ada yang tahu kalau kita nggak cerita ke siapa-siapa, rumah sakit ini punya aku, semua data medis kamu aman di bawah pengawasan aku langsung, jadi, tolong buang jauh-jauh pikiran soal omongan orang lain dulu," ucap Fanya, hati-hati.
Naya menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang rasanya ingin keluar lagi.
"Makasih ya, Fan, aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu di sini," ucap Naya, tersenyum kecil.
"Sama-sama, Nay, kita kan udah sahabatan dari zaman SMP, masa aku tega biarin kamu pusing sendirian," jawab Fanya dengan senyum tulus yang sedikit menenangkan ke khawatiran Naya.
Tiba-tiba Naya kembali teringat akan satu hal. Dia menyentuh lagi dua titik merah di lehernya yang tadi sempat diperiksa oleh Fanya.
"Fan, soal luka di leher ini, menurut kamu, apa aku perlu periksa ke dokter spesialis lain? Atau mungkin lapor polisi karena dugaan pemerkosaan atau semacamnya?" tanya Naya, melihat sahabatnya.
Fanya tampak menimbang-nimbang pertanyaan Naya, dia mengetukkan jarinya di dagu dengan ekspresi berpikir yang serius.
"Kalau soal polisi, agak sulit, Nay. Kamu bilang sendiri kan kalau CCTV rumah kamu bersih? Nggak ada tanda-tanda pintu atau jendela rumah kamu dibongkar paksa?" jawab Fanya.
"Nggak ada sama sekali, semuanya terkunci rapat dari dalam, dan alarm rumah juga nggak bunyi," ucap Naya lesu.