Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Panik Massal dan Undangan Reuni Dadakan
Kinar merasa jiwanya baru saja melompat keluar dari raga dan terbang melayang di langit-langit dapur. Matanya menatap layar ponsel dengan horor yang tak terlukiskan. Kalimat 'Kita lagi sibuk program hamil' yang diketik Arga terpampang nyata di kolom obrolan bersama Rendi—sang mantan kekasih yang baru diputuskannya bulan lalu.
"Arga... lo beneran minta digiling ya?!" Kinar menjerit, suaranya naik dua oktav hingga hampir menyentuh nada tinggi seorang penyanyi opera. Dia mengangkat sendok semenjak siap melayangkannya ke kepala cowok di hadapannya. "Program hamil pala lo peyang?! Nikah aja baru tiga hari, lewat jalur mandiri pula! Kalau si Rendi percaya terus dia cerita ke anak-anak geng kita gimana, Hah?!"
Arga dengan santai mengunyah kerupuk kaleng terakhirnya, sama sekali tidak terpengaruh oleh amukan Kinar yang sudah mirip banteng Spanyol melihat kain merah. "Ya bagus dong? Biar itu cowok sadar diri kalau dia udah jadi masa lalu yang gak usah pake acara log-in lagi. Lagian, lo liat sendiri kan isi pesannya? Percaya diri banget dia mikir lo nikah karena pelarian. Dih, najis banget gue liatnya."
"Tapi gak perlu bawa-bawa program hamil juga, Bego!" Kinar mengacak rambutnya frustrasi. "Sekarang reputasi gue sebagai cewek elegan dan berwibawa hancur total dalam waktu satu detik!"
"Sejak kapan lo elegan?" Arga menaikkan sebelah alisnya, menatap Kinar dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Cewek elegan gak bakal tidur mangap sambil meluk guling yang air liurnya udah membentuk peta dunia, Kinar. Udah deh, mending lo habisin mi lo. Keburu melar kaya karet gelang."
Kinar mendengus kencang, menyuap mi instannya dengan emosi yang menggebu-gebu sampai garpunya berdenting keras menabrak piring. Namun, belum sempat dia menelan kunyahan pertamanya, ponsel di atas meja kembali bergetar. Kali ini bukan dari Rendi, melainkan sebuah panggilan video grup dari WhatsApp.
Nama grupnya: Geng Anti-Sambat (4). Isinya adalah sahabat-sahabat dekat mereka sejak zaman kuliah: Dika dan Maya.
Kinar dan Arga otomatis saling pandang. Jantung mereka kompak berdegup dua kali lebih cepat.
"Pasti si Rendi udah ngadu," bisik Kinar dengan wajah pucat.
"Angkat aja, pasang muka santai," balas Arga dengan suara rendah, mencoba sok tenang padahal dia juga mendadak menegakkan posisi duduknya.
Kinar menggeser tombol hijau. Layar ponsel langsung terbagi menjadi tiga bagian. Wajah Maya muncul pertama kali dengan masker lumpur hitam di wajahnya, disusul wajah Dika yang tampaknya baru bangun tidur di kamar kosnya.
"WOI! KINAR! ARGA!" suara Maya langsung menggelegar, membuat Kinar terpaksa menjauhkan ponsel dari telinganya. "Gue dapet gosip apa ini dari si Rendi?! Dia nge-share screenshot chat di grup sebelah! Heh, kutu kupret, kalian beneran udah nikah?! Terus apa-apaan itu berita program hamil?! Kapan kalian jadiannya, astaga?!"
Dika ikut mendekatkan wajahnya ke kamera, matanya yang sipit melotot maksimal. "Asli, Ga. Lo beneran tikung temen sendiri? Sejak kapan lo doyan sama si macan tutul ini? Perasaan tiap hari kerjaan kalian cuma berantem rebutan remot TV di sekretariat mapala!"
Arga berdeham, mencoba mengontrol suaranya agar terdengar seperti seorang suami yang penuh tanggung jawab. "Santai, Bos, santai. Gak usah panik gitu nanyanya. Ya... emang bener kita udah nikah dua minggu lalu. Sederhana aja, cuma dihadiri keluarga inti. Soal chat ke Rendi... ya itu cuma biar dia gak ganggu istri gue lagi."
Mendengar kata 'istri gue' keluar dari mulut Arga dengan begitu lancar, Kinar mendadak tersedak mi instannya sendiri. Dia terbatuk-batuk hebat sampai wajahnya memerah. Arga dengan sigap langsung menyodorkan segelas air putih dan menepuk-nepuk punggung Kinar dengan lembut.
"Wah, wah, wah... liat tuh! Udah mulai perhatian sekarang ya!" goda Maya di seberang telepon, matanya berbinar-binar di balik masker lumpurnya. "Oke, gue gak bakal nanya gimana prosesnya sampai kalian bisa pelaminan, karena gue tahu kalian berdua misterius banget kalau soal asmara. Tapi yang jelas, besok Sabtu anak-anak angkatan kita mau ngadain syukuran dan reuni kecil di kafe biasa. Kalian berdua WAJIB dateng sebagai pasutri baru. Titik, gak ada penolakan!"
"Bener banget," Dika menimpali sambil menunjuk kamera. "Kalau kalian gak dateng, gue sama Maya bakal geruduk kontrakan baru kalian. Kita mau liat seberapa siap kalian buat program hamil yang dibilang Arga tadi. Hahaha!"
"Eh, tapi besok Sabtu gue ada—" Kinar mencoba mencari alasan untuk menghindar, namun Maya sudah lebih dulu memotong kalimatnya.
"Gak ada tapi-tapi! Dateng atau kontrakan lo gue obrak-abrik! Bye!"
Pip. Panggilan diputus sepihak.
Kinar menjatuhkan kepalanya ke atas meja makan dengan pasrah. Kepalanya terasa mau pecah. Kontrakan yang tadinya terasa tenang kini mendadak dipenuhi aura mencekam. Sabtunya tinggal dua hari lagi, dan itu berarti mereka harus berakting menjadi sepasang suami-istri yang saling mencintai di depan teman-teman yang sudah tahu persis betapa hancurnya hubungan mereka selama belasan tahun ini sebagai sahabat.
Kinar mendongak, menatap Arga dengan pandangan membunuh. "Semua ini gara-gara ketikan maut lo ya, Arga tampang pas-pasan! Pokoknya besok Sabtu lo harus tanggung jawab gimana caranya kita keliatan kaya pasangan normal di depan mereka!"
Arga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mulai merasa kalau keputusannya membalas chat Rendi tadi mungkin sedikit agak blunder. "Ya... tinggal pegangan tangan dikit lah besok, masa gak bisa? Anggap aja kaya lo megang tangan gue pas kita nyebrang jalan raya yang banyak truknya."
"Gak segampang itu, Bodoh!" Kinar berteriak frustrasi, sementara Arga hanya bisa meringis pasrah menerima kenyataan bahwa akhir pekan mereka tidak akan berjalan dengan damai.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/