Halo... sekian lama vakum akhirnya aku kembali ke platform kesayangan kita semua. Aku akan kembali aktif sebagai penulis menemani waktu senggang anda semua. Semoga bukuku bisa menjadi teman setia anda semua. Terima kasih.
Luna seorang dokter Onkologi berbakat dinikahi oleh seorang lelaki yang mengaku seorang karyawan di salah satu perusahaan besar bidang Farmasi. Lelaki itu menikahi Luna tanpa banyak tanya latar belakang Luna karena tahu Luna adalah anak yatim-piatu yang besar di panti asuhan. Lelaki itu mengira Luna hanya seorang perawat rumah sakit tanpa menyelidiki pekerjaan Luna sesungguhnya.
Ternyata di balik pernikahan ini tersimpan misteri yang tidak diketahui oleh Luna. Luna mengira suaminya memang seorang karyawan yang memiliki gaji kecil. Secara diam-diam Luna mendukung suaminya dengan memberinya obat hasil penelitiannya. Lalu apa yang didapatkan oleh Luna. Mari kita simak bersama-sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Sandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Alvin
Alvin menunggu di luar ruang kerja Luna sambil memikirkan nasib Vano dan perempuan yang dipanggil Tania. Alvin heran mengapa ada orang menyia-nyiakan hidup bercanda dengan maut. Terserang virus HIV sama saja menunggu giliran liburan ke neraka. Jangan harap malaikat silap antar mereka ke surga. Tempat mereka sudah pasti di neraka. Lalu apa arti hidup mereka bila setiap hari ketakutan diincar oleh kematian. Usia muda sudah terdaftar di buku catatan elmaut.
Alvin wanti-wanti pada diri sendiri tidak terjerumus seperti kedua orang itu. Kalau mau di kaji penyandang virus HIV buka cuma mereka berdua. Ratusan orang di luar sana menyerahkan diri pada virus itu dengan kesadaran penuh. Sudah tahu apa yang mereka lakukan akan bawa dampak buruk tapi tetap pilih jalan rusak menuju kehancuran.
"Mas..." suara pelan Luna mengembalikan Alvin dari lamunan. Kini ibu hamil itu sudah adadi depan mata. Wajah Luna terlihat lebih ceria dari sebelum masuk ke ruang kerja. Apa yang dibicarakan dengan Bu Sarah membawa dampak positif. Alvin tak perlu tahu soal itu. Yang penting sekarang adalah bawa Luna meninggalkan tempat ini secepat mungkin.
"Sudah selesai?"
"Sudah mas... Kita balik ya!"
Kepala Alvin bergerak cepat mengiyakan perkataan Luna. Dari tadi Alvin berdoa semoga Luna cepat menyelesaikan tugas agar mereka bisa segera angkat kaki dari tempat ini. Alvin harap Luna takkan injak tempat ini lagi. Kalaulah mau bekerja bukan di tempat penuh kuman HIV.
"Yok... Kita pulang." Alvin mengangguk yakin. Itu yang dia harapkan selama berjam-jam di lembaga riset Luna. Alvin sudah lihat dengan mata kepala sendiri betapa bahaya virus HIV. Sebisanya menghindari bibit penyakit itu dengan cara jaga pergaulan. Jangan pernah tergiur hawa nafsu setan.
"Yok... Kami pulang dulu Bu Sarah! Kalau ada yang penting segera hubungi aku. Pantau terus perkembangan kedua orang itu. Terutama Tania. Kesehatannya kurang menguntungkan."
Bu Sarah memahami kekuatiran Luna pada Tania. Kondisi Tania memang jauh buruk dari Vano. Tapi Ibu Sarah tidak akan menyerah. Selama masih ada satu helaan nafas di tubuh Tania mereka takkan lepas tangan.
"Kau tak usah kuatir Una... Aku akan terus jaga mereka. Kau juga jaga diri jelang lahiran. Hindari orang yang bikin perasaan kusut. Aku akan urus pembatalan semua kontrak kerja sesuai keinginanmu. Kita kasih pelajaran pada manusia tak punya hati itu."
"Terima kasih dukungan Bu Sarah... Tak usah antar kami lagi. Kami jalan sendiri. Assalamualaikum... " Luna menolak Bu Sarah ikut mereka sampai keluar bangunan.
Sehari-hari Bu Sarah sudah cukup lelah urus pasien sakit. Bu Sarah harus ke rumah sakit lagi mengobati pasien di sana. Hampir tak ada waktu istirahat untuk perempuan yang seluruh hidup di dedikasikan untuk orang sakit. Bahkan Bu Sarah lupa berkeluarga saking semangat mengurus pasien. Bu Sarah hidup di lingkungan pasien dan obat-obatan.
No time for love. Itulah motto Bu Sarah.
Tak lama kemudian Alvin dan Luna sudah berada dalam mobil Alvin. Supir Alvin masih setia menunggu sampai kedua majikan selesaikan misi mereka. Kini tugasnya mengantar kedua majikan ke tempat arahan Alvin. Ke manapun pergi sang supir siap siaga.
Luna melirik Alvin yang agak berubah setelah melihat pemandangan tragis penderita HIV. Luna mengira Alvin sedang menghitung waktu kapan dia akan jadi kelinci riset Luna. Kalau terus menganut kehidupan bebas resikonya mondok di tempat angker milik Bu Sarah.
"Kenapa mas? Lagi mikir apa?"
Alvin memutar kepala ke kiri menatap wajah cantik wanita super jenius itu. Alvin tak sangka wanita yang tampak lemah menyimpan potensi luar biasa. Anjas sudah buta tak lihat pancaran sinar terang di tubuh Luna. Anjas terpaku oleh pesona palsu Clara. Sekarang rasakan akibat bohongi Luna. Farmasi Anjas pasti terguncang oleh penolakan Luna.
"Berapa banyak rahasiamu lagi? Kau adalah orang yang membantu Anjas selama ini bukan?"
Luna menarik nafas sudah tak mampu menutupi rahasia perjalanan kariernya. Alvin sudah lihat sebagian dari pekerjaannya sebagai dokter juga peneliti. Mungkin berkata jujur akan bikin Luna lega. Luna tak perlu main kucing-kucingan dengan ilmu di otaknya. Biarlah orang kenal dia yang sesungguhnya.
"Iya... Aku pernah memberi Anjas beberapa hasil penelitian jenis obat-obat berkualitas super. Terakhir aku berhasil menemukan resep melawan kanker. Aku sukses mengembangkan hasil kerja kerasku dan berniat jual ke perusahaan Anjas. Tapi sudah kubatalkan. Aku akan cari farmasi baru untuk pasarkan obat tersebut. Anjas tak pantas diberi peluang mencari rezeki. Dia itu orang angkuh. Dia pikir bisa taklukkan aku pakai janji dan uang. Dia salah besar." ujar Luna sambil bayangkan setiap kalimat Clara merendahkan dirinya. Di mulut Clara selalu menyebutnya perempuan bodoh.
Luna mau lihat apa yang bisa dilakukan oleh Clara setelah perjanjian kontrak dibatalkan. Sumber keuangan Anjas pasti akan terseret. Obat pemusnah sel kanker yang diklaim produk spektakuler Farmasi Kutilan tinggal harapan kosong. Anjas takkan pernah menyentuh obat hasil riset Luna.
"Aku tidak menyalahkan kamu bila berbuat kejam terhadap Anjas. Dia memang pantas mendapat hukuman atas perbuatannya sendiri. Sekarang ceritakan soal virus HIV! Aku takut sekali mengetahui kau berkecimpung di penyakit ini. Sekali kena artinya sudah teken kontrak dengan malaikat maut. Aku belum mau meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan karya yang dikenang orang."
"Kau takut pada penyakit ini bukan? Virus HIV belum ada obatnya walau bisa ditekan dengan pengobatan konsumsi obat Antiretroviral disingkat ARV. Obat harus dikonsumsi secara rutine agar virus tak bangkit. Virusnya tak hilang cuma bersembunyi. Kalau tubuh penderita sedang drop dia akan bangkit lagi. Begitulah seterusnya sampai tubuh tak mampu bendung penyebaran virus. Maka itu kami sedang melakukan riset basmi virus itu agar tak bangkit lagi."
Alvin tidak bisa menyembunyikan kekaguman terhadap Luna. Wanita yang tampak lemah ternyata memiliki potensi luar biasa. Alvin sendiri bukanlah siapa-siapa bila dibandingkan dengan Luna. Di balik kelembutan Luna tersimpan kekuatan bersembunyi.
"Apakah kalian sudah berhasil menjinakkan virus itu?"
"Bukan menjinakkan tapi dibasmi... obat sekarang sudah mampu menjinakkan tapi sifat liar virus itu sulit kita bendung. Kita harus mendapatkan resep jitu menghancurkan sel itu sampai ke akar-akarnya." ujar Luna dengan mata berbinar-binar. Luna sangat semangat sekali ingin melihat dunia ini terbebas dari virus mematikan itu.
"Aku salut padamu Luna... Lalu bagaimana nasib Clara dan Anjas? Apakah mereka juga sudah terkena virus itu?"
"Kita tidak bisa memastikan sebelum melakukan tes di laboratorium. Clara belum tentu terkena virus itu walaupun melakukan hubungan intim dengan penderita virus HIV. Kadang Virus itu sedang tiarap sehingga tak menyebar. Ataupun imun tubuh Clara cukup bagus sehingga virus itu mati sebelum berkembang. Biasanya virus itu akan terdeteksi dalam rentang waktu setengah bulan sampai tiga bulan begitu masuk ke tubuh. Kalau imun tubuh bagus bisa lebih lama."
Alvin manggut-manggut mulai paham oleh keterangan dari Luna. Tak rugi berteman dengan seorang ahli kesehatan. Menambah wawasan di bidang kesehatan sehingga bisa mawas diri.
"Selain hubungan seks apalagi paling vital dalam penyebaran virus HIV?"
"Berciuman dengan penderita HIV belum tentu tertular tapi bila penderita terluka dan kebetulan kita juga terluka dan saling bersentuhan itu salah satu cara virus berpindah, menggunakan jarum penderita HIV seperti tatto, jarum suntik narkoba, hubungan intim gay. Virus HIV paling sering muncul di kalangan pencinta sesama jenis. Mereka melakukan hubungan intim di tempat yang salah di mana hukuman mengendap di situ. Mas tak usah pura-pura tak tahu soal gay. Penderita virus HIV paling banyak menyerang kaum gay. Semoga kalian ingat pelajaran yang kuberikan hari ini." Luna melirik Alvin seperti sedang menuduh.
Alvin membalas lirikan Luna tak kalah tajam. Alvin merasa dituduh melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan maka memberi reaksi menantang. Alvin yakin dia jauh dari incaran virus karena jalannya lurus. Tidak berkelok-kelok menyusahkan diri sendiri.
"Apakah Bu dokter sedang curiga padaku?" Tanya Alvin menyipitkan matanya tak suka dilirik tajam oleh Luna. Lirikan mata menghakimi yang bikin hati Alvin terluka.
"Siapa curiga? Aku sebagai pakar virus hanya beri edukasi kepada kalian betapa bahayanya virus-virus mematikan itu. Kalau bisa dihindari untuk apa kita menerjang ke depan. Bukankah itu sama saja mengantar diri ke liang lahat?"
"Siapapun tahu bahaya HIV... Aku mau hidup lebih lama untuk melihat anak-anakku tumbuh besar. Jadi nyonya Alvin tak perlu curiga suamimu ini menyimpang dari jalan benar." ujar Alvin tak senang.
"Alhamdulillah kalau mas sadar bahaya HIV... Kita langsung pulang?"
"Memangnya kamu mau ke mana lagi? Kau tidak aman berada di tempat terbuka. Kalau lagi apes kita bisa saja bertemu dengan Anjas. Aku yakin dia menyebar mata-mata di mana-mana. Kita harus bersabar sampai kau melahirkan. Kau tak keberatan main di rumah saja bukan?"
"Kedengarannya membosankan tetapi apa dayaku. Ya memang harus gitu kalau mau aman."
"Kau butuh sesuatu? Aku akan bantu kamu mencarinya. Aku akan melakukan apa saja asal kamu aman."
"Minggu depan aku harus kontrol ke dokter kandungan. Apakah mas akan menemaniku?"
"Seratus persen yes... aku akan meminta seseorang memantau sebelum kita berangkat ke sana. Kau punya dokter pribadi?"
"Bukan dokter pribadi tapi rekan sesama dokter. Kita ke prakteknya saja untuk hindari tempat umum. Aku juga takut kepergok oleh Anjas. Nasib apes tak pilih hari. lebih baik menghindar ketimbang ketimpa sial."
"Kau benar Luna... Kau kasih alamat dokternya biar kami mulai pantau kondisi."
"Tak usah terburu-buru mas... masih Minggu depan kok."
"Gitu ya!"