Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Darah di Garis Perbatasan
*"Kau tahu apa yang paling menyedihkan dari seorang pecundang, Julius? Bukan kekalahan mereka di medan perang, melainkan kesadaran mereka bahwa setiap langkah yang mereka ambil hanyalah lingkaran setan yang membawa mereka kembali ke lubang kubur yang sama."*
Suaraku terdengar lemah, tercekat di tenggorokan yang terasa terbakar oleh sisa-sisa energi dingin penyihir kuno yang tadi kupaksa masuk ke dalam nadiku. Kami sedang bersembunyi di dalam gua kecil yang lembap, jauh di bawah tebing curam perbatasan utara. Di luar sana, suara derap langkah tentara Dewan Langit terdengar seperti gemuruh badai yang tak kunjung berhenti. Mereka sedang menyisir setiap inci hutan untuk mencari keberadaan kami.
Julius, yang wajahnya kini dipenuhi dengan luka sobek akibat pertarungan di jembatan tulang, sedang menatap api kecil yang ia ciptakan di telapak tangannya. Cahayanya redup, seolah energinya pun mulai menipis. Dia tidak menjawab ucapanku, hanya fokus menyalurkan sedikit kehangatan ke arah tubuhku yang menggigil hebat.
*"Jangan bicara dulu,"* bisiknya, suaranya parau namun penuh otoritas. *"Setiap kata yang kau keluarkan hanya akan membuang sisa oksigen dan energi yang kau miliki. Tubuhmu sedang mencoba menolak sisa energi penyihir kuno itu. Jika kau tidak diam, kau akan mati sebelum mereka sempat menyentuhmu."*
*"Dan jika aku diam, kita hanya akan menunggu giliran untuk dibantai,"* balasku, meski mataku mulai terasa berat. *"Julius, berapa lama lagi kita bisa bertahan? Kita tidak punya sihir murni lagi untuk menyembuhkan diri, dan pasukan Dewan Langit tidak akan berhenti sampai mereka memastikan jantung itu benar-benar hancur atau ada di tangan mereka."*
Julius menatapku, matanya yang obsidian tampak lebih gelap dari biasanya, penuh dengan kalkulasi yang menyakitkan. *"Pos perbatasan Syndicate hanya berjarak lima mil dari sini. Jika kita bisa mencapainya sebelum matahari terbit, kita akan mendapatkan perlindungan dari kaum pemberontak yang masih setia pada keluarga Vance. Tapi jalan itu... itu adalah jalur terbuka di tengah padang rumput yang gersang. Tidak ada tempat untuk bersembunyi di sana."*
*"Maka kita akan berlari,"* kataku, mencoba bangkit meski punggungku terasa seperti dipukul palu godam.
*"Kita akan merangkak jika perlu,"* sambung Julius, lalu dia berdiri dan menggendongku lagi. Kali ini, dia tidak lagi sekuat sebelumnya. Aku bisa merasakan pundaknya bergetar di bawah beban tubuhku.
Kami keluar dari gua, disambut oleh kegelapan malam yang pekat. Lembah perbatasan ini begitu sunyi, sebuah ketenangan yang menipu. Di kejauhan, obor-obor pasukan Dewan Langit tampak bergerak seperti kawanan kunang-kunang pembawa kematian. Mereka mengepung area ini dengan sistematis.
Saat kami berjalan menyusuri tebing, sebuah bayangan tiba-tiba melompat dari kegelapan di depan kami. Aku memekik, namun Julius dengan sigap menghunus pedang hitamnya.
*"Jangan menyerang!"* suara itu muncul dari balik bayangan. Pria bertopeng burung hantu. Dia berdiri di sana, dengan tangan terangkat, tidak berniat bertarung.
Julius tidak menurunkan pedangnya. *"Kenapa kau di sini? Ingin menyelesaikan pekerjaan yang gagal dilakukan para Inquisitor itu?"*
Pria bertopeng itu mendengus sinis. *"Jika aku ingin membunuh kalian, kalian sudah mati sejak di jembatan tulang tadi. Aku di sini untuk memberikan peringatan. Pasukan yang kalian lihat di belakang bukan hanya tentara biasa. Mereka membawa 'Penjepit Cahaya'—sebuah artefak yang mampu mendeteksi sisa energi penyihir sejauh sepuluh mil. Selama kalian memiliki residu energi kuno di tubuh Marie, kalian tidak akan pernah bisa meloloskan diri dari deteksi mereka."*
Aku mencengkeram jubah Julius. *"Apa maksudnya? Residu energi? Maksudmu sihir yang kupaksa masuk tadi?"*
*"Tepat sekali,"* jawab pria bertopeng itu. *"Energi itu seperti suar yang menyala di tengah malam yang gelap. Kalian sedang membawa obor di tengah kawanan pemburu."*
*"Lalu apa solusinya?"* tanya Julius dengan nada menantang.
Pria itu mendekat, suaranya merendah. *"Ada satu cara untuk memadamkan suar itu. Kalian harus membuang seluruh energi yang tersisa di dalam tubuh Marie ke dalam 'Sumur Kehampaan' yang berada di reruntuhan kuil kuno di bawah tebing ini. Tapi ingat, sumur itu tidak sekadar membuang energi. Ia akan menghapus ingatan kalian tentang masa lalu, masa depan, dan siapa kalian sebenarnya. Kalian akan keluar dari sana sebagai manusia yang benar-benar kosong, tanpa ingatan, tanpa tujuan."*
*"Itu sama saja dengan kematian!"* teriakku.
*"Lebih baik mati sebagai orang asing daripada hidup sebagai buronan yang diburu untuk disiksa seumur hidup,"* jawab pria itu dingin. *"Aku tidak memaksa. Tapi pilihannya adalah itu, atau kalian akan tertangkap dalam waktu kurang dari lima menit dari sekarang."*
Aku terdiam. Pilihan ini... setiap kali aku membuat keputusan, aku selalu kehilangan sesuatu yang berharga. Kehilangan kekuatan, kehilangan diri sendiri, dan sekarang, mungkin kehilangan ingatan?
*"Julius,"* bisikku, menatap matanya dalam-dalam. *"Apakah ini akhir dari segalanya? Jika kita masuk ke sana, apakah kita masih akan mengenal satu sama lain?"*
Julius terdiam cukup lama. Dia memandang kejauhan, ke arah pasukan yang semakin dekat, lalu dia kembali menatapku. Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang tulus di matanya—bukan ketakutan akan kematian, tapi ketakutan akan kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
*"Jika kita kehilangan ingatan kita,"* suaranya hampir tak terdengar, *"maka aku akan belajar mencintaimu dari awal lagi. Dan aku akan memastikannya berulang kali, sampai kau tidak bisa melupakanku lagi."*
Kata-katanya membuat hatiku berdesir, sebuah perasaan hangat di tengah malam yang dingin. Tapi waktu kami habis. Suara derap langkah kaki para prajurit semakin jelas, dan cahaya dari obor mereka mulai menyinari dinding-dinding tebing di sekitar kami.
*"Lakukan,"* ucapku pada pria bertopeng burung hantu.
Dia memberikan arah menuju reruntuhan kuil itu. Kami berlari, lebih cepat dari sebelumnya, meski kakiku sudah tidak sanggup menopang berat badanku. Kami mencapai sebuah bangunan tua yang tertutup akar pohon dan lumut, di mana sebuah lubang hitam yang dalam tampak bergejolak seperti air yang mendidih. Itu adalah Sumur Kehampaan.
Para prajurit Dewan Langit sudah sampai di puncak tebing. Mereka menatap ke bawah, ke arah kami. Pemimpin mereka, seorang pria berjubah emas dengan topeng yang menutupi seluruh wajahnya, mengangkat tangan. Puluhan anak panah cahaya sudah terarah kepada kami.
*"Tahan mereka, Julius!"* teriakku saat aku mulai mendekat ke bibir sumur.
Julius berbalik, pedang hitamnya berkilau membelah malam. *"Lari, Marie! Masuk ke dalamnya! Aku akan menyusulmu setelah aku menghancurkan sumbu deteksi mereka!"*
*"Tidak! Kita masuk bersama!"*
*"Pergi!"* dia berteriak, suaranya penuh dengan otoritas mutlak.
Dia melompat ke arah pasukan Dewan Langit, melepaskan gelombang energi kegelapan yang membuat seluruh tebing berguncang. Aku tidak punya pilihan. Aku menatap Julius untuk terakhir kalinya, lalu aku melompat ke dalam kegelapan Sumur Kehampaan.
Sensasi jatuh itu sangat dingin, sangat dalam, dan sangat tenang. Aku bisa merasakan energi kuno itu perlahan ditarik keluar dari pori-pori kulitku, bersamaan dengan bayangan wajah ayah Marie, bayangan masa laluku di dunia asal, dan bahkan kenangan tentang pertemuan pertamaku dengan Julius. Semuanya perlahan memudar, tertelan oleh kegelapan sumur yang haus.
Tepat sebelum ingatan terakhirku tentang Julius hilang, aku melihat dia melompat ke dalam sumur setelahku, dikelilingi oleh percikan cahaya dari panah-panah musuh yang menghantamnya. Dia memelukku di tengah kehampaan itu.
*"Aku akan menemukanmu lagi,"* bisiknya di telingaku sebelum semua suara lenyap.
Dan kemudian, yang tersisa hanyalah kegelapan.
...
Entah sudah berapa lama berlalu.
Cahaya matahari yang menyilaukan menusuk mataku. Aku terbangun di tengah hutan yang rindang, dengan burung-burung yang berkicau dengan riang. Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa sesak di dadaku, tidak ada memori tentang sihir atau jantung yang berdetak di dalam cawan. Aku hanya merasa... kosong.
Aku bangkit berdiri, merasa seperti orang yang baru lahir ke dunia. Aku tidak tahu siapa aku, tidak tahu ke mana aku harus pergi, dan tidak tahu kenapa aku berada di tempat ini.
Di depanku, terbaring seorang pria. Dia juga baru terbangun, menatapku dengan mata yang sama bingungnya. Dia tampak seperti seorang pengembara, dengan luka-luka yang sudah mulai mengering di sekujur tubuhnya.
Dia menatapku lama, seolah-olah dia sedang mencoba mengingat sesuatu yang sangat penting, namun dia tidak bisa menemukannya.
*"Siapa... siapa kau?"* tanyanya dengan suara yang terdengar sangat familiar, sebuah suara yang entah kenapa membuat hatiku berdebar tanpa alasan.
Aku menatapnya, dan untuk sesaat, aku merasa seperti melihat sesuatu yang sudah lama hilang, sesuatu yang seharusnya kucari seumur hidupku.
*"Aku tidak tahu,"* jawabku jujur. *"Aku... aku Marie. Setidaknya, itulah nama yang terlintas di kepalaku. Dan kau?"*
Pria itu terdiam, menatap langit sejenak sebelum menoleh kembali ke arahku dengan senyum tipis yang tampak begitu getir namun penuh dengan kerinduan yang tak terjelaskan.
*"Aku tidak tahu siapa namaku,"* ucapnya sambil bangkit berdiri dan mengulurkan tangan padaku. *"Tapi... aku merasa seperti kita seharusnya sudah saling mengenal sejak lama. Maukah kau berjalan bersamaku? Setidaknya, sampai kita menemukan siapa diri kita sebenarnya?"*
Aku menatap tangannya yang terulur. Tanpa ragu, aku menyambut tangan itu. Kulit kami bersentuhan, dan tiba-tiba, sebuah kilasan ingatan yang sangat samar—seperti mimpi yang hampir terlupakan—muncul di kepalaku: tentang sebuah pernikahan, tentang sebuah cawan, dan tentang janji yang diucapkan di tengah api peperangan.
Aku tidak tahu apa itu, tapi aku tahu satu hal: perjalananku yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan dia... dia adalah satu-satunya orang yang akan menemani langkahku ke depan.
Di kejauhan, di atas bukit, sosok pria bertopeng burung hantu sedang berdiri memperhatikan kami dari balik pohon. Dia tidak tersenyum. Dia hanya memegang sebuah buku tua yang tertulis dengan tinta emas, dan di halaman terakhir buku itu, dia menuliskan satu kalimat:
*Arc I berakhir. Permainan sesungguhnya di dunia tanpa sihir ini baru saja dimulai.*
Dia menutup buku itu, dan dalam sekejap, dia menghilang seperti kabut.