NovelToon NovelToon
Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reenie

Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.

Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.

Follow tiktok : aricia.agestis6

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Surat Tagihan Lima Miliar

...Satu Minggu Kemudian......

Theo mengajak Bianca ke restaurant mewah untuk menyenangkannya. Di balik meja makan, Theo duduk melamun. Wajahnya yang biasa sombong kini kelihatan lelah, dan ada kantung mata hitam di bawah matanya.

"Sayang, menurut kamu gaun yang ini bagus, gak?" tanya Bianca sambil menunjukkan gaun sabrina hijau muda diponselnya.

Theo tidak memperhatikan apa yang Bianca tunjukkan itu. Pikirannya masih terasa menumpuk, bahkan dia makan sambil termenung.

Tepat hari ini, sudah tepat satu bulan sejak uang pinjaman lima belas miliar dari Avalanka Group masuk ke rekening perusahaannya.

Satu bulan ini hidupnya tidak tenang, penuh rasa takut kalau kebohongannya ketahuan oleh ayahnya sendiri.

Bianca memasang wajah cemberut melihat Theo yang tidak peduli. Dia menepuk pundak Theo dan menunjukkan gaun tadi.

"Sayang, kamu dengerin aku gak sih?" tanya Bianca ketus.

Suara manja Bianca langsung membuyarkan lamunan Theo. Theo menatap Bianca yang cemberut. Siang ini Bianca dandan memang begitu cantik, hingga membuat Theo terpikat.

Ia memakai gaun hitam ketat dan kalung berlian yang baru minggu lalu dibeli pakai kartu kredit Theo.

"Iya, Bianca. Aku dengerin sayang," jawab Theo pelan sambil memaksakan senyum.

Dia mengambil gelas minumnya lalu meneguknya sedikit agar tenggorokannya tidak serak.

Bianca mendengus kesal, lalu menggeser layar HP-nya ke depan muka Theo.

"Lihat dulu gaun ini, cantik atau gak?" tanya Bianca masih cemberut

Theo yang harus selalu mengerti perasaan Bianca menghela nafas pasrah dan mengelus kepala Bianca. Dia tersenyum melihat gaun yang cantik itu.

"Iya tentu sayang, itu sangat cantik. Mau aku belikan?" tanya Theo

Tanpa Theo bertanya pun, Bianca sudah chek out terlebih dahulu.

"Udah aku pesan." ujar Bianca

"Ya sudah, pesan saja sayang." balas Theo

Kemudian, layar itu menampilkan foto perumahan penthouse baru di kawasan elite.

"Aku udah lihat-lihat tempatnya kemarin sore sama temenku," kata Bianca dengan mata berbinar-binar.

"Rumah yang paling atas ini bagus banget, Theo. Ada kolam renang pribadinya langsung di balkon. Temen-temenku semua lagi ngomongin tempat ini. Aku gak mau tahu ya, minggu depan kamu harus baya. Aku udah bosan tinggal di apartemen lama, kesempitan dan gak cocok sama posisiku sekarang sebagai pacarmu."

Theo menaruh gelasnya agak keras ke meja. Dia menghela napas panjang.

"Bianca, kan aku udah bilang kemarin. Proyek besar kita dengan Avalanka ini baru jalan satu bulan. Uang perusahaan masih berputar di sana, belum ada untungnya. Tolong ngerti dulu, setelah urusan tiga bulan ini selesai, aku pasti belikan apa aja yang kamu mau." ujar Theo

Mendengar itu, muka Bianca berubah cemberut lagi. Dia melempar tisu ke meja lalu melipat tangan di dada dengan tatapan ketus.

"Ngertiin gimana lagi, Theo?" ketus Bianca dengan nada tinggi.

"Kamu cuma janji-janji aja dari kemarin, tapi buktinya gak ada! Uang lima belas miliar itu kan udah di tanganmu, tapi kenapa kamu jadi pelit begini? Kalau kamu gak niat royal sama aku, buat apa aku mau sembunyi-sembunyi pacaran sama kamu selama ini? Kamu tahu sendiri kan, aku bisa aja cari cowok lain kalau aku mau!"

Ancaman itu membuat ego Theo terluka. Kepalanya yang udah pusing gara-gara urusan kantor sekarang makin terasa mau pecah.

Dia melihat Bianca, wanita yang dulu dia puji-puji di atas Zarlin, tapi sekarang malah jadi beban yang terus memorotinya. Tapi, Theo terlalu takut kehilangan Bianca. Dia butuh Bianca agar tetap merasa hebat sebagai laki-laki.

"Iya, iya. Cukup, Bianca," potong Theo sambil memegang dahinya yang pusing.

"Minggu depan aku suruh bagian keuangan buat cairkan uang dan bayar uang penthouse itu. Tolong jangan ribut di sini, malu dilihat orang." ujar Theo sambil merangkul Bianca.

Mendengar jawaban itu, wajah Bianca langsung berubah ceria lagi dalam sekejap. Dia tersenyum manis, memegang tangan Theo lalu menciumnya.

"Makasih, Sayang. Aku tahu kamu emang lelaki yang paling bisa diandalkan."

Theo hanya bisa mengangguk kaku. Di dalam otaknya, dia mulai bingung mau mengambil uang kantor dari mana lagi demi menuruti kemauan Bianca yang semakin ngelunjak.

...****************...

Satu jam kemudian, Theo sampai di ruang kerjanya di kantor Falcon Corp setelah dia mengantar Bianca kembali ke apartemennya.

Kantor sudah mulai sepi karena jam kerja sudah habis. Dia melepas jasnya, melemparnya ke sofa, lalu berjalan menuju meja kerjanya.

Seketika Theo langsung terhenti. Matanya tertuju pada sebuah amplop putih yang digeletakkan tepat di atas laptopnya. Di sudut amplop itu ada logo bertuliskan Avalanka Group.

Jantung Theo langsung deg-degan parah. Perasaannya seperti tidak enak. Dengan tangan agak gemetar, dia merobek amplop itu lalu mengeluarkan surat di dalamnya.

Theo membaca tulisan di surat itu dengan cepat

Perihal: Tagihan Laporan Bulanan dan Bukti Proyek (Satu Bulan Kerja Sama)

Kepada Yth.

Falcon Corp, Tuan Theo Falcon

Sesuai dengan perjanjian kerja sama pinjaman dana sebesar Rp15.000.000.000,- (Lima Belas Miliar Rupiah) yang harus lunas dalam waktu 3 (tiga) bulan, kami dari pihak Avalanka Group ingin menagih janji Anda.

Karena ini sudah tepat berjalan satu bulan, sesuai perjanjian, Anda wajib menyerahkan laporan keuangan penggunaan dana tahap pertama, beserta bukti nyata pengerjaan proyek di lapangan senilai sepertiga dari total uang pinjaman sekitar Rp5.000.000.000 (Lima Miliar Rupiah).

Surat dan dokumen ini harus sudah sampai di kantor kami paling lambat 3 (tiga) hari dari sekarang. Jika telat atau datanya tidak cocok, Avalanka Group akan langsung membatalkan kerja sama dan menarik sisa uang pinjaman secara sepihak.

Hormat Kami,

Tristan Avalanka

Avalanka Group.

...Bruk....

Theo mundur beberapa langkah sampai badannya terkena ke meja kerja. Surat di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Wajah Theo langsung panik dan deg-degan.

"Tiga hari..." gumam Theo dengan bibir gemetaran.

Napas Theo mendadak sesak. Rasa panik yang luar biasa langsung menyergap dalam dirinya.

Uang lima belas miliar dari Tristan waktu itu aslinya langsung dia pakai habis untuk kembali mengamankan proyek pelabuhannya.

Selain itu, uang tersebut juga sudah digunakan untuk biaya hidup mewah Bianca, sewa apartemen, dan foya-foya pribadinya.

Hanya proyek pelabuhan yang jalan sama sekali di bulan pertama ini. Itu pun tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar.

Tidak ada laporan keuangan yang beres yang bisa dia berikan ke Tristan. Semua uang di Falcon Corp saat ini sudah habis dan berantakan.

Theo berjalan mutar-mutar di dalam ruangannya yang sepi sambil menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi.

Tenggat waktu tiga bulan yang kemarin dia sepelekan sambil sombong, sekarang baru berjalan satu bulan saja, tagihan dari Tristan sudah datang dan siap membuatnya sampai bangkrut.

1
Mommy tulipp
Wajar Paulus, anak sprti itu memang harus dikasih paham👍
Mommy tulipp
Paulus menganggap dia orang tua yg gagal💔
Mommy tulipp
Jangan Pak Bram, kau memang setulus itu kpd sahabatmu, tapi melakukan kekerasan tdk membuat masalah selesai. Tahan emosi Pak Bram, ini semua gara2 Theo. Kok ada lah manusia sprti ini, tdk habis pikir Ya Allah
Mommy tulipp
Sadar Theo, kamu termakan cinta bodoh
🔵 MULIANA💦
memangnya kamu yang bodoh, gak teliti dalam semua hal 🫣
🔵 MULIANA💦
sekarang baru takut /Proud/
Tulisan__mawar
Mau pergilah, ngapain diam aja. heleh kekayaan istrimu lebih dari kamu, dia bukan wanita sambarangan yang bisa kamu sakiti terus menerus. idih, najis banget. katanya kaya, sewa art aja susah maunya zarlin. dia istrimu theo falcon bukan babu ibu dan sekertaris mu, gitu dong. kasih sianida aja di makanan mereka bertiga😤😫☺️
Aquarius97 🕊️
please yah, sabar dikittt lagi 😤
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
jadi malu kan kalian berdua sekarang
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
namanya nasib nggak ada yang tau
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
makanya jadi orang jangan rendahin orang lain
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
roda pasti berputar, itu kata orang tua dulu
Kak Umi
Karena ceritanya menarik, maka berlanjutlsh🙏🙏
Kak Umi
😍😍😍😍😍😍😍😍
Kak Umi
Lanjut lanjutkan 🙏🙏🙏
Kak Umi
Hay, aku datang turut meramaikan, datang juga turut meramaikan novel aku🙏🙏
Cimol krispy
bener banget tuh, Zarlin butuh menyembuhkan mentalnya dulu yang sudah dihancurkan habis2an oleh Theo
-Thiea-
kata-kata mu menohok hati neng zarlin.😁
-Thiea-
istirahat dulu atuh neng. yang lain bisa diawasi sama Tristan dan cristiana . bapakmu juga bisa membantu.
-Thiea-
duduk apanya neng. udah mau pingsan gitu. kamu harus sehat untuk hadepin mantan suami gila mu zarlin. ayok, turutin Tristan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!